
Fu Kuang dan Chen Yang tak dapat tahan tawa melihat Ashura patah arang siap dipancung Fu Yen. Sang raja hanya gertak Ashura. Mana mungkin sang raja tega pancung orang yang demikian berjasa bantu beberapa masalah kerajaan. Namun kedua laki itu tak berani ikut campur yang akan menurunkan wibawa Fu Yen.
"Mau mati masih cerewet..apa permintaan terakhirmu?"
"Apa ya?" Ashura memegang dagu berpikir keras keinginan terakhir sebelum dipancung.
"Cepat bilang? Atau mau langsung pancung?"
"Jangan sekarang! Gimana pancungnya tahun depan? Aku belum sempat hitung pembukuan negara, belum membantu rakyat tingkatkan hasil panen, belum puas mandi, belum makan barberque dengan jenderal."
"Kau..mau mati masih banyak keinginan! Apa nyawamu banyak?"
"Ayen..jangan ganggu penasehatmu lagi! Masih banyak tugas penting harus kita bahas. Penasehat kecilmu masih berguna. Kepalanya tak ada guna kau simpan." Chen Yang sudahin kekonyolan kedua orang itu. Diperpanjang pasti takkan habis. Yang ada makin konyol bikin hati kesal.
"Paman raja memang jempolan. Ayo kita pergi! Kita ngobrol soal anak gubenur dulu. Aku masih mau kasih pelajaran pada gentong lemak itu." Ashura menarik tangan Chen Yang berlalu dari hadapan Fu Yen dan Fu Kuang.
Fu Yen menghela nafas. Mengapa ada orang demikian pede tak hormat pada keagungan seorang raja. Semua orang takut padanya. Tapi justru setan kecil ini seenak perut jatuhkan pesona seorang raja.
Sebelum Chen Yang dan Ashura keluar ruang rapat terdengar laporan pengawal bahwa Ibunda ratu datang. Fu Yen dan yang lainnya segera bersiap menyambut kehadiran sang ratu yang sekarang jadi ibu dari semua pangeran dan sang raja. Walau Fu Yen seorang raja tapi tetap hormat pada orang yang sudah besarkan dia.
Keagungan Ibunda ratu jelas terukir di wajah wanita parobaya ini. Gayanya memang cocok berperan sebagai seorang ratu besar. Angkuh ingin mengatakan dialah penguasa seluruh istana.
"Salam Ibunda Ratu..semoga panjang umur dan sejahtera." koor bunyi bersamaan. Ashura tertawa dalam hati melihat kekompakan keluarga kerajaan menyapa ratu. Artinya kalimat ini selalu terucap bila sang ratu datang. Ntah tulus atau tidak kalimat itu tetap harus bergema.
Ibunda Ratu duduk di samping kursi kebesaran Raja dengan anggun. Matanya liar memandangi seluruh manusia dalam ruangan satu persatu. Terakhir jatuh pada Ashura yang memilih menunduk tak mau cari masalah sebelum jelas keinginan sang ratu terhadap dirinya.
"Anak anakku..Bunda datang hari ini mau bahas masalah selir selir ayahanda kalian. Fu Yen..kau sebagai raja harus adil dan bijak tangani masalah ini." Ujar sang ratu lembut seolah dia memang manusia berhati mulia.
"Apa yang bisa ananda lakukan? Apa yang telah terjadi?" Tanya Fu Yen sambil duduk kembali ke kursi kebesarannya. Kasim Du dan Ashura cepat cepat ikut berdiri di belakang raja menanti persoalan baru bagi Fu Yen.
Chen Yang dan Fu Kuang juga ambil posisi di tempat cari tahu apa yang telah terjadi. Pasti telah terjadi sesuatu yang lumayan rumit baru sang ratu turun tangan minta bantuan Fu Yen selaku raja. Biasa masalah selir mendiang sang ayahanda mereka selalu ditangani ratu sendiri.
"Selir Xue San dituduh main gila sama lelaki oleh selir Mung Na. Panggil kedua selir masuk!" seru sang ratu full power.
Dua wanita muda masuk dengan wajah menunduk. Lagi lagi korban ketamakan raja. Gadis gadis muda dijadikan selir. Dipakai lalu tercampak. Parahnya sang raja sudah mangkat tinggalkan para selir menanggung beban hingga akhir hayat. Itulah hasil ingin hidup mewah berujung kehancuran.
"Ceritakan masalah kalian!" kata Fu Yen wibawa agar terliha gagah di hadapan selir selir ayahnya.
"Yang Mulia..hamba dituduh berselingkuh. Mana mungkin hamba berani berselingkuh? Hamba adalah wanita mulia yang dipilih Yang Mulia untuk jadi selir kesayangan." lapor Xue San dengan nada sendu minta dikasihani.
"Dan kau Selir Mung Na. Mengapa kau berani tuduh sembarangan? Apa kau tak tahu seberat apa hukuman bagi orang main tuduh tanpa bukti?"
Mung Na mendongak mengangkat wajahnya tanpa gentar sedikitpun walau sedang dituduh fitnah orang.
"Yang Mulia Raja. Hamba tak pernah menuduh Selir Xue San. Hamba cuma bilang ada melihat seorang lelaki keluar dari kamar selir Xue San dua hari lalu. Itu saja. Tak ada yang hamba tambahkan." jawab Mung Na tenang.
Ashura yakin salah satu di antara dua orang ini sedang mainkan peran besar. Sinetron kuno mulailah. Ashura rasa tak susah selesaikan masalah ini. Tinggal mainkan kata semua akan jelas.
"Tanyakan selir Xue San kapan dia dengar kabar ini dan dari mana dia tahu?" bisik Ashura di kuping Fu Yen.
__ADS_1
Fu Yen menatap Ashura sekejap. Fu Yen sebenarnya ragu pada kemampuan Ashura tangani masalah kecil tapi pelik ini. Masalah wanita adalah masalah paling rumit dan berbelit macam ular melingkar.
1
"Selir Xue San dengar dari mana Selir Mung Na omong gitu? Apa dengar langsung atau dengar dari gosip?"
"Hamba dengar dari para pelayan. Semua sedang bicarakan hamba. Hamba kan malu." sahut selir Xue San makin sendu.
"Yang Mulia apa boleh hamba yang bertanya?" bisik Ashura pelan di kuping Fu Yen.
Fu Yen mengangguk kasih kesempatan pada Ashura buktikan kepinteran sekali lagi. Ashura seperti dapat angin langsung maju membungkuk hormat pada semua yang hadir di situ.
"Maafkan kelancangan hamba! Sebagai penasehat raja hamba ingin tahu cerita selengkapnya dari Yang Mulia selir tercantik Xue San."
Selir Xue San berbinar melihat penasehat Raja yang sangat tampan dan menarik. Wajah bersih dan mulus dengan pinggang ramping. Sungguh pria idaman wanita.
"Hamba dituduh main gila sama pengawal hamba padahal itu tak mungkin. Hamba wanita terhormat mana mungkin demikian murah berikan tubuh pada pengawal sendiri."
"Oh..jadi dua hari lalu Yang Mulia Selir ke mana?"
"Hamba di kamar merindukan Yang Mulia raja. Hamba selalu terkenang pada beliau."
"Yang Mulia selir adalah wanita baik. Artinya yang dilihat Yang Mulia Selir Mung Na hanya bayangan kosong. Mungkin Selir Mung Na salah lihat orang. Bisa jadi memang ada orang keluar dari kamar Yang Mulia dikira laki." Ashura mencoba analisa sendiri sambil pura pura berpikir keras.
"Betul..Selir Mung Na salah lihat. Memang malam itu ada pengawal datang ke kamarku. Dia hanya tanya keadaanku apa baik? Langsung dituduh yang bukan bukan."
Selir Xue San langsung pucat kena jebakan Ashura dalam olah kata. Secara langsung dia ngaku memang ada laki masuk kamarnya padahal Ashura tak sebut siapa orang itu. Malam hari lelaki masuk kamar seorang selir apa tujuan kalau bukan niat lain.
"Panggil pengawal itu!" seru Fu Yen menahan amarah. Ashura memang pinter jebak orang dalam tutur kata.
"Ampun Yang Mulia.. Pengawal Kam tak bersalah. Hamba yang salah memintanya datang." Xue San cepat cepat bersujud mohon ampun kejebak oleh kata Ashura.
Chen Yang dan Fu Kuang kagum pada kelihayan Ashura mainkan kata jebak orang. Kata kata Ashur sederhana namun orang cepat masuk perangkapnya.
"Sekarang katakan yang sejujurnya. Apa yang sedang terjadi?" bentak Fu Yen mulai tak sabaran hadapi wanita culas macam Xue San. Berani berzinah di dalam istana lalu tuduh orang fitnah dia.
"Tenang Yang Mulia..bolehkah hamba bicara empat mata dengan selir Xue San? Hamba yakin semua akan berjalan baik." Ashura turun dari pentas membungkuk hormat pada Fu Yen.
Ashura tak mau permalukan selir itu di hadapan orang banyak. Selir itu berbuat gini tentu ada sebab. Ashura maklumi kondisi wanita yang tercampakkan setelah dijadikan selir. Seorang selir tetap manusia yang punya hawa nafsu.
"Terserah kamu!" Fu Yen buang muka dengan kasar tak mau lihat wajah selir genit itu.
Ashura menggandeng tangan selir Xue San menuju keluar ruang rapat dengan penuh kelembutan. Selir Xue San menatap Ashura dengan mata berkaca kaca menahan sedih.
Ashura mengajak Xue San ngobrol agak jauh dari ruang rapat. Ntah apa yang diobrolkan kedua orang itu. Cuma terlihat sangat serius.
Sementara itu dalam ruang rapat Fu Yen betul betul marah pada selir selir ayahnya bikin masalah buat dia. Belum selesai masalah bencana muncul lagi wanita istana.
"Ayen anakku..siapa laki yang jadi pensehatmu itu? Mengapa kamu begitu percaya padanya?" tanya Ibunda ratu masih ragu pada kemampuan Ashura selesaikan masalah selir selir istana.
__ADS_1
"Dia baru kuangkat jadi penasehat baru. Dialah yang bantu anakmu tangani bencana kemarau. Dia bisa dipercaya. Dan kau Selir Mung Na boleh tinggalkan ruang rapat." Fu Yen mengarahkan pandangan pada selir muda bekas ayahnya.
Mung Na mangut lembut. Wanita muda ini tak banyak berkata selain keluar dari ruang rapat diikuti pelayan pribadi yang selalu setia. Kepergian Mung Na diiringi tatapan mata seluruh penghuni ruang rapat. Gadis malang yang terjebak dalam istana. Hanya kesepian menemani hingga nafas terakhir.
"Ayen..Ibunda harap kau bisa selesaikan perzinahan Xue San dengan baik untuk jadi contoh selir lain. Ibunda juga mau pamit."
"Ibunda hati hati di jalan."
"Oya..Apa rencanamu terhadap pemilihan Ratumu?" Ibunda ratu tiba tiba balik badan menanyakan tentang pemilihan calon ratu mendatang.
"Ananda belum ada gambaran tentang ratuku. Ananda akan pilih yang terbaik."
"Selir agung Ning Fei patut kau perhitungkan. Dia menang segalanya dari selirmu yang lain. Dan kau kenapa tak pernah datang ke istananya lagi? Dulu kau paling sayang padanya."
"Ananda sibuk sama masalah kerajaan mana teringat sama kesenangan. Rakyat lebih penting dari segalanya."
"Kau butuh penerus kerajaan. Sekian banyak selirmu tapi tak satupun hamil. Ibunda sudah tak sabar ingin punya cucu darimu."
"Masih ada Fu Kuang bisa kaih cucu. Ibunda sabar saja. Hari itu pasti datang. Kami pasti akan beri Ibunda cucu untuk terusankan kerajaan ini. Tapi tidak sekarang. Mohon Ibunda sabar tunggu hari itu tiba. Ya kan adikku Fu Kuang?" Fu Yen sengaja menekan nama Fu Kuang agar laki ini sadar kalau dia adalah adik bukan abang.
Fu Kuang membungkuk hormat pada Ibunda Ratu sambil mengangguk. Fu Kuang bukan tak tahu abangnya sedang menekannya agar cari wanita untuk jadi isteri sah. Yang psti bukan wanita dari istananya.
"Ananda akan ingat permintaan Ibunda. Yakin hari itu akan tiba. Dan ananda sudah punya pilihan. Gadis lucu dan sederhana. Tidak tertarik nama besar dan pinter." sahut Fu Kuang relax.
"Bagus anakku..Ibunda tak sabar menanti cucu dari kalian. Ibunda sudah lelah. Ibunda mau balik ke istana. Dan kau Ayen..jangan lupa kunjungi Ning Fei!"
"Iya Ibunda..." Fu Yen bangkit dar tempat duduk kerajaan mengantar Ibunda ratu sampai ke pintu besar ruang rapat.
Ibunda ratu melangkah pergi diiringi beberapa pelayan wanita berbaris rapi. Kehidupan istana penuh aturan membosankan bahkan nyaris tak masuk akal. Seorang wanita istana hanya tahu berdandan dan bersiap layani raja setiap saat dibutuhkan. Lebih tepat selir selir istana hanya tempat buang nafsu raja maupun pembesar kerajaan. Di mana nilai seorang wanita di masa ini.
Tak lama Ashura kembali dengan selir Xue San. Fu Yen harap Ashura sudah punya jalan selesaikan masalah perselingkuhan sang selir yang kegatelan.
Xue San langsung bersimpuh di lantai menanti titah sang raja atas kejadian memalukan ini. Hukuman apa yang sedang menanti dia dan pengawal Kam yang berzinah setelah raja terdahulu meninggal.
Fu Yen duduk kembali ke kursi kebesaran menunggu hasil investigasi Ashura terhadap Xue San. Fu Yen sudah tak sabar ingin beri hukuman seberat beratnya pada pengkhianat cinta.
Ashura membungkuk hormat pada Fu Yen lalu pada Fu Kuang dan Chen Yang. Kini Ashura berperan sebagai pengacara pembela kaum lemah agar terbebas dari hukuman penggal. Menurut aturan hukuman mati sudah pasti dijatuhkan pada Xue San.
"Yang Mulia..bebaskan selir Xue San!" Ashura langsung memohon dengan segenap hati. Ashura sudah persiapkan diri hadapi amarah sang raja yang pasti sanggup bakar daging hingga gosong.
"Kau gila ya? Manusia penzinah tak pantas hidup." bentak Fu Yen keras. Wajah sang raja memerah menahan amarah setinggi leher.
Ashura tahu sang raja sedang marah namun dia harus berbuat sesuatu unutk bebaskan Xue San dari hukuman. Fu Yen bukan raja tolol tak tahu makna hidup sesungguhnya cuma ego raja sangat tinggi tak ngerti posisi kaum lemah.
"Yang Mulia..selir Xue San jadi selir mediang raja saat umurnya masih muda. Raja cuma pernah dua kali mampir ke kamarnya. Selanjutnya dia hidup kesepian. Xue San wanita sehat dan punya nafsu seperti manusia umum lain. Wajar dia cari kehangatan dari tempat lain. Apa Yang Mulia tega melihat dia mati kesepian?"
Fu Yen termenung dengar kata kata Ashura. Hawa marah yang berkobar perlahan menurun beberapa derajat. Memang wajar setiap manusia punya nafsu apalagi ditinggal sekian lama oleh laki. Selir juga manusia biasa yang tak luput dari semua emosi dan nafsu angkara.
"Tapi dia sudah berbuat curang bohongi semua orang?"
__ADS_1