
Hwa Lien mengerti makna kalimat Ashura. Ashura telah buat beberapa kebijakan yang sangat bertentangan dengan para pembesar istana sehingga turun niat jahat hendak habisin Ashura.
"Kamu ini penasehat yang menyusahkan aku?" seru Chen Long menunjuk Ashura dengan mata dibesarkan. Sebesar apa pun tetap saja tampak sipit. Beda dengan mata Ashura yang biru seperti bola mata pingpong.
"Kok aku menyusahkan kamu? Kita baru bertemu hari ini bagaimana aku menyusahkan kamu." Ashura menatap tidak senang kepada Chen Long. Datang-datang sudah menganggap Ashura sebagai musuh.
"Bukankah kamu yang mengusulkan kalau kerajaan ini tak boleh beristri banyak? Ini kena imbasnya kepada aku."
Ashura paham sekarang mengapa Chen Long kesal karena peraturan baru tak boleh beristri banyak. Mungkin saja laki ini istrinya satu gudang sehingga marah kesenangan terganggu.
Ashura kontan mencibir tak suka pada laki ini. Laki hidung belang berhobi aneh. Koleksi cewek segudang dalam istana.
"Dia itu selirnya sampai puluhan orang. Dia saja lupa nama para selirnya. Maka itu aku tak suka jumpa laki genit macam dia." bisik Hwa Lien membuka jati diri laki ini.
"Ooo... ternyata orang hebat perusak masa depan para wanita. Berapa anakmu? Seratus tiga ratus atau sejuta? Apa kau ingat berapa wanita menangis merana karena terbuang di istana kamu?" tantang Ashura busungkan dada tak takut pada Chen Long. Laki model ini tak pantas dihormati.
"Siapa bilang mereka hidup dalam kesedihan? Kau salah nona.. justru mereka bahagia punya suami penyayang macam aku. Aku adil kok pada setiap wanita aku." Chen Long melengos angkuh yakin telah adil pada wanitanya.
"Baik...siapa nama istri pertama kamu dan siapa nama istri ke dua puluh kamu? Ayo coba sebut nama mereka! Awas kalau kau tak ingat! Aku ledakkan kepala kamu." ancam Ashura makin gemas pada laki sok keren itu.
Chen Long termangu berusaha ingat tantangan yang diberikan oleh Ashura. Jangankan ingat nama! Ingat wajah istri pertamanya saja dia sudah lupa. Dia hanya bisa sebut semua istrinya dengan panggilan sayang karena tak bisa ingat semua nama mereka.
Hwa Lien dan Ashura tersenyum menang lihat di cabul tak bisa berkata kena sekak mat Ashura. Chen Long hanya gunakan wanita untuk menyalurkan nafsu gilanya. Masih untung tidak kena penyakit kelamin.
"Pokoknya aku mau protes kebijakan ini. Aku kehilangan kegembiraan gara-gara peraturan gila ini." Chen Long tidak menyerah tetap bersikukuh mau serang Fu Yen yang telah memutuskan huru hara hidup Chen Long.
Ashura ingin sekali tonjok hidung bagus milik Chen Long. Bonyok dikit mungkin takkan kurangi kegantengan laki itu. Apa Chen Long tak sadar bahaya penyakit kelamin sedang mengincar dia. Hampir separuh penghuni istana sedang terkena penyakit menjijikan itu. Laki ini masih memikirkan kesenangan di atas ranjang bersama wanita alias para selir.
"Aku tak kenal tuan tapi tuan harus tahu kalau hampir seluruh istana terkena penyakit kelamin. Mungkin tak lama lagi giliran anda tuan yang tidak terhormat." Ashura hilang respek pada Chen Long walaupun orang ini telah menyelamatkan nyawanya. Ashura paling anti pada orang yang suka kumpulkan wanita dalam satu rumah. Apa laki ini tak tahu kalau hal ini menyakiti perasaan wanita. Tak ada wanita rela bagi suami dengan wanita lain. Kalaupun ada itu hanya karena tak punya pilihan lain.
"Penyakit apa? Selama ini kami hidup rukun tanpa ribut. Kamu saja yang sibuk urus rumah tangga orang."
Ashura tak percaya kalau di dalam istana Chen Long tak ada hal mengerikan antara sesama wanita. Satu kebohongan besar bila puluhan wanita bisa berbagi suami.
Ashura tertawa sinis menanggapi omongan Chen Long yang tak masuk akal sehat Ashura. Hwa Lien merasakan suasana makin panas karena kedua orang ini punya pola pikir berbeda. Chen Long bangga punya lusinan gundik sedang Ashura memandang rendah orang yang permainkan cinta wanita.
"Kita masuk dulu bicara baik-baik. Paman Chen Long tak tahu apa yang terjadi dalam istana akhir-akhir ini maka merasa terzolimi." Hwa Lien beri solusi untuk mereka mencari jalan keluar sebelum semua makin runyam.
"Aku tak mau undang orang cabul ke dalam istana kita. Cukup bicara di sini. Aku mau tanya berapa orang selir kamu yang meninggal mendadak?"
__ADS_1
Chen Long tertegun dengar pertanyaan Ashura. Chen Long lupa berapa selirnya yang meninggal karena berbagai alasan. Chen Long heran mengapa Ashura bisa tahu kalau selirnya ada yang meninggal di dalam istana.
"Aku mana tahu...mereka sakit... kecelakaan dan ada yang bunuh diri karena aku tak kunjungi mereka." sahut Chen Long seolah itu hal biasa.
Hwa Lien dan Ashura menggeram kesal. Tak mungkin ada orang meninggal segampang itu. Hanya karena alasan sepele sudah meninggal. Pasti ada sebab lain yang memaksa mereka mati konyol.
"Apa tak pernah terpikir oleh tuan kalau selir yang meninggal itu dibunuh karena cemburu? Yang meninggal pastilah selir muda dan cantik. Yang baru saja jadi kesayangan tuan." Ashura menebak dengan pikiran paling sederhana.
"Kok tahu?" Chen Long terpana Ashura cepat baca kondisi haremnya.
"Ya tahulah...selir itu dibunuh karena ada yang cemburu tak dapat perhatian tuan. Permainan kuno tapi tetap dijalan kan oleh mereka yang sirik. Ini tandanya tuan secara tak langsung jadi pembunuh."
Chen Long makin bingung dibuat oleh Ashura. Menatap pula dia yang jadi dalang pembunuhan padahal dia sangat sayang pada semua selirnya.
"Sembarangan tuduh kamu ini. Pantas saja ada orang ingin bunuh kamu."
"Aku bicara bukan tanpa alasan. Coba tuan pikir! Setiap bulan ada yang meninggal dalam istana tuan. Apa tuan tidak curiga telah terjadi sesuatu di antara wanita piaraan tuan. Coba pikir pakai otak jangan pakai nafsu! Tuan menyimpan puluhan wanita hanya untuk menyalurkan nafsu gila tuan. Apa tuan punya rasa cinta tulus pada salah satu wanita itu? Tuan tak punya cinta pada mereka. Tuan hanya cinta pada diri sendiri. Memanjakan diri sendiri dengan nafsu tak wajar. Aku malas menerangkan pada orang yang otaknya hanya ada nafsu. Aku mau istirahat. Kamu layani tamu Hwa Lien!" ujar Ashura dengan ketus lalu pergi tinggalkan halaman tanpa mengajak tamu masuk ke dalam rumah.
Chen Long melongo tak dihargai oleh Ashura. Siapa orang ini begitu berani kritik orang dalam kerajaan. Chen Long termasuk orang yang disegani oleh pejabat termasuk Fu Yen. Chen Long menjabat sebagai gubernur di salah distrik kota maka hidupnya makmur.
Mata Chen Long mengikuti bayangan Ashura menghilang di balik pintu kamar. Ashura begitu gagah tak takut sedikitpun pada Chen Long. Chen Long tak tahu kalau Ashura samasekali tak takut pada orang istana termasuk pada Fu Yen sebagai raja.
Hwa Lien mendengar desisnya Chen Long merasa laki ini sudah tak ada obat. Chen Long datang dari jauh hanya untuk protes kebijakan baru Fu Yen melarang seluruh lapisan masyarakat berpoligami. Orang cabul macam Chen Long sangat menentang rencana kebijakan Fu Yen. Chen Long takut tak bisa bermesraan lagi dengan wanita yang dia inginkan.
"Paman lebih baik langsung jumpa kanda raja. Tinggalkan kami di sini. Jangan datang ke sini lagi!" Hwa Lien juga mulai ikutan Ashura ketus pada adik bapaknya itu. Hwa Lien banyak terpengaruh oleh pola pikir Ashura yang lebih efisien menjaga kehormatan wanita.
"Hei anak kecil mulai berani menentang paman ya! Aku rasa pengaruh negatif Ashura kuasai kamu. Ayok ikut pulang ke istana. Aku akan lapor pada Fu Yen untuk kurung kamu."
Hwa Lien melelet lidah tak tanggapi kekesalan Chen Long. Laki itu merasa harga dirinya terbanting tak dianggap oleh Ashura. Sekali lihat Chen Long tahu kalau Ashura itu seorang anak gadis. Biasanya gadis manapun akan terpanah oleh pesona yang terpancar dari wajah Chen Long. Namun Ashura cuek bebek tidak terbius oleh kegantengan luar biasa Chen Long.
"Silahkan lapor dulu baru ajak aku balik istana. Aku betah kok di sini. Paman silahkan pergi ke istana! Jangan lupa lapor aku kumpul kebo sama laki muda nan ganteng! Kegantengan Paman sudah dikalahkan oleh Ashura. Sekarang seluruh negeri sedang mengagumi kegantengan Ashura yang menduduki peringkat satu." Hwa Lien makin semangat memanasi pamannya itu agar mentalnya jatuh. Gelar lelaki paling ganteng telah berpindah ke tangan Ashura.
Chen Long mendengus tak senang pamornya telah direbut oleh Ashura. Chen Long merasa tak ada guna lebih lama berada di tempat ini. Dia harus segera ke istana untuk menjumpai raja meminta pertanggungjawaban Raja atas peraturan baru serta melaporkan keponakannya yang semena-mena terhadap paman.
Chen Long pasang langkah panjang meninggalkan istana dingin dengan dada sesak. Yang paling mengganjal hati lelaki ini adalah kegantengannya tidak berlaku pada Ashura.
Hwa Lien tertawa penuh kemenangan bak jenderal wanita sukses taklukkan musuh terbesar dalam sejarah. Hwa Lien puas pamannya segera pergi dari sini. Hwa Lien memberi kode kepada pengawal untuk segera menutup pintu gerbang mengingat kejadian yang baru menimpa Ashura. Mereka harus lebih berhati-hati setelah munculnya rencana pembunuhan Ashura.
Setelah semua terasa aman Hwa Lien segera menemui Ashura. Mereka harus segera menyusun rencana untuk minta perlindungan dari orang lebih kuat kalau tak mau mati konyol.
__ADS_1
Hwa Lien menemui Ashura di dalam kamarnya. Gadis itu telah menanggalkan pakaian penasehat berganti baju putri Shu Rong. Ashura telah muncul kembali sebagai seorang anak gadis. Penasehat yang paling ditakuti oleh para pejabat telah menghilang untuk sementara ini.
Ashura tampak agak termenung mengingat sudah ada rencana pembunuhan terhadap penasehat kerajaan. Ini sudah pasti kerjaan para penjabat yang merasa kebijakan Fu Yen banyak terpengaruh oleh penasehat.
"Ashura....kau baik saja? Ada yang terluka?" Hwa Lien memeriksa Ashura belum yakin sahabatnya itu dalam kondisi aman.
Ashura mengangkat tangan tinggi-tinggi perlihatkan kalau tak ada yang cedera. Cuma wajah Ashura agak pucat sedikit terpukul oleh serangan mendadak ini.
"Kita harus segera pergi dari sini sebelum para pembunuh muncul di sekitar sini. Kita tidak mempunyai kekuatan untuk melawan mereka. Ini membahayakan kita semua." Ashura kemukakan suara hati. Ashura sangat takut kalau para dayang dan pengawal mereka akan menjadi korban dari sebagian plot jahat ini.
"Kau sudah pikir mau ke mana?" Hwa Lien bertanya sambil merebahkan diri di atas tempat tidur. Pinggang Hwa Lien agak pegel karena seharian duduk main game.
"Kita ke istana raja. Raja pernah memberi aku sebuah rumah di belakang istana. Rumah itu memang agak terpencil tapi masih berada di dalam lingkungan istana. Mungkin kita aman di sana."
"Baiklah! Aku akan minta pengawal persiapkan kereta kuda untuk angkut keperluan kita. Semua harus diangkut karena aku perlu semua peralatan kamu."
Ashura menarik nafas panjang. Di otak Hwa Lien hanya ada game dan game. Peralatan yang dimaksud oleh gadis ini pastilah semua barang dari abad modern. Hwa Lien tak mau ambil resiko kehilangan barang-barang itu selama istana ini tidak dijaga.
"Terserah kamu saja! Aku akan minta Ah Yin dan Ah Muk untuk bersiap pindah. Mereka semua harus ikut. Aku takut mereka jadi korban bila tak menemukan aku."
Hwa Lien mengangguk setuju membawa dayang dan pengawal mereka yang jumlahnya hanya beberapa orang. Apa yang ditakutkan oleh Ashura sangat beralasan. Tidak mendapatkan majikan bisa saja mereka menghabiskan para pengawal dan dayang mereka.
"Kita harus bergerak cepat. Kita mulai atur barang kita." ujar Hwa Lien masih terbaring di atas ranjang. Mulut bilang mau atur barang namun badan enggan bergerak. Apa barang bisa diatur hanya dengan suara dari mulut. Hanya Hwa Lien yang bisa begitu.
"Angin kan bantu kita susun barang ya?" ejek Ashura lihat Hwa Lien masih tak bangkit dari ranjang.
"Aduh nona penasehat! Pinggang aku mau patah rasanya. Mungkin ada salah satu engselnya terlepas kehilangan sekrupnya."
"Ya sudah kita tinggalkan semuanya di sini. Nanti sudah aman kita balik ambil barang kesayangan kamu." sahut Ashura sedikit ancam.
Hwa Lien kontan terloncat dengar Ashura mau tinggalkan barang ajaib dari masa depan di istana dingin ini. Kalau ditinggalkan seratus persen bakal hilang. Para penjahat pasti akan obrak abrik istana ini setelah kosong. Rahasia Ashura bisa terbongkar bila tampak barang canggih dari abad moderen.
"Ya sudah aku yang susun. Kamu istirahat saja." Hwa Lien mau tak mau harus lupakan sakit pinggang akibat lama duduk main game.
Gadis ini menopang pinggangnya dengan kedua belah tangan saatnya menyatakan daerah itu memang sedang bermasalah. Ashura tidak kasihan sedikit pun karena gadis itu memang sudah kelewatan menghabiskan waktu main game berjam-jam.
Ashura biarkan Hwa Lien menyusun barang dari abad moderen sementara itu Ashura keluar mencari para dayang dan pengawal untuk segera bersiap meninggalkan tempat ini. Tak ada yang boleh tertinggal di sini karena ini membahayakan jiwa mereka semua. Ashura pesan hanya bawa barang penting saja. Yang tidak perlu tak usah dibawa.
Segeralah mereka berjibaku dengan waktu untuk pergi dari situ sebelum malam tiba. begitu gelap tempat ini akan menjadi tempat yang sangat mengerikan karena telah menjadi target orang jahat.
__ADS_1