CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Ritual Hujan


__ADS_3

Ashura tertawa sinis dengar kata kata Fu Yen. Sudah Ashura duga Fu Yen tak mungkin mau hidup hanya dengan seorang wanita. Laki ini sudah terbiasa disanjung di tempat tidur oleh puluhan wanita mana bisa hilangkan kebiasaan ini segampang itu.


"Sudahlah! Kita bahas masalah doa bersama memohon hujan. Besok kita cari tanah kosong untuk memohon hujan bersama rakyat." kata Ashura tak seramah pertama kali jumpa. Nadanya dingin menusuk hati Fu Yen.


"Kau alihkan pembicaraan.."


"Tak ada yang perlu kita bahas dalam hal ini. Jalan kita memang tak sama. Aku mau istirahat."


"Kau usir aku?"


"Hamba mana berani...cuma hamba pingin sendiri saat ini. Besok kita persiapkan diri buka dapur umum dan berdoa bersama."


Fu Yen bisa rasakan nada suara Ashura tak semanis biasa. Apakah gadis ini marah gara gara Fu Yen tak mau bebaskan puluhan wanita penghias tempat tidurnya. Ashura tak tahu Fu Yen sendiri tak suka pada wanita wanita itu namun wanita wanita itu yang datang antar diri pada raja. Semua anak pejabat. Mau tolak yang mana?


"Baiklah! Istirahatlah! Kalau kau perlu apa tinggal bilang." Fu Yen bangkit dari bangku di kamar Ashura tanpa daya. Ashura terlalu kokoh untuk digoyah pakai rayuan ataupun kemewahan Tak ada secuwilpun barang berharga di badan tapi gadis ini tak minta pada Fu Yen. Fu Yen ingin Ashura merengek minta dibelikan sesuatu berharga. Ntah itu permata ataupun gelang emas.


Ashura segera tutup pintu kamar begitu Fu Yen keluar. Fu Yen berdiam diri di depan pintu kamar Ashura menahan perasaan. Ada rasa kesal di hati tak diopen gadis cantik ini. Seorang raja besar tak ada harga di mata Ashura. Seberapa tinggi harga diri Ashura.


Malam menjelang Ashura masih bertahan dalam kamar tidak keluar cari makan. Ashura sendiri jengkel pada Fu Yen yang tak hargai nilai wanita. Ashura bukan cemburu tapi kasihan pada gadis gadis yang terjebak dalam urusan barter jabatan. Di mata Ashura sang raja tak ubah penjahat cinta. Buang ****** sana sini hanya demi nafsu setan.


Alun mondar mandir di depan kamar Ashura kuatir gadis pujaannya tak keluar. Lilin dalam kamar juga tak hidup. Suasana dalam kamar pasti sangat mencekam tanpa penerangan. Sungguh gadis idola hati. Pemberani gadis padang rumput ini.


Di dalam kamar Ashura menahan diri. Ashura hanya main laptop sambil baca pelajaran tentang tanaman sesuai pendidikannya. Memang terasa bosan tapi apa daya Ashura tak mau perlihatkan sisi lemah sebagai wanita dari abad atom. Masa kalah sama kegelapan. Cahaya layar laptop cukup membantu pencahayaan dalam ruang tak seberapa luas itu. Perut Ashura juga tak begitu lapar karena telat makan siang.


Tak ada alasan bagi Ashura murahkan diri cari Fu Yen. Biarlah begini sampai pagi. Ashura mau Fu Yen tahu kalau ada wanita tak mau jadi gundik yang bakal jadi limbah setelah raja bosan.


Pintu kamar Ashura diketok dari luar. Ashura bertahan tak mau bersuara. Biarlah Fu Yen kapok pikir gampang hina seorang wanita.


"Pengawal Shu..Ini Alun!"


"Alun? Ya tunggu.." Ashura segera sembunyikan laptop di bawah kasur.


Ashura rapikan pakaiannya yang berantakan lalu buka pintu kamar. Alun berdiri di depan pintu bawa lentera di tangan.


"Pengawal Shu belum lapar?" tanya Alun sopan.


"Belum lapar sekali. Kau pergi makan sana. Aku akan minta makan kalau sudah lapar."


"Tuanku meminta pengawal Shu makan di kamarnya."


"Bilang sama tuanmu kalau aku masih kenyang. Aku mau tidur saja."


"Apa boleh pasang cahaya di kamarmu? Tak baik gelap gulita."


"Silahkan!" Ashura ijinkan Alun hidupkan cahaya dalam kamarnya. Ashura tak mau nyusahin Alun. Kalau Alun tak selesaikan tugas pasti kena marah sang raja.


Alun dengan sigap hidupkan lilin di sekeliling kamar hingga agak terang. Suasan berubah lebih nyaman setealah ada cahaya terang.


"Sudah..kau istirahatlah! Kalau lapar cari aku ya!"


Ashura mengangguk beri senyum manis pada Alun. Deg bunyi jantung Alun diberi hadiah malam yang bisa bikin tidur nyenyak. Alun bukan orang bodoh tak tahu Fu Yen tak berhasil rebut perhatian Ashura. Dari tadi Fu Yen uringan sehabis dari kamar Ashura. Ashura pasti menolak raja lagi.

__ADS_1


Hati Alun senang Ashura tak tergila pada raja seperti gadis tolol lain. Ashura gadis berprinsip tinggi. Tak silau oleh harta dan nama besar.


Sementara itu Fu Yen bener bener merasa hancur ditolak Ashura lagi. Dengan cara apa Ashura baru mau menerima kasih sayangnya. Fu Yen beneran suka pada Ashura melebihi gadis manapun. Cuma sayang Ashura tak rasakan getaran kasih dari Fu Yen.


Malam itu berlalu tanpa kesan. Masing masing menyimpan amarah terpendam. Andai kasus Shu Rong sudah kelar Ashura akan keluar dari istana bantu rakyat dalam pertanian sampai Shu Rong antar dia balik ke abadnya. Ashura terlalu muak terhadap Fu Yen yang gila perempuan. Lebih baik Ashura ikut Fu Kuang melalang buana kerajaan sambil majukan pertanian rakyat.


Lama lama di istana malah cepat mati makan hati lihat sang raja mainkan perempuan. Ashura segera bersihkan diri lalu berberes keluar kamar cari Alun. Ashura tak mau beramah tamah dengan manusia cabul. Alun jauh lebih baik akhlaknya dibanding Fu Yen.


"Alun.." panggil Ashura melihat pengawal raja sedang melamun di depan teras kamar sang raja muda.


Alun segera bangun dekati Ashura sambil senyum lebar. Ashura tampak makin cantik pagi ini. Wajahnya segar tak ubah buah segar siap dipetik.


Alun tenangkan hati sebelum ngobrol dengan pria cantik itu. Berhadapan dengan Ashura jantung Alun akan berdegup lebih kencang dari biasa. Signal rasa kagum merajai seluruh badan.


"Pengawal Shu..sudah lapar?"


Ashura mengangguk dikit manja. " Lumayan lapar! Kau ada makanan untukku?"


"Mau makan apa? Mie rebus pakai daging atau mie goreng?"


"Apa saja yang penting enak. Kau sudah makan?"


"Belum.."


"Kita makan bersama ya! Kamu traktir aku. Aku miskin tak punya uang." ujar Ashura jujur memprihatinkan. Alun tertawa geli lihat bibir mungil itu terpilin mirip mulut bebek. Sungguh menggemaskan.


"Kenapa tak minta uang sama tuanku?"


"Tunggu gajian saja! Nanti sudah dibayar gajiku kau akan kutraktir. Kita makan enak."


Alun mengambil meja agak sudut biar nyaman ngobrol dengan sang idola hati. Raja muda belum bangun maka dia bisa bebas ngobrol dengan Ashura. Kapan lagi bisa berduaan dengan sang idola kalau bukan sekarang.


Ashura sudah tak sabar ingin cepat cepat akhiri penderitaan rakyat. Shu Rong sudah janji akan turunkan hujan maka kemarau panjang akan berakhir. Wajah Ashura berseri membuatnya makin kinclong membuat tanda cinta di hati orang yang melihatnya.


Alun dan Ashura makan dengan lahap sampai lupa masih ada atasan belum bangun. Alun lupa kalau dia sedang mengawal pemilik kerajaan ini. Pesona Ashura membutakan pikiran Alun.


Deheman kasar di belakang Ashura membuat Alun terbelalak kaget. Fu Yen sedang berdiri di belakang Ashura memeluk tangan menatap makanan di meja makan. Wajah sang raja sungguh tak sedap dipandang. Hitam terpanggang rasa cemburu pada Alun. Ashura tak mau makan bersamanya malah bahagia makan dengan seorang pengawal raja.


"Tuanku..maaf! Kami pikir tuanku belum bangun maka kami makan duluan. Silahkan duduk! Hamba akan pesan makanan untuk tuanku!" kata Alun gugup. Alun segera lari ke belakang penginapan minta sediakan makanan untuk sang penguasa.


Fu Yen meneliti wajah Ashura yang demikian cerah namun cuek padanya. Gadis tak tahu tinggi gunung rendah sungai. Raja yang termulia diabai bak lagi musuhan sama teman sebaya.


Ashura melanjutkan makan tak peduli kehadiran sang raja. Gaya sok Ashura bikin raja makin kheki. Ingin rasanya sang raja cubit pipi mulus itu agar mau menoleh padanya.


Alun balik bersama pelayan hidangkan teh dan beberapa macam makanan. Alun menghidangkan teh untuk raja dengan sopan luar biasa. Alun harus berbuat serapi mungkin supaya tak kena kritikan bahaan hukuman.


"Silahkan tuanku!" Alun persilahkan raja makan.


Fu Yen minum teh lalu makan perlahan sambil melirik Ashura yang masih ngambek. Fu Yen benar habis akal hadapi kekerasan jiwa Ashura. Mana ada yang berani sama raja kok yang ini malah musuhan tanpa alasan jelas.


"Alun..apa kita jadi ke rumah gentong lemak buka dapur umum?" tanya Ashura pada Alun abaikan Fu Yen.

__ADS_1


"Jadi..kata tuanku kita akan doa bersama minta hujan. Tadi malam sudah kuminta pada gebenur sediakan altar persembahan. Memangnya kau punya ilmu turunkan hujan?" sahut Alun penasaran pada ilmu Ashura.


"Kita doa bersama saja. Kalau kita lakukan sesuatu dengan hati tulus dan bersih pasti dikabulkan. Jangan suka mau menang sendiri! Kumpulkan segudang sampah di rumah tapi tak sanggup bersihkan. Jadi sarang penyakit!" oceh Ashura ntah pada siapa.


Fu Yen tahu Ashura sedang menyindirnya namun Fu Yen tak mau balas di depan orang banyak. Berdebat sama Ashura hanya permalu diri sendiri. Mulut Ashura terlalu tajam untuk dilawan. Ashura bicara tak kasar tapi maknanya bisa merobek hati orang.


"Bersiap ke tempat Gubenur!" perintah Fu Yen beranjak tinggalkan meja makan. Wajah Fu Yen makin mendung tak sejalan dengan cuaca terik. Ashura melelet lidah ejek Fu Yen.


Alun memberi tanda pada Ashura agar berhenti ganggu majikan mereka. Nyali Ashura tak perlu diragukan lagi. Bdan boleh mungil tapi metal sekeras baja.


"Jangan bikin masalah! Nanti kepalamu bisa pindah tempat." bisik Alun cepat cepat ikut langkah raja.


Fu Yen keluar penginapan tak peduli pada gadis bengalnya. Fu Yen seorang pemimpin besar mana mau dilecehkan bocah ingusan macam Ashura. Di mana harga dirinya sebagai pemilik kerajaan?


Ashura bengong ditinggal sendirian di meja makan. Fu Yen benaran marah diabaikan Ashura. Terbukti laki itu tak menyapa seperti biasanya. Ashura juga tak mau tunduk pada laki itu agar jangan dikira semua wanita tergila pada kebesaran seorang raja.


Ashura biarkan Alun dan Fu Yen pergi duluan. Toh dia bisa pergi sendiri cari kediaman gubenur. Selama mulutnya masih lengket di wajah pasti takkan sesat. Ashura yakin bisa sampai ke rumah orang besar di kota ini.


Seusai makan Ashura kembali ke kamarnya bereskan barangnya. Ashura harus hati hati sembunyikan peralatan dari masa depan agar tak mengubah sejarah. Di jaman dulu mana mungkin ada barang canggih gitu. Kalau Ashura perlihatkan maka akan muncul tanda tanya besar. Maka itu Ashura hati hati bertindak.


Setelah semua aman Ashura segera keluar penginapan cari rumah gubenur. Keadaan jalan lebih ramai dari sebelumnya. Penduduk jauh lebih baik dari kemarin. Mungkin karena kemarin Fu Yen sudah membagi makanan walau masih dalam jumlah terbatas.


Semoga dapur umum gubenur mampu membantu penduduk yang kelaparan. Ditambah ritual memanggil hujan saran Shu Rong. Andai dua hal ini terlaksana maka penderitaan rakyat akan berkurang.


Ashura lenggang lenggok sepanjang sambil cuci mata. Siapa tahu jumpa hal menarik bisa jadi bahan cerita untuk Liem dan Hastomo yang pasti sedang kebingungan mencarinya.


Saat ini Ashura tak punya banyak waktu memikirkan orang orang di masa depan. Orang di depan mata sudah sekarat mengharap bantuan. Ashura harus bertindak cepat akhiri musim kemarau ini.


Ashura kebingungan juga cari rumah gubenur. Mata Ashura cari cari orang yang bisa ditanya di mana rumah pejabat terkaya di kota ini.


"Maaf bu! Bolehkah aku bertanya?" Ashura menjumpai seorang perempuan tua yang sedang duduk melamun. Badannya kotor penuh debu. Wajahnya tak karuan menanggung beban derita. Hati Ashura makin perih ikut merasakan susahnya rakyat.


"Tuan ini yang menolong penduduk sini kan?" ibu itu mengenali Ashura.


"Hanya kebetulan. Ayo kita ke rumah gubenur! Hari ini semua akan dapat jatah makan. Ajak semua kawan tapi janji harus tertib."


"Benarkah? Ya Tuhan..tuan ini sungguh mulia." Ibu tua itu membungkuk hormat pada Ashura. Ashura cepat cepat angkat ibu itu tak sanggup terima penghormatan berlebihan.


"Bu jangan gitu! Aku jadi malu! Ajak semua warga kita ke rumah gubenur." Ashura memberi aba aba agar semua rakyat yang sedang dalam musibah bergerak ke rumah gubenur.


Dalam sekejap warga berbondong bondong menuju ke rumah gubenur. Ashura ikut dari belakang dengan hati senang. Bisa membantu warga laksana dapat durian runtuh tak ternilai harganya. Langkah Ashura terasa lebih ringan menuju ke rumah gubenur walau dalam hati masih kesal pada anak gubenur yang kurang ajar.


"Saudara Shu Rong.." terdengar seseorang memanggil nama Shu Rong.


Ashura menoleh. Seorang laki perlente datang menghampiri Ashura dibarengi senyum manis. Laki ini terlalu pesolek dimata Ashura. Gayanya persis calon bencong masa depan.


"Achh..saudara Chen Yang." Ashura berusaha ramah layak jumpa sahabat lama.


"Saudara Shu Rong mau ke mana?"


"Mau ke rumah gubenur pantau pembagian makanan untuk rakyat." sahut Ashura sopan.

__ADS_1


"Kau tak takut pada anak gubenur yang kau hajar kemarin? Dia pasti dendam padamu. Kusarankan kau tak usah dekati orang berhati sempit itu. Nanti timbul masalah baru."


Ashura tersenyum perlihatkan deretan gigi mutiara hasil rajin sikat gigi sehari tiga kali. Chen Yang terpesona.


__ADS_2