CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Rapat 2


__ADS_3

Ashura berpikir keras bagaimana cara bikin kendaraan umum buat para pekerja kasar. Kalau motor tak mungkin karena di jaman ini teknologi masih tak berjalan. Satu satunya yang bisa diharap adalah rancang sepeda sederhana buat mereka.


Fu Yen melihat gadisnya melamun lagi. Wajah Ashura yang sangat cantik nyaris sempurna membuat setiap orang yang melihat pasti akan jatuh cinta. Untunglah Fu Yen telah taklukkan wanita tercantik di mata raja. Tak ada wanita sesempurna Ashura di mata sang raja.


"Ada apa sayangku?" tanya Fu Yen penasaran Ashura sedang memikirkan apa.


"Apa Yang Mulia punya tukang besi yang pandai?"


"Untuk apa? Mau bikin senjata seperti rancanganmu?"


Ashura mangut yakin. "Hamba pingin bikin kendaraan buat penduduk agar bia bepergian tanpa perlu kuda lagi."


"Apa maksudmu?"


"Nanti setelah sidang aku akan perlihatkan rancanganku pada Yang Mulia. Segitu banyak inovasi bisa kita buat untuk rakyat maka hamba minta ijin bisa keluar istana. Banyak yang bisa lakukan untuk kerajaan ini."


Fu Yen masih tak percaya pada kepinteran Ashura buat gebrakan baru. Seorang gadis bisa apa. Namun Fu Yen tak mau bikin Ashura kecewa ditolak idenya memilih angguk beri kebebasan padanya untuk bikin berbagai ide.


"Aku ijinkan tapi tetap utamakan suamimu ya!"


"Kita belum menikah." rengut Ashura kecewa Fu Yen tak ingat mereka belum laksanakan adat peristeri Ashura secara resmi.


"Kau mau diresmikan secara umum?"


"Tak perlu umum cukup kalangan istanamu saja. Aku seperti simpanan sang raja tak ada tempat resmi."


"Baiklah! Aku akan jumpai nenekku untuk bahas masalah nikahi kamu secara agama. Aku akan berbuat apapun demi kebahagiaanmu. Asal kamu bahagia aku ikut senang."


Ashura tersenyum senang ditanggapi Fu Yen secara baik. Artinya Ashura memang penting di hati sang raja. Ashura memberi kecupan hangat di bibir sang raja sebagi hadiah dari perhatian sang raja.


Selanjutnya keduanya tak banyak omong. Keduanya sibuk tenggelam dalam pemikiran masing masing. Perjalanan singkat menuju ke istana utama terasa panjang karena dibalut kebisuan.


Ashura sibuk memikirkan cara buat rakyat sejahtera. Ashura bukan orang ngerti masalah mesin namun untuk rancang sepeda sederhana mungkin masih bisa terjangkau otak kecilnya. Ashura harus jumpa Fu Kuang untuk wujudkan berbagai impian hadirkan dikit sentuhan moderen pada kerajaan ini.


"Ashura sayang..apa yang kau pikirkan?" suara Fu Yen buyarkan lamunan Ashura. Ashura menatap Fu Yen dengan tatapan bodoh seperti tersadar dari tidur panjang.


Fu Yen menepuk pipi wanita kesayangannya perlahan agar wanitanya bangun dari lamunan. Ashura menatap Fu Yen sekejap lalu tersenyum manis tenangkan sang raja bahwa dia tak ada masalah.


"Sudah sampai?" tanya Ashura pelan


Fu Yen mengangguk sambil meraih tangan wanitanya untuk turun dari kereta. Ashura menolak karena malu dilihat orang. Mana mungkin seorang raja menggandeng penasehat yang konon katanya seorang lelaki cantik. Nama baik sang raja akan tercoret bila tersiar berita sang raja suka pada pria muda cantik.


Fu Yen tertawa kecil maklum niat Ashura lindungi dia dari gosip tak sedap. Fu Yen terpaksa biarkan wanita kesayangan turun sendiri dibantu Kasim Du yang sudah menanti dibawah.

__ADS_1


Ashura menatap Kasim Du dengan tatapan terima kasih. Ashura tak berkata apapun namun pandangan mata wanita muda ini sudah wakili ketulusan hatinya.


Fu Yen melangkah dengan gagah menuju ke ruang rapat disusul Kasim Du dan Ashura. Mereka segera naik berpuluh tangga menuju ke atas ruang. Sepanjang anak tangga sudah dijaga pengawaal berpakaian seragam gagah.


Pemandangan demikian selalu ada kalau sang raja datang ke ruang sidang. Entah hanya sekedar tradisi atau memang pengawalan untuk raja.


Dalam ruang sidang sudah hadir para pejabat yang bakal jadi lawan sang raja dalam ambil keputusan berbagai isu yang sedang dibahas bersama.


Fu Yen segera ambil posisi di singgasana kebesaran di sisi ada Kasim Du dan penasehat cantik Ashura.


Begitu raja duduk manis di kursi kerajaan semua pejabat bersujud hormat pada sang raja. Koor membosankan muncul lagi ucapkan kata kata yang sama. Entah betul dari hati kecil atau sekedar pemanis bibir.


Fu Yen beri tanda agar semua pejabat bangkit. Suara Fu Yen dibuat lebih berat untuk tunjukkan wibawa seorang raja. Ashura suka cara Fu Yen kendalikan situasi sebelum pejabat bikin masalah baru.


"Para pejabatku tercinta. Hari ini kita akan putuskan beberapa hal yang jadi bahan bincangan kita. Kuharap kalian sudah keputusan bijak."


"Yang Mulia...mengenai pajak yang akan diambil dari kami itu tidak bijak. Kami kerja pagi siang malam untuk rakyat. Mengapa kami yang harus biayai kemiskinan rakyat. Bukankah rakyat yang harus bayar kami?" salah satu pejabat langsung to the point keberatan dipungut pajak.


"Saat ini rakyat sedang susah. Tak mungkin kita pungut pajak dari mereka lagi. Dan kita bagi sedikit beras kita pada rakyat mungkin takkan bikin hidup kita sengsara. Kalau kita bergabung pasti akan kumpulkan sedikit biaya ringan penderitaan rakyat. Aku setuju bayar pajak."


Mata Ashura berbinar melihat pejabat Chang yang mukanya mirip tikus. Tampang boleh licik namun hatinya sangat baik. Ashura ingin minta maaf sudah salah sangka pada pejabat itu.


Fu Yen kasih kesempatan pada para pejabat keluarkan pendapat sampai hati puas. Ada pejabat yang setuju saran Fu Yen pungut pajak dari pejabat dan ada yang tak ikhlas hartanya dibagi untuk rakyat. Kepala Fu Yen jadi sakit dengar bantahan demi bantahan muncul dari mulut para petinggi negara.


Fu Yen melirik Ashura yang mulai tak sabaran hadapi para pejabat nakal. Ntah apa yang ada di benak penasehat cantik untuk kuras otak para pejabat nakal.


"Begini saja raja cabul..katakan saja tak perlu bayar pajak tapi minta sumbangan dari mereka untuk ringankan penderitaan rakyat. Terserah mau sumbang berapa. Sumbangan ini menunjukkan kualitas seorang pejabat. Setelah mereka setuju maka Yang Mulia cabul baru terapkan pajak pada pedagang besar." bisik Ashura persis di telinga Fu Yen.


Ingin sekali Fu Yen gigit hidung bangir Ashura yang masih sempat menggodanya di saat penting ini. Ashura selalu bikin Fu Yen gemas.


Saran Ashura sangat baik dan bisa dipakai untuk tenangkan hati mereka yang tak puas harus bayar pajak. Apapun bunyinya tetap saja kuras kantong pejabat bantu rakyat.


"Tenang pejabatku tercinta. Di sini rakyat sedang prihatin maka kita sebagai pembimbing mereka wajib ulurkan tangan bantu mereka. Di sini aku umumkan takkan tarik pajak dari anda sekalian tapi meminta keikhlasan kalian memberi bantuan pada rakyat. Setiap sumbangan tunjukkan kualitas kalian sebagai pemimpin yang baik."


Kata kata Fu Yen begitu lembut namun tetap memeras kantong para pejabat. Kini tak ada alasan bagi pejabat menolak usulan raja lagi. Berbagai ******* muncul dari bibir pejabat tapi tak berani keluarkan pendapat. Fu Yen tak patok mereka kasih berapa untuk bantu rakyat.


"Kami terima saran Yang Mulia. Kami akan laksanakan perintah Yang Mulia." perdana menteri tak dapat berbuat apapun selain patuh diikuti pejabat lain.


Fu Yen tersenyum puas dan melirik wanita kesayangan yang sangat bijak. Dalam sekejab bisa balikkan fakta kunci kekesalan para pejabat.


"Terima kasih aku ucapkan. Tugaskan ini akan ditangani menteri keuangan. Setiap sumbangan akan diumumkan ke rakyat bahwa pejabat mereka adalah orang yang peduli pada rakyat."


Janji Fu Yen makin bikin hati para pejabat berbunga. Nama mereka akan diingat rakyat sebagai pejabat dermawan.

__ADS_1


"Semoga Yang Mulia panjang umur." sahut para pejabat setelah selesai bahasan pertama.


Kini bahas pula soal pajak yang akan dibebankan pada pedagang. Para pedagang kaya tentu saja semua berasal dari para pejabat yang mengumpulkan pundi pundi emas andalkan nama besar juga kekuasaan.


Sudah saatnya Fu Yen beri pelajaran berharga pada mereka yang hidup dari isap darah rakyat. Semua ini berkat kepinteran Ashura yang mampu baca situasi.


"Kita lanjutkan penerapan pajak pada pedagang kaya. Pajak yang selama ini kita bebankan ke rakyat kecil untuk sementara kita hapuskan sampai kondisi rakyat mampu berdiri kokoh. Untuk hal ini kuserahkan pada Paman Raja Chen Yang."


Tak ada yang berani membantah karena kalau mereka bantah berarti perdagangan memang dikuasai para pejabat. Dalam hati mereka pasti sedang ngomel atas kebijaksanaan sang raja.


Fu Yen tersenyum puas karena tak ada yang berani membantah atas kebijaksanaan bebankan pajak lebih banyak pada pedagang kaya. Sang raja yakin semua sektor perdagangan dikuasai keluarga para pejabat kaya.


"Baiklah selanjutnya aku mu bahas masalah penyakit menular yang sedang melanda kerajaan kita. Untuk ini aku minta penasehatku terangkan bahaya penyakit ini dan akibat penyakitnya. Silahkan penasehat Ashura!" Fu Yen persilahkan Ashura meju ke depan terangkan semua tentang penyakit menjijikkan itu.


Ashura tampil ke depan dengan gaya sopan menghormati para pejabat. Ashura melihat Fu Kuang berdiri di antara para pejabat. Sebenarnya Ashura kangen pada jenderal ramah itu. Sudah lama tak ngobrol dengan laki itu. Namun sang raja selalu batasi langkah Ashura hingga tak bisa berbuat apapun.


Ashura melontar senyum manis pada Fu Kuang dengan harapan laki itu tahu Ashura masih ingat padanya. Fu Kuang membalas senyum Ashura dengan senyum tipis.


"Selamat pagi para pejabat yang mulia. Hamba di sini wakili Yang Mulia Raja jelaskan bahaya penyakit kelamin. Laki atau wanita bisa saja kena penyakit ini. Bahkan anak anak. Penyakit ini tertular melalui hubungan ***. Andai ada satu orang kena penyakit ini dan dia berhubungan cinta dengan pasangannya maka otomatis sudah tertular. Penyakit ini mematikan. Pertama alat kelamin terasa gatal lalu kencing panas. Parahnya kencing bernanah. Kalau itu sudah susah sembuh. Itu terjadi pada lelaki. Kalau terjadi pada wanita akan sama gatal dan kencing bernanah serta tinggalkan bau busuk pada alat kelamin. Kalau sudah begitu rahimnya akan rusak dan bisa jadi penyakit kanker. Ini berbahaya pada anak kita yang berada dalam lindungan sang ibu. Setiap sudut tubuh sang ibu udah ada kuman ini maka bisa saja terjangkit pada anak." Ashura ambil jeda lihat reaksi para pejabat. Semua terdiam tak berani komentar.


Ashura meneliti wajah para pejabat lihat siapa yang beri reaksi takut. Semua pada menunduk tak berani beri tanggapan.


"Apa ada obat untuk penyakit ini?" tiba tiba salah satu pejabat unjuk diri bertanya.


"Kalau belum berat tentu ada. Cuma setelah sembuh tak boleh sembarangan berhubungan badan dengan banyak pasangan. Terkena dua kali tak ada obat. Pendek kata tak boleh banyak pasangan ***. Kalau kalian merasa terkena penyakit ini segera berobat pada tabib. Jangan malu malu dan takut kena penyakit ini! Selama kita yakin pasti ada jalan. Yang wanita boleh datang pada tabib wanita di istana. Kami akan buka balai pengobatan gratis buat yang kena."


"Bagaimana bisa menular pada keluarga padahal tak hubungan badan dengan anak anak?" tanya menteri Chang.


Ashura tersenyum ramah pada menteri berwajah tikus itu. Laki ini boleh jelek tapi hatinya bersih.


"Kuman itu ada di mana mana. Kita tak sadar menyenuh sumber penyakit lalu menyentuh anak kita. Dari situ bisa tertular. Anak anak lebih rentan lagi. Kondisi cepat buruk. Biasa anak kecil akan terkena di bibir dan mulut. Demam tinggi dan mulut penuh luka.Terburuk ya meninggal. Tolong sebarkan kabar ini ke seluruh rakyat agar sadar akan kesehatan."


Yang hadir menunduk membayangkan dahsyatnya penyakit gatal gatal di daeah kelamin. Selama ini mereka mengira penyakit ini hanya gatal biasa yang akan sembuh seiring waktu. Bagi mereka yang terkena penyakit ini tentu sudah merasakan gejala yang disebut Ashura. Hampir sama yang dirasakan penderita.


Ashura mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan melihat tanggapan para pejabat terhadap penyakit ini. Tak ada yang berani reaksi secara nyata tapi Ashura dapat melihat beberapa pejabat terlihat gelisah.


Ashura tertawa dalam hati melihat menteri agak grogi melirik Ashura. Wanita muda ini yakin menteri telah terjangkit penyakit menjijikkan ini. Dalam hati Ashura bersyukur orang sejahat menteri kena penyakit menular yang bisa matikan seluruh aset vitalnya.


"Mulai besok tabib istana akan buka pintu bagi mereka yang kena. Jangan malu atau takut kalau tak mau mati konyol! Selama kita yakin pasti ada jalan. Aku tunggu kehadiran siapapun yang terjangkit. Dan umumkan pada rakyat agar datang berobat. Sekian penjelasan hamba dan terima kasih." Ashura membungkuk hormat mengundurkan diri kembali berdiri di belakang raja.


Fu Yen bangga pada selir plus penasehatnya itu. Cantik juga pinter. Suatu paduan berharga dari Yang Maha Kuasa. Namun Fu Yen tak ucapkan apapun biar gadis konyolnya tak besar kepala.


"Baiklah! Cukup sekian rapat hari ini. Segala sesuatu akan diatur sesuai rencana. Semoga semua berjalan lancar." Fu Yen langsung bangkit hendak tinggalkan ruang rapat.

__ADS_1


Para pejabat langsung bersujud seperti biasa hormati posisi Fu Yen sebagai raja.


Fu Yen turun dari singgasana menuju keluar diikuti dua orang setianya yakni Kasim Du dan Ashura penasehat cantik. Suasana sangat resmi tanda semua masih segan pada Fu Yen. Ashura yakin di antara para pejabat itu ada ag tak suka pada Fu Yen selaku raja muda.


__ADS_2