
Shu Rong tetap berada di tempat gelap tak mendekati Ashura. Wajahnya pucat walau tak seram seperti hantu dalam dongeng.
"Aku hanya tak sanggup lihat penderitaan rakyat. Kau bantu aku turunkan hujan. Ini akan akhiri penderitaan rakyat."
"Baiklah! Kau ajak masyarkat berdoa di lapangan terbuka. Kau yang pimpin doa. Ini akan menambah nilaimu di mata raja. Raja akan makin tergila padamu. Dari sini kau bisa selidiki ibunda ratu dan kedua keponakannya. Mereka adalah tersangka utama. Tapi kau harus hati hati. Mereka manusia licik."
Ashura mangut ingat kata kata Shu Rong. "Ibunda Suri apa sama jahatnya?"
"Tidak..beliau orang baik. Usahakan dapat kasih sayang dari keluarga raja. Rebut perhatian ibunda suri dan raja. Ratu takkan bisa berbuat apa bila kau dilindungi."
"Kau juga harus jaga aku. Aku takut pada orang jahat. Kita berjalan di jalan terang sedangkan mereka bergerak seperti hantu."
"Kau mengejekku?" Shu Rong tak suka disamakan dengan orang jahat macam keluarga ratu.
"Ups..sori..kau hantu baik. Kau tak sama dengan mereka. Oya..aku mau minta tolong padamu!"
"Apa? Mau balik sekarang?"
"Kalau bisa iya. Tapi itu bukan tujuanku. Aku cuma minta kau bawa powerbank hp sebanyaknya untukku juga bibit unggul padi dan tanaman sayuran."
"Kau tak boleh merubah sejarah nona Ashura. Membawa barang dari masa depan akan mengubah sejarah kuno."
"Powerbank kugunakan sendiri. Dan bibit tanaman takkan rubah apapun selain taraf hidup masyarakat lebih tinggi. Coba kau bayangkan! Bibit padi orang sini hampir setahun baru panen sementara di jamanku cukup tiga bulan. Kurasa ini takkan mengganggu sejarah."
Shu Rong termenung mendengar permintaan Ashura yang cukup masuk akal. Bibit tanaman takkan merubah apapun selain meningkatkan taraf hidup rakyat. Kalau Ashura mampu memberi pengarahan cara bercocok tanam lebih maju rakyat pasti bahagia. Hitung hitung kehadiran Ashura di jaman ini tidak sia sia.
"Baiklah! Aku penuhi permintaanmu. Bibit apa saja kau minta?"
"Bibit padi, jagung, buahan, segala jenis sayuran segar. "
Ashura tertawa senang langsung bangun memeluk Shu Rong lupa kalau gadis di depannya itu hantu. Namun sayang Ashura tak dapat menyentuh Shu Rong karena dia hanyalah roh gentayangan. Ashura menunduk malu setelah sadar telah bertindak bodoh memeluk arwah. Shu Rong tertawa kecil.
"Maaf!"
"Aku senang kau hargai aku. Selain bibit dan powerbank apalagi permintaanmu?"
"Sabun mandiku, suncream dan handbodyku serta minyak wangiku. Harus sama yang biasa kupakai. Kalau beda artinya kita musuhan." Ashura pasang muka jutek pada hantu baik itu.
"Coba kulihat bentuknya? Daripada musuhan sama kamu. Perkaraku takkan selesai dan aku masih? gentayangan."
"Ok." Ashura segera bongkar ranselnya keluarkan alat alat perangnya. Ashura tak bisa hidup tanpa peralatan kamar mandi. Pendek kata Ashura gila mandi dan suka akan kebersihan badan.
"Itu sikat gigi dan obatnya iya juga?"
Ashura terkekeh digoda Shu Rong. Tadi dia nyaris lupa peralatan jaga kebersihan mulutnya.
"Kalau bisa sekalian. Dan pembalut yang ada sayapnya. Aku tak tahu harus pakai apa kalau dapat tamu bulanan. Percayalah! Semuanya hanya untukku. Aku belum biasa hidup seperti orang primitif. Mau ya Shu Rong! Kau harus tanggung jawab atas nasibku."
"Kelewat cerewet. Aku akan usahakan pesananmu. Tapi ingat tak boleh ada yang tahu. Ini akan bikin heboh dan akan mengubah sejarah peradaban." ujar Shu Rong tak berdaya hadapi gadis bengal macam Ashura. Wajar Ashura tak terbiasa hidup di jaman serba minim. Ashura gadis lincah dari abad orang naik bulan. Di jaman ini orang masih memuja bulan sebagai benda mistis.
"Terima kasih. Kau letakkan semuanya di istana dingin saja. Di sana tak ada orang sejak kami pergi. Setelah kelar masalah sini kami akan balik istana. Aku akan dekati kerabat istana cari tahu tentang kematianmu."
"Baiklah! Oya..kau dekati dulu adek raja. Namanya puteri Hwa Lien. Orangnya baik dan lucu. Kalian bisa berteman akrab. Dia akan bantu kamu cari tahu kematianku."
__ADS_1
"Bagaimana bertemu gadis itu?"
"Dia yang akan cari kamu. Setelah hujan turun kamu akan top."
"Apa aku boleh buka cadar?"
" Terserah kamu! Toh banyak yang sudah lihat wajahmu. Semua laki akan memujamu. Hati hati dalam memilih pasangan. Jangan terpedaya!"
"Aku hanya singgah mana mungkin aku jatuh cinta pada laki jaman ini. Macam saja kamu ini."
"Cinta itu misterius Ashura. Dia datang tanpa diundang. Kau akan tahu sendiri kemudian hari. Hati hati dalam bertindak. Jangan mudah percaya sama oarng ya! Besok kau ajak raja dan masyarakat memohon hujan. Aku akan datangkan hujan lebat."
"Siipp..dan kamu juga jaga diri sampai kasusmu selesai. Kamu pasti orang baik semasa hidup. Ayin dan Amuk sangat sayang padamu."
Shu Rong memasang murung teringat kedua abdi setianya. Kedua orang itu setia menemaninya walau hidup serba kekurangan sebagai warga istana dingin. Keduanya gigih pertahankan wibawa Puteri Shu Rong tak pernah mengeluh walau kadang harus kelaparan.
"Kau harus jaga mereka."
"Aku janji. Aku akan lindungi mereka segenap jiwaku. Aku malah ingin keduanya menikah. Aku akan beri kehidupan layak pada mereka. Kalau pertanian berhasil aku akan bebaskan mereka hidup layak di luar istana. Mereka akan kuberi tanah untuk bertani."
"Terima kasih Ashura. Tak salah aku memilihmu masuk ke jaman ini untuk bantu aku dan rakyat miskin."
"Sama sama. Kau beri aku petunjuk agar jangan terjebak. Pantau setiap langkahku. Tegur aku kalau aku salah."
Shu Rong mangut tanda setuju. "Aku pergi dulu. Jaga diri! Besok sebelum matahari tinggi kau harus sudah siap. Pesananmu akan kuantar setelah masalah di sini selesai."
"Ya..jaga diri." seiring kata kata Ashura puteri Shu Rong menghilang. Tinggallah Ashura termenung mengingat misinya di jaman ini masih panjang. Semoga Ashura kuat hadapi semua tantangan ke depan. Ashura lega Shu Rong tak tinggalkan dia seorang diri di jaman tak tepat.
Ashura merasa bosan duduk sendiri seperti orang pesong. Sungguh membosankan tak ada kegiatan apapun. Disuruh begini terus Ashura pasti akan karatan. Hilang sumber kehidupan Ashura.
Ashura menutup laptop hilang mood pelajari jejak buat kincir angin. Shu Rong sudah janji kan turunkan hujan berarti bencana kemarau akan berakhir. Tinggal bimbing rakyat bercocok tanam permanen jangan berpindah pindah berladang.
Ashura mendesah kesal tak tahu harus berbuat apa. Paling golek golek di tempat tidur yang lebih tepat disebut dipan. Ranjangnya keras minta ampun. Kelihatannya Ashura harus ajar penduduk bikin kasur empuk dari batang kapuk. Sekarang cari apa ada pohon kapas di jaman ini. Menanam pohon kapas butuh waktu cukup panjang. Ashura tak mungkin menunggu pohon itu tumbuh sempurna baru tinggalkan jaman ini. Bisa bisa Ashura tinggal nama di jamannya.
"Shu Rong..kau tidur?" terdengar suara Fu Yen di luar kamar. Ashura ogahan buka pintu untuk sang raja. Sebelumnya Ashura simpan ranselnya supaya jangan ketahuan sama sang raja peralatan dari masa depan itu.
Ashura buka pintu pura pura bangun tidur. Ashura mengucek mata biar aktingnya lebih sempurna.
"Tuanku..sudah selesai?"
"Sudah..besok dapur umum dibuka. Kau hajar anak gubenur ya!" tanya Fu Yen menuduh Ashura.
"Mana kutahu dia anak gubenur? Dia cabul paksa mau ambil anak orang hanya gara pinjaman sepuluh tael uang. Masak disuruh bayar seratus tael..gak sanggup bayar ambil anak gadis orang. Apa aku salah hajar gentong lemak itu?" sahut Ashura santai tak merasa bersalah.
Fu Yen tahu Ashura berniat baik bantu orang tapi tak boleh pukul orang sampai babak belur.
"Shu Rong..lain kali tak boleh gitu! Kau seorang puteri bagaimana boleh kasar."
"Masuklah tuanku! Tak baik ngobol di depan pintu." Ashura pinggirkan badan beri jalan pada Fu Yen masuk ke kamarnya. Fu Yen tak menolak undangan Ashura masuk ke kamarnya. Malah raja muda senang bisa berduaan dengan gadis cantik ini.
"Kau tidur?"
"Ya..apa tuanku marah padaku bela kaum lemah?"
__ADS_1
"Bukan marah tapi kamu seorang puteri tak boleh kasar."
"Gentong lemak itu duluan hajar aku. Apa kau gharus tinggal diam dihajar orang ramai. Main keroyokan pula. Dasar gentong bodoh! Coba bayangin! Sudah ku beri julukan kuda nil, badak, ikan lohan tetap tak sedap dipandang mata."
Fu Yen tertawa bayangkan anak gubenur diumpamakan gabungan beberapa binatang jelek. Apa isi otak mungil itu hingga muncul aneka ide aneh.
"Lain kali jaga sikap. Hari sudah senja. Kau mau makan?"
"Bukan makan kuminta tapi mandi. Badanku sudah lengket penuh debu."
"Nona kecil..orang lagi kesulitan air kau malah minta mandi. Bisa cuci muka saja sudah syukur. Sabar sampai istana baru mandi."
Ashura tersadar akan keegoisannya. Saat ini air memang barang langka karena sumur pada kering. Untuk minum saja susah apalagi buat mandi. Mandi tentu saja perlu bertimba timba air.
"Maafkan hamba tuanku. Hamba lupa! Gimana kalau besok kita sama sama mohon pada yang kuasa agar diberi hujan lebat." Ashura teringat kata kata puteri Shu Rong akan turunkan hujan esok hari. Semoga kata kata Shu Rong bisa dipercaya. Kalau Shu Rong artinya nama baik puteri Shu Rong akan tercoret.
"Apalagi ide di otakmu?" Fu Yen menjentik jidat Ashura membuat Ashura menjerit kesakitan.
"Sakit..awas kalau wajah jelekku tambah jelek. Kau harus tanggung jawab kalau aku tak laku. Laki mana mau kawini gadis berantakan macam aku. Dasar raja tega." omel Ashura sambil usap jidat. Fu Yen tertawa geli dengar omelan Ashura. Takut tak laku tapi tak mau diajak jadi ratu. Di mana akal sehat gadis ini?
"Ya sudah..besok aku kawini kamu! Aku suka gadis jelek. Segalanya jelek. Dari akal hingga kelakuan. Mau kan?"
"Ogah..aku tak suka bagi suami. Suamiku hanya boleh satu isteri. Aku jijik pada laki yang comot sana sini apalagi bagi tempat tidur. Najis.."
"Tadi suruh aku tanggung jawab. Mau tanggung jawab malah ditolak."
"Raja sudah cukup banyak wanita. Tak perlu aku lagi. Aku jadi ajudan raja saja. Pikirkan wanita yang masih setia menanti yang mulia di istana."
Fu Yen menghela nafas melihat keteguhan Ashura tak mau masuk daftar wanita utama. Mengapa sulit taklukkan gadis bengal ini. Wanita lain berlomba jadi simpanan sang raja. Bahkan tak jarang wanita wanita hilang akal permalu diri buka pakaian langsung di hadapan sang raja demi dapat kasih sayang sang penguasa.
"Mengapa kau tak suka padaku?" tanya Fu Yen dengan nada sedih. Bagaimana cara agar Ashura bisa suka padanya. Hati Fu Yen terlanjur suka pada Ashura. Banyak keistimewaan gadis ini. Di mata Fu Yen gadis ini memiliki nilai lebih.
"Siapa bilang hamba tak suka pada tuanku! Sangat suka tapi sebagai atasan doang! Aku tak bisa jatuh cinta padamu. Tuh matamu sudah penuh cinta dari gundik gundikmu! Kelewat banyak cinta bisa demam lho!" olok Ashura berusaha ciptakan suasana akrab.
Lagi lagi Fu Yen harus telan rasa kecewa. Jawaban Ashura jauh dari harapannya. Fu Yen mau Ashura ungkap perasaan cinta sebagaimana wanita lain Memujanya, memohon perhatian raja. Kenapa Ashura tak mau lakukan hal yang diinginkan Fu Yen.
"Sesukamulah! Oya..tadi kamu bilang apa? Memohon hujan dari Yang Maha Kuasa? Memangnya ada yang lebih berkuasa dari Raja?"
Ashura menghembus nafas keki. Fu Yen merasa dia paling berkuasa atas segala bumi ini. Fu Yen tak tahu kalau di luar sana masih banyak negara lebih power dari kerajaannya. Betul betul katak dalam tempurung. Hanya tahu bersuara dalam tempurung tak tahu dunia tak selebar daun kelor.
"Tuanku..Kita ini punya Yang Maha Kuasa! Kita dilahirkan atas ijin Yang Diatas. Tuanku terpilih jadi raja juga berkat Yang Maha Kuasa. Hidup mati kita sudah ada yang atur karena itu kita tak perlu angkuh dan sombong. Kemewahan dan kejayaan itu hanya sementara. Suatu saat kita akan meninggal juga. Maka itu kita harus tinggalkan nama baik agar dikenang orang hingga anak cucu kita." ujar Ashura panjang lebar hendak buka pola pikir kuno Fu Yen. Raja muda ini merasa dia adalah orang paling berkuasa di jagat ini.
Fu Yen termenung dengar kata kata Ashura. Gadis ini masih muda tapi cara bicara seperti orang tua bertapa tinggalkan nilai duniawi cari kedamaian. Siapa sih sebenarnya gadis muda ini. Mengapa segalanya dia lebih dari yang lain.
"Siapa gurumu? Mengapa kamu sangat bijaksana?"
"Guruku adalah hati bersih. Kalau kita pandang segala dari sisi kebenaran maka semua akan terang. Kalian kan ada ritual sembahyang di kuil! Itu akan jadi pedoman cari kebajikan." ucap Ashura lembut membelai relung hati Fu Yen.
"Kau sangat istimewa. Cuma sayang kau tak mau jadi wanitaku." lirih Fu Yen dengan tatapan kosong.
"Aku egois tak suka bagi suami. Kalau tuanku mau lepaskan semua gundik gundikmu maka akan kupertimbangkan."
"Tak mungkin..mereka sudah lama masuk istana. Mana boleh kuusir demi kamu."
__ADS_1