CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Kejujuran


__ADS_3

Perkataan Ashura seperti lonceng kematian buat Ning Fei. Bahasa halusnya Ning Fei khianati Fu Yen baru bisa dapat penyakit ini. Dari siapa dia menularkan penyakit ini hanya dia yang tahu. Hukumannya sangat berat bila ketahuan telah berzina di belakang raja. Mungkin saja hukuman mati buat penzina.


Ning Fei tampak gelisah di antara rasa sakit. Penasehat Shu terkenal sebagai abdi paling dekat dengan raja. Kalau dia melapor pada raja maka habislah riwayat Ning Fei. Ning Fei tampak sangat ketakutan sampai muka pucat berubah putih tak berdarah.


"Apa penyakit aku bisa sembuh?"


"Kita usaha saja tuan putri! Semua tergantung pada kemurahan hati Yang Maha Kuasa. Coba katakan dari mana asal penyakit ini biar aku bisa putuskan mata rantai penyakit ini! Kalau dari Yang Mulia Raja maka dia juga harus diobati. Raja punya banyak selir maka makin besar potensi satu istana tertular."


Ning Fei kelihatan sangat ragu untuk menjawab pertanyaan Ashura. Ini menyangkut hidup mati dirinya sebagai selir istana. Apalagi dia digadangkan menjadi calon ratu yang diusulkan oleh ibunda ratu sekarang. Ashura ngerti Ning Fei kesulitan menceritakan semua isi hati di depan orang ramai.


"Kalian semua keluar dulu! Biar aku yang obati tuan putri!" kata Ashura mengusir semua dayang agar Ning Fei tergerak hati mau bercerita yang sebenarnya.


Satu persatu dayang tinggalkan kamar Ning Fei. Tinggal Ashura dan Hwa Lien yang ada dalam kamar. Ning Fei melirik Hwa Lien takut gadis itu tak mau kerja sama membocorkan rahasia dirinya. Hwa Lien adalah adik raja maka wajar dia akan bela abangnya bila Ning Fei lakukan sesuatu tak pantas.


Ashura mengikuti arah tatapan mata Ning Fei kepada Hwa Lien. Ashura makin ngerti apa yang diinginkan oleh wanita ini. Ning Fei mau Hwa Lien juga ikut keluar tak ikut dengar pengakuan dia! Ashura paham segera ajak Hwa Lien keluar sekalian mau minta ponsel yang sudah dikuasai oleh Hwa Lien. Ashura harus merekam semua pengakuan Ning Fei agar punya bahan kirim orang yang bersangkutan ke dalam penjara.


Hwa Lien yang belum ngerti kesal tak dihargai oleh Ning Fei. Dia termasuk salah satu pemilik istana masak harus ikut keluar seperti dayang lain.


Ashura menenangkan Hwa Lien memberi tugas lain kepada Hwa Lien yakni ambil hasil rekaman di kamar ibunda ratu. Sudah saatnya kumpulkan semua bukti agar bisa selesaikan misi menegakkan keadilan buat Shu Rong.


"Sayangku...pergilah! Cepat balik sini karena kita masih banyak kerjaan. Aku bisa urus Ning Fei. Sekarang dia itu burung merak gundul. Bulunya yang indah telah rontok. Berikan ponselmu!"


Hwa Lien membesarkan mata keberatan benda kesayangan diambil oleh Ashura. Hwa Lien klaim benda itu sudah jadi miliknya. Ashura meminta sama saj ajak perang. Belum perang sama kerajaan Tang sudah terjadieeang saudara dalam istana.


"Enak saja! Ini kan punyaku!"


"Iya punyamu! Pinjam...aku mau rekam semua pengakuan Ning Fei. Dasar anak bodoh..."


"Oh...kirain mau minta kembali! Nih!! Hati-hati jangan lecet!" Hwa Lien menyerahkan ponselnya dengan hati berat. Hwa Lien tahu Ashura gunakan benda ini bukan untuk bersenang-senang seperti dirinya. Wanita itu perlu bukti semua kejahatan kelompok ibunda ratu serta kroninya. Ashura bisa mulai dari Ning Fei untuk bongkar konspirasi besar dalam istana yang ingin jatuhkan raja.


"Pergilah ke tempat ibunda ratu untuk ambil hasil rekaman kita. Langsung balik sini ya!"


Hwa Lien mengangguk. Bersama Ashura hidup Hwa Lien lebih berwarna. Hwa Lien merasa dia lebih berguna sekarang. Tidak hanya main habiskan waktu. Ashura telah buka mata Hwa Lien untuk menjadi wanita lebih berguna daripada sekedar pamer kecantikan dan kekayaan.


Ashura melihat Hwa Lien dan dayangnya meninggalkan istana Ning Fei menuju ke tempat tinggal ibunda ratu yang tak jauh dari tempat tinggal selir Ning Fei. Perlahan bayangan ketiga orang itu menghilang dari pandangan Ashura. Kini Ashura harus urus Ning Fei serta jalankan misi mencari tahu latar belakang penyakit Ning Fei. Siapa yang mengirim penyakit ini kepada Ning Fei. Ashura akan segera tahu.


Ashura balik kembali ke kamar Ning Fei untuk mulai misi beri keadilan buat Shu Rong. Semoga saja Ning Fei mau berkicau bongkar semua misteri yang meliputi kematian Shu Rong. Ashura juga sudah tak sabar mau buka tabir kematian Shu Rong.


Ning Fei tampak lebih tenang setelah tinggal dia berdua dengan Ashura. Ashura juga perlihatkan wajah ramah atk mengancam Ning Fei. Dengan pendekatan secara lembut mungkin akan menangkan hati Ning Fei untuk percaya pada Ashura.


"Sudah makan?" tanya Ashura lembut mulai jalankan aksinya.


"Sakit begini mana ada selera makan! Kau bisa redakan rasa panas di daerah itu aku?"

__ADS_1


"Bisa asal tuan putri jujur katakan asala penyakit biar aku bisa cari sumbernya!" ujar Ashura sambil duduk di samping ranjang Ning Fei. Ashura perlu jarak dekat agar bisa merekam dengan jelas.


"Aku mau kamu janji tak buka rahasia aku karena nyawa aku dalam bahaya!"


"Rahasia apa? Kita di istana ini semua tunduk pada Yang Mulia Raja!"


Ning Fei menundukkan wajah menekuni selimut warna merah maron dengan raut wajah sedih. Wajah wanita ini menunjukkan derita cukup getir. Harapan menjadi yang tertinggi mengantar ke jurang nestapa. Kini Ning Fei harus menelan pil pahit kena penyakit menjijikkan.


"Aku ini keponakan ibunda ratu! Ratu takut posisinya tergeser maka apakah aku harus jadi ratu dari raja. Aku harus patuhi semua perintah ratu termasuk jadi gundik perdana menteri. Perdana menteri ingin kuasai raja dan jadi raja di atas raja. Kami semua selir yang diabaikan raja harus layani dia bergiliran. Dia juga punya hubungan dengan ratu. Imbasnya ya kami ini!" cerita Ning Fei dengan wajah suram.


"Kau pingin sekali jadi ratu? Harusnya bukan dengan cara ini! Kau bisa tunjukkan prestasi untuk mencuri hati raja. Ternyata ratu dan perdana menteri gunakan kamu sebagai batu loncatan. Kamu harus melawan jangan mau patuh lagi padanya. Betapa banyak korban berjatuhan hanya karena posisi yang tak abadi ini."


"Iya...banyak calon selir mati konyol! Semua direncanakan oleh ratu biar saingan aku berkurang! Sekarang apa yang kudapat? Penyakit menjijikkan membuat hidupku sengsara."


"Kalau sudah sembuh apa rencana kamu? Lanjut menjadi arti atau minta keluar istana?"


"Maunya jadi ratu tapi apa mungkin dengan penyakit aku ini? Aku sendiri benci pada diriku apalagi raja. Apa kau tak cium bau bangkai di bawah aku?"


"Kau tahu apa tentang perdana menteri? Mau berontak turunkan raja?"


"Dia tak ada kemampuan ke situ karena tak punya tentara. Paling dia akan kuasai para menteri lain agar tunduk pada perintahnya. Atau mungkin bersatu dengan kerajaan lain serang raja."


"Bersatu dengan kerajaan lain? Apa ini bukan rencana berontak?"


"Baiklah! Sekarang kita lakukan pengobatan. Kau tutup mata saja agar tak rasakan sakit berlebihan!"


"Kau takkan bunuh aku kan?"


"Ya tidak...Oya...tempo hari aku dengar putri Shu Rong kedapatan dibuang ke hutan oleh orang jahat! Apa ini pekerjaan kamu?"


"Kenapa kamu tanya itu? Aku hanya diminta ajak Shu Rong jalan-jalan dan tinggalkan dia di hutan. Selanjutnya aku tak tahu! Itu semua perintah bunda ratu. Dia harus singkirkan Shu Rong agar atk naik jadi ratu. Toh dia tak mati."


Pengakuan ini yang ditunggu oleh Ashura. Secara tak langsung Ning Fei sudah akui kalau kematian Shu Rong ada hubungan dengannya. Untuk langkah selanjutnya adalah cari kesalahan ratu agar bisa pertanggungjawabkan semua dosanya.


Ashura tak menunda mengeluarkan cairan antibiotik dosis tinggi untuk redakan infeksi alat vital Ning Fei. Ashura main cap cip cup untuk obati Ning Fei. Ashura tak punya latar belakang pendidikan kedokteran namun sedikit banyak tahu cara gunakan suntikan serta obatan. Ashura kira-kira saja gunakan dosis obat untuk disuntikkan pada tubuh Ning Fei. Kelewat banyak bisa timbulkan kematian pula. Selanjutnya Ashura suntikan juga pereda rasa nyeri sejenis Paracetamol.


Ning Fei tak rasakan sakit karena hanya jarum kecil menusuk ke lengannya. Ini tak seberapa bila dibandingkan dengan rasa nyeri yang dialaminya di bawah perut. Rasa panas dan nyeri yang ditimbulkan oleh penyakit kelamin cukup menyiksa wanita itu. Ashura segera sembunyikan peralatan medis miliknya yang pasti aneh menurut pengamatan orang zaman sekarang. Ashura tak boleh bongkar siapa dia sebelum tugasnya selesai.


"Sudah tuan putri! Sekarang kita tinggal tunggu reaksi obat. Untuk selanjutnya tuan putri harus rajin minum obat yang kukasihkan."


Ning Fei membuka mata tak merasakan derita berarti. Cara pengobatan Ashura simpel tak ribet. Ning Fei hanya rasakan seperti digigit semut lalu semua diam.


Ning Fei sangat berterimakasih pada Ashura yang mau mengobati dirinya. Semula Ning Fei mengira dia akan segera mati menahan rasa nyeri tak terhingga. Buang air kecil saja sangat menyiksa karena alat vitalnya telah luka semua. Semoga pengobatan Ashura akan baik hasil.

__ADS_1


"Terimakasih penasehat Shu! Kurasa tak lama lagi ibunda ratu akan cari kamu! Penyakitnya juga hampir sama dengan penyakit aku! Dia punya juga cukup parah. Bahkan kencingnya sudah berdarah."


"Itu sudah menyerang organ tubuh lain. Itu akan sulit diobati! Kamu harus bersihkan alat vital kamu dengan air hangat untuk kurangi rasa sakit serta bau busuk."


Ning Fei mengangguk. Sudah ada rasa nyaman di daerah vitalnya. Tidak senyeri tadi. Artinya obat yang disuntikkan Ashura bekerja dengan baik. Ning Fei tak henti bersyukur bisa dapat kesembuhan walaupun masih terlalu dini untuk bersenang hati. Pengobatan masih perlu waktu cukup panjang karena penyakitnya cukup kronis.


"Hei..ada enakkan! Aku bisa sembuh ya?"


"Doakan saja! Oya...ada berapa selir masih hubungan dengan perdana menteri? Mereka harus segera diobati sebelum berakibat fatal."


"Aku tak tahu tapi kurasa hampir semua selir raja sudah berakhir di ranjang perdana menteri! Mereka pasti akan cari kamu bila dengar aku sehat. Kau bisa lihat satu persatu muka wanita pengkhianat seperti kami. Perdana menteri sendiri pasti akan cari kamu. Itunya juga sering mengeluarkan cairan bau berwarna kuning. Tapi dia masih juga mau hubungan badan dengan wanita."


Ashura takjub mendengar betapa hebatnya stamina perdana menteri. Alat kelamin sudah rusak masih juga tak menyerah. Sungguh lelaki bejat. Punya penyakit besar hendak sebarkan ke seluruh warga istana.


"Aku akan pantau semuanya. Ini obat yang harus kamu minum nanti malam. Besok aku akan datang pantau kamu! Sekarang makan sedikit dan istirahat." Ashura berniat tinggalkan putri Ning Fei biar dia bisa istirahat.


Sebenarnya wanita ini juga kasihan. Dia hanya boneka yang dimainkan oleh ratu dan perdana menteri ditambah sifat tamak mau jadi ratu maka semua derita ini pantas dia tanggung.


Ashura tinggal dua butir pil untuk Ning Fei. Satu antibiotik dan satunya anti nyeri. Kedua macam obat ini akan tangani semua masalah Ning Fei. Ashura berharap kedua obat ini mampu meredakan penyakit Ning Fei. Selir ini masih harus mendekam di penjara untuk pertanggungjawabkan perbuatan menghilangkan nyawa Shu Rong.


"Terima kasih penasihat Shu! Kuharap kau tepat janji tak bongkar hubunganku dengan perdana menteri."


"Tentu...semoga tak ada laki lain tertular darimu!"


"Tidak ada. Aku cuma hubungan dengan perdana menteri! Kalau mau cari orang paling bertanggung jawab itu adalah ratu dan perdana menteri."


"Aku tahu...aku permisi dulu! Semoga tuan putri cepat sembuh!" Ashura mengundurkan diri dengan sopan. Hari ini Ashura mendapatkan banyak rahasia terselubung perdana menteri. Ashura harus meminta Fu Yen mengadakan rapat untuk lihat kondis terkini perdana menteri. Apa dia akan hadir ikut rapat atau sudah terkapar seperti Ning Fei.


Ashura tak sabar mau tahu bagaimana hasil rekaman di kamar Ning Fei dan rekaman yang ada pada Hwa Lien. Mereka sedang main detektif cari tahu orang jahat di sekitar istana. Orang demikian harus segera dihapus dari permukaan bumi agar tak bawa polusi penyakit buat yang lain.


Ashura menunggu Hwa Lien di depan istana Ning Fei. Di sana !asih ada Alun yang setia menunggu mereka mengobati Ning Fei. Alun selalu kagum pada Ashura namun tak berani ungkap rasa kagum itu. Alun bukan tak tahu kalau penasehat raja itupun putri Shu Rong yang nyamar sebagai cowok. Ashura adalah milik raja yang tak bisa diganggu gugat.


Alun mengangguk sopan pada Ashura begitu wanita itu keluar sampai di depan kereta kuda. Di mata Alun wanita ini makin menarik karena tampak lebih dewasa dibanding dulu. Sifat kekanakan Ashura telah hilang berganti wanita dewasa penuh wibawa.


"Kita balik sekarang?" tanya Alun.


"Kita tunggu putri Hwa Lien dulu! Dia sedang menjenguk ibunda ratu. Katanya ibunda ratu juga sakit!"


"Itu hamba tak tahu karena belum ada laporan. Kita langsung ke istana dingin atau ke istana Yang Mulia Raja?"


Ashura menatap ke depan melihat kalau ada tanda Hwa Lien muncul. Gadis itu tak tampak batang hidung. Kalau Ashura tinggal gitu saja seratus persen kena omelan mulut putri itu. Hwa Lien paling tak suka dibantah.


"Kita tunggu tuan putri dulu!"

__ADS_1


__ADS_2