CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Puasa


__ADS_3

Beginilah kehidupan dalam istana. Berlomba-lomba perkaya diri tanpa pikir akibat nasib rakyat kecil. Ashura hadir jadi pahlawan untuk rakyat yang tertindas selama ini. Ashura akan memutar balik keadaan supaya mereka yang terbiasa hidup di atas penderitaan rakyat paham arti hidup susah. Ashura akan buat mereka yang selalu makan enak rasakan gimana perut keroncongan.


"Tunggu dulu..." seru Ashura sebelum para pejabat mengundurkan diri. Tiba-tiba terlintas di otak Ashura kerjain para pejabat yang nakal. Kalau bukan sekarang kapan lagi kerjain para tikus


Fu Yen memandang heran mengapa tiba-tiba Ashura menahan langkah para menteri yang ingin bubar. Apa lagi yang diinginkan wanita jahil ini. Fu Yen berharap Ashura tidak keterlaluan berbuat para menteri makin menderita.


"Ada apa?" tanya Fu Yen agak ngeri mulut jahil Ashura akan keluarkan kebijakan di luar dugaan.


"Begini...aku dapat firasat kalau bencana di negeri kita akan cepat berlalu bila kita semua berdoa bersama. Besok kita semua kumpul di lapangan istana untuk doakan kesejahteraan rakyat dan kesehatan yang mulia raja serta para menteri tercinta. Mulai jam tujuh pagi hingga matahari terbenam. Sucikan hati dan pikiran. Jauhi semua yang menyangkut manusiawi. Cukup satu hari seperti dulu aku memohon hujan. Akan lebih afdol bila para ratu dan selir istana ikut berdoa."


Fu Yen mengernyit alis tak paham maksud Ashura. Apa yang diinginkan oleh wanitanya ini. Mau tunjukkan permainan apa lagi?


"Maksud penasehat adalah?"


"Negeri kita begitu banyak bencana. Kemarau panjang melanda sengsara kan rakyat lalu dalam istana terjangkit virus mematikan. Maka itu kita harus satukan hati berdoa bersama memohon pada yang maha kuasa usir semua bencana supaya semua hidup damai. Doa tulus para petinggi adalah kunci untuk buka pintu rezeki rakyat. Raja, ratu dan para selir serta pejabat istana adalah orang tua rakyat maka kalian yang akan buka pintu rezeki rakyat."


Tak ada yang berani jawab karena belum tahu cara doa yang harus mereka lakoni. Mereka sudah tahu kepintaran penasehat raja ini. Raja muda saja selalu meminta nasehat pria muda ini.


"Apa yang harus kita lakukan?" kali ini paman raja Chen Yang yang bertanya.


Ashura tersenyum senang karena sebagian rencananya bikin para pejabat mati kutu mulai terealisasi.


"Berhubung kita harus berdoa dengan hati dan badan yang bersih maka diharapkan jangan ada makanan sebelum matahari tenggelam. Kita pantang makan dan minum sebelum hari gelap. Kita dalam posisi bersih lahir batin." ujar Ashura disambut gumaman tak jelas sana sini. Dari pagi tidak makan sampai malam sama saja menyiksa perut. Pertanyaannya apa mereka sanggup berpuasa seperti umat Islam di bulan Ramadan.


Kalau soal penyiksaan memang Ashura memang sengaja menyiksa para petinggi istana agar tahu penderitaan rakyat kecil yang selalu kelaparan. Mereka hidup dalam kemewahan sedangkan rakyat hidup dalam kesengsaraan.


Fu Yen selalu percaya niat baik Ashura segera menurunkan perintah agar semua penghuni istana serta para pejabat ikuti saran Ashura sucikan diri berdoa untuk keselamatan seluruh rakyat dan negara.


"Baiklah. Kita ikutin saran penasehat yang memikirkan nasib negara kita. Aku umumkan semua pejabat hadir di istana sebelum matahari terbit agar lebih yakin persiapkan diri. Pejabat di daerah kecil juga harus ikut berdoa di wilayah masing-masing. Sebarkan semua perintah ini." ujar Fu Yen dengan wibawa. Ashura tidak meragukan kewibawaan Fu Yen. Laki ini selalu punya gaya bikin para pejabat tak berkutik.


"Hamba menerima perintah." terdengar sahutan serentak bikin hati Ashura makin geli. Ashura sangat gembira bisa buat apar pejabat sengsara seperti rakyat.


Fu Kuang perhatikan reaksi Ashura yang tampak ceria setelah Fu Yen turunkan perintah. Fu Kuang tak percaya kalau Ashura tak ada maksud tertentu buat acara doa ini. Fu Kuang bukan tak kenal akal kancil Ashura.

__ADS_1


"Oya...sebelum matahari terbit semua diharapkan makan sekenyangnya agar perut tidak kosong. Minum sepuasnya sebelum berdoa. Ini untuk menjaga stamina kita agar jangan jatuh sakit. Kita percaya kalau negara kita memiliki pejabat yang sehat dan kuat. Terima kasih atas perhatian pembesar yang budiman." Ashura bungkukkan badan beri hormat pada seluruh pejabat yang hadir. Sikap Ashura sangat meyakinkan bikin orang tak bisa berkata-kata.


Ashura tak tahu umpatan apa sedang didendangkan batin para pejabat. Bodoh amat pikir Ashura. Yang penting dia sudah wakili para rakyat beri pelajaran buat para pengerat uang rakyat.


Berhubung tak ada lagi perintah Raja maka rapat dibubarkan. Tinggal keluarga inti istana Fu Yen, Fu Kuang dan Paman Raja Chen Yang. Fu Yen dan Paman Raja Chen Yang percaya kalau niat Ashura itu memang untuk rakyat. Mereka tak tahu itu hanya akalan Ashura untuk menyiksa para petinggi istana. Hanya Fu Kuang tahu itu hanya akalan Ashura kerjain orang pembesar.


"Ashura...apa ini berguna untuk kesejahteraan rakyat?" Fu Yen bertanya karena masih penasaran tujuan utama Ashura adakan doa bersama ini.


"Berguna dong! Intinya adalah demi kebahagiaan dan keadilan buat rakyat." Ashura masih tutup mulut tujuan utamanya. Fu Yen juga sudah lama hidup dalam kemewahan tak tahu rakyatnya puasa Senin Kamis. Raja juga harus cicipi kata kelaparan. Ashura dengan senang hati bantu Fu Yen rasakan derita rakyat kecil.


Fu Yen manggut-manggut yakin pada Ashura. Ashura telah menunjukkan kemukjizatan menurunkan hujan maka Fu Yen percaya kepadanya.


"Lalu kamu bilang mau bikin senjata dan transportasi untuk rakyat. Sudah ada rencana?"


"Oh itu...sudah ada! Aku harus minta bantuan Jenderal Kancil untuk wujudkan impian aku ini. Di sini aku memerlukan tukang besi yang handal. Tugas ini akan kuserahkan kepada jenderal kancil untuk ditindak lanjuti. Aku sudah punya gambarnya." Ashura mengeluarkan gulungan kertas dari balik baju penasehat. Satu untuk gambar senjata sederhana dan gambar sepeda. Soal besi mungkin bisa diatasi sekarang masalahnya adalah ban. Apa Fu Kuang bisa buat ban dari bahan karet?


Ketiga pemilik kerajaan melototi gambar Ashura yang tidak begitu bagus namun masih bisa dipahami. Bagi mereka kedua benda ini termasuk benda asing yang belum ada di jamannya. Ashura datang bawa teknologi sederhana.


Ketiga orang itu masih takjub dengan pola yang diberikan oleh Ashura. Terlihat sederhana tapi pengerjaan cukup sulit karena butuh waktu cukup lama untuk membuat batangan sepeda. Berapa lama mereka akan menokok besi biar sesuai dengan keinginan Ashura.


"Berapa lama kita tempa batang besinya agar bulat seperti ini?" gumam Chen Yang ragu hal ini bisa dilaksanakan.


"Ya ampun...mana mungkin kita buat satu persatu dengan tenaga manual. Kita bikin dulu cetakan batangan baru lah kita lebur besi dan masukan ke dalam cetakan. Cetakan bisa kita buat dari bambu yang sudah kita lubangi atau tanah liat. Kalau bambu takutnya tidak sama besar karena setiap bambu ukuran kan beda-beda. Dan lagi bambu cepat rusak kena suhu tinggi besi leburan. Aku akan kawal cara mencetak besi." Ashura menerangkan dengan sabar. Yang sederhana begini saja tak terpikir oleh mereka. Gimana kalau Ashura katakan di jamannya manusia bisa terbang ke langit dengan bantuan pesawat terbang. Sangat mustahil bagi orang di jaman ini.


Ketiga penghuni istana angguk-angguk seperti ayam sakit. Mereka sangat tertarik pada rancangan Ashura yang tampaknya sangat membantu bila tercipta di jaman ini.


"Kita bisa masak karet biar berbentuk bulat sesuai roda yang bakal dipasang nanti. Aku sudah ngerti tujuan penasehat kita. Sekarang kau terangkan benda ini!" Fu Kuang lebih cepat tangkap dari paman raja dan sang raja.


Apa yang dipikirkan oleh Ashura tidak salah. Jenderal kancil memang lebih pintar daripada sang raja. Maka itu Ashura lebih memilih bekerja sama dengan Fu Kuang daripada dengan raja sendiri.


"Ini dinamakan pistol. Cara kerja benda ini adalah menarik pelatuk yang terhubung dengan per dalam benda ini. Benda ini mematikan bila meletus. Biasa anak pelurunya adalah besi diisi dengan bubuk mesiu. Pengerjaan benda ini lebih rumit dari sepeda. Kita buat yang pendek dulu baru kita buat yang Laras panjang untuk lawan musuh di arena perang nanti."


"Ya Tuhan... kamu ini anak perempuan mengapa mempunyai pemikiran sampai sedemikian jauh. Kami para lelaki tidak terpikir sedikitpun untuk menciptakan benda-benda ini." ujar paman raja makin salut pada anak cewek di depan mereka. Dari mana ide Ashura sampai terpikir benda yang sangat canggih untuk jaman mereka.

__ADS_1


Mereka tak tahu kalau jaman Ashura lebih canggih. Manusia bahkan sudah mendarat di bulan yang dipuja-puja oleh masyarakat di zaman ini. Manusia di zaman Ashura telah melalang buana di luar angkasa. Hampir tak ada rahasia di zaman kini selain menggali kehidupan di masa lampau.


"Aku akan usaha buat senjata yang kau inginkan. Kedua benda ini memang sangat bermanfaat. Semoga kita berhasil menciptakan benda-benda ini agar bisa berguna di negara kita." janji Fu Kuang sambil menatap Ashura dengan lembut. Fu Kuang selalu merindukan gadis muda yang dia tolong sewaktu pulang dari Medan perang. Sayang abangnya selalu kuasai gadis yang sangat dia sukai itu.


Fu Yen mendengus cemberu lihat adiknya demikian memuja Ashura. Apa Fu Kuang tak tahu kalau tuan Puteri dari negeri Chau ini adalah calon ratu di negeri ini. Fu Kuang masih saja berani senyam senyum pada wanita raja.


"Aku percaya kau bisa jenderal. Kita akan bekerja sama bangun negeri ini agar lebih makmur. Setelah acara doa aku mau tinjau lahan pertanian rakyat. Kita beri pengarahan cara tanam yang baik. Aku akan usahakan bibir unggul untuk rakyat. Kita bisa panen dalam waktu tiga kali purnama."


Ketiga lelaki itu melongo mendengar Ashura mau panen padi dalam waktu singkat. Biasa mereka tanam padi dengan masa panen hampir delapan bulan. Mana mungkin dalam tempo 3 bulan padi bisa dipanen. Apa Ashura ini seorang penyihir yang mampu memperpendek masa tanam. Tinggal ayun tongkat ajaib padi sudah siap panen.


"Ashura..kamu jangan berpikir aneh! Panen dalam waktu tiga purnama itu mustahil. Kita semai benih sampai masa tanam sudah hampir tiga bulan. Kapan pula dia tumbuh? Tak mungkin dalam tempo beberapa hari padinya tumbuh kan?" Fu Yen mengira otak Ashura terkena virus sehingga bicara ngawur.


"Kita belum coba mana tahu berhasil tidak. Yang penting aku usaha. Dalam hal pertanian aku akan andalkan paman raja. Soal senjata kuserahkan pada Jenderal Kancil. Bukan cuma itu. Kita akan tanam jagung, dan beberapa macam sayuran segar biar rakyat bisa mendapatkan uang lebih dari pertanian. Kalau berlebihan kita bisa menjual ke negara tetangga."


Ketiga lelaki itu masih meragukan pernyataan Ashura yang tak masuk akal bagi mereka. Namun melihat semangat Ashura mereka tak berani mengecewakan wanita itu. Biarlah mereka mencoba semua saran dari Ashura untuk memajukan negeri ini.


"Baiklah! Lakukan semua yang kau inginkan asal tidak merugikan orang lain. Dan lagi kamu harus hati-hati bila keluar istana. Kulihat tidak semua pejabat menyukai kamu." Fu Yen mengalah ijinkan Ashura lakukan apa yang menurutnya baik. Fu Yen ingin Ashura tetap bahagia bersamanya maka turuti semua keinginan wanita tercinta ini.


"Bolehkah aku dan Jenderal Kancil membahas semua rancangan aku? Aku akan menjelaskan lebih rinci apa yang diperlukan oleh Jenderal Kancil dalam proyek kami."


Fu Yen tak punya pilihan selain ijinkan Ashura pergi dengan adiknya. Fu Yen percaya Ashura tak mungkin khianati dia karena wanita ini takut berhubungan dengan sembarangan lelaki.


"Pergilah tapi segera pulang sebelum gelap. Kau harus ingat besok masih ada acara doa bersama."


"Siap yang mulia raja.." Ashura membungkukkan badan layak seorang pegawai rendahan sang raja.


Fu Kuang senang sekali akhirnya bisa bersama Ashura lagi. Jenderal ini sudah sangat merindukan Ashura setelah sekian lama tak ngobrol. Kalaupun jumpa selalu dikawal oleh sang raja. Sang raja tidak pernah melepaskan Ashura pergi tanpa pengawalan.


"Aku ikut dengan mereka." Paman raja tiba-tiba nyeletuk ingin bergabung dalam proyek Ashura dan Fu Kuang. Fu Yen tentu saja senang Pamannya ikut dalam pertemuan Fu Kuang dan Ashura. Anggap saja Paman Raja sedang membantu sang raja mengawal Ashura.


Fu Kuang ingin melarang namun tak punya daya. Fu Kuang harus hormati adik ayah mereka itu. Dalam susunan silsilah Chen Yang punya kuasa tak jauh beda dari raja cuma paman raja mereka tak tertarik jadi pemimpin yang dia anggap hanya bikin hidup repot.


Fu Yen mengundurkan diri diiringi oleh Kasim Du. Fu Yen kembali ke istananya untuk lanjut periksa semua laporan yang datang ke meja tugasnya. Selama ini Fu Yen atur negara hanya berdasarkan laporan tanpa lihat benar atau tidak. Untunglah hadir Ashura membuka mata sang raja untuk melihat langsung kehidupan rakyat kecil. kini Fu Yen akan lebih berhati-hati pemerintah negeri ini.

__ADS_1


__ADS_2