CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Rencana Baru


__ADS_3

Ashura tak segera tanggapi omongan raja. Ashura masih jengkel pada raja yang begitu gampang lupakan dirinya begitu dapat Puteri baru. Syukur kalau Puterinya cantik jelita seperti Puteri datang dari negeri dongeng. Setara peri cantik gitulah! Yang dikagumi malah Puteri bermuka lebar dengan hidung seperti buah jambu monyet. Apa yang bisa dibanggakan dari Puteri itu.


"Maaf yang mulia raja...hamba sedang mengemban tugas memberi penyuluhan pertanian pada rakyat. Bukankah yang mulia sudah dapat seorang pendamping yang lebih lebar?" kata Ashura kontan ejek Puteri Tang.


Hwa Lien tertawa ngakak dengar ejekan Ashura tepat sasaran. Puteri Tang serba lebar terutama hidung lebar melebihi orang lain. Kalau bernafas bisa hidup setengah oksigen di bumi. Semua udara bersih habis diembat oleh Puteri itu saking lebar lubang hidung.


"Kau betul Ashura! Puteri Tang serba lebar! Hidungnya bisa muat sebutir buah apel!" kata Hwa Lien masih tak bisa berhenti ketawa. Fu Yen nyaris ikut tertawa namun ditahan takut hilang wibawa di depan dua gadis bengal ini.


"Kalian ini jangan kurang ajar ya! Dia itu puteri Tang yang terhormat."


"Terhormat dari mana? Keliaran di pusat kota pukuli warga lalu fitnah kami! Orang gila tingkat dewa! Kanda urus saja Puteri itu. Kami di sini saja! Aku sedang belajar soal pertanian dari kakak iparku yang cantik! Kanda Fu Kuang akan jaga kami! Paman raja Chen Yang juga akan kawal kami! Pulang sana!" Hwa Lien tak segan usir abangnya dari istana Ashura.


Fu Yen makin kuatir biarkan Ashura berada di tempat ini! Fu Kuang dan Chen Yang akan lebih bebas bersama Ashura bila tetap berada di istana dingin ini. Harapan kehilangan Ashura akan terbuka lebar. Apalagi Ashura orangnya tak suka raja punya banyak selir yang konon katanya akan bawa bibit penyakit kelamin.


"Di sini kurang aman! Lebih baik kalian kembali ke istana utama! Kau Hwa Lien boleh tinggal bersama Ashura kalau kau memang senang bersama Ashura!" Fu Yen mengalah demi untuk jadi pemenang hati Ashura.


Ashura sudah hafal kehidupan seorang raja yang penuh dengan percintaan tak halal. Semua wanita akan dijadikan teman tidur bila sang raja suka pada wanita itu. Ashura harus jaga kehormatan yang masih tersisa agar tak dianggap tertarik pada kehidupan glamor sebagai selir raja.


"Terima kasih niat baik yang mulia! Biarlah hamba tetap di sini bersama Hwa Lien. Andai yang mulia peduli pada kami beri kami pengawal lebih kuat. Tak perlu banyak yang penting kuat saja!" ujar Ashura sengaja bertingkah resmi agar Fu Yen tahu bahwa tak semua wanita tergiur posisi ratu. Persetan dengan segala ratu-ratuan. Ashura sama sekali tidak tertarik pada posisi yang diidamkan oleh semua wanita di kerajaan ini.


Fu Yen terdiam dia mendengar permintaan Ashura yang sangat sederhana. Wanita muda ini tidak meminta berlebihan seperti yang dilakukan oleh Putri Tang. Rencana membawa Ashura balik ke istananya menjadi tersendat. Namun Raja tidak segera putus asa karena dia adalah penguasa Yang harus dipatuhi oleh semua orang.


"Ashura...kau ini adalah calon ratu di masa depan! Mana boleh tinggal di tempat begini? Kau jangan cemburu pada Puteri Tang! Dia itu tamu yang harus kita hormati. Dia datang tawarkan perdamaian maka harus kita hargai!"


Ashura menatap Fu Yen dalam-dalam mencari sesuatu di balik wajah penuh kecemasan itu. Ashura tak tahu perkataan Fu Yen itu tulus atau hanya ingin menghiburnya. Untuk sementara Ashura tak ingin mengalah biar laki itu siapa Ashura sebenarnya. Bukan wanita pengejar nama besar.


"Yang Mulia layani tamu sebaik mungkin bila takut terjadi perang! Biarlah hamba tetap di sini sampai mereka balik ke kerajaan mereka!" ujar Ashura tetap datar perlihatkan keangkuhan seorang Puteri sejati.


Hwa Lien suka sikap cool Ashura tak cepat terlena oleh rayuan raja untuk duduk manis sebagai Puteri pingitan. Sebagai wanita berkelas harus melihat kan sikap tegas tidak silau oleh semua kemewahan yang akan merusak hati sendiri.


"Ashura itu benar kanda! Kami di sini juga bukan hanya main! Kami sedang berusaha membuat rakyat makmur!" timpal Hwa Lien perkuat perkataan Ashura. Fu Yen makin merasa tak berharga kalah oleh seorang wanita. Harusnya mereka takut kepadanya tapi ini justru dia yang takut kehilangan Ashura.

__ADS_1


"Aku akan tinggal di sini juga! Kasim Du... persiapkan semua perlengkapan pindah ke sini!"


Ashura dan Hwa Lien kaget Fu Yen ambil keputusan sangat mengerikan ingin tinggal bersama mereka di istana dingin. Ini akan menaikkan reputasi Ashura namun justru akan menurunkan reputasi raja sebagai seorang penguasa. Ashura tak boleh egois menjatuhkan nama besar sang raja.


"Tunggu...sebagai raja yang mulia mana boleh tinggalkan istana apalagi sedang ada tamu! Yang Mulia percayalah pada kami bahwa kami takkan berbuat aneh selain berusaha memajukan rakyat! Yang Mulia boleh pantau semua gerak-gerik kami!" Ashura cepat menahan Kasim Du sebelum banci kerajaan itu melaksanakan perintah sang raja. Kalau Fu Yen ada disekitar mereka maka gerakan mereka akan terbatasi. Ashura tak bisa menggunakan benda dari masa depan bila ada Fu Yen.


Fu Yen akui kebenaran kata-kata Ashura. Di saat kerajaan sedang kedatangan tamu dia tak boleh meninggalkan istana utama. Justru hari ini akan membuat kerajaan tang merasa tidak dihargai dan memicu perselisihan lebih mendalam.


"Baiklah! Aku akan pantau kalian setiap jam! Kalau mau keluar istana harus dikawal agar jangan terjadi hal diluar dugaan. Kalian berdua adalah orang yang sangat penting di dalam istana maka bisa jadi para pemberontak akan mengincar kalian!"


"Kami tahu kanda! Kanda tidak usah kuatir tentang kami karena kami tidak akan gegabah keluar istana tanpa perhitungan. Kalau tugas kami sudah selesai kami akan segera kembali ke istana utama." janji Hwa Lien meyakinkan abangnya ada segera tinggalkan istana dingin karena telah merusak kegembiraannya.


Fu Yen tak bisa berkata apa-apa lagi karena kedua gadis ini telah menang dan memberi alasan yang tepat. Fu Yen percaya kalau adiknya dan Ashura tidaklah mengganggu Putri tang melainkan Putri Tang semena-mena kepada rakyat maka kedua Puteri turun tangan membela rakyatnya. Belum apa-apa putri Tang melakukan kekejaman pada rakyat. Bagaimana mungkin manusia model itu dijadikan ratu semua rakyat.


Fu Yen beri perintah kepada Kasim Du untuk kembali ke istana. Kasim Du yang sudah sangat rindu kepada Ashura sangat kecewa tidak berhasil membawa wanita muda itu kembali ke istana utama. Namun Kasim Du juga tidak bisa menyalahkan Ashura yang telah diabaikan beberapa waktu oleh sang raja. Ashura punya karakter kuat tak mungkin tunduk pada materi yang bergelimang dalam istana.


Ashura dan Hwa Lien mengantar Fu Yen sampai ke pintu gerbang istana dingin. Fu Yen belum melepaskan rasa kangen kepada Ashura namun sudah harus tinggalkan wanita yang telah merebut hatinya. Hwa Lien melambai dengan hati riang senang akhirnya pengacau telah pergi.


Kereta kuda Fu Yen perlahan berjalan jauhi istana. Kelegaan terpancar di wajah Hwa Lien dan Ashura. Kini mereka sudah bisa lanjutkan misi mereka menyusun rencana membantu rakyat. Besok mereka akan turun lapangan membagi bibit pertanian. Dari sayuran dan buahan serta padi masa kini yang masa tanam hanya butuh waktu tiga bulan.


Ashura tertegun ingat nasib Shu Rong yang tersiakan karena barter pernikahan. Ashura tak boleh tinggal diam biarkan putri lain jadi korban dari pertukaran ini. Dia harus taklukkan kerajaan Tang agar tak semena-mena pada kerajaan kecil.


"Kita perang yok!" ajak Ashura konyol membuat Hwa Lien terhenyak.


Hwa Lien tak percaya pada pendengaran sendiri Ashura ajak dia berperang. Mereka bisa apa lawan ribuan tentara kerajaan Tang yang terkenal kejam dan ganas. Setiap perang selalu dimenangkan oleh kerajaan itu. Ntah berapa puluh kerajaan telah dia taklukkan lewat perang. Tak heran Fu Yen takut hadapi tentara kerajaan Tang.


Hwa Lien menyentuh kening Ashura takut gadis itu terserang demam tinggi sehingga ngawur asal omong. Ashura menepis tangan Hwa Lien lantas menggandeng tangan anak itu masuk ke kamarnya lagi. Amuk segera tutup pintu gerbang agar jangan ada orang datang lagi. Kalau mereka diserang hampir tak ada pertahanan di rumah itu. Mereka bisa mati konyol.


Ashura bukan tanpa alasan ingin ajak Hwa Lien perang lawan Tang. Ashura akan minta bantuan arwah Shu Rong minta artileri zaman moderen. Ashura akan minta mobil tank, bazoka, bom dan ranjau untuk habisin bangsa yang angkuh itu. Ashura sudah pikir matang-matang harus taklukkan negara sombong itu.


"Aku kan datang dari zaman moderen. Kita tak tak perlu banyak tentara. Aku akan buat tentara lawan kocar-kacir. Kita ajak Fu Kuang dan Paman raja Chen Yang latih beberapa tentara untuk gunakan senjata dari abad kami. Kita pasti menang!" Ashura menyakinkan Hwa Lien untuk angkat senjata. Hwa Lien masih ngeri bayangkan dia harus ikut perang bunuh musuh. Potong ayam saja dia takut setengah mati apalagi harus bunuh orang. Bisa pingsan dia.

__ADS_1


"Aku takut..."


"Kalau takut tinggal tunggu kamu diantar ke kerajaan bar-bar di mana lakinya bulu semua. Kamu akan dipeluk lalu dibelai tangan penuh bulu kasar seperti monyet. Kau mau semua itu terjadi padamu?" Ashura terpaksa takuti Hwa Lien agar mau dukung dia angkat senjata lawan Kerajaan tetangga.


Hwa Lien merinding membayangkan tubuhnya dipeluk oleh sosok yang sangat mengerikan. Ingat bulunya saja sudah hampir membuat Hwa Lien mau muntah, apalagi kalau badannya bau prengus. Bisa mati berdiri Hwa Lien. Ashura menepuk bahu Hwa Lien biar gadis ini mengambil keputusan sendiri. Mau dukung dia atau pasrah tunggu dipinang pengeram dari kerajaan lain.


"Aku bisa apa?"


"Banyak...asal ada kemauan! Sekarang kau minta pelayanmu panggil Paman raja dan Jenderal ke tempat kita. Kita diskusi bersama. Ok?" Ashura bikin tanda ok dari dengan bulatkan jari jempol dan telunjuk. Hwa Lien yang tak ngerti hanya bisa ikutan tak paham arti dari kode zaman moderen. Namun Hwa Lien suka cara komunikasi Ashura yang berkesan keren.


Hwa Lien keluar beri perintah kepada dayangnya untuk panggil kedua petinggi kerajaan itu. Ashura merasa Fu Kuang juga sudah saatnya tahu siapa dia. Tak ada guna pura-pura lagi. Cepat atau lambat Ashura pasti akan tinggalkan tempat ini kembali pada kehidupan nyata.


Ashura persiapkan mental untuk ngomong pada Fu Kuang kalau dia bukan manusia berasal dari jaman kuno. Chen Yang dan Hwa Lien sudah tahu siapa Ashura maka tak perlu tarik urat leher jelaskan lagi. Ashura tak bisa bayangkan bagaimana reaksi Fu Kuang bila tahu dia bukan manusia jaman mereka.


Chen Yang duluan datang dibanding Fu Kuang. Chen Yang tidak sesibuk Fu Kuang yang punya tanggung jawab lebih besar. Chen Yang orangnya santai berhubung tak mau ikut campur terlalu jauh soal pemerintahan.


Chen Yang senang sekali bisa main benda dari masa depan. Laki ini tertarik pada kamera yang bisa abadikan foto dalam seketika. Tak perlu minta pelukis lukis mereka lagi. Cukup tekan layar kaca ponsel langsung muncul foto mereka.


Ashura menyambut kehadiran Paman Raja dengan sopan layak seorang bawahan jumpa dengan atasan. Ashura banyak belajar tata Krama istana yang ribet. Lebih banyak kemunafikan ketimbang ketulusan.


"Selamat datang ke istana dingin!" sambut Ashura sopan.


Chen Yang mengibas tangan minta Ashura tak usah banyak adat. Di sini cuma ada mereka tak perlu banyak adat.


"Lagi main apa?" mata Chen Yang menangkap Hwa Lien sedang kutak katik layar ponsel main permainan tetris yang menurutnya menarik.


"Aduh paman berisik! Lihat aku sudah kalah!" Hwa Lien manyun karena game over.


Chen Yang mengambil ponsel dari tangan Hwa Lien perhatikan permainan yang cukup menarik hati. Perasaan Chen Yang kalau Ashura tak ajar dia main permainan ini. Yang diajar hanya ambil foto dan video. Ashura pilih kasih tak mengajar dia. Chen Yang pasang muka judes langsung mendelik pada Ashura.


"Bagaimana ini? Masak paman raja tak diajar main susun gambar gitu!"

__ADS_1


Ashura tertawa melihat paman raja seperti anak kecil sedang merajuk tak dapat mainan keinginan hati. Hwa Lien tak biarkan ponsel lama di tangan pamannya merebut kembali benda ajaib itu. Chen Yang tersentak benda kecil itu pindah tangan. Tanpa peduli reputasi sebagai orang lebih tua Chen Yang mengejar Hwa Lien untuk ambil benda itu. Kedua keluarga kerajaan tak ubah anak kecil rebutan mainan.


Ashura meraba tekuknya yang sakit. Kolesterol kontan naik tinggi lihat kedua orang dewasa itu rebutan ponsel. Keduanya tampak ceria tak perlu sok jaim jaga gengsi. Di sini tak perlu pura-pura hebat.


__ADS_2