
Fu Yen menyentuh pipi Ashura perlahan takut gadis ini terbangun. Pipi itu lembut bagai kulit anak kecil. Ashura adalah ciptaan Tuhan paling sempurna. Semua yang terbaik ada dalam diri wanita cantik ini.
"Kau akan jadi milikku gadis kambingku." desis Fu Yen tak lepaskan pandangan dari wajah Ashura.
Fu Yen mengangkat Ashura membawanya ke pelukan. Fu Yen menggendong Ashura ala bridal menuju ke kamarnya. Kasim Du dan beberapa pengawal yang berdiri di depan pintu ruang kerja Fu Yen hanya bisa tersipu melihat sang raja menggendong gadisnya bak gendong anak kecil.
Fu Yen membawa Ashura ke kamarnya. Fu Yen tak takut besok Ashura ngamuk karena itu akan lebih baik seakan mereka memang ada hubungan intim. Paling besok dengar Ashura merepet panjang lebar ngamuk marahi Fu Yen.
"Kalian pergi istirahat saja! Ini sudah larut malam. Yang piket jaga depan pintu." Fu Yen beri kesempatan bawahan untuk istirahat setelah seharian dinas. Anak buah juga manusia yang butuh waktu istirahat.
"Siap Yang Mulia.." sahut Kasim Du mengundurkan diri. Tinggal dua pengawal kawal depan pintu kamar Fu Yen.
Fu Yen meletakkan Ashura pelan ke atas ranjangnya sambil mengecup kening gadis ini. Ashura beda dengan wanita lain. Yang lain berlomba ingin jadi selimut Fu Yen tapi Ashura malah menolak jadi wanitanya. Makin Ashura menolak makin besar hasrat Fu Yen taklukkan hati gadis ini.
Fu Yen ikutan rebah di samping Ashura sambil memeluk gadis ini. Fu Yen tetap suka bau badan Ashura yang wangi bisa tenangkan pikiran. Fu Yen cepat terlelap menyambut pagi. Malam berlalu aman tanpa ada gejolak nafsu dari Fu Yen. Fu Yen mau Ashura menyerah secara ikhlas padanya. Itulah kepuasan bathin kalau Ashura menerimanya tanpa tekanan.
Kicauan burung menyemarakkan pagi melagukan lagu alam yang merdu. Terdengar bunyi burung bersahutan membangunkan orang orang untuk beraktifitas. Langit mulai perlihatkan semburat jingga menerang bumi setalah kelam sesaat. Beberapa pekerja mulai bekerja sesuai bidang masing masing.
Fu Yen cepat cepat bangun sebelum gadis panasnya bangun. Kalau dia duluan bangun maka tak ada bunyi petasan nyaring memecah ketenangan pagi.
Fu Yen mengecup kening Ashura sebelum gadis ini buka mata. Hati terasa damai melihat orang yang telah merajai hatinya tidur nyenyak dalam pelukannya. Semoga selamanya Ashura akan jadi teman hidupnya sampai ajal menjeput.
Fu Yen segera keluar cari Kasim Du untuk berberes menuju ke Istana Utama menyelesaikan masalah selir yang bikin pusing.
Kasim Du udah menanti di depan pintu kamar sang raja sejak subuh. Wajah sang raja sangat cerah menandakan sedang bahagia. Kerutan jelek tak tampak pagi ini. Sang raja tampak bahagia. Kasim Du menduga pasti ada hubungan dengan Ashura. Semalam Fu Yen membawa Ashura ke kamar. Ntah apa yang terjadi antara mereka.
"Aku mau berberes. Siapkan sarapan pagi! Dan jangan biarkan puteri Shu Rong keluar istana!"
"Apa tuan puteri tak dibawa ke rapat keluarga? Dia kan termasuk salah satu selir Yang Mulia."
"Tidak..dia pasti akan pakai kesempatan ini keluar istana. Dia itu licik dan licin."
"Siapa licik dan licin?" terdengar suara bernada kesal di belakang Fu Yen. Sang raja balik badan mendapatkan Ashura sudah berdiri di hadapan dengan wajah tak sedap dipandang.
"Itu..ada selir mendiang ayah berbuat ulah. Maka aku mau hukum dia. Kau sudah bangun? Bersiaplah ke ruang kerjaku! Kau harus lanjutkan hitung pembukuan negara!"
"Siapa akan bantu hamba terjemahkan kata katanya?"
"Ada pelayan akan layani kamu. Pergilah bersihkan diri! Wajahmu jelek sekali pagi ini!"
Ashura mendecak tak senang diejek Fu Yen. Wajah secantik gini dibilang jelek. Ini pelecehan harga diri. Ashura bukan marah dibilang jelek namun cara Fu Yen menjatuhkan nilainya di mata kasim Du. Fu Yen sengaja ejek dia seolah Ashura memang sangat jelek kalau baru bangun pagi. Mungkin Fu Yen mengira Ashura sama saja dengan selir lain bedaki wajah berlapis lapis bak tembok karatan penuh lumut mesti didompol tebal.
"Hamba jelek tapi ada raja sinting selalu ikat hamba tak boleh pergi. Ini artinya hamba mempesonakan. Ya kan kasim Du?" Ashura mengedipkan sebelah mata seakan goda kasim Du. Kasim Du tersipu malu. Gaya genit Ashura bikin Fu Yen mau muntah.
"Dasar kamu kambing bau..mandi sana!" usir Fu Yen tak mau berdebat dengan gadis konyol macam Ashura. Sampai besok juga takkan kelar.
"Oya Yang Mulia..Kita harus hadirkan puteri Shu Rong di ruangan nanti. Dia adalah orang yang disorot jadi calon ratu. Kalau dia hilang berarti Yang Mulia sedang main api." kata Ashura teringat sesuatu. Ashura berkata seolah dirinya adalah penasehat sejati bukan puteri Shu Rong.
"Apa maksudmu? Kau mau bikin rencana kabur lagi?" Fu Yen menyipitkan mata melirik Ashura tajam.
"Dasar raja anak anak! Semua selir dihadirkan kecuali Shu Rong. Ini artinya Yang Mulia bikin pertanyaan di kalangan selir. Secara tak langsung Yang Mulia usir para selir hanya untuk Shu Rong. Ini berbahaya untuk Shu Rong. Semua akan mengira Yang Mulia sudah tetapkan Shu Rong sebagai ratu atau selir pilihan."
"Memang iya dia kupilih jadi ratuku! Kau mau apa?" Fu Yen memegang dagu Ashura menantang mata biru itu.
Ashura menepis tangan Fu Yen dengan cepat. Ashura malu diperlakukan mesra di depan pengawal dan kasim Du. Reputasi sebagai pengawal dan penasehat jempolan bakal ternodai.
__ADS_1
"Hamba penasehat sejati..jangan main sentuh! Sekarang gini saja! Hamba akan minta Ayin menyamar sebagai puteri Shu Rong. Dan hamba akan muncul sebagai penasehat sejati. Jadi tak ada orang akan curiga kalau Shu Rong asli ada di samping raja. Hamba akan jadi penasehat jempolan." Ashura membanggakan diri sambil busung dada. Tonjolan indah di dada sempat tecetak goda mata sang raja. Fu Yen menelan air ludah tergoda.
"Hebat otakmu! Baiklah! Kau bersiaplah! Cuma kali ini kau jangan ikut campur! Ini soal besar hidup mati para selir. Biar aku yang tangani."
"Ya..tapi janji jangan bikin nama Shu Rong terdaftar dalam catatan haremmu!"
"Shu Rong takkan jadi harem tapi jadi wanitaku. Sebagai penasehat raja kau harus ingat itu. Shu Rong calon bini."
"Masa bodoh!" Ashura menginjak kaki Fu Yen lalu kabur ke kamarnya. Ashura sempat melelet lidah sebelum masuk kamar.
Fu Yen memegang kakinya yang berdenyut gara gara injakan maut Shu Rong. Tenaga Ashura lumayan kuat dibanding wanita umumnya. Tak ada sifat feminim dalam diri puteri kerjaan padang rumput itu. Apa mungkin semua gadis padang rumput sekeras Ashura?
"Dasar macan berbulu kambing!" rutuk Fu Yen meringis masih merasa kakinya sakit.
Kasim Du hanya bisa mengurut dada melihat sang raja dan sang puteri tiap hari berdebat. Ada saja masalah keduanya bikin pusing kepala. Namun di mata Kasim Du Ashura adalah calon cocok buat raja karena gadis ini pinter dan tabah. Tak tamak seperti gadis lain hanya tahu kemewahan.
Kasim Du suka pada Ashura dan yakin gadis ini bisa jadi ratu baik.
"Yang Mulia..puteri Shu Rong sangat cocok dampingi Yang Mulia pimpin kerajaan kita. Yang Mulia harus pertahankan dia!"
Fu Yen mangut. "Dia sangat istimewa! Cuma tak gampang taklukkan dia!"
"Yang Mulia harus pakai sedikit akal bulus biar dia tak lari lagi."
"Maksudmu?"
"Ikat dia dengan anak. Yang Mulia harus berbuat sesuatu agar dia tak lolos lagi. Bukankah dia tidur bersama Yang Mulia? Apakah tak terjadi sesuatu?"
"Aku tak tega melakukannya."
"Belum..aku mau dia menyerah secara suka rela."
"Kalau Yang Mulia tak bergerak cepat mungkin akan didahului Jenderal Fu Kuang. Hamba dengar Jenderal sedang memohon pada Ibu Suri agar menikahkan dia dengan kambing Yang Mulia." lapor Kasim Du sedikit bergosip.
"Kau dengar dari mana?"
"Hampir separuh istana sudah tahu jenderal berada di kediaman Selir Agung demi Shu Rong." Kasim Du beri shock terapi pada Fu Yen agar jangan terlalu yakin pada diri sendiri bisa kuasai Ashura untuk diri sendiri.
"Shu Rong telah tertulis jadi calon ratuku. Mana mungkin diberi pada jenderal sebagai permaisuri istana jenderal." Fu Yen meradang marah tak terima Fu Kuang terangan mau rebut gadis kambingnya.
"Yang Mulia harus tahu. Puteri Shu Rong diantar ke sini untuk jadi sandera perdamaian. Puteri berhak memilih suami sendiri asal dari keluarga kerajaan. Hamba lihat tuan puteri akrab dengan jenderal maka tak mungkin puteri akan pilih jenderal."
"Baiklah! Aku tahu apa yang harus kulakukan. Sekarang jangan katakan apapun tentang masalah ini. Biar kuurus kambing licik ini." Fu Yen tertawa sinis bayangkan Ashura ingin hidup bebas agar bisa jadi isteri Fu Kuang.
Kasim Du segera hidangkan sarapan buat sang raja dan pengawal konyolnya. Sudah Kasim Du duga Ashura pasti akan bikin ulah lagi. Tepat seperti dugaannya. Ashura muncul bersama seorang wanita bercadar mirip puteri Shu Rong sebelum buka cadar. Ashura sendiri berdandan maskulin bertambah kumis tipis di atas bibir.
Fu Yen hampir muntah saking neq lihat gadis kambingnya terlalu berlebihan berdandan seolah di adalah laki tulen. Bukannya tambah ganteng malah menggelikan seorang pria terlalu cantik mempunyai kumis tikus.
Ashura berlagak gagah berjalan bak seorang jenderal baru pulang dari medan perang.
"Selamat pagi Yang Mulia..hamba pengawal Shu beri salam hormat." Ashura perberat nada suara namun tetap muncul suara nyaring halus.
"Hapus kumismu! Kamu mirip tikus got." ujar Fu Yen masih mual lihat penampilan Ashura.
"Berkumis itu lelaki sejati."
__ADS_1
"Sejati kepalamu. Hapus atau kau tak boleh ikut ke ruang rapat."
"Pinternya cuma ngancam. Hapus ya hapus!" Ashura ngambek balik ke kamarnya laksanakan permintaan Fu Yen hapus make up tambahan.
Semuanya tersenyum melihat puteri manja ngambek diancam sang raja. Fu Yen suka pada Ashura tampil apa adanya tanpa bergaya sok manis. Tak perlu rekayasa gaya Ashura memang sudah manis.
Ashura kembali ke kamar Fu Yen sudah dalam kondisi semula. Wajah cantik sang penasehat kembali memanjakan mata sang raja. Setiap menatap wajah manis sang puteri hati Fu Yen terasa hangat. Apakah ini yang namanya cinta? Akan secepat itu dia datang? Mereka bersama bisa dihitung dengan jari. Mengapa perasaan nyaman selalu muncul bersama Ashura.
"Yang Mulia..pagi pagi melamun. Jauh jodoh!" kata Ashura sambil duduk melototi makanan sarapan pagi.
"Jodoh apa? Biniku sudah selusin. Kalau kau suka boleh ambil setengahnya."
"Ogah..itu namanya jeruk makan jeruk! Ehhmm..selusin bini. Artinya setiap malam bisa cium bau ketek beda. Ada yang asam, kecut atau bau sangit. Sungguh aneka rasa." keluh Ashura pada diri sendiri.
Fu Yen mengetok kepala Ashura pakai sumpit saking geram diejek gadis bengal ini.
"Cuci otak kotormu!"
"Apa hamba salah omong? Itu fakta..tiap wanita punya bau badan tersendiri. Masa Yang Mulia tak rasa? Waktu tidur sama selir lagi pilek ya?"
"Sembarangan..jangan ngelantur! Kau tak sopan omongin orang lain. Kau sendiri juga bau. Kau lupa semalam kau tidur di mana?"
Ashura berusaha mengingat semalam dia di mana. Ashura jadi malu sendiri karena mulai ingat tadi pagi dia bangun dari tempat tidur sang raja. Artinya dia tidur sama raja. Sungguh tragedi mengerikan.
Wajah Ashura kontan merah mengingat jelas di mana dia semalam. Kenapa tidurnya kayak kerbau mati tak tahu siapa yang bawa dia ke kamar.
"Kenapa? Sudah ingat?" ujar Fu Yen goda Ashura.
"Kenapa Yang Mulia bawa hamba ke kamar? Maunya bangunkan hamba biar tidur sama Ayin."
"Kau sudah tidur sama aku. Artinya kamu sudah milik aku. Siapa berani kawini gadis yang sudah tidur sama laki lain."
"Bukankah kau tak lakukan hal tak terpuji?" tanya Ashura was was menanti jawaban Fu Yen.
"Aku laki dan kau wanita. Mana kutahu apa yang telah terjadi? Dan kau juga selirku. Wajar kalau antara kita terjadi sesuatu."
"Tak boleh..Aku tak mau asalan kehilangan sesuatu yang paling berharga sebagai wanita. Yang Mulia harus tanggung jawab atas kejadian ini."
"Aku tanggung jawab...besok kuumumkan kau jadi ratu. Senang?"
"Gila..aku tak mau. Yang Mulia kan laki sejati takkan aniaya gadis lemah macam hamba kan? Katakan Yang Mulia tak pernah lakukan hal tak terpuji." Ashura mulai panik terjebak dalam situasi tak kondusif.
"Kau minta tanggung jawab. Aku mau tanggung jawab dan kau tolak. Aku harus bagaimana?"
Selera makan Ashura kontan hilang setelah terjebak keadaan tak menguntungkan. Kenapa dia teledor bisa jatuh ke pelukan raja. Ashura sudah berusaha jauhi perasaan cinta dari sang raja tapi malah jatuh sendiri.
Kasim Du bersorak dalam hati Ashura akhirnya jatuh dalam genggaman sang raja. Nyatanya Fu Yen punya cara licik jebak Ashura dalam situasi tak nyaman. Gadis ini tak bisa ngelak lagi dari posisi sebagai isteri raja. Sekuat apa Ashura menolak tetap saja tak bisa kabur.
"Jangan ungkit lagi soal itu! Sungguh memalukan." desah Ashura makin salah tingkah.
"Makanlah! Semua selirku pasti sudah tak sabar bertemu dengan pujaan hati mereka."
"Cis..ge er banget! Hamba sudah kenyang."
"Terserah! Rapat cukup lama. Nanti kau jangan mengeluh lapar! Di sana tak ada makanan."
__ADS_1