CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Draft


__ADS_3

Ashura, Jenderal kancil dan Paman raja Chen Yang pergi ke satu tempat yang ditunjuk oleh Fu Kuang. Letaknya memang agak jauh dari istana karena merupakan tempat pembuatan senjata serta alat-alat perang lainnya.


Tempat itu dikelilingi pagar tembok yang sangat tinggi dan kokoh. Pintu gerbangnya saja dijaga oleh puluhan pengawal dengan tombak di tangan. Mereka berdiri dengan rapi menjaga pintu gerbang yang tentu saja berisi peralatan perang milik negara.


Ashura memandangi sekeliling melihat penjagaan yang cukup ketat. Tidak sembarangan orang bisa memasuki daerah ini kecuali mereka yang bersangkutan dengan militer.


Begitu Fu Kuang turun dari kuda disusul Paman Raja dan Ashura turun dari kereta ditarik oleh dua ekor kuda. Kenderaan lawas di jaman dulu. Kehidupan para kuda di jaman ini tentu tidak seenak jaman moderen. Di zaman ini kuda harus melakukan banyak hal sebagai alat transportasi serta ikut membajak sawah. Di zaman Ashura kuda hanyalah binatang dipiara untuk transportasi daerah wisata paling buruk dilatih untuk jadi kuda sirkus. Pokoknya tidak seburuk hidup di zaman dulu.


Para pengawal beri hormat pada Fu Kuang lantas membuka pintu gerbang untuk Fu Kuang dan kawan-kawannya. Ashura perhatikan kamp tempat penyimpanan senjata kerajaan dengan seksama.


Tekniknya masih sederhana namun lumayan bagus. Semua mengandalkan gerakan manual. Ashura tak tahu dengan apa mereka buat pintu dari batu. Berapa banyak tenaga kerja dikerahkan untuk tempa batu seperti itu. Ashura tak tahu berapa banyak korban berjatuhan kerjakan pekerjaan berat ini.


Ashura diiring lebih jauh ke dalam bangunan yang terbuat dari batu. Ashura berusaha pikir apa di jaman ini sudah semen sehingga mereka bisa bangun bangunan dari batu. Ashura tak bisa tutupi rasa kagum kepada teknologi jaman dulu. Kalau mereka mampu membuat ruangan seperti ini pasti akan mudah buat senjata dan sepeda seperti harapan dia.


Makin ke dalam udara makin lembab tidak segar. Di hidung Ashura seperti bau lumut tumbuh di daerah lembab. Ada sedikit rasa takut hinggapi Ashura sehingga tanpa sadar mencekal tangan Paman raja Chen Yang.


Chen Yang melirik ke tangan Ashura sekilas tanpa mengatakan apapun. Seorang gadis muda dibawa ke daerah tak ramah ini tentu saja akan timbul rasa tak nyaman.


Chen Yang biarkan Ashura berlindung kepada-nya sampai mereka berhenti di tempat terbuka terdapat beberapa pekerja sedang membuat sesuatu.


Ashura melihat mereka membakar besi serta memukuli besi panas sampai membentuk senjata diinginkan. Ashura menganggap cara ini hanya buang waktu dan tenaga. Ada yang lebih efisien tidak digunakan. Apa pola pikir mereka hanya mentok gunakan tenaga kasar.


"Di sini tempat pembuatan senjata kerajaan!" kata Fu Kuang secara tiba-tiba menarik perhatian Ashura.


"Apa mereka tidak lelah setiap hari menempa besi panas? Kasihan mereka lho!" kata Ashura sekaligus protes dengan pola kerja tak manusiawi.


"Kalau mereka tak kerja siapa lagi akan kerja?" tanya Fu Kuang seperti hilang hati nurani peras tenaga para buruh kasar.


Ashura tak berani dekati tungku yang tampak sangat panas karena api menyala sangat besar. Kayu api menyambar sana sini seakan ucapkan selamat datang ibu negara.


"Aku punya cara lebih bagus dari pada kalian bakar besi."


Chen Yang dan Fu Kuang tertarik pada kalimat Ashura punya cara hemat tenaga. Gadis ini punya akal apa lagi bantu negara. Chen Yang melihat Ashura dari sudut lain. Chen Yang merasa kalau aura Ashura bukanlah sembarangan anak gadis, dia punya otak setajam pedang pembunuh kelas tinggi.


Ashura mulai terangkan cara kerja lebih praktis. Bikin mal untuk setiap ukuran senjata pedang seperti keinginan para pejuang perang. Mereka tinggal cairkan biji besi lalu masukkan ke dalam cetakan. Tunggu dingin sudah ada pedang diinginkan. Sehari bisa cetak puluhan pedang asal cukup besi.


Fu Kuang dan Chen Yang menyimak semua keterangan Ashura dengan penuh perhatian. Ashura beri sedikit gambaran teknologi saat disesuaikan dengan kondisi sekarang. Tak mungkin juga Ashura bawa teknologi jamannya yang serba canggih ke dalam dunia kerajaan ini. Ashura hanya beri pengarahan sesuai dengan kehidupan jaman ini.


Cukup lama Ashura berada di ruang rahasia kerajaan. Hanya orang tertentu boleh datang ke tempat ini. Bahkan Fu Yen sendiri belum pernah datang ke situ. Dia hanya tunggu laporan duduk di singgasana kerajaan. Dengar bisikan menteri yang aneka model. Dari yang licik hingga yang setia.

__ADS_1


Yang setia mungkin bisa dihitung dengan jari. Sedang yang licik bertaburan seperti batu kerikil sepanjang jalan. Di jaman apa saja sama. Korupsi tetap merajalela di kalangan pejabat. Ternyata penyakit tikus ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Sampai akhir jaman penyakit ini barulah berakhir.


Chen Yang tak habis kagum pada pola pikir Ashura yang dia anggap melebihi batas kepintaran wanita di jaman ini. Dari segala aspek Ashura lebih dari orang lain, bahkan cendikiawan negara tak bisa menyamai kepintaran Ashura. Chen Yang mana tahu kalau Ashura datang dari zaman ribuan tahun mendatang.


Fu Kuang merasa dia perlu lebih sering ngobrol dengan Ashura untuk menyerap kepintaran anak ini. Fu Kuang menyesal mengapa tidak bersikeras merebut Ashura dari Fu Yen. Andai dari dulu dia menyekap Ashura di istananya maka sang raja takkan berani berbuat apa-apa. Dia memegang semua kekuatan militer maka sang raja pasti segan padanya. Dirundung rasa tak tega maka Fu Kuang tidak lakukan hal ekstrim. Kini Fu Yen sudah kuasai Ashura, jalan untuk merebut Ashura makin sempit walaupun kesempatan itu tetap ada. Tinggal tunggu Fu Yen silap saja. Fu Kuang akan gunakan kesempatan ini merebut Ashura.


Menjelang sore Ashura minta diantar pulang ke tempat raja supaya menghindari kecurigaan Raja terhadap kedua keluarganya. Fu Yen adalah raja yang penuh rasa curiga. Namun Raja tidak mengetahui kalau kecurigaan yang dia letakkan adalah salah. Orang-orang yang harus dicurigai adalah para pejabat dan selir-selir yang menggerogoti seluruh hidup raja. Tugas Ashura sekarang adalah membuka kedok orang-orang yang dianggap setia oleh sang raja.


Paman raja yang mengambil alih tugas mengantar Ashura untuk menenangkan raja yang selalu curiga kepada jenderal. Paman raja bukan orang bodoh tidak mengetahui kalau kedua saudara itu merebut perhatian Ashura. Dia sebagai orang senior memilih berdiri di tengah-tengah menengahi persaingan kedua saudara itu agar tidak tertimbun perpecahan di antara saudara.


Fu Kuang tinggal di kamp senjata untuk tindak lanjuti ide-ide yang diberikan oleh Ashura. Fu Kuang tak sabar ingin wujudkan ide Ashura untuk jadi aset kerajaan. Semua ide Ashura sangat berguna bagi kemajuan Negera mereka.


Paman Chen Yang dan Ashura pulan dengan kendaraan paling keren di zaman ini yakni kereta ditarik oleh dua ekor kuda. Kereta kuda itu terseok-seok melintasi jalan berbatuan. Ashura tampak lelah setelah tumpahkan segala isi otak kepada kedua petinggi istana itu. Semoga saja idenya bermanfaat pada negeri Fu Yen.


"Kau lelah?" tanya Chen Yang lihat gadis di depannya menutup mata seakan ngantuk.


Ashura auto buka mata meluruskan mata ke wajah paman raja yang feminim. Chen Yang terlalu rapi untuk ukuran seorang lelaki. Kalau di masa Ashura orang ini pasti disebut banci kalengan. Tapi Ashura mana berani protes pada orang disegani oleh raja.


"Sedikit paman..setelah doa bersama aku ingin ajak paman turun ke lapangan lihat kehidupan petani. Kita beri penyuluhan agar petani menanam dengan teknik lebih baik."


Chen Yang angguk-angguk setuju. Laki ini mau tahu seberapa banyak kepintaran Ashura sebagai anak muda di masa kini.


"Baik...kenapa aku merasa kamu ini seperti bukan dari kerajaan Chau. Mereka di sana lebih primitif dari kita tapi kamu punya sejuta ide." Chen Yang kemukakan rasa curiga pada kepintaran Ashura yang tak lazim.


"Kalau aku bilang aku datang dari ribuan tahun mendatang gimana?" pancing Ashura mau lihat reaksi Paman raja itu.


"Aku juga berpikir ke situ. Aku pernah mendengar di negeri lain ada seorang lelaki datang dari masa depan kembali ke masa lalu. Dia juga melakukan banyak hal untuk tempat yang dia singgahi. Cuma sayang ambisinya terlalu besar sehingga mencelakai dirinya sendiri."


Ashura terdiam sejenak lantas tertawa kecil. Ashura sedang berpikir hendak jujur pada Paman raja agar dia bisa berbuat lebih banyak membongkar keburukan orang istana.


"Kalau aku jujur apa Paman raja mau jaga kejujuran aku?"


Chen Yang juga tak bisa segera beri jawaban karena mau tahu kejujuran apa mau diungkapkan oleh Ashura. Ashura datang buat kacau atau bantu kerajaan. Hanya ada dua pilihan kedatangan Ashura di negeri ini.


"Kalau kau ingin mencari keuntungan maka aku akan tolak."


Kereta berayun-ayun lalui jalan yang makin tak bersahabat. Sepanjang jalan penuh lubang membuat perjalanan jadi tak nyaman. Bagaimana bisa nyaman kalau ban kereta terbuat dari kayu dibentuk bulatan. Coba terbuat dari karet maka ada daya elastis.


"Paman mau dengar kisah aku? Yang pertama aku akui aku bukan Puteri Shu Rong."

__ADS_1


Chen Yang tersentak sampai tiba wajah berubah warna pucat. Kalau orang di depannya bukan Puteri Shu Rong lantas siapa dia bisa masuk istana dengan mulus. Ashura ini mata-mata dari kerajaan mana.


"Maksudmu?"


"Aku datang dari negara sangat maju. Ribuan tahun dari sekarang. Aku juga tak tahu kenapa bisa terjatuh di negeri ini. Kita ke tempatku dulu biar kutunjukkan bukti aku bukan pembohong. Yang paling penting aku bukan orang jahat ingin hancurkan negeri kalian. Aku justru ingin kalian hidup makmur di bawah pimpinan raja bijak."


"Kau tak bohong?"


"Untuk apa bohong? Aku hanya berharap bisa kembali ke asal aku setelah bantu raja bangun kerajaan ini jadi lebih baik. Nama asliku Ashura."


Ashura ceritakan semua kejadian yang menimpanya termasuk kematian Shu Rong. Tak ada yang disembunyikan oleh Ashura supaya Chen Yang bisa nilai sendiri harapan mulia Ashura.


Chen Yang hanya mendengar tanpa menyela. apa yang diceritakan oleh Ashura seperti satu mimpi buat Chen Yang. Rasanya seperti satu dongeng pengantar tidur. Ada gadis cantik dari ribuan tahun mendatang jatuh pada zaman kerajaan. Chen Yang dipaksa harus percaya dilihat dari kepintaran Ashura.


Sekarang yang paling penting adalah membawa Chen Yang melihat barang-barang dari teknologi zaman modern. semoga dari sini Chen Yang akan percaya pada cerita Ashura.


Ashura tak sabar ingin perlihatkan laptop dan ponselnya agar Chen Yang percaya kalau Ashura tidak sedang karang cerita bohong. Ashura perlu ada orang bisa bantu untuk dekati ratu dan selir agung Fu Yen. Ashura harus bongkar kejahatan keluarga ratu yang terlalu jahat.


"Ya Tuhan...kalau tak cerita aku tak tahu nasib buruk Puteri Shu Rong. Sekarang apa yang bisa kulakukan untuk bantu kamu?" Chen Yang pilih percaya pada Ashura karena gadis ini cerita dengan gaya menyakinkan. Mata Ashura tak siratkan rasa gugup bikin orang hilang kepercayaan. Mata itu berbinar-binar ceritakan semua perjalanan dia ke tempat asing ini.


Ashura dan Chen Yang tiba di istana belakang Fu Yen yang jadi tempat tinggal Ashura. Daerah itu sepi agak kusam tidak cerminan tempat tinggal seorang calon ratu. Jelas sekali Ashura tak peduli dengan segala kemewahan istana.


Chen Yang makin yakin gadis di sampingnya tidak berbohong. Gadis ini pilih menyembunyikan diri dari pantauan orang agar tidak terbuka identitas aslinya.


Serangkum angin dingin menyapu pipi Ashura dan Chen Yang seakan ada orang halus menyambut mereka. Ashura bisa rasakan kalau itu arwah Shu Rong sedang menyapa. Tak ada rasa takut sedikitpun. Ashura bukannya tak kenal Shu Rong asli. Mereka berteman baik.


Beda dengan Chen Yang yang merinding kena hembusan angin aneh. Tak seperti angin biasa yang hanya lalu sekilas. Yang ini seakan sedang bercanda dengan mereka.


"Inilah tempat tinggal aku!" ujar Ashura promosi tempat sepinya.


Tak ada pelayan maupun dayang layani gadis ini. Semua harus dia kerjakan sendiri tak ubah seperti pelayan istana. Chen Yang prihatin pada nasib wanita raja ini.


"Ayen tak beri kamu dayang? Sungguh keterlaluan." sungut Chen Yang menyalahkan keponakannya.


"Aku yang tak mau. Aku takut pelayan akan gampang buka siapa aku maka aku pilih hidup sendirian. Ayok masuk paman!" Ashura persilahkan Chen Yang masuk ke rumah yang sepi.


Chen Yang besarkan langkah masuk ke rumah pemberian Fu Yen. Harum khas Ashura menyeruak di ruangan itu. Harum segar membuat kepala jadi plong.


Ashura sengaja biarkan pintu rumah terbuka lebar agar tak ada yang curiga hubungan mereka. Di situ memang tak ada orang selain dua pengawal depan pintu gerbang. Namun dinding istana kadang punya kuping. Semua kejadian terekam jelas.

__ADS_1


"Duduklah! Beginilah istanaku!"


Chen Yang perhatikan tempat Ashura yang jauh dari kemewahan. Sungguh miris nasib calon ratu ini. Dibuang di istana sepi tanpa fasilitas bagus. Selir lain hidup bak di surga dan yang ini hidup seperti dalam neraka.


__ADS_2