
Kedua pengawal itu menunduk tak berani menatap tuan puteri yang cantik itu.
"Dengar perintahku! Kalian harus makan sekarang agar punya tenaga lindungi aku." Ashura terpaksa pakai gaya bos sok hebat supaya dua pengawal itu mau patuh padanya.
"Baik tuan puteri."
"Bagus..kalian tunggu di halaman depan. Aku akan ambilkan makanan untuk kalian." Ashura segera masuk dalam tanpa menunggu jawaban kedua pengawal itu.
Kedua pengawal itu saling berpandangan. Belum pernah ada majikan yang demikian sibuk dengar anak buah belum makan. Selama bertahun menjadi pengawal istana baru kali ini mendapat majikan sangat baik. Biasanya mereka hanya dapat penyiksaan bertubi-tubi.
Kedua pengawal itu terharu juga bangga mendapat bos baru penuh pengertian.
Tak lama Ashura datang membawa makanan di tangan. Wajah Ashura senang walau harus jadi pelayan bagi pengawalnya. Hati Ashura bahagia bisa berbagi pada orang kecil. Menjadi majikan tak perlu harus selalu di atas. Kadang orang kecil jauh lebih berharga dari mereka yang memandang dari atas. Orang di bawah terasa tak berarti padahal tanpa orang di bawah yang di atas tak mungkin berdiri kokoh tanpa alas kuat.
"Ayo makan!" Ashura keluarkan semua makanan yang barusan di nikmati bersama Kasim Du. Sebenarnya Ashura belum puas makan namun mengingat rasa lapar oarng kecil membuatnya bersedia mengalah.
Mata kedua pengawal itu langsung bersinar melihat berbagai makanan lezat berada di depan mata. Rasa lapar yang menyiksa akan segera berakhir. Kebaikan hati sang puteri membayar rasa lelah juga lapar menggila.
"Kalian makanlah! Jangan lupa bersihkan piring mangkok kalau sudah siap makan! Aku di dalam.." Ashura meninggalkan kedua pengawal itu agar tak sungkan makan. Kalau Ashura berada di situ mereka pasti akan segan dan malu malu.
Ashura kembali ke kamar dengan rasa bosan tak terhingga. Hari gini tanpa kegiatan sangatlah menyiksa. Ashura sudah terbiasa bergerak cari kesibukan kini harus duduk diam tanpa kerja. Ini sama saja membuat Ashura jadi barang rongsokan.
Akhiranya Ashura memilih buka laptop cari tahu soal file apa yang tertinggal di laptop. Mungkin ada file yang bisa berguna bagi rakyat. Kadang Ashura suka simpan file file bermanfaat untuk dipelajari sewaktu ada waktu senggang.
Tangan Ashura scrol papan keyboard laptop cari cari file demi file. Mata Ashura bersinar melihat satu artikel herbal untuk penyakit kelamin. Ashura sudah lupa kapan dia simpan file ini.
Tanpa tunggu lama Ashura langsung pelajari file file ini. Banyak hal menarik dari file ini. Ada obat dari produk pabrik kimia dan tanaman alami untuk sembuhkan penyakit berhawa setan itu. Kalau sudah terlalu akut penyakitnya tetap harus dibantu obat kimia kecuali yang masih baru. Ada beberapa jenis penyakit kelamin yang sangat menular bagi pasangan yang membawa penyakit ini. Ada herpes, syphilis dan raja singa. Semua membawa akibat buruk juga kematian. Kencing bernanah mengandung darah dan alat kelamin bisa rusak bagi pria. Sedang wanita akan rusak bagian dalam ****** dan alat reproduksi.
Penyakit yang mengerikan. Tapi ini cocok sebagai hukuman bagi penzina. Kalau penyakit ini menulari istana berarti istana tak ubah tempat prostitusi terselubung.
Ashura berniat beri pengarahan pada Fu Yen sebagai raja agar beri pengertian bahaya penyakit ini. Fu Yen sebagai raja paling rentan kena penyakit ini mengingat dia harus giliri beberapa wanita sebagai pelepas hawa nafsu.
Ashura harus hentikan peredaran penyakit kelamin di kalangan istana agar keturunan keluarga kerajaan tak ada yang cacat. Terutama Fu Yen yang membutuhkan penerus kerajaan. Kedua raja terdahulu sudah menderita penyakit menjijikkan ini dan meninggal. Semoga Fu Yen bisa terhindar dari bahaya penyakit ini.
Ashura harap Shu Rong mau datang agar Ashura bisa titip obat dari masa depan untuk cegah menyebar penyakit ini. Perbuatan Ashura memang salah mengacaukan sejarah namun untuk selamatkan umat manusia pelanggaran ini semoga tak berarti.
Ashura mencatat semua keperluan untu titip Shu Rong cari obatan itu. Ashura akan cari tahu siapa saja yang kena penyakit ini agar tahu muka muka mesum menghamba nafsu.
Menjelang senja Ashura segera mandi untuk segarkan otak setelah berkutat dengan laptop cari bahan penyakit kelamin. Ashura butuh orang terpercaya untuk bantu dia laksanakan misi. Hwa Lien memang bisa dipercaya namun dilihat dari tingkah gadis itu dia masih bersifat kanak kanak. Mungkin sudah terlalu dimanja hingga tak tahu arti hidup sederhana.
Rasa sepi sangat terasa begitu malam mulai perlihatkan kuasa halau siang hari. Yang ada hanya suara binatang malam melagukan lagu alam bersahutan. Orkestra alam cukup menghibur walau hanya sekedar suara tak beraturan.
Di saat gini Ashura merasa rindu pada keluarga di masa depan. Bayangan papa dan mama yang sangat mencintainya melekat di retina mata. Ditambah sosok musuh terindah yang jadi teman main dalam suka dan duka. Tak terasa hati Ashura terasa ngilu. Sedih bercampur rindu.
Ashura mengambil hp membuka aplikasi galeri lihat foto fotonya bersama keluarga juga foto bersama Liem teman sejati yag temani dia sejak kecil. Berbagai kisah sudah mereka lalui bersama, tawa canda, bertengkar dalam rasa sayang juga sama sama berjuang mencari prestasi di kejuaraan wushu dan taekwando. Semua jadi indah dikenang.
__ADS_1
Mata Ashura menerawang membayangkan sosok Liem yang selalu mengganggunya. Apa Liem masih mau berteman sama gadis yang tak perawan lagi? Dirinya sudah ternoda oleh raja sok berkuasa.
Ashura meraba wajah Liem dalam ponselnya. Begitu disentuh layar ponsel menghilang berganti layar depan. Ashura menarik nafas sedih. Siapa mau disalahkan dalam hal ini. Nasibnya yang apes atau memang takdirnya jatuh ke ruang waktu tak lazim.
"Shu Rong..." terdenar panggilan mesra dari luar kamar. Secepat kilat Ashura sembunyikan laptop dan hpnya. Untunglah suasana masih gelap hingga orang di luar tak tahu apa yang dilakukan Ashura dalam kamar.
Ashura merapikan pakaian juga wajah dari kelesuan. Ashura yakin yang datang pasti Fu Yen. Raja gila itu pasti datang dengan sejuta alasan mau bertemu Ashura.
Ashura membuka pintu kamar dengan wajah datar seakan Fu Yen bukanlah orang penting dalam hidup. Raja selalu ingin berkuasa atas semua orang. Terhadap orang lain Fu Yen boleh sok perlihatkan power seorang raja. Tapi bagi Ashura Fu Yen sama saja dengan cowok lain.
Fu Yen berdiri di hadapan Ashura dengan segala kewibawaan seorang raja. Di belakang ikut kasim Du juga beberapa pelayan bawa makan malam.
Ashura mencibir masuk ke dalam tanpa bicara apapun. Ashura pura pura ngambek tak dijenguk raja seharian. Raja gila ini kan suka gadis sok manja minta perhatian padahal Ashura tak harap Fu Yen datang ganggu acara dia dan Shu Rong. Shu Rong sudah janji mau datang bawa bibit.
"Kenapa? Kesepian?" Fu Yen menarik tangan Ashura agar dekat dengannya.
Ashura melengos manja tak open omongan Fu Yen.
Kasim Du dan para pelayan hidangkan makanan di meja tanpa suara. Mereka bekerja dengan telaten tanpa berani keluarkan sepatah katapun.
Fu Yen tak putus asa atas penolakan gadisnya. Laki ini mendekati Ashura yang menjauh tanpa suara. Dari belakang Fu Yen memeluk Ashura penuh kerinduan. Bau badan Ashura selalu memabukkan raja muda.
Beberapa pelayan muda tersipu malu melihat adegan mesra ini. Mereka heran mengapa sang raja memeluk seorang laki muda cantik. Apa sang raja punya kelainan jiwa suka pada laki muda. Mereka tak tahu kalau Ashura adalah seorang wanita cantik. Bukan lelaki cantik.
"Kalian tunggu di luar. Aku mau berdua saja sama penasehatku." perintah raja begitu makanan terhidang di meja makan.
Kini tinggal Ashura dan Fu Yen dalam kamar. Fu Yen segera membawa Ashura ke pelukannya sambil mengecup ubun ubun wanita yang baru dia resmikan sebagai wanita tercinta.
"Aku memikirkanmu sepanjang hari. Tapi masalahku sangat banyak hingga kamu terabaikan. Maafkan suamimu ya!" rayu Fu Yen lembut.
"Apa bukan sibuk memikirkan para selir cantikmu?"
"Tentu..selir cantikku berada dalam pelukanku sekarang. Kau cemburu pada yang lain?"
"Cemburu? Ya ngaklah! Ngapain cemburu? Toh hamba sudah tahu seorang raja harus punya banyak bini." Ashura menjauh dari Fu Yen agar tak terbawa suasana romantis lagi. Buntut buntutnya Fu Yen akan minta jatah di ranjang pula. Ashura takut mengandung anak Fu Yen. Anak yang tak bisa dia bawa ke masa depan.
"Shu Rong..kenapa kau masih menolakku? Padahal kau sudah jadi milikku seutuhnya. Atau kau ingin keluar istana cari pujaan hatimu?" tanya Fu Yen dengan nada cemburu.
Ashura jadi tak enak hati terhadap sang raja. Ashura tak mungkin mengungkap apa yang sedang terjadi. Ashura tak mungkin cerita kalau dia datang dari masa depan cari keadilan buat Shu Rong yang mati terbunuh.
"Yang Mulia..hamba takkan pernah berkhianat darimu. Aku tahu diri. Kalau aku wanita tak betul mana mungkin sisanya madu pertamaku untukmu. Cuma aku perlu waktu untuk pahami diri sudah jadi wanita raja."
"Apa susahnya jadi wanita manis duduk tunggu kehadiranku hiasi malammu."
Ashura belalakan mata tak terima hendak dijadikan boneka yang hanya tahu layani raja di tempat tidur. Itu bukan gaya hidup Ashura jadi orang tolol yang hanya tahu main dan bergaya tanpa kegiatan.
__ADS_1
Ashura berkacak pinggang menantang Fu Yen dengan pandangan mata berapi api seakan ingin bakar sang raja jadi gosong.
"Aku bukan wanita histeris yang hanya tahu nafsu juga kemewahan. Aku seorang penasehat kerajaan yang bertanggung jawab terhadap masa depan kerajaan. Mulai hari ini jangan anggap aku wanita tapi anggap aku laki." Ashura langsung duduk di meja makan tak peduli pada sang raja yang terbengong. Sungguh berdarah panas. Di bilang dikit saja kontan panas. Fu Yen cuma mau Ashura jadi wanita istana seperti selir lain tanpa perlu pikir masalah kerajaan ang pelik.
"Bukan itu maksudku nona cantik. Aku tak mau kamu capek pikir tugasku." bujuk Fu Yen mengalah. Laki ini tak mau bikin suasana hati Ashura jadi buruk. Niat hati ingin habiskan malam bersama selir tercinta bisa gagal kalau selirnya ngambek.
Ashura tak jawab malah sibuk makan tak peduli pada raja. Mungkin seumur hidup baru kali ini ada orang berani melawan sang raja. Jual mahal pula. Selir lain berdoa pagi siang malam agar dilirik raja. Yang ini malah seenak perut tolak raja.
Ashura habiskan setengah dari hidangan tak open tatapan takjub Fu Yen. Ashura kesal dianggap sama saja dengan selir lain yang gila nama.
"Sudah kenyang?"
"Sudah..aku mau tidur. Yang Mulia silahkan pulang ke istanamu! Sudah ditunggu selir tercantikmu." ketus Ashura melangkah naik ke tempat tidur tak memandang raja.
"Selirku yang cantik ada di sini. Ke mana aku mau pergi lagi?"
"Siapa selirmu? Aku penasehatmu. Atau Yang Mulia ada kelainan jiwa suka laki?"
Fu Yen terkekeh dengar Ashura proklamir dia seorang laki. Fu Yen tahu Ashura sedang kesal padanya hanya kata kata tak pas di telinga gadis muda ini.
"Mungkin aku sudah gila suka laki macam kamu. Di sebut gila juga tak apa asal bisa peluk kamu. Ayo kita tidur!" Fu Yen menyusul Ashura naik tempat tidur.
Ashura mendorong Fu Yen turun dari tempat tidur tak terima sang raja mau cari kesempatan dalam kesempitan. Fu Yen biarkan dirinya terhempas ke lantai mau cari salah Ashura.
Fu Yen mengaduh kesakitan. Laki ini memegang pinggang seperti terkilir bagian itu. Ashura pura pura tak nampak menarik selimut tutupi wajah tak anggap rasa sakit Fu Yen.
Ashura bukan orang bodoh gampang dibodohi oleh permainan kecil sang raja. Mau tipu anak kecil bolehlah tapi ini yang dihadapi anak pinter berprestasi. Soal licik mungkin Ashura tak bisa namun untuk pelajari trik kotor murahan gampang diketahui.
Fu Yen terpaksa bangun sendiri karena sandiwaranya tak berhasil kelabui Ashura. Fu Yen menghela nafas melihat Ashura sudah bergulung dalam selimut.
Sungguh sulit taklukkan kambing liar ini. Biasa kambing itu jinak dan patuh. Kenapa kambing ini susah diatur. Apa Fu Yen salah kasih julukan buat Ashura. Seharusnya kasih julukan macan cantik. Liar walau cantik.
Fu Yen buka pakaian ikut berbaring tanpa peduli penolakan Ashura. Fu Yen butuh kehangatan Ashura untuk tenangkan otak setelah seharian berdebat dengan para pejabat.
"Shu Rong..ijinkan aku memelukmu! Aku sangat lelah hari ini." desis Fu Yen di telinga Ashura.
"Lelah apa?"
"Pura pura bodoh atau tak mau tahu masalahku?"
"Mana aku tahu? Lelah urus selirmu atau lelah urus masalah pajak?"
"Duanya...para pejabat tak ijinkan para selir keluar istana. Mereka juga keberatan bayar pajak. Alasan gaji mereka kecil tak cukup untuk bayar pajak yang terlalu besar."
Ashura menyibak selimut dengan marah. Sungguh keterlaluan sikap pejabat kerajaan ini. Mereka hidup foya foya hambur uang korupsi masih tak mau berbagi.
__ADS_1
"Beri sanksi berat buat mereka yang berani membantah. Kau adalah raja. Pemimpin mereka. Kenapa harus takut pada buaya cap kadal gitu? Pancung aja mereka."