CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Selir-selir


__ADS_3

"Gk bakalan minta makan." Ashura keluar dari kamar Fu Yen dengan hati galau. Apa benar dia dan Fu Yen sudah melakukan hal terlarang. Tapi mengapa Ashura tak merasakan apapun. Yang ada tidur sangat nyaman dan lelap.


Fu Yen biarkan Ashura galau sendiri. Tak perlu klarifikasi sampai gadis ini menyerah total.


"Ayin.."


"Hamba Yang Mulia."


"Kau jangan bicara di ruang nanti! Kau diam saja biar aku tentukan nasib Shu Rong. Kau ikuti semua kataku."


"Ya Yang Mulia." sahut Ayin.


"Kita berangkat. Suasana hati Shu Rong sedang tak bagus. Tak perlu banyak bicara dengannya." Fu Yen memahami perasaan Ashura yang merasa dibodohi oleh Fu Yen.


Benar saja dugaan Fu Yen. Ashura memang lagi bad mood. Wajahnya kusut seperti ikan tak kena air. Air muka Ashura muram sekali. Sebenarnya Fu Yen tak tega lihat wajah cantik itu muram durja. Tapi ini jalan satu satunya ikat gadis ini agar tetap di sampingnya.


Ayin duluan diantar sama pengawal lain agar tak tampak Ayin di bawah kontrol sang raja. Mereka tak boleh perlihatkan ke umum ada hubungan tersembunyi. Ini membahayakan Shu Rong. Mereka yang tak senang bisa saja habisin Shu Rong demi kekuasaan.


Dalam perjalanan ke istana utama Ashura diam seribu bahasa. Dalam hati Ashura masih tak puas dikerjain Fu Yen. Gampang saja katakan bahwa dia telah tidur dengan laki itu. Apa Fu Yen tak tahu betapa berharganya nilai keperawanan bagi seorang gadis.


Fu Yen pura pura bodoh tak tahu kesedihan gadis di depannya. Kini Fu Yen makin tahu Ashura bukan gadis murahan bisa diajak bercinta tanpa ikatan jelas. Hanya digertak saja gadis ini sudah nyaris kehilangan percaya diri.


"Shu Rong..kenapa marah?" tanya Fu Yen memecahkan kebisuan.


"Bagaimana tak marah? Yang Mulia seenak perut tiduri hamba. Hamba kan sudah bilang tak suka bagi suami. Yang Mulia bagi kasih sayang tak tulus pada semua selir. Adilkah bagi wanita yang menanti Yang Mulia penuh harapan?"


"Apa kau menantiku juga?"


"Tidak..hamba mengabdi murni demi rakyat. Hamba akan nikah sama orang yang memberi cinta tunggal pada hamba."


"Lalu bagaimana kau katakan pada calon suamimu kalau kau pernah naik ranjang raja?"


"Itu urusanku! Apa Yang Mulia pikir semua selirmu tak main gila sama laki lain? Yang Mulia akan nyesal bila tahu rata selirmu selingkuh."


"Dari mana kau yakin mereka selingkuh?" Fu Yen berkesan cuek dengar analisa Ashura.


"Semua akan terungkap seiring waktu. Jangan ungkit soal kita lagi! Kita profesional hanya bahas kerja. Lusa hamba akan kembali ke istana dingin. Hamba akan nyaman di sana."


Fu Yen menatap Ashura dengan hati sedih. Mengapa gadis ini tak bisa kasih sedikit perhatian padanya. Karena dia raja atau karena dia banyak wanita. Fu Yen juga tak mau hal itu datang pada hidupnya. Namun sebagai raja Fu Yen tak luput dari tradisi kuno.


"Tak bisakah kau tetap berada di istanaku?"


"Tidak..hidupku tak aman bersama Yang Mulia. Hamba akan tetap dampingi Yang Mulia kalau diperlukan. Tetap sebagai penasehat. Tak lebih." Ashura perlihatkan ketegasan tak tertarik pada tawaran sang raja.


"Baiklah! Kau kujijinkan tinggal di istanamu tapi malam harus datang ke tempatku."


Mata Ashura terbelalak besar. Permintaan Fu Yen sangat tak masuk akal. Ashura sengaja hindari Fu Yen agar bia hidup tanpa ketakutan jatuhke pelukan sang raja. Ini malah sedang gali lubang baru agar Ashura jatuh lagi. Dasar raja sinting.

__ADS_1


"Kurang kerjaan. Ngak mau..hidupku dalam bahaya bila dekat Yang Mulia. Setiap saat perut bisa melendung."


"Apa maksudmu?"


"Apa maksudku? Pikir sendiri." ketus Ashura judes.


Fu Yen memutar otak cari tahu apa makna kata Ashura. Perut melendung apa artinya. Fu Yen tersenyum sendiri setelah tahu makna kalimat Ashura. Gadis ini takut hamil. Hamil? Satu ide bagus. Fu Yen menyeringai licik.


"Oh..aku ngerti! Kalau kau hamil nanti cari aku ya! Itu pasti anakku."


"Fu Yen..kau manusia licik!" seru Ashura tak pakai kata Yang Mullia lagi saking marah. Seenaknya bilang Ashura bakal hamil. Apa iya Ashura dan Fu Yen sudah melakukan hal terlarang itu?


"Aku laki berani berbuat berani tanggung jawab. Anakmu pasti punya ayah."


"Ngak akan..kau lihat tak satupun haremmu hamil. Bibitmu tak bagus. Mungkin kau invalid." ejek Ashura tak mau kalah. Digertak gitu Ashura mana mau langsung ngaku kalah. Bukan Ashura cepat takluk pada provokasi sang raja. Dia boleh lugu soal cinta namun mentalnya tak kayak kerupuk langsung lempen digertak.


Fu Yen tertawa diragukan bibitnya. Fu Yen tak sembarangan gauli wanita mana mungkin ada anak bila tak sebar bibit sembarangan. Ashura adalah pilihan Fu Yen untuk lahirkan penerus kerjaan.


"Kau akan tahu bagaimana perkasa aku. Anak kita pasti banyak."


"Cis..narsis!" decak Ashura sinis.


"Tunggu perutmu melendung!" ejek Fu Yen puas ganggu Ashura. Raut wajah Ashura memerah tahan rasa malu digoda sang raja.


Ashura menutup kuping tak mau dengar ocehan Fu Yen yang lebih tepat provokasi agar Ashura makin jengkel.


Selanjutnya hanya ada keheningan. Keduanya cooling down tenangkan diri.


Ashura terkenang pada Liem di jaman moderen. Apa kata Liem bila tahu Ashura sudah tak perawan lagi. Andai dia dan Liem pacaran kelak apa mungkin laki itu akan percaya kalau Ashura hilang perawan di jaman baheula? Mungkin orang akan katakan Ashura sudah gila terdampar ke masa lampau. Belum lagi orang tuanya. Beliau beliau pasti kecewa anak gadis mereka tak mampu jaga diri.


Ashura menghela nafas sedih. Fu Yen melirik gadisnya dengan rasa iba. Andai Ashura tahu bahwa dia tak pernah berbuat senonoh pada gadis ini pasti senang namun Fu Yen akan kehilangan Ashura selamanya.


Keduanya berdiam diri sampai ke istana kerajaan. Fu Yen duluan masuk istana tanpa ajak Ashura. Kasim Du dan beberapa pengawal ikuti langkah Fu Yen menuju ke ruang rapat. Ashura melangkah ogahan turut menapaki tangga menuju ke puncak ruang rapat.


Dalam ruang rapat sudah banyak hadir wanita cantik tua muda berbaris rapi menanti kehadiran sang raja. Netra Ashura kagum pada aneka model wanita yang hadir. Benar benar parade wanita cantik. Semua berwajah manis berbedak tebal mirip dakocan.


Fu Yen naik ke kursi raja dengan gaya penuh kharisma. Kasim Du dan Ashura berdiri di belakang raja seperti biasa. Tugas mereka berdua tetap saja layani raja sepenuh hati.


Ratusan wanita bersujud sopan begitu raja duduk di kursi singgasana. Koor panjang memuja raja terdengar seperti paduan suara tanpa dirigen.


Fu Yen memberi tanda agar semua berdiri. Suasana jadi hening menanti sabda muncul dari mulut sang raja. Belum jelas untuk apa sang raja kumpulkan para selir di ruang istana. Dalam hati mereka tentu hanya bertanya apa yang bakal terjadi.


Sebelum acara di mulai datang Ibunda Ratu dan Ibu Suri kerajaaan. Semua segera beri hormat pada dua petinggi kerajaan yang dihormati. Fu Yen sendiri ikut bangun beri salam hormat pada kedua wanita terhormat itu.


Ashura merasa bosan pada adat adat konyol masa lampau. Sesama manusia dipuja sedemikin rupa. Seolah mereka adalah dewa langit. Padahal keluarga kerajaan hanyalah manusia biasa yang bakal mati juga. Tak ada istimewa selain berasal dari trah keluarga raja.


"Wahai para wanita kerajaan yang terhormat. Hari ini aku kumpulkan kalian dengan beberapa tujuan." Fu Yen mulai buka mulut begitu kedua wanita kerajaan sudah duduk manis di kursi khusus buat ratu dan ibu suri.

__ADS_1


"Ada apa nak? Kau mau ambil selir ini semua?" tanya Ibunda Ratu tersenyum kalem.


"Bukan Ibunda..ananda terpaksa lakukan ini demi kita semua."


"Maksudmu nak?"


"Beberapa waktu terakhir ini aku dengar kabar angin bahwa banyak wanita kerajaan berbuat maksiat melakukan selingkuh. Jadi aku ambil keputusan bebaskan semua wanita kerajaan untuk keluar istana jalani hidup baru. Tak ada guna kalian hidup di sini tapi berbuat dosa. Lebih baik kalian keluar istana dan menikah dengan orang yang kalian cintai. Tak perlu sembunyi sembunyi berbuat dosa."


"Ini tak boleh terjadi. Sudah turun temurun wanita istana harus habiskan sisa hidup di istana." tukas Ibunda ratu cepat.


"Tradisi harus dirubah. Ibunda lihat puluhan wanita ini. Mereka masih punya harapan hidup. Untuk apa habiskan seluruh hidup terkurung dalam istana." Fu Yen berkata tegas tak mau dibantah.


"Apa kata rakyat bila ananda keluarkan semua selir kerajaan? Di mana kemegahan keluarga raja?"


"Ibunda..selir juga manusia biasa. Punya perasaan. Aku yakin banyak yang ingin keluar istana jalani hidup normal diluar sana. Cahaya matahari harus kita bagi pada mereka terutama yang masih muda. Kalau yang sudah berumur silahkan pilih. Mau keluar boleh mu tinggal juga boleh. Yang masihh muda harus keluar semua. Selir ayahanda dan selir kanda. Semua boleh keluar."


"Kau sudah gila nak! Mana boleh ada kejadian begini?" seru Ibunda Ratu keras.


"Ibunda tak tahu kalau ananda dapatkan beberapa selir main gila sama laki dalam istana. Ini lebih memalukan. Skandal besar ini akan segera tersebar keluar istana. Keluarga besar kita akan lebih tak punya muka. Andai mereka keluar dengan terhormat rakyat akan lebih hormat pada kita karena tak merampas hak hidup seorang wanita. Ada yang setuju?"


"Setuju..." ada beberapa suara muncul dari berbagai sudut ruang.


"Bagus..yang mau keluar istana silahkan jumpai kasim Du dan penasehatku. Kalian akan diberi bekal hidup sepantasnya. Hiduplah dengan baik dan jangan ingat kejadian di istana lagi. Satu lagi..diantara kalian kalau ada yang sakit silahkan berobat pada tabib istana sampai sembuh!"


"Yang Mulia..apa rencana ini sudah kau pikir matang? Ini bukan masalah kecil. Tak gampang kembalikan seorang selir pada keluarga masing masing. Harus ada persetujuan keluarga mereka." Ibu Suri ikut buka suara.


"Nenekku...lihat saja puluhan wanita ini menghitung hari menuju ajal tanpa ada cahaya hidup. Kita wajib beri mereka kesempatan hirup udara bebas. Ananda prihatin lihat para selir menangis sedih tanpa harapan. Mereka juga rakyat ananda. Ananda wajib lindungi mereka."


Ibu Suri mangut mangut mulai paham niat baik Fu Yen. Hidup tanpa harapan memang menyedihkan. Tiap hari hanya memandang tembok istana penuh rasa sunyi. Tak heran kalau mereka cari kehangatan dengan berselingkuh.


"Baiklah! Nenekmu setuju caramu beri kebebasan pada wanita istana. Semoga semua puas."


"Terima kasih Nenekku..satu lagi..aku belum terpikir cari calon ratu saat ini. Masalah kerajaan sangat banyak jadi kuperintahkan semua gadis istana yang datang atas namaku juga pulang dulu. Tak ada kalian habiskan waktu menunggu yang tak pasti. Kalau sampai waktu aku akan panggil mereka yang mau jadi calon ratu. Tak ada yang boleh membantah. Aku tak pernah menyentuh para wanita ini maka mereka yang datang masih suci. Ingat itu! Jadi aku harap tak ada gosip tak sedap menerpa istana."


Ashura bersorak dalam hati memuji nyali Fu Yen berani bertindak tegas bebaskan wanitanya juga. Ini artinya dia juga punya kesempatan bebas hirup udara bebas.


"Yang Mulia tak boleh buat begitu! Pemilihan ratu tetap harus jalan. Ini tak boleh tunda. Mana boleh satu kerajaan besar tanpa ratu. Tetapkan satu pilihan. Yang lain boleh keluar kalau tak terpilih." Ibunda Ratu berkata sampai berdiri menentang kata Fu Yen tak mau pilih ratu saat ini.


"Ibunda..masalah bencana belum selesai. Pemberontak di batas kota juga makin merajalela. Belum lagi masalah kemiskinan rakyat. Mana ada niat bersenang atas penderitaan rakyat kita."


"Rakyat itu apa? Tanpa raja kuat bagaimana bisa ada rakyat? Ibunda kecewa kalau kau tunda lagi pilih ratu."


"Beri ananda waktu atasi masalah kerjaan dulu. Ratu hanyalah lambang tanpa datangkan bencana. Justru tanpa rakyat satu kerajaan tak berarti. Rakyat susah maka kerajaan kita akan lemah. Aku sudah ambil keputusan tak pilih ratu dalam setahun ini. Para calon selir dan calon ratu boleh undurkan diri. Bukan aku menolak kalian tapi menunda sampai waktu tepat. Selama setahun ini kalian berhak tentukan nasib kalian. Pikirkan baik baik!" Fu Yen tetap tegas tak mau goyah buat keputusan ini.


"Ibunda tak setuju kau biarkan calon isterimu keluar istana. Kau tetap harus pilih ratu dalam waktu dekat ini. Ibunda tak mau dengar apapun alasanmu." Bentak Ibunda ratu mulai berang. Fu Yen berusaha kendalikan emosi agar jangan nampak kurang ajar pada sang ratu. Bagaimanapun ratu sudah besarkan Fu Yen hingga dewasa. Fu Yen tak mau disebut anak durhaka.


"Ibunda ratu...ananda boleh pilih ratu tapi jangan harap ananda akan datang ke istana para wanita istana sebelum rakyat hidup makmur. Dan lagi ananda sudah kasih kebebasan kalian memilih. Kalau ketahuan ada yang main gila di istana. Ananda takkan segan penggal pengkhianat yang sudah janji mau setia. Ananda takkan toleransi setiap orang yang main gila di belakang ananda." ujar Fu Yen tegas disambut ******* para wanita istana.

__ADS_1


Wajah Ibunda ratu berubah pucat dengar kata Fu Yen yang mematikan. Ntah apa yang membuat Ibunda Ratu memaksa Fu Yen cepat cepat mencari ratu. Pasti ada penyebab hal ini.


__ADS_2