CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Kenalan Baru


__ADS_3

Fu Yen tergugu tak mampu jawab. Selama ini dia memang tak hafal perempuan yang jadi selirnya. Semua sudah diatur dia harus ke mana malam ini. Namun sejak dirinya jumpa Ashura tak teringat kunjungi selir selirnya lagi. Di matanya hanya ada Ashura yang mampu merebut seluruh perhatiannya. Ashura sangat istimewa di mata Fu Yen. Ashura makin ingin pergi Fu Yen makin ingin ikat gadis itu.


"Aku tak tahu paman raja.." desah Fu Yen tak mampu beri jawaban pasti.


"Tak perlu jawab. Tunggu besok bagaimana kau selesaikan kehidupan wanita wanita istana yang bikin kepala pusing. Kau tahu kenapa aku tak tertarik pada wanita? Itu karena tak mau pusing oleh segala tingkah laku wanita yang tak dapat kita raba."


"Benarkah?" tanya Fu Yen bingung.


"Apa yang dikatakan paman raja itu benar kanda raja. Hamba juga tak mau dipusingkan puluhan wanita maka biarkan istana hamba tetap kosong permaisuri." timpal Fu Kuang perkuat argumentasi Chen Yang.


"Benar pusing..ya sudahlah! Besok kita jumpa di sini. Tak perlu libatkan para menteri karena ini urusan rumah tangga kerajaan. Nanti malah tambah usulan baru." Fu Yen memilih tenangkan pikiran pulang ke istananya bersama kambing yang sekarang berubah jadi macan kecil. Kecil kecil sudah garang. Gimana kalau besar nanti.


"Hamba mau ikut ke istanamu. Mau ngobrol dikit hal sama penasehatmu." Fu Kuang langsung to the point akan ikut Fu Yen jumpai Ashura.


Fu Yen tak bisa menolak namun pasang wajah tak sedap. Chen Yang tahu Fu Yen tak suka adiknya ikut ke istana jumpa wanita pemberontak lokal yang bikin sang raja tak berkutik.


"Akuang..ikutlah paman sebentar! Ada yang mau paman sampaikan padamu tentang pemberontak perbatasan." Chen Yang menarik tangan Fu Kuang ikut dengannya ke tempat lain. Fu Yen pasti sedang ingin selesaikan perselisihan dengan Ashura. Mana boleh Fu Kuang masuk tengah di suasana panas ini. Salah salah Fu Kuang bisa disalahkan kalau Ashura benaran minggat.


"Tapi paman raja..aku harus jumpa Shu Rong. Ada kerja yang harus kami kerjakan. masalah saluran air."


"Ini lebih penting..Ayok!" Chen Yang membawa Fu Kuang keluar istana utama menuju ke tempat yang jauh dari Ashura dan Fu Yen.


Fu Yen menarik nafas lega. Himpitan batu di dada terasa diangkat datangkan rasa plong. Fu Yen takut Ashura makin tergantung pada adiknya dan rela ikut adiknya keluar istana. Fu Yen tak peduli berapa selir akan keluar istana asal jangan Ashura.


"Kasim Du..cari macan liar itu! Kita kembali ke istanaku!"


"Bukankah puteri Shu Rong itu kambing nakal? Kenapa ganti macan liar?" gumam kasim Du bingung dengn arah pikiran sang raja. Sesuka hati kasih julukan pada orang. Tapi raja boleh sesuka hati asal senang.


"Laksanakan Yang Mulia..!"


Kasim Du bergegas mencari Ashura ajak gadis itu balik istana kebajikan. Kasim Du mulai suka pada Ashura yang tak tamak dan baik hati. Berhari bersama Ashura belum ada permintaan aneh Ashura selain suka makan dan suka mandi. Itu tak seberapa bila dibanding selir selira raja yang lain. Mereka selalu menuntut ini itu bikin kasim Du bingung melapor pada sang raja. Untunglah orang yang telah merebut hati sang raja adalah gadis baik.


Kasim Du menemukan Ashura sedang ngobrol dengan beberapa gadis cantik di taman istana utama. Mereka ngobrol dengan tawa ceria.


Kasim Du mendekati Ashura hati hati agar gadis itu tak menyala membara berseru nyaring bikin malu sang kasim Du.


"Maaf pengawal Shu..anda disuruh balik ke istana." lapor kasim Du takut takut. "Puteri Hwa Lien, puteri Hwa Yun..selamat siang!"


"Kasim Du..jangan bawa kawan kami! Kami suka pada pengawal baru kanda Fu Yen. Ganteng, peramah dan lucu." Puteri Hwa Lien tak ijinkan Kasim Du membawa Ashura pergi dari mereka.


Kasim Du meringis tahan nafas. Kedua adik Fu Yen ini terkenal manja dan nakal. Tingkahnya nyaris sama dengan Ashura. Wajar mereka bisa langsung akrab. Teman satu hati sih.


"Maaf tuan puteri..ini perintah raja. Pengawal Shu harus bertugas."

__ADS_1


"Kasim Du pulang saja. Pengawal Shu akan jadi pengawal kami. Kanda raja pasti akan berikan pengawal ganteng ini buat kami. Ya kan ganteng?" Hwa Yun mencubit pipi Ashura dengan gemas seolah Ashura hanyalah boneka buat mainan.


Ashura mangut senang. Kalau saja dia bisa jadi pengawal para puteri maka hidupnya aman dari kejaran gelar selir membosankan. Bersama kedua puteri itu hidup akan lebih semarak karena keduanya periang dan suka guyon.


Ashura tak sengaja jumpa kedua puteri itu waktu melamun di bawah pohon rindang. Kedua puteri itu sedang main di taman istana bersama para dayang. Meliha sesosok pemuda ganteng maka keduanya langsung minta kenalan tanpa tahu Ashura itu gadis muda. Mereka mengira Ashura pria maha ganteng.


Wajah Ashura mulus tanpa noda bikin kedua puteri gregetan pingin cubit pipi itu setiap saat. Keduanya mana mau tahu kesusahan orang lain seperti kasim Du yang bisa dihukum sang raja bila amanah tak terlaksana.


"Bagaimana kalau kita jumpai Yang Mulia raja? Kita langsung omong sama Yang Mulia biar jelas." Kasim Du tak mau ambil resiko kehilangan kepala. Melawan Fu Yen sama saja gali lubang kuburan sendiri. Majukan langkah lalu terjun bebas masuk liang lahat.


Hwa Lien tak keberatan jumpa abangnya. Puteri manja ini yakin abangnya akan berika pengawal ganteng buat dia. Fu Yen tak pernah marah pada adik adik perempuannya walau kadang nakal minta ampun. Fu Yen adalah abang terbaik bagi puteri kerajaan. Raja hanya punya tiga putera dan tujuh puteri. Mereka memiliki ibu berbeda namun Fu Yen tak pernah bedakan kasih sayang terhadap semua saudaranya. Semua sama bagi Fu Yen.


Ashura diseret persis kambing bakal dijadikan kurban keluarga kerajaan. Hwa Lien benar benar mengira Ashura adalah cowok cantik yang bisa dijadikan mainan.


Tak perlu jauh melangkah sudah jumpa Fu Yen sedang turun dari tangga istana utama kerajaan. Fu Yen mngerut kening menyaksikan penasehatnya diseret adiknya tanpa belas kasih. Ashura dipikir kambing beneran.


"Kanda.." seru Hwa Lien dari jauh. Suaranya nyaring memekakkan telinga. Ashura menutup kuping tak sanggup terima seruan priwit blong.


"Kalian kenapa di sini?" tanya Fu Yen kalem sambil melirik Ashura dalam genggaman sang adik.


"Lagi cari angin. Untung kami datang dapat buruan semanis ini. Buat kami ya!" Hwa Lien menunjuk Ashura.


"Kalian tahu siapa dia?" Fu Yen menunjuk Ashura yang cengar cengir bahagia bisa lepas dari sang raja sinting. Ashura melelet lidah goda Fu Yen sekaligus tanda pamitan


"Iya..iya..kami suka pada pengawalmu." nimbrung Hwa Yun membeo ikuti keinginan Hwa Lien.


Fu Yen menghela nafas tak tahu harus bagaimana hadapi adik adik nakalnya. Mereka tak pernah tahu susah orang selain main paksa. Apa kedua gadis ini tak tahu kalau Ashura itu bukan cowok tapi seorang gadis muda macam mereka. Cuma Ashura punya kelebihan lain yakni pinter dan berani. Ashura memiliki banyak kelebihan yang tak dapat Fu Yen urai satu persatu.


"Nona nona kecil. Ini adalah penasehat kerajaan. Bukan kawan main kalian. Kami banyak hal harus dikerjakan. Kalian pulang saja ke istana kalian dan jangan bikin ulah lagi." ujar Fu Yen tak beri hati pada kedua adiknya bikin kacau rencana kerajaan.


Hwa Lien menghentak kaki ke lantai dengan muka marah. Fu Yen jarang menolak permintaan mereka tapi kini langsung tolak tanpa nego. Hati Hwa Lien tentu saja tak senang. Hwa Yun tak berani berkomentar takut kena semprot sama abang mereka. Fu Yen jarang marah pada mereka bahkan tak pernah. Kali ini Fu Yen menolak tentu ada alasan sendiri.


Ashura langsung loyo mendapat penolakan dari Fu Yen. Mimpi hidup bebas kandas sudah. Masih juga harus berhadapan sama raja sinting. Dasar nasib sial. Terjebak di jaman tak wajar jumpa raja sinting pula. Dasar apes. Ini semua gara gara Shu Rong kurang kerjaan. Sudah meninggal masih nyusahin orang.


"Kita balik istana!" kata Fu Yen tak peduli wajah wajah mendung sang adik. Kedua puteri raja itu tak dapat berbuat apa apa selain menatap Ashura dengan hati sedih. Harapan bermain dengan pengawal pupus sudah.


"Kanda..apa kami boleh datang ke istanamu untuk jumpa pengawal Shu?" tanya Hwa Lien takut takut.


"Boleh tapi tak boleh bikin onar. Istanaku bukan tempat bermain."


"Terima kasih kanda raja. Kami janji akan manis." Seru Hwa Lien semangat. Bisa jumpa Ashura saja sudah bersyukur. Mana berani dia bikin ulah kalau tak mau diusir.


"Hhhmm..kalian pulanglah! Aku masih banyak kerja. Besok kalian datang ke sini untuk hadiri rapat keluarga. Ajak semua saudara perempuan kalian!"

__ADS_1


"Siap kanda.." sahut kedua puteri barengan.


Fu Yen melangkah pergi diikuti kasim Du dan Ashura. Sebelum pergi Ashura melambai sambil beri senyum manis pada kedua puteri manja itu. Hwa Lien tersipu malu dapat senyuman maut dari Ashura. Angan Hwa Lie melambung membayangkan jadi pemilik senyum manis itu. Hwa Yun tak seberani Hwa Lien hanya membalas dengan senyum biasa.


Ashura makan hati harus ikut kembali ke istana sang raja. Padahal sudah dibayangkan bisa punya teman baru yang tak kalah heboh dengannya. Kehidupannya pasti akan makin marak punya teman bisa diajak gila gilaan. Ashura teringat kata Shu Rong tentang puteri Hwa Lien yang akan membantunya menyelesaikan misi dari Shu Rong. Ashura harus bisa dekati Hwa Lien agar kasus kematian Shu Rong cepat terungkap.


Di dalam kereta kuda Ashura pasang wajah seribu tawon siap sengat Fu Yen kalau berani keluarkan ancaman lagi. Wajah sang raja pasti akan bengkak kena sengatan amarah jurus sengatan tawon kesal.


Fu Yen seperti tahu Ashura sedang ngambek padanya. Laki ini juga tak mau ambil resiko bangunkan tawon yang sedang bad mood. Salah salah malah runyam.


"Besok kau mau ikut pertemuan para selir?"


"Ogah..urus sendiri masalah kucing kucing garongmu! Aku gak mau ikut campur. Aku bukan peliharaan Yang Mulia." ketus Ashura tak bersahabat. Fu Yen menyesal telah bertanya pada kompor panas yang sedang membara.


"Kenapa kamu selalu ingin melawanku Shu Rong? Apa aku demikian buruk di matamu?"


"Hamba mana berani menilai Yang Mulia. Hamba kan hanya pelayan istana. Setiap saat kepala bisa pindah tempat." Sinis sekali nada bicara Ashura. Mulut mengatakan tak melawan tapi kata katanya mampu gores luka di hati.


"Kalau kubilang aku tak pernah sentuh wanita istana selain Ning Fei mungkin kau tak percaya."


"Apa urusan denganku?" Ashura buang muka dengar nama Ning Fei. Perempuan itu yang jadi duri bagi Ashura. Dia yang harus bertanggung jawab atas kematian Shu Rong.


"Ning Fei adalah selir pertamaku. Ibunda Ratu yang minta aku menikahinya dengan harapan dia bisa bimbing aku jadi raja lebih baik. Ning Fei itu janda abang tertuaku yang meninggal karena sakit. Aku hanya pernah tidur sekali dengannya di malam pengantin. Sejak itu aku tak pernah nginap di istananya lagi." cerita Fu Yen tanpa diminta Ashura.


Ashura nyimak namun pura pura bodoh seakan tak peduli cerita Fu Yen. Ternyata Ning Fei sudah dipersiapkan dari dulu untuk kuasai kehidupan Fu Yen. Sang abang meninggal diteruskan ke adik. Manusia model apa itu. Ning Fei harus disingkirkan dari istana baru aman. Ashura harap Fu Yen bisa dapat ratu bijak untuk dampingi dia memerintah kerajaan.


"Kau kan bisa menolak nikahi janda abangmu. Kenapa kau terima? Itu artinya kamu memang gatal."


"Di istana ini banyak aturan. Para petinggi istana selalu sodorkan anak anak mereka padaku. Kalau kutolak artinya cari masalah." Kata Fu Yen dengan nada pesimis.


"Kau raja..seharussnya jaga wibawa jangan mau dikontrol pejabat istana! Sapu bersih semua pejabat yang suka main hakim sendiri. Hamba hanya penasehat biasa tak mungkin bantu Yang Mulia ambil keputusan. Yang Mulia tahu kenapa hamba sengaja naikkan pajak para pejabat?" Ashura balik badan menatap Fu Yen. Tatapan mata Ashura yang bening namun jeli bikin Fu Yen terbuai. Fu Yen tak menjawab malah hanyut dalam pesona Ashura. Ashura goyang goyang tangan di depan mata sang raja agar sadar.


Fu Yen tersadar sambil tersenyum malu kepergok terpesona oleh Ashura. Gadis ini akan makin besar kepala bila tahu Fu Yen suka padanya. Kelakuan Ashura yang tak hormat padanya sudah cukup bikin pusing. Apa mau ditambah Fu Yen tergila pada gadis bengal ini?


"Apa rencanamu?" bisik Fu Yen sengaja lembut cari perhatian Ashura.


"Yang Mulia tahu kalau pejabatmu itu kaya kaya dan pelit. Hamba sengaja naikkan pajak pejabat lalu pedagang. Arahnya cuma satu yaitu peras pejabat kurang ajar. Hamba yakin semua perdagangan dikuasai pejabat kerajaan maka sengaja hamba turunkan perintah naikkan pajak pejabat dan pedagang. Yang kena tetap mereka."


"Tak kusangka kau sangat licik."


"Bukan licik tapi penuh perhitungan. Jujur omong masalah haremmu hamba tak berani ikut campur. Ini masalah perasaan."


"Perasaan apa maksudmu?"

__ADS_1


__ADS_2