CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Cari Muka


__ADS_3

Fu Yen izinkan Kasim Du masuk ke ruangnya mau tahu apa yang akan dilaporkan manusia setengah jadi itu. Kasim Du segera bersujud di depan Fu Yen sebelum melapor. Hal harus dilakukan setiap ketemu raja. Membosankan namun tetap harus dilakukan sebagai adat turun temurun.


"Ada apa lagi?" tanya sang raja yang tampak lelah.


"Maaf yang mulia raja! Tadi ada laporan Puteri Tang memukuli orang tua dan berseteru dengan Puteri Hwa Lien dan seorang anak gadis lain. Mereka kurang kenal teman Hwa Lien itu." lapor Kasim Du cerita apa adanya.


Sang raja mengernyit alis memikirkan bagaimana Hwa Lien bisa lolos keluar istana tanpa pengawalan. Seorang puteri keluar istana haruslah dikawal banyak pengawal untuk jaga keamanan sang Puteri. Sekarang Hwa Lien keliaran di jalan tanpa sepengetahuan orang istana. Sungguh tindakan sangat berani. Orang yang bisa bawa adiknya keluar istana pasti bukan sembarangan orang.


"Gimana Puteri Tang?"


"Ditinggal pergi oleh Puteri Hwa Lien. Apa hamba harus cari Puteri Hwa Lien?"


"Tak usah... kamu lihat mereka di istana belakang saja! Siapa yang punya nyali bawa Puteri keluar istana kalau bukan penasehat Shu. Panggil mereka kemari! Mereka harus dihukum melanggar peraturan istana." kata Fu Yen dengan gusar. Tak usah tebak Fu Yen sudah tahu siapa yang bawa Hwa Lien keluar istana.


"Tapi penasehat Shu sudah tinggalkan istana belakang! Dia sudah kembali ke istana dingin."


Fu Yen merasa dadanya sakit memikirkan selirnya yang punya jiwa pemberontak itu. Anak itu pasti sudah dengar soal Puteri Tang maka dia merasa tak ada guna berada di sisi Fu Yen lagi. Dia pilih hidup sederhana di istana dingin.


"Kita ke istana dingin! Jemput penasehat Shu balik sini!" kata Fu Yen kalah garang dari Ashura. Seorang raja yang harus mengalah pergi menjemput selirnya. Fu Yen yakin Ashura tidak akan balik kalau tidak dijemput.


Kasim Du senang juga kalau Ashura tinggal bersama di istana Fu Yen. Kasim Du sangat suka pada Ashura yang tak sombong walau sangat disayang raja.


"Siap yang mulia raja.. hamba akan persiapkan kereta kuda." Kasim Du mengundurkan diri untuk melaksanakan titah sang raja.


Fu Yen termenung baru ingat dia telah abaikan wanita muda itu. Ashura orangnya sangat keras tak mau dintervensi oleh siapapun. Begitu tahu ada wanita baru hadir dalam hidup Fu Yen penasehatnya langsung kabur. Fu Yen bukan mau jadi lelaki penjilat ludah sendiri melainkan tak bisa menolak kehadiran Puteri kerajaan tetangga yang ingin tawarkan perdamaian.


Hal ini membuat kepala Fu Yen berdenyut. Dia bisa kehilangan dukungan Ashura dalam pemerintahan. Sementara Fu Yen membutuhkan kebijakan Ashura yang tiada duanya.


Kasim Du kembali beri kabar kalau kereta kuda sudah datang. Mereka harus segera jemput Puteri Shu Rong yang cerdik dan pintar. Kasim Du kehilangan sosok anak angkatnya. Gurauan Ashura selalu bikin hatinya riang gembira. Kasim Du berharap Ashura mau balik ke istana Fu Yen lawan Puteri Tang yang sombong selangit.


Dalam perjalanan keluar istana Fu Yen jumpa Puteri Tang yang datang menghadap. Wanita ini sudah yakin kalau dia akan menjadi Puteri kesayangan Fu Yen. Fu Yen sangat memanjakan dia beberapa hari ini. Semua Puteri tersingkir karena dia selalu dekat dengan sang raja supaya misinya menjadi ratu tercapai. Dua kerajaan besar bergabung maka mereka akan ditakuti oleh kerajaan kecil lain.


Fu Yen terpaksa hentikan kereta kuda karena Puteri Tang sudah ada di depan kereta sambil menunduk sopan seolah dia adalah Puteri lemah gemulai. Di depan Fu Yen dia bersikap pasrah pada nasib, di belakang seperti rubah kelaparan ingin melahap mangsa di depan mata.


Fu Yen terpaksa turun dari kereta lihat apa yang diinginkan oleh wanita itu. Kalau soal kecantikan Ashura seribu kali lebih cantik dari Puteri Tang. Tapi berhubung dia adalah Puteri dari bangsa besar Fu Yen harus sedikit tunduk.


"Yang Mulia mau ke mana? Apa perlu aku temani?" tanya puteri Tang selembut salju di musim dingin.


"Aku ada keperluan. Tuan Puteri silahkan kembali ke istana!"

__ADS_1


"Aku ingin temani yang mulia supaya kita akrab! Bukankah kita akan segera adakan pesta mewah untuk pernikahan kita?" kata Puteri Tang malu-malu biar dianggap Puteri idaman.


"Aku harus diskusi dengan ibu suri dan ibunda ratu dulu! Ini bukan masalah kecil jadi harus dipertimbangkan secara matang. Dan kau tahu aku sudah punya beberapa selir. Mereka juga harus tahu rencana ini. Aku harus tanya pendapat mereka."


Puteri Tang mengangkat kepala tak percaya Fu Yen akan berkata tegas mengenai rencana pernikahan antara dua kubu besar ini. Padahal dia sudah yakin akan jadi ratu di hati Fu Yen.


"Anda raja... keputusan di tangan kamu! Selir itu bukan siapa-siapa bila di banding dengan aliansi dua kerajaan. Aku tak peduli dengan selirmu!" ekor rubah Puteri Tang menyembul sedikit perlihatkan wujud asli sang Puteri.


"Tuan Puteri balik dulu! Nanti kita bahas bersama. Aku mau jemput adikku!"


Puteri Tang tersentak dengar Fu Yen mau jemput Hwa Lien. Bisa jadi karena masalah yang terjadi di pasar tadi. Apa sudah ada yang melapor kepada raja kejadian yang terjadi di tengah pasar. Andai Hwa Lien ungkap fakta maka kesombongan Puteri Tang akan terbongkar. Putri Tang suka menyiksa rakyat.


"Oh adikmu itu??? Yang Mulia...aku mau kasih tahu kalau adikmu dan dayangnya sangat arogan ingin cari masalah denganku. Bahkan ingin pukul pengawal kerajaan kami. Tadi kami ada jumpa di pasar. Mereka memaki aku menuduh aku berbuat kasar pada rakyatmu. Kau percaya tidak aku tega siksa rakyat. Injak semut saja aku tak tega apalagi pukul rakyat!" ucap Puteri Tang dengan raut wajah sendu. Dia ingin katakan kalau Hwa Lien dan temannya siksa dia.


Fu Yen mengangguk, "Tuan Puteri tak usah kuatir! Kalau mereka bersalah maka aku akan hukum mereka. Keluarga istana mana boleh berbuat arogan pada siapapun. Anda tunggu saja di istana!"


Puteri Tang mengangguk pelan sok dizolimi oleh Hwa Lien dan Ashura. Fu Yen tak bisa percaya begitu saja pada cerita Puteri Tang. Fu Yen kenal adiknya tak mungkin berbuat anarkis pada orang kalau tidak diganggu. Hwa Lien nakal tapi tak pernah jahatin orang selain usil.


Fu Yen melanjutkan perjalanan ke istana dingin dengan hati kesal. Wanita memang bikin pusing kepala. Belum selesai dengan selir lain muncul pula calon selir baru minta jadi isteri raja. Kapan dia bisa hidup tenang dengan satu wanita. Fu Yen berharap hidup tenteram dengan Ashura yang pintar. Satu Ashura wakili seribu selir pajangan.


Pintu gerbang istana dingin tertutup rapat tak terima tamu. Tak ada pengawal berdiri di depan pintu gerbang istana itu. Hanya rangkuman angin menyambut kehadiran sang raja. Dingin sedingin penghuni yang tak terima tamu.


"Yang Mulia...apa kita ketok pintu?"


Fu Yen turun dari kereta melayangkan mata pada pintu gerbang yang agak kusam itu. Sama benar dengan majikan dari istana ini. Orangnya menjengkelkan namun selalu bikin kangen. Fu Yen memang kangen pada Ashura namun ada tamu dia tak bisa ikutan safari dengan Ashura membantu rakyat. Fu Yen bukan tak kuatir Fu Kuang berhasil rebut Ashura. Dari tak berdaya harus layani tamu dari kerajaan tetangga yang terkenal kuat.


"Suruh buka pintu! Aku mau lihat apa yang sedang dilakukan oleh Puteri Shu Rong!"


"Baik yang mulia!" Kasim Du segera beri aba-aba pada pengawal raja untuk gedor pintu gerbang membisu itu. Dua pengawal maju ke depan menggedor pintu dengan sekuat tenaga agar orang di dalam segera buka pintu. Terdengar suara gedoran kasar memecahkan ketenangan istana dingin. Orang pekak selakipun akan terusik oleh kekacauan ditimbulkan pengawal Fu Yen.


Tak lama Amuk berlari buka pintu gerbang. Gedoran begini sudah pernah terjadi sewaktu raja datang mencari Ashura. Bukan tidak mungkin raja yang datang lagi cari Puteri Shu Rong yang doyan kaburan.


Amuk segera bersujud tatkala melihat penguasa kerajaan berdiri tegak di depan pintu gerbang. Wajah Fu Yen sangar tak bersahabat membuat Amuk ketakutan istana mereka bakal dapat masalah lagi. Fu Yen memang tak suka pada penghuni istana ini. Selalu saja cari masalah dengan penghuni istana ini padahal penghuni istana ini tak pernah bikin ulah.


"Selamat datang Yang Mulia Raja...silahkan masuk!" Kata Amuk tanpa berani angkat kepala menatap sang raja.


"Tuan Puteri kamu ada di sini?"


"Ada bersama tuan Puteri Hwa Lien. Mereka ada di kamar lagi bercanda! Hamba akan bawa berita pada tuan Puteri kalau yang mulia sudah datang!"

__ADS_1


Fu Yen mengibas tangan beri kode pada Amuk agar lapor kehadiran beliau. Amuk ngacir tanpa disuruh dua kali. Pergi sejauh mungkin dari delikan mata sang raja adalah hal paling aman. Kena delikan mata Fu Yen meleleh kulit Amuk.


Fu Yen berjalan lewati gerbang istana dingin yang kusam dari luar tapi indah di dalam. Tak ada kesan istana ini seram seperti cerita orang. Halaman bersih tanpa sampah bahkan bunga bermekaran walaupun musim gugur telah datang. Biasa dedaunan akan rontok kotori pekarangan istana. Semua itu tak terjadi di sini.


Amuk melaporkan kehadiran sang raja kepada kedua tuan Putri yang sedang bercanda di dalam kamar. Ayin beserta kedua dayang putri Hwa Lien bermain permainan sederhana hasil ciptaan Ashura dengan riang gembira. Tak ada tekanan dalam raut wajah mereka.


"Ayin...lapor pada tuan Puteri kalau yang mulia raja ada di depan." Seru Amuk dengan nafas tersengal.


Ayin berserta kedua temannya kaget mendengar laporan Amuk. Pemilik kerajaan sudah ada di istana mereka berarti kegembiraan mereka akan segera berakhir. Ketiga gadis itu segera mengetuk pintu kamar Asyura untuk mengabarkan laporan Amuk.


"Tuan Puteri...Ada yang mulia raja!" Teriak Ayin panik.


Di dalam kamar Ashura dan Hwa Lien saling berpandangan kesal kegembiraan mereka terusik oleh kehadiran sang raja. Hwa Lien samasekali tak harap abangnya muncul merebut Ashura dari tangannya lagi. Ashura banyak buka pikiran Hwa Lien agar menjadi wanita lebih mandiri dan kokoh.


Hwa Lien duluan keluar menyambut Raja sementara Ashura bergegas membereskan benda-benda dari masa depan sebelum ketahuan oleh Fu Yen. Fu Yen tak boleh tahu asal usul Ashura supaya rajanya tidak bingung punya selir dari masa depan.


Hwa Lien membungkukkan badan begitu tiba di depan abangnya. Pekerjaan membosankan tapi tetap harus dilakukan karena itu adalah adat turun-temurun. Yang muda harus hormati yang tua.


"Yang Mulia kanda.. tumben datang sini?" tegur Hwa Lien kurang senang namun tetap sopan.


"Kamu kenapa di sini? Siapa izinkan kamu keliaran di luar istana kamu?"


"Adinda sudah izin dari kanda jenderal untuk temani tuan Puteri Shu Rong. Kasihan tuan Puteri tak ada kawan bicara maka aku pindah ke sini. Kami tak melanggar hukum kok!"


Fu Yen melotot sehubungan Hwa Lien merasa tak bersalah keluar istana tanpa pengawalan. Fu Yen sudah duga gadis yang bersama Hwa Lien tentu saja Ashura. Hanya mereka berdua punya nyali segede nyali beruang berani lawan titah sang raja.


"Kau bikin onar di tempat umum ya? Kau ini seorang Puteri mana boleh sembarang cari masalah diluar. Kalian bully Puteri Tang lagi." Fu Yen belum beranjak dari halaman depan karena yang empunya istana belum muncul persilahkan dia masuk ke dalam rumah.


Hwa Lien melongo sampai mulutnya terbuka lebar. Laporan dari mana mereka bully Puteri Tang? Siapa demikian kurang kerjaan melapor yang bukan-bukan kepada sang raja. Laporan dan fakta sangat jauh beda. Kapan mereka bully sang Puteri? Yang kurang ajar itu tuan Puteri Tang. Dia yang salah kenapa mereka pula yang tanggung nama jelek.


Puteri Hwa Lien mengorek kuping berkali-kali yakin diri kuping belum tersumbat kotoran sehingga salah dengar ucapan Fu Yen. Tak ada kotoran di situ artinya perkataan Fu Yen valid tuduh mereka bersalah.


"Kanda raja yang gila terhormat...Kami memang keluar istana tapi kami tak cari masalah dengan si hidung monyet. Dia pukuli warga dan kami bela warga kami. Apa salah aku bela rakyat aku dari kejahatan?" Hwa Lien maju menantang Fu Yen. Hwa Lien membusungkan dada melawan abangnya tanpa gentar.


"Kau...kalian tak pantas bertengkar dengan Puteri Tang. Dia itu tamu penting kerajaan."


"Apa Puteri kerajaan boleh berbuat sesuka hati pada rakyat kecil?" Ashura sudah muncul dengan wajah dingin. Sangat serasi dengan gelar Puteri dari istana dingin.


Fu Yen balik badan menghadap Ashura yang seperti menjaga jarak dengannya. Kalau tak ada orang ingin sekali Fu Yen memeluk Ashura untuk lepas kangen.

__ADS_1


"Ashura...kau ini seorang Puteri kenapa ikutan nakal seperti Hwa Lien? Ayok balik ke istana! Kita akan adakan rapat dengan wakil kerajaan Tang esok hari."


__ADS_2