
Ashura pindah duduk ke samping menanti siapa yang punya nyali mau coba duluan. Orang yang berani pasti akan lebih maju. Untuk sejenak belum ada yang berani tampil gantiin Ashura duduk di belakang stiur. Mereka berempat tentu saja sedang asah otak apa harus maju atau tetap jadi kura-kura sembunyi dalam cangkang keras. Kepala saja tak berani ditampilkan.
Ashura agak gundah melihat betapa pengecut manusia dan zaman ini. Diajari sesuatu yang baru tetapi tidak bersama peradaban asing. Kelihatannya Ashura harus lebih tegas memaksa salah satu diantara mereka untuk memahami semua peralatan baru ini.
Ashura mulai dari sang raja selaku penguasa kerajaan. Fu Yen harus lebih maju dari yang lain karena dialah kerajaan ini akan berperang. Ashura menancapkan mata ke tubuh sang raja. Tatapan penuh intimidasi mengandung ancaman.
Fu Yen buang muka kalah main tatapan dengan gadis muda itu. Jujur Fu Yen masih ragu untuk mulai memegang sesuatu yang yang aneh dalam pandangan orang sini.
"Fu Yen...kamu ini laki atau perempuan? Apa perlu Hwa Lien yang jadi raja?" bentak Ashura tajam membuat Fu Kuang dan paman raja tertawa cekikikan.
Dalam sejarah kerajaan mungkin baru pertama kali mereka melihat ada raja diancam anak perempuan. Perempuannya galak pula. Fu Yen terpaksa maju takut nilai sebagai seorang raja dipandang rendah oleh warganya.
Kini Fu Yen sudah duduk di belakang setir dengan wajah agak putih. Raja itu sedang test mental hadapi perubahan cara hidup dari peralatan jadul langsung ke matic. Siapapun akan merasa tertekan tiba-tiba jumpai hal baru di luar akal sehat mereka.
Ashura biarkan Fu Yen menenangkan diri sesaat sebelum Ashura minta dia hidupkan mobil tank itu. Ashura maklum kalau laki itu butuh ketenangan untuk coba barang baru.
Tangan Fu Yen bergerak menyentuh bulatan stiur dengan tangan bergetar. Ada keraguan tersirat di wajah raja untuk mulai. Di sini Ashura tak sabar lagi. Ashura lihat Fu Yen terlalu banyak drama bikin kesabaran habis.
Ashura menjewer kuping Fu Yen dengan gemas biar raja itu tahu kalau bukan waktunya plin plan tentukan keinginan hati. Fu Kuang dan Paman raja besarkan mata kaget Ashura berani sentuh kuping raja bahkan menjewernya. Tak ada takutnya gadis itu pada sang raja. Hwa Lien tertawa renyah senang lihat ada orang bisa bully raja.
"Ayo jalan! Mau tunggu sampai matahari sudah hilang baru coba?" omel Ashura lupa kalau di belakang masih ada orang lain saksikan dia bully raja. Harga diri Fu Yen sebagai raja terhempas ke laut terbawa gelombang.
"Kamu ini sabar kenapa? Kau pikir ini makan nasi? Sembarangan saja..." sahut Fu Yen jengkel Ashura anggap dia anak kecil. Fu Yen menyentuh kupingnya yang panas kena jepitan jari wanit muda itu. Fu Yen menggosok kupingnya dengan pelan hilangkan rasa perih kena jeweran dari tutor judesnya.
"Ayo hidupkan! Tekan tombol bulat itu. Nanti perlahan injak gas. Ingat pelan saja seperti kamu perlakukan selir kamu. Lembut penuh perasaan. Dan kalau mau berhenti injak pedal samping untuk hentikan kenderaan. Itu namanya pedal rem."
Ocehan Ashura kembali mengundang senyum penumpang lain. Ternyata begini hubungan kedua orang ini. Selalu bertengkar tanpa ada batasan selir dengan raja. Fu Yen yang apes kena kenakalan Ashura. Fu Yen tidak beri reaksi diomelin Ashura. Raja itu tak ubah seperti anak laki takut isteri.
Fu Yen mencoba melaksanakan apa yang diminta oleh Ashura. Pertama-tama menghidupkan kendaraan ini dengan menekan tombol bulat yang ditunjuk oleh Ashura. Suara mesin berderu tanda kendaraan ini telah hidup. Fu Yen melirik Ashura sekilas sebelum menginjak pedal gas untuk majukan mobil tank. Tatapan penuh ancaman dari Ashura menciutkan nyali Fu Yen untuk mengelak belajar. Suka tak suka Fu Yen tetap harus jakankan kenderaan perang ini.
Fu Yen menginjak pedal perlahan namun kenderaan tak bergerak. Tank tetap di tempat tanpa ada pergerakan sedikit pun.
"Tuan raja...jangan tak injak samasekali! Injak tapi jangan terburu-buru! Tekan perlahan-lahan."
__ADS_1
Fu Yen menarik nafas lalu kerjakan perintah Ashura. Kali ini Fu Yen menambah sedikit tenaga biar kotak besi ini mau maju. Kali maju walaupun ada sentakan. Tank berlaju perlahan menerbitkan senyum di bibir sang raja. Sebagai raja dia sukses taklukkan peradaban moderen.
Ashura tak kalah senang melihat sang raja telah berhasil menjalankan kendaraan besi baja itu. Kini tinggal memantapkan gerakan tangan saat Raja memegang stiur.
"Kalau ada jalan memutar maka kita harus putar setiur ke arah di mana kita mau belok. Contoh sekarang kita belok kanan maka tuan raja harus putar stiur ke arah kanan. Ayok coba!" Ashura kembali arahkan Fu Yen gunakan stiur tepat guna.
Fu Yen memutar ke kanan namun tanpa sadar pelaskan gas sehingga tank perlahan berhenti. Ashura mau marah namun segera sadar kalau tak semua orang punya otak seperti dia apalagi Fu Yen datang dari zaman kuno.
"Fu Yen yang terhormat. Gas tetap harus diinjak karena itu adalah nafas kenderaan. Terlepas maka dia berhenti. Ayok ulang lagi! Awas kalau salah lagi! Aku akan buka praktek buka panti sunat orang jadi Kasim." ancam Ashura lagi. Ancaman Ashura selalu datangkan senyum bagi yang lain. Hanya Fu Yen tak senyum saling tegang kendarai mobil bukan zaman mereka.
Ashura melatih sang raja sambil mengeluarkan omelan-omelan lucu. Sang raja tidak menanggapi sekata pun setia ocehan Ashura yang menggelitik penumpang lain.
Setelah Fu Yen giliran Fu Kuang. Tidak sulit memberi arahan kepada sang Jenderal. Sang Jenderal cepat menangkap apa yang diajarkan oleh Ashura bahkan cepat terampil. Tidak sia-sia Fu Kuang menjadi seorang jenderal karena memang memiliki keterampilan luar biasa. Lelaki itu cepat mahir bahkan hampir menyerupai seorang ahli berkendaraan.
Tiba giliran Paman Raja tak jauh beda dengan sang raja. Masih tersendak-sendat untuk menguasai stiur kendaraan tank ini. Ashura keluarkan segala kesabaran menghadapi orang-orang dari abad jauh beda darinya itu. Hwa Lien juga dapat giliran mencoba kenderaan perang ini.
Satu hari itu dihabiskan oleh keempat orang ini untuk menguasai kendaraan baja ini. Ashura pikir masih butuh waktu panjang untuk melatih tiga orang ini untuk betul-betul menguasai kendaraan berlapis baja itu. Hwa Lien hanya mendapat pelatihan namun tidak bisa diharapkan untuk ikut berperang mengendarai mobil tank baja ini. Ashura beri kesempatan pada Ashura untuk belajar bukan berarti Hwa Lien harus ikut perang. Cukup sekedar mengetahui peradaban modern saja.
Ketika sore sudah menjelang mereka bersiap-siap untuk meninggalkan lokasi itu setelah yakin semua telah terkunci dengan baik. Selanjutnya menjadi tugas Jenderal untuk menjaga semua peralatan ini sampai terbentuk pasukan khusus untuk dilatih menguasai senjata-senjata perang ini.
Fu Yen sudah perintahkan pada Kasim Du untuk merahasiakan kalau dia berada di istana dingin. Kasim Du harus berbuat seolah-olah sang raja ada dalam istana namun tak mau diganggu karena kurang sehat. Mereka harus pandai bersandiwara untuk mengelabui mata-mata yang disebarkan oleh musuh di dalam istana.
Istana dingin yang biasa sepi senyap kini terang benderang karena adanya pembesar kerajaan nginap di situ. Makanan juga pasti lebih lezat dari biasa. Kasim Du perintahkan orang istana masak lebih banyak tanpa beritahu akan dibawa ke mana semua makanan itu. Makanan itu akan diselipkan secara rahasia ke istana dingin oleh pengawal yang setia.
Sebelum mereka membedah senjata-senjata itu terlebih dahulu makan malam supaya ada tenaga untuk mengasah otak mempelajari senjata yang mematikan ini. Ashura lebih menaruh harapan kepada Fu Kuang daripada Fu Yen. Fu Kuang memang petarung sejati yang menguasai lapangan perang. Sedangkan Fu Yen hanyalah seorang raja yang disetir para pejabat.
Kelima orang ini mengelilingi meja makan sarta dengan makanan lezat. Ada daging dan ikan. Ashura dan Hwa Lien lupa kapan terakhir mereka melihat daging dan ikan. Tiap hari disuguhi sayuran dan kacang-kacangan. Numpang nasib baik sang raja mereka bisa makan enak tanpa harus susah payah memasak untuk makan malam.
Hwa Lien menatap makanan di meja dengan mata berbinar-binar. Rasanya gadis ini ingin menghabiskan seluruh makanan yang ada untuk memuaskan rasa lapar terhadap daging.
"Silahkan makan!" Paman raja memulai menyumpit makanan ke mangkuk nasi. Paman raja mungkin sudah terlalu lapar makan tak segan memulai.
"Pasti..." Hwa Lien mengambil sumpit mulai pindahkan makanan satu persatu ke dalam mulut. Gadis ini makan dengan lahap menikmati masakan khusus untuk raja. Lezatnya tak terhingga.
__ADS_1
Ashura makan sedikit segan. Dia terjepit di antara pria penguasa istana mau rak mau harus perlihatkan sedikit sikap sopan sebagai wanita punya adat. Malu kalau dianggap rakus tak pernah makan enak.
Fu Yen mengambilkan Ashura makanan melihat gadis itu cuman makan dikit. Mereka pernah sangat dekat bahkan tidur seranjang. Mengapa sekarang harus seperti orang asing. Fu Yen belum siap ditinggalkan oleh Ashura.
"Makan yang banyak biar kuat. Bukankah kita akan berperang melawan musuh?" tegur Fu Yen terusan isi mangkuk Ashura dengan makanan.
"Kami di sini tiap hari hanya dikasih sayuran. Lama-lama kami bahkan tak tahu lagi bentuk daging dan ikan. Apa kalian tak lihat wajahku hampir mirip kambing?" gerutu Hwa Lien melaporkan nasib mereka berada di istana dingin.
"Kenapa kalian tak lapor pada aku?"
"Lapor apa? Apa Ashura seperti orang kemaruk nama besar? Kanda asyik sama gentong lemak mana waktu mikirin kami yang terasing di sini. Lihat tampang gentong lemak saja aku jijik! Hidung seperti buah jambu monyet. Ishhh... ngak usah cerita deh! Hilang selera makan aku!" Hwa Lien goyang bahu bikin gerakan sangat menghina Putri Tang.
"Dia itu tamu kerajaan yang harus kita hormati. Kita tak boleh memicu perang di antara perdamaian. Kita berbuat sebisanya biar kerajaan Tang pikir putri mereka bahagia di sini."
"Emang dia bahagia...untuk apa dipikir? Sekarang kanda tahu bukan kalau dia itu racun pancingan agar kerajaan kita jatuh ke tangan mereka. Maunya kita siksa dia biar lemak pindah dari badannya." Hwa Lien masih asyik hujat putri Tang. Hwa Lien lebih suka Ashura jadi pendamping abangnya ketimbang putri berbadan subur itu. Dalam cerita Ashura boleh dibilang amsih berperan sebagai putri Chau yang berhak duduk di posisi ratu.
"Hwa Lien...untuk sementara jangan cari masalah biar mereka tak curiga pada kita. Sekarang kita punya sesuatu untuk lawan mereka. Cepat habiskan nasimu biar kita bedah senjata hebat kita!" Paman raja menenangkan Hwa Lien jangan cari gara-gara dengan Putri Tang. Kalau rahasia mereka terbongkar sulit buat mereka menyusun rencana matang hancurkan musuh.
"Paman raja benar Alien...kita sabar dulu ya!" Ashura ikuta. untuk putri berdarah panas itu. Sifat Hwa Lien tak jauh beda dengan Ashura. Sama panas dan konyol. Maka itu mereka. bergaul sangat akrab.
"Satu lagi Hwa Lien...kau harus pulang ke istana karena ibunda kamu sudah bertanya-tanya ke mana kamu." ujar Fu Yen ingatkan adiknya untuk balik ke istana. Hwa Lien mungkin sudah lupa statusnya sebagai Puteri kerajaan. Gadis itu miah punya ibunda yang harus dia perhatikan.
"Iya...besok aku pulang sana. Aku tetap nginap di sini bersama sayangku Ashura. Aku tak bisa berpisah dari Ashura." kata Hwa Lien mengerling genit pada Ashura.
Ashura mencibiri rayuan Hwa Lien. Untunglah orang di situ sudah tahu tingkah laku konyol Hwa Lien. Kalau tidak bisa salah sangka terhadap mereka berdua.
"Terserah kamulah!"
Selanjutnya mereka makan tanpa berbincang lagi. Fu Kuang tak sabar mau cepat tahu cara kerja senjata yang dibawa Ashura dari masa depan itu. Fu Kuang tak sabar karena dia itu seorang jenderal penguasa Medan perang. Darah sudah mengalir cukup banyak di area perang. Ntah sudah berapa banyak darah mengalir di kancah perang yang hanya makan korban para pasukan.
Ashura buka laptop coba cari tahu tentang senjata perang ini. Semoga saja ada tersimpan sedikit tentang senjata tembak itu. Sayang sekali zaman ini tidak ada jaringan internet. Kalau ada jaringan internet segala kesulitannya dihadapi oleh Ashura akan teratasi. Kini gadis ini hanya bisa meraba-raba cara pengunaan senjata ini. Pada dasarnya hanya kokang lalu pencet tuas menembak. Ashura menyesal mengapa dia tak tertarik pada senjata. Coba kalau dia ngerti tentu tak usah bingung seperti saat.
Fu Kuang perhatikan senjata laras panjang dengan seksama. Laki ini lagi pelajari semua pernak-pernik senjata itu. Ashura ikutan lihat lalu teringat kalau senjata ini harus diisi magazine tempat peluru disimpan sebelum ditembakkan.
__ADS_1
"Ini senjata otomatis. Kita isi peluru lalu tarik pelatuk untuk menembakkan isi peluru. Tunggu...kita coba masukkan tempat peluru." Ashura mengambil magazine berisi deretan peluru hendak dipasangkan ke dalam tubuh senjata itu.
Assalamu'alaikum...author minta maaf lama absen. Author sakit demam tinggi. Jadi istirahat beberapa hari. Berkat doa para pembaca setia alhamdulilah sekarang sudah agak pulih. Terimakasih sudah maklum. Author akan makin giat untuk penuhi harapan pembaca.