
Chen Yang menempatkan pantat di bangku sederhana milik Ashura. Paman arah tak habis pikir apa yang diinginkan Fu Yen sampai tega memberi calon ratu tempat tinggal seperti tempat para pelayan. Namun melihat Ashura tidak terlalu masalahkan tempat tinggal membuat paman raja kagum. Kalau Ashura memang datang membantu rakyat maka gadis ini pantas diberi penghargaan.
Ashura meninggalkan paman raja duduk sendirian sedangkan dia pergi mengambil barang dari jaman moderen untuk buktikan pada paman raja bahwa dia tidak sedang karang cerita bohong. Dia memang datang dari ribuan tahun dari masa sekarang.
Ashura membawa ponsel dan laptop yang belum pernah dilihat oleh paman raja. Benda itu tentu saja akan jadi barang ajaib bagi mereka yang tak tahu barang canggih ini.
"Paman raja...ini barang aku!" Ashura meletakkan barang-barangnya di atas meja untuk diteliti oleh paman raja.
Mata Chen Yang berputar silih ganti antara kedua benda itu. Bentuknya sederhana seperti kotak tipis terbuat dari logam ringan. Apa fungsi benda ini. Perlahan tangan paman raja menyentuh benda itu dengan hati-hati.
Ashura membantu paman raja dengan membuka layar laptop agar wujud laptop makin nyata buat orang jaman tempo dulu. Chen Yang dibuat makin tercengang karena di balik benda ini ada kaca Kilauan.
"Ini namanya laptop! Benda pintar yang menghubungkan dunia. Mari kuperlihatkan cara kerjanya." Ashura menekan tanda power untuk aktifkan laptop. Seketika cahaya terang benderang memancar dari layar walau belum memunculkan isi dalam. Di layar tampak foto Ashura dengan pose duduk di taman dengan pakaian masa kini.
"Ini kamu?" tanya Chen Yang takjub.
"Iya..ini aku di dunia aku! Di jaman aku hampir tak ada jarak ke seluruh dunia. Kami memiliki pesawat untuk mengantar kami ke belahan bumi lain dalam waktu singkat. Mari kuperlihatkan kenderaan di jaman kami."
Ashura scroll laptop untuk buka file dalam laptop. Di sini tak ada jaringan internet maka hanya ada file yang tertinggal bisa dibuka. Untunglah Ashura suka menyimpan banyak catatan penting sehingga masih bisa pelajari yang belum sempat dia baca di laptop.
"Ini mobil..pengganti kuda! Kotak besi ini bergerak dibantu oleh bahan bakar bensin. Dia mengantar kita ke mana saja asal ada jalan. Modelnya bermacam-macam. Ada yang besar dan kecil. Dan yang ini mobil aku. Sehari-hari aku pergi ke mana saja dengan bantuan kenderaan ini." Ashura menunjukkan foto dia bergaya di depan mobil putih miliknya di dunia nyata.
Paman Chen Yang tak bisa berkata apa-apa saking takjubnya. Ashura dengan sabar cerita semua tentang kehidupan di zamannya. Paman raja hanya menyimak tanpa bertanya. Apa yang bisa dia tanyakan karena memang tak paham semua apa yang diceritakan Ashura. Puas dengan isi laptop kini Ashura tunjukkan ponsel pintarnya. Benda penghubung belahan dunia jadi satu. Berkat benda ini dunia jadi tanpa jarak. Setiap saat bisa hubungi orang yang dingin kita hubungi asal ada jaringan.
"Ini ponsel. Kegunaan benda ini adalah kita bisa bicara dengan siapa saja asal dia juga punya benda ini. Kegunaan lain adalah berfoto. Ayo kita coba!" Ashura ajak paman raja ber-selfie biar paman raja makin terbuka pikiran.
Paman Raja dibuat seperti orang bodoh oleh Ashura. Gadis ini mengajak paman raja bergaya di depan kamera biar tahu benda ini bisa mengabadikan setiap moments.
Paman Raja agak kaget tatkala flash kamera mengeluarkan cahaya terang saat Ashura menekan tombol ambil foto. Laki itu dibuat terkaget-kaget melihat barang yang belum pernah dia jumpai di zaman ini.
Ashura perlihatkan hasil foto mereka kepada paman raja. Paman raja terkesima melihat dirinya ada dalam kotak bersama Ashura. Ashura bergaya luwes sedangkan paman raja seperti ketakutan dikejar harimau ganas. Mulutnya terbuka serta mata melotot ketemu hantu di siang bolong.
"Ya Tuhan...ternyata kamu tak bohong kamu datang dari masa depan. Kenapa tak mau jujur pada Fu Yen? Dia pasti kecewa kamu bohongi." akhirnya paman raja bersuara mulai yakin gadis di depannya tidak bohong dia datang dari zaman berbeda.
"Aku belum berhasil bongkar misteri kematian Shu Rong maka belum boleh bongkar jati diri aku. Aku mau minta tolong pada paman raja untuk rekam semua kegiatan ratu dan selir Ning Fei."
"Maksudmu apa?"
"Aku cuma minta tolong pada paman raja meletakkan benda di tempat ratu dan selir Ning Fei. Berapa hari kemudian kita jemput lagi benda itu untuk dengar semua percakapan di tempat ratu dan selir Ning Fei. Kita bisa ungkap semua kejahatan ratu dan selir kesayangan Fu Yen itu."
"Benda apa itu? Di mana harus kuletakkan?"
Ashura mengeluarkan dua buah alat perekam mini berbentuk bulat kecil. Alat ini hanya bisa merekam suara selama beberapa hari sampai batere habis. Setelah itu dicas baru bisa dengar hasil rekaman.
"Kalau bisa tempat pribadi ratu maupun selir Ning Fei seperti kamar ataupun ruang tamu."
__ADS_1
Chen Yang termangu mendengar permintaan Ashura. Kalau ruang tamu mungkin dia bisa tembus namun untuk masuk kamar itu hal mustahil. Dia tak punya alasan masuk ke kamar pribadi ratu apalagi kamar Ning Fei. Chen Yang bisa dianggap melakukan pelecehan pada selir raja. Hukumannya pasti bukan sekedar sanksi, bisa hilang kepala.
"Itu tak mungkin. Aku mana bisa masuk kamar ratu dan Ning Fei. Kamu harus cari seseorang lebih licin untuk letakkan benda itu."
"Ini artinya akan orang ketiga tahu rahasia aku. Ini akan membahayakan diriku."
"Kita bisa minta bantuan Hwa Lien. Dia itu adik bungsu Fu Yen. Dia agak nakal tapi kujamin setia. Dia bisa masuk ke mana saja karena sudah terkenal badung. Tak ada yang curiga padanya. Aku akan bicara padanya sebelum jumpa kamu."
Ashura menimbang minta bantuan Hwa Lien. Ashura ingat Puteri Shu Rong pernah ingatkan dia untuk minta bantuan Puteri raja itu. Mungkin saatnya bertindak sebelum waktunya habis di masa ini. Ashura tak punya pilihan lebih baik selai ikuti saran paman raja. Mungkin Hwa Lien bisa bantu dia agar cepat pulang ke dunianya.
"Baiklah paman raja! Bawa Hwa Lien ke sini. Aku akan ajar dia cara kerja semua peralatan canggih ini."
Paman raja mengangguk setuju. Namun rasa penasaran paman raja belum tuntas terhadap benda milik Ashura. Dia ingin belajar lebih banyak tentang dunia Ashura. Mungkin ini akan jadi titik awal kebangkitan zaman keemasan kerajaan mereka. Chen Yang akan menyerap semua teknologi zaman Ashura.
"Shu Rong...bolehkah kita berfoto lagi? Tadi gaya aku sangat jelek."
Ashura menertawai rasa penasaran paman raja. Beliau tak puas hasil foto pertama memberi kesan dia orang kurang segaris. Tampang bloon persis orang idiot.
"Oke paman! Ayo senyum biar makin ganteng!" Ashura berdiri di samping paman raja berselfie lagi.
Kali ini paman raja menarik bibir bentuk senyum kalem. Gayanya lebih natural tidak kaku lagi. Chen Yang cepat belajar terima kecanggihan teknologi masa depan.
"Ganteng..." puji Ashura perlihatkan hasil pada Paman raja.
"Sekarang foto lama. sendirian. Ayok berdiri dengan gaya santai!"
Chen Yang tertarik pada arahan Ashura jadi foto model dadakan. Ashura dengan senang hati mengarahkan Paman raja bergaya dengan beberapa pose. Pertama kaku selanjutnya malah luwes bak fotomodel profesional. Dasar paman raja ada sedikit jiwa feminim maka cepat tangkap arahan Ashura.
Puluhan gaya dilakoni Paman raja sampai dia puas. Paman raja tak habis-habisnya puji kegantengan diri sebagai cowok terganteng di kerajaan.
"Apakah foto itu akan hilang?"
"Ngak dong! Selamanya di sini asal ponsel ini jangan rusak. Setiap saat paman bisa datang sini lihat fotonya."
"Maukah kamu memberi benda ini kepadaku?"
Ashura mengangguk untuk menyenangkan paman raja. Ashura akan tinggalkan benda ini kepada paman raja bila dia pulang ke dunianya kelak. Biarlah benda ini jadi kenangan buat paman raja!
"Aku akan berikan pada Paman raja setelah berhasil ungkap kejahatan ratu dan menteri. Benda ini tak ada guna buatku setelah bongkar semua konspirasi para pejabat."
"Janji ya! Paman akan berusaha bantu kamu. Sekarang paman harus balik dulu cari Hwa Lien. Besok adalah waktu tepat letakkan benda itu karena semua kumpul di halaman. Ratu dan para selir kan datang. Aku akan minta Hwa Lien menyelinap masuk ke kamar ratu dan Ning Fei."
Ashura memuji kecerdikan paman raja. Sudah ada kemajuan paman raja ini. Otaknya mulai cas kena radiasi barang canggih.
"Paman benar! Ajak Hwa Lien ke sini!"
__ADS_1
"Baiklah! Kamu hati-hati ya! Istana kamu terpencil rawan jadi target pembunuhan."
"Paman tak usah kuatir. Aku akan jaga diri."
Chen Yang meninggalkan istana Ashura dengan harapan cepat bantu Ashura selesaikan dendam Puteri Shu Rong. Chen Yang tak tahu kalau Ashura akan segera hilang begitu tugasnya selesai di alam ini. Itu janji Puteri Shu Rong pada Ashura.
Sepeninggalan Chen Yang, Ashura merasa hawa dingin menerpa kuduknya. Tak usah ditebak Ashura tahu kalau Puteri Shu Rong sudah datang. Dari awal masuk istana Ashura sudah tahu Shu Rong asli sudah ada di sekitarnya.
Ashura segera menutup pintu karena ngerti hantu Shu Rong tak bisa kena cahaya terang. Ashura tak mungkin menyakiti hantu sebaik Shu Rong. Jadi manusia sudah disiksa masak jadi hantu harus kena azab lagi. Itu sial kwadrat namanya.
Benar saja dugaan Ashura. Begitu pintu ditutup muncul satu sosok bayangan di sudut ruang jauh dari cahaya terang. Ashura dapat melihat Shu Rong dengan jelas sebab sudah berapa kali bertemu.
"Sudah datang?" sapa Ashura duluan biar Shu Rong tak kecil hati.
"Dari tadi...aku tak bisa lama karena hari masih siang. Semua pesananmu sudah ada di belakang gudang. Bijaklah gunakan semua barang dari zamanmu! Kumohon kau tak boleh bantu selir Ning Fei dan ratu. Biarlah mereka menderita sampai akhir hayat mereka!" lirih Shu Rong masih tersimpan dendam membara. Dia mati konyol karena ambisi orang serakah. Wajar dia meminta Ashura hilangkan rasa belas kasihan pada kedua perempuan culas itu.
"Shu Rong...orang berbuat jahat pada kita tak perlu kita balas dengan kejahatan pula. Tuhan akan punya cara hukum mereka. Kita lihat saja sampai di mana keangkuhan mereka. Kau tenang saja istirahat di alam abadi mu. Serahkan semua kepadaku!"
"Aku percaya padamu maka bawa kamu ke sini. Tak perlu obati kedua orang itu biar tahu apa arti rasa sakit." ujar Shu Rong tampak tak rela jadi korban kejahatan kedua wanita istana itu. Dia masih muda namun mati sia-sia. Mati karena ketamakan wanita lain.
"Terimakasih sudah mau ngerti! Aku sudah punya pembantu untuk selesaikan masalah kamu. Aku perlu bukti untuk jerat mereka ke hukuman. Biarlah Fu Yen yang tentukan apa yang pantas untuk mereka!"
"Aku yang harus terima kasih atas semua pengorbanan kamu. Aku janji akan kembalikan kamu utuh pada keluarga kamu."
Ashura terdiam dibilang akan dikembalikan ke alamnya. Ada rasa sedih mengalir dalam dada harus tinggalkan Fu Yen sendirian hadapi sejuta masalah kerajaan. Sebenarnya Fu Yen itu raja baik namun dia tidak tegas pada para pejabat karena takut kudeta.
Lantas kalau dia tak pulang bagaimana pula orang tuanya serta musuh terindahnya di alam lain? Mereka tentu hampir gila mencari dirinya terutama mamanya. Ashura tak bisa bayangkan kesedihan sang mama kehilangan putri tercinta.
Ashura jadi dilema. Mana yang harus dia dahulukan? Keluarga atau kerajaan? Ashura tak bisa bohongi diri sendiri kalau perlahan mulai ada rasa di hati terhadap Fu Yen. Lelaki itu banyak mengajari Ashura untuk menjadi wanita lebih kuat dan tahu hidup susah.
Yang tampak indah dari luar belum tentu isinya sama. Kehidupan istana sangat megah namun menyimpan sejumlah kotoran tak bisa dibersihkan dalam satu dua hari. Butuh waktu sangat panjang dan rumit untuk singkirkan semua sampah itu.
"Kita lihat nanti! Untuk sementara kamu jangan tinggalkan aku! Aku masih butuh bantuanmu untuk bersihkan segala kotoran di istana."
"Iya...kamu harus sabar ya!"
Ashura mengangguk. Selesai omong begitu roh Shu Rong perlahan menghilang. Siang begini dia tak bisa lama menampakkan diri. Paling sebentar untuk ingatkan Ashura apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
Senja Chen Yang datang membawa Puteri Hwa Lien. Chen Yang hanya bawa Puteri nakal itu tanpa libatkan orang lain lagi. Chen Yang tak mau ambil resiko membongkar identitas Ashura sebelum semuanya jelas.
Hwa Lien melongo melihat Ashura dalam pakaian wanita. Selama ini dia mengenal Ashura sebagai penasehat abangnya urus masalah kerajaan. Penasehat yang cantik membuatnya jatuh cinta.
Pantesan Fu Yen selalu melarang adiknya dekati Ashura. Ternyata ada rahasia besar tentang penasehat itu. Ashura bukan cowok cantik melainkan cewek cantik.
Hwa Lien menertawakan diri sendiri terlalu bodoh anggap Ashura sebagai cowok. Tapi Hwa Lien tak marah karena ini bukan salah Ashura, dia sendiri kelewat banyak cinta.
__ADS_1