
Ashura buang muka tak mau tatap Fu Yen yang kesenangan berhasil bobol gawang lawan. Ashura masih kesal walau tahu marahpun tak ada guna. Semua sudah terjadi. Dan diapun menikmati setiap sentuhan Fu Yen. Sang raja sangat perkasa antar gadis lugu ke puncak rasa nikmat dalam bercinta.
"Tidurlah! Mulai sekarang kau tak bisa lari dari tanganku lagi. Kau adalah milikku." Fu Yen mengecup bibir Ashura sekilas lalu posisikan badan memeluk Ashura untuk tidur.
Rasa lelah habis bertempur gempur sarang baru menguras tenaga Fu Yen. Antara rasa lelah dan nikmat bawa keduanya lelap songsong pagi.
Pagi hari disambut hujan besar siram tanah yang masih kering karena kemarau. Fu Yen dan Ashura jadi malas bangun karena udara cukup dingin. Berpelukan dalam satu selimut datangkan rasa lega juga nyaman.
Fu Yen buka mata sekilas tatap wajah lugu di pelukan. Wajah cantik ini kini jadi miliknya. Ashura takkan lari lagi walau punya kaki. Laki manapun tak berhak rebut gadis pinter ini dari tangannya lagi.
Fu Yen mendesah merasakan panggilan pagi. Burungnya bangun dengan garang hendak cari sesuatu untuk hangatkan diri. Sekali merasakan sarang hangat jadi minta terusan.
Fu Yen tak dapat menahan diri mulai lancarkan serangan pagi untuk penuhi hasrat pagi. Bibir Ashura jadi korban pertama. Fu Yen ******* bibir Ashura tanpa ampun.
Ashura tersentak dapat serangan mendadak. Ngantuknya kontan hilang diganggu raja yang tak dapat kontrol nafsu.
"Yang Mulia..apaan?"
"Ucapan selamat pagi. Ayoklah! Sebentar saja." ujar Fu Yen menahan gejolak nafsu.
"Gk..masih perih.." tolak Ashura tak mau disentuh Fu Yen. Bayangan sesuatu yang jumbo masuk ke badannya hadirkan rasa sakit bikin trauma.
"Aku jamin tak sakit..kalau sakit akan kuhentikan! Aku janji.."
"Bener?"
"Sumpah..kau pasti akan senang pagi ini."
Ashura mau percaya tapi masih takut. Sementara Fu Yen sudah tak sabar ingin satukan badan dengan Ashura. Tak peduli penolakan Ashura lagi Fu Yen langsung cumbui Ashura. Lama lama Ashura terbawa arus ikuti irama cinta Fu Yen. Ashura lupakan rasa pedih di bawah karena Fu Yen memang mahir bimbing gadisnya menuju puncak rasa nikmat bercinta.
Ashura mendesah nikmat oleh permainan Fu Yen. Sang raja makin beringas gara gara ******* manja Ashura. Nafsunya makin melangit mencapai apa yang dinamakan surga bercinta. Tumpahan lahar panas dari Fu Yen menyelinap ke rahim Ashura menanti hadirnya insan baru ke dunia.
Percintaan yang lebih dahsyat dari semalam benar benar kuras tenaga Fu Yen. Gadis muda di dalam pelukan maih segar walau digempur habisan oleh Fu Yen. Stamina gadis muda macam Ashura tentu lebih tinggi dari Fu Yen.
"Bagaimana sayang? Sakit atau nikmat?" olok Fu Yen bikin Ashura malu kucing.
Ashura merasakan kenikmatan tak terhingga dari percintaan pagi ini. Kini Ashura bisa nikmati seutuhnya tanpa rasa pedih. Benar kata Fu Yen. Percintaan selanjutnya hanya ada kata nikmat.
"Kita mandi?" tanya Fu Yen lembut.
"Hamba masih capek. Yang Mulia silahkan mandi dulu. Tugas negara masih menantimu. Pergilah!"
"Aku akan bawa kamu balik ke istanaku. Aku tak mau kamu sendiri di sini. Kita balik bersama ya."
"Yang Mulia balik duluan. Apa kata orang bila lihat Yang Mulia bawa penasehat di atas kuda. Yang Mulia bisa dituduh punya kelainan jiwa."
Fu Yen terkekeh bayangkan pikiran orang lihat dia bawa penasehat yang sementara ini masih disebut pria cantik. Fu Yen bisa dianggap punya kelainan ***.
"Baiklah! Kau harus segera pulang ya! Aku akan pergi ke rapat negara bahas masalah wanita istana juga pajak pejabat. Soal pembukuan sudah ditangani paman raja. Beliau akan panggil semua pejabat yang berkaitan dengan pemegang pembukuan. Kau tak usah ikut campur masalah ini. Cukup fokus apa yang ingin kau kerjakan!"
"Hamba minta bibit padi saja. Sediakan di tempat kerja hamba."
"Baiklah! Aku pergi dulu. Aku mandi di istanaku saja." Fu Yen mengecup kening Ashura dengan lembut.
"Hati hati Yang Mulia! Ingat jangan terjebak oleh selir Ning Fei!"
"Tidak akan. Aku sudah punya kamu. Yang lain tak penting lagi."
Ashura mangut percaya pada keyakinan Fu Yen takkan jatuh ke tangan selir licik macam Ning Fei. Ashura yakin Ning Fei tidak sendiri dalam gerakan buat Fu Yen pilih dia jadi ratu. Pasti ada tangan lain ikut campur.
Fu Yen segera berpakaian sambil kerling Ashura yang intip tubuh telanjang berbobot kokoh itu. Fu Yen sadar Ashura kagum pada tubuh kekarnya. Tubuh yang telah beri kenikmatan surgawi padanya.
__ADS_1
"Masih malu? Sudah kau miliki semua." goda Fu Yen bikin jantung Ashura bergetar kencang.
Ashura tersipu malu menutup muka dengan selimut tak mau menatap raja yang sedang berpakaian. Fu Yen makin gemas lihat gaya malu malu kucing wanitanya. Kalau bukan tugas menanti rasanya Fu Yen tak ingin keluar dari kamar.
Tugas negara tetap lebih penting dari sekedar nafsu. Waktu mereka masih panjang. Hari hari bahagia masih menanti mereka.
"Aku pergi..tidurlah sampai puas. Siang nanti aku akan minta kasim Du jeput kamu." Fu Yen menepuk pipi Ashura sebelum pergi.
"Iya Yang Mulia.."
Fu Yen segera pergi dengan hati lapang. Kebahagiaan terpancar di wajah sang raja. Rona wajah sang raja juga lebih segar bak buah gunung siap panen.
Hujan tak halangi Fu Yen berpacu menuju ke istana kebajikan. Sang raja menerobos hujan menjalankan tugas sebagai abdi negara. Sebagai raja Fu Yen punya tanggung jawab terhadap semua kejadian yang ada di kerajaan. Segala penyimpangan harus dienyahkan agar rakyat hidup makmur.
Ashura melanjutkan tidur saking lelah layani nafsu Fu Yen bak badak birahi. Tak kenal lelah garap lahan yang baru dibuka. Fu Yen semangat bercocok tanam supaya ada hasil hadirkan buah baru.
"Ashura..." di antara rasa ngantuk Ashura mendengar ada yang memanggilnya.
Di jaman ini hanya ada satu orang memanggilnya Ashura yakni hantu cantik Shu Rong. Ashura segera bangun tahu hantu cantik itu sudah datang.
"Shu Rong?"
"Berpakaianlah! Apa tak malu sama hantu cantik macam aku? Rebut calon suamiku?"
Shu Rong berdiri di sudut kamar yang jauh dari cahaya terang. Hantu tetap takut cahaya walau hantunya baik.
"Siapa rebut dia? Dianya ngebet sama aku. Dia berani rengut perawanku. Apa kata pacarku kelak dapat aku sudah bolong." sungut Ashura sambil meraih pakaiannya. Ashura segera berpakaian rapi walau hanya sekedar jumpa hantu cantik.
Shu Rong tertawa kecil lihat Ashura sewot jatuh ke pelukan Fu Yen. Shu Rong tahu Ashura mulai suka pada raja tanpa dia sadari.
"Hati hati kau hamil..tuh anaknya sudah ada dalam perutmu."
"Sok tahu..apa sekali main langsung jadi?"
"What? Kok makin rumit?"
"Perdana menteri mau jadi raja. Mereka akan pakai anak mereka jebak Fu Yen. Kau harus jaga lakimu kalau tak mau dia jatuh. Bukan sekedar jatuh ke pelukan para wanita tapi jatuh dari singgasana raja."
"Ku tahu aku tak bisa dekati perdana menteri maupun ratu. Gimana bisa cari sela kesalahan mereka? Kecuali kau bantu aku."
"Caranya?"
"Kau ambil alat perekam dari masa depan. Aku akan pasang di sekitar istana ratu dan selir Ning Fei."
"Nona manis..kau tak boleh merusak sejarah. Alat gitu tak boleh ada di jaman ini."
"Jadi apa guna kamu? Kenapa kau tak muncul cekik orang hingga mati saja?" ujar Ashura dikit kesal Shu Rong tak mau bantu dia ambil alat rekam.
"Aku mati penasaran. Aku tak bisa berbuat jahat kalau mau sempurna. Permintaanmu terlalu banyak nona cantik."
"Siapa suruh kamu bawa aku ke sini? Aku kan hanya gadis biasa tak punya ilmu sihir. Bagaimana bisa masuk istana orang lain tanpa diketahui. Kalau tak mau bantu ya aku juga tak bisa berbuat apapun." Ashura jual mahal seakan tak mau ambil pusing sama permintaan Shu Rong menyelidiki kematiannya.
"Kau sungguh merepotkan. Baiklah! Malam ini aku akan bawa barangmu. Kau akan tinggal di sini?"
"Tidak..raja gila akan jeput aku siang nanti. Oya gimana masalah bibit?"
"Sudah ada. Tinggal kau katakan di mana harus kuletakkan!"
"Temui aku nanti malam di istana raja. Oya..negara ayahmu juga harus dapat bibit unggul. Kita tak boleh biarkan kerajaan ayah tak dapat pengetahuan tentang pertanian. Mereka juga berhak hidup makmur."
Mata Shu Rong berubah sayu dengar Ashura teringat pada kerajaan ayahnya. Tak salah dia memilih Ashura masuk ke kerajaan ini untuk bantu kejayaan kerajaan juga misteri kematiannya.
__ADS_1
"Terima kasih Ashura. Apa kau akan pergi ke kerajaan Chau?"
"Boleh setelah kerjaku sini beres. Aku akan sisihkan bibit untuk kerajaan Chau."
"Kau tak usah takut. Bibitmu takkan putus selama kau butuhkan. Aku akan kirim bibit sebanyak mungkin. Kau harus bergerak cepat biar cepat kembali ke alammu!"
Ashura menjadi ragu dengar kata kata Shu Rong. Apa dia sanggup tinggalkan Fu Yen menjadi mangsa para pejabat licik juga selir yang penuh virus.
"Nanti kita bahas itu lagi. Sekarang kita harus bongkar kebusukkan perdana menteri dan Ratu. Jangan lupa kirim alat perekam! Bawa yang banyak biar aku bisa tempatkan beberapa buah di tempat strategis."
"Ashura..barang ini tak boleh kau gunakan sembarangan karena akan merusak sejarah. Barang belum pantas ada di jaman ini."
"Aku ngerti tapi aku perlu seseorang bantu aku. Mungkin aku akan pakai Hwa Lien. Dia kelihatannya cerdik walau ada songongnya."
"Cukup satu orang ya! Sebentar lagi kau akan dijeput. Hati hati melangkah dan kamu jangan terlalu pojokkan Ning Fei. Bagaimanapun dia adalah wanita pertama raja. Dia seumuran sama raja maka pengalaman hidupnya lebih darimu. Kau akan kalah kalau lawan trik jahatnya."
"Aku bukan orang kejam. Hidupku tak mau kupenuhi dengan hal negatif."
Shu Rong tertawa kecil dengar Ashura masih mau baik hati pada Ning Fei. Sifat tamak wanita itu akan bawa dia ke dalam jurang bencana lebih besar. Kehancuran akan datang padanya. Shu Rong takkan biarkan orang sejahat Ning Fei hidup senang. Shu Rong akan buat dia hidup sengsara bayar semua kejahatannya.
"Malam ini aku akan datang. Jauhkan raja dari kamarmu."
"Itu aku tak janji. Kau tahu sifat raja yang suka main paksa. Kalau aku melawan Ayin dan Amuk jadi sasaran. Aku kasihan pada mereka maka aku berniat keluarkan mereka dari istana. Biar mereka hidup senang tanpa tekanan."
"Kau memang orang baik. Ini terserah kebijakanmu sendiri. Dan jangan lengah! Setiap langkah harus hati hati. Ke depan harimu akan makin berat. Berbagai tekanan akan datang karena Fu Yen mulai melawan pejabat. Mereka akan tahu itu semua idemu."
"Aku ngerti maka aku akan bikin strategis baru. Tenanglah! Aku bukan orang bodoh gampang dikerjain."
"Baguslah! Tapi aku tak yakin kau mampu lawan mereka tanpa kawan. Terbukti kau bisa dibodohi Fu Yen di tempat tidur."
Pipi Ashura memerah ingat kebodohannya jatuh pada pelukan Fu Yen. Kejadian ini akan terjadi cepat atau lambat. Fu Yen tak mungkin berhenti sebelum dapatkan haknya sebagai raja. Tak ada yang perlu disesali.
"Itu sebuah kecelakaan."
"Oya? Bukankah kau nikmati setiap sentuhan raja cabulmu?"
"Jangan diteruskan! Ini memalukan."
"Kau wanita dewasa untuk apa malu? Dan lagi kau memang dipersiapkan jadi wanita raja."
Ashura menunjuk hidungnya dengan kesal. Bukan Ashura yang harus jadi wanita raja tapi Shu Rong yang sudah jadi hantu. Ashura hanya korban salah waktu masuk ke dunia bukan dunianya.
"Ini semua gara gara kamu. Aku sudah punya pacar yang kucintai. Apa kata dia kalau tahu aku sudah pernah berhubungan intim sama orang lain. Di mana nilaiku sebagai anak gadis?"
"Ashura..kau akan kembali utuh bila sudah sampai ke duniamu. Semua akan kembali seperti semula. Jadi nikmati percintaan kalian sampai waktu memisahkan kalian. Aku doain semoga kau dan Fu Yen dapatkan cinta tulus."
"Aku ragu cinta Fu Yen. Dia kelihatannya sayang pada Ning Fei."
"Fu Yen belum yakin perasaan sendiri. Terlalu banyak wanita dalam hidupnya. Tapi kau sudah dapat perhatian penuh darinya. Dia sangat sayang padamu."
"Benarkah? Aku takut dia berhubungan dengan Ning Fei lagi sementara aku takut selir itu idap penyakit kelamin."
"Percayalah! Fu Yen takkan sentuh dia lagi. Kecuali dijebak oleh ratu dan selir. Makanya kau harus jaga raja agar tak kunjungi kamar Ning Fei. Mereka akan berbuat apapun demi dapat cinta sang raja."
"Mengerikan..coba kau selidiki apa Ning Fei kena penyakit itu?"
"Baiklah! Aku tak bisa lama. Nanti malam aku datang lagi. Kau tunggu aku. Jangan ada orang lain dalam kamarmu ya!"
"Aku tahu..tapi aku yakin Fu Yen akan ganggu aku malam ini. Dia seperti badak tak kenal lelah dalam bercinta."
"Mungkin untuk pelepasan sekian lama tak rasakan harum wanita. Apalagi dia baru pertama rasakan gadis perawan."
__ADS_1
"Memangnya wanita istana tak perawan? Mereka bseselingkuh?"