
Fu Yen mengecup pipi Ashura sebagai tanda kemenangan. Kasim Du dan yang lain hanya bisa mesem mesem malu. Ashura mencubit pinggang sang raja kuat kuat sampai Fu Yen mengaduh kesakitan.
"Sakit..beraninya kamu cubit rajamu? Mau penggal?"
"Penggal saja bibir nakalmu!" Ashura berkacak pinggang angkuh setelah lepas dari pelukan sang raja.
Para pengawal dan kasim Du baru kali ini lihat sang raja bisa santai bercanda dengan seseorang. Biasa Fu Yen hanya sibuk memikirkan urusan negara juga harem harem bikin pusing. Ashura memang gadis luar biasa berani candakan raja.
"Sini kau.." panggil Fu Yen pada Ashura yang sudah menjauh. Ashura menyelamatkan diri dari raja nakal sebelum sang raja berbuat lebih anarkis.
"Ogah..pagi pagi sudah cabul!"
"Aku cuma mau bilang tompelmu kok berubah? Kemarin terasa di kanan kenapa hari ini di kiri? Tompelmu bisa pindah ya."
Ashura meraba wajahnya dengan tampang bodoh. Gadis ini termakan kata kata Fu Yen mengelus tompel yang baru dia buat dengan maskara. Ashura ogah pakai tinta lagi karena terbuat dari bahan mengerikan.
"Apa iya? Rasanya memang sebelah kiri."
"Kasim Du..bawa tinta hitam bantu Tuan puteri pindah tompelnya ke kanan." perintah Fu Yen bikin Ashura bingung sendiri.
"Siap Yang Mulia.." kasim Du segera masuk ke ruang kerja Fu Yen ambil permintaan Fu Yen. Dalam hati kasim Du tertawa geli. Fu Yen pasti sedang kerjain gadis cantik ini. Salah Ashura juga main bohongi orang. Fu Yen balas kerjain gadis ini.
Kasim Du bawa tinta pesanan Fu Yen. Begitu tinta dibawa ke hadapan Ashura gadis ini kontan berseru nyaring. Teringat bahan mengerikan dalam campuran tinta perut Ashura jadi mual.
"Jangan! Hamba akan urus sendiri tompel nakal ini! Suka ngelayap sana sini."
"Baiklah! Sini dulu..biar kubersihkan tompel nakalmu! Nanti kau gambar lagi di atas jidat." Fu Yen menarik Ashura mendekat lalu ambil sapu tangan membersihkan wajah Ashura. Berhubung maskara Ashura warterproof tak gampang dihapus. Bukannya bersih malah bikin wajah Ashura hitam sana sini.
Semua tertawa tergelak gelak lihat wajah Ashura sudah menghitam hampir seluruh wajah. Ashura segera sadar sedang dikerjain sang raja.
"Dasar raja sinting. Awas kau! Kupenggal kamu!!" seru Ashura hendak cubit pinggang Fu Yen lagi. Fu Yen segera kabur dikejar Ashura kelilingi halaman istana. Keduanya berputar putar saling kejaran.
Kasim Du terharu melihat Fu Yen demikian ceria bersama Ashura. Fu Yen lebih manusiawi setelah bertemu gadis tepat. Fu Yen begitu lepas tanpa beban bersama gadis kambing tambatan hati.
"Ampun..ampun..nona kambing! Kamu lucu sih! Tompel bisa pindah pindah.." Fu Yen menyerah tak mampu berlari lagi. Tenaganya sudah terkuras habis main kejaran dengan gadis berstamina tak habis habis.
Ashura berkacak pinggang pelototi Fu Yen yang terduduk di lantai. Nafas Ashura tersengal sengal menahan rasa capek namun puas bisa kalahkan sang raja.
"Awas kau raja sinting. Aku akan pancung hidungmu kalau nakal ganggu aku lagi. Aku mau mandi."
"Mandilah yang bersih! Jaga tompelmu jangan kabur sana sini." kata Fu Yen masih merasa capek. Fu Yen bahagia dan puas bisa bercanda dengan Ashura walau hari tak cerah. "Hei..dandan pengawal Shu ya! Kita mau rapat sama menteri."
"Tambah gaji bonus ya!" balas Ashura sebelum hilang dalam kamar.
"Dasar kambing mata duitan." cercah Fu Yen sambil tersenyum puas. Gadis lucu menarik hati. Kau telah warnai hidupku dengan pola pikirmu yang ceria. Kau hadirkan pelangi indah dalam hidupku Fu Yen membatin dalam hati.
Sayang Ashura tak mau seutuhnya jadi milik Fu Yen. Makin sulit mengejar Ashura makin tinggi niat Fu Yen merangkul gadis tu ke dalam bahtera hatinya. Ashura hanya boleh berlayar dalam hati Fu Yen.
__ADS_1
"Yang Mulia..kita sarapan?" kata Kasim Du membuyarkan lamunan Fu Yen. Kasim Du ulurkan tangan membantu Fu Yen bangun dari lantai di mana Fu Yen jatuhkan badan karena kelelahan main kejar kejaran dengan gadis konyol.
"Siapkan air mandi dulu. Aku keringatan. Tak nyaman bekerja dengan badan lengket." kata Fu Yen berlalu dari halaman kamar Ashura. Baru kali ini Fu Yen kuras tenaga hasilkan keringat berlebih. Badan terasa lebih segar bisa gerakan otot kaku karena jarang digerakkan.
Satu jam kemudian Fu Yen sudah rapi dan lebih cerah. Kini tinggal tunggu kehadiran Ashura makan pagi lalu pergi ke aula kerajaan untuk rapat bersama para menteri dan pejabat. Fu Yen memerlukan Ashura untuk bantu berpikir jalan terbaik untuk rakyat. Cara pikir Ashura sederhana namun tepat sasaran.
Fu Yen menanti Ashura di meja makan dalam kamar. Gadis memang ribet, berdandan berjam jam tanpa peduli orang menunggu.
Tak lama Ashura muncul membawa angin segar. Wangi yang keluar dari badan Ashura bikin Fu Yen memejamkan mata meresepi rasa segar harum bunga. Kasim Du ikutan numpang cium bau segar bikin kepala plong.
"Hai...lama tunggu ya!" kata Ashura santai tak peduli seberapa lama Fu Yen menanti. Ashura duduk seberangan sama Fu Yen memantau menu sarapan pagi mereka. Semua jenis makanan ringan tanpa nasi. Benar benar makanan sehat tanpa lemak. Cocok untuk orang lagi diet. Ashura tak menolak makanan sehat ini.
"Mulai makan. Kita harus cepat ke ruang rapat. Di sana kau tak kuijinkan bicara. Kamu boleh keluarkan pendapat hanya padaku."
"Iya tahu..Yang Mulia mana boleh dibantah walau salah. Tapi bagaimana kalau mulutku nakal tak mau diajak damai?"
"Mulutmu tajam..aku takut kamu bertengkar sama pejabat karena mereka hanya punya pola pikir sendiri. Hadapi mereka harus kepala dingin. Mereka punya wilayah masing masing dan bisa kontrol pejabat kecil untuk bikin rusuh."
"Yang Mulia takut sama tikus macam gitu?" tanya Ashura gerah. Ternyata dari jaman dulu sudah ada perebutan kekuasaan dengan pemimpin utama. Pejabat seperti itu wajib dipancung. Ashura harus berantas pejabat model gitu agar rakyat tak tertekan oleh koruptor tanggung.
"Bukan takut tapi tak bisa mengurus sampai hal sekecil ini."
"Hal kecil? Rampok hak rakyat bilang kecil? Yang Mulia lihat saja bagaimana kuhabisi manusia model gitu. Akan kubuat mereka kentut tak bisa keluar. Biar gembung dalam perut meledak sendiri." seru Ashura berapi api. Semangat bertarung menyala berkobar penuhi hati Ashura.
Inilah yang ditakuti Fu Yen dari Ashura. Keberanian gadis ini bisa bawa petaka besar kalau ngamuk di ruang rapat. Mulut Ashura yang tajam pasti akan membantah semua ulasan yang tak pas di kuping kecilnya.
"Terserah! Aku punya cara sendiri basmi tikus tikus gudang. Tinggal diracuni!" sahut Ashura santai sambil comot makanan tak terpengaruh pada ancaman Fu Yen.
"Shu Rong..rapat kerajaan itu bukan main main. Kau tak boleh bikin para pejabat sakit hati. Aku butuh mereka untuk menjalankan pemerintahan." Fu Yen menjelaskan penuh kesabaran.
"Iya..diam! Harus jadi orang bisu. Aku takkan bicara apapun tapi boleh hajar orang culas kan?"
"Kau..makin tak tahu sopan santun. Tinggal di istana saja! Tak boleh ikut rapat." Fu Yen meninggalkan Ashura di meja makan dengan hati kesal. Ashura memiliki was wasan luas namun mulutnya sangat berbahaya. Sekali omong bisa tembus sampai sepuluh telinga.
Ashura ikut bangun tak peduli ditolak raja. Ashura merasa bertanggung jawab sebagai penasehat raja yang setia. Ashura ikuti ke mana Fu Yen melangkah pura pura lupa tak diajak ke ruang sidang. Ashura benar benar mau tahu apa kebijaksanaan Fu Yen tangani bencana ini. Otak Fu Yen cas tidak?
Fu Yen balik badan karena diikuti gadis tengil bak bayangan sendiri. Kini Fu Yen sudah menghadap Ashura yang bersiul tak mau menatap sang raja.
"Mau ke mana kamu?"
"Lindungi rajaku yang ganteng! Kenapa? Merasa ganteng?"
Dada Fu Yen mau meledak rasanya. Pemuda cantik di hadapannya bikin kheki tingkat dewa. Tengil, usil juga cuekan.
"Kamu tinggal di istana! Tak boleh ikut. Ngerti gak?" bentak Fu Yen mulai hilang rasa sabar.
"Ngerti.." Ashura mangut.
__ADS_1
"Ngerti apa?"
"Tak boleh ikut kamu."
"Bagus..sekarang balik ke kamarmu! Duduk manis di sana."
"Aku bukan ikut kamu tapi ikut rajaku. Apa urusanmu aku ikut raja. Aku ini penasehat raja yang ganteng, baik hati dan manis" Ashura meletakkan jari di pipi dengan gaya ganjen.
Kasim Du lagi lagi dibuat ketawa oleh tingkah lucu Ashura. Fu Yen mencubit pipi Ashura saking gemas. Mau marah tapi tak tega. Ashura terlalu imut untuk dihukum.
"Baiklah kau boleh ikut tapi janji tak boleh bersuara! Kau akan merusak wibawaku kalau asal omong."
Ashura mengangguk yakin. Fu Yen tak yakin janji Ashura tapi apa daya jumpa penasehat konyol. Fu Yen juga perlu nasehat Ashura untuk jalankan misi bencana. Ashura pasti punya pendapat tersendiri mengenai masa depan penduduk. Fu Yen percaya Ashura memiliki niat baik pada rakyatnya.
Langit masih mendung waktu Ashura dan Fu Yen naik kereta menuju ke ruang rapat. Padahal ruang rapat dan tempat tinggal sang raja tak terlalu jauh. Jalan kaki juga sampai. Tapi dasar raja jaga image tak mau jalan kaki mau nyusahin orang lain. Raja pemalas nomor satu di dunia.
Ruang rapat kerajaan sangat mewah. Tetap diwarnai warna merah dan orange diberi variasi warna hijau muda. Sepasang patung singa kuno menjadi penjaga halaman istana kerajaan. Berpuluh anak tangga menanti kalau hendak naik ke ruang rapat yang tentunya sangat lebar.
Ashura tak habis kagum pada bangunan yang kini jadi bangunan bersejarah di jamannya. Ashura beruntung bisa nikmati semua ini secara langsung tanpa perlu meraba raba kisah yang sebenarnya. Ashura bahkan ikut ambil andil rasakan jadi penasehat raja. Pengalaman ini akan terkenang sepanjang masa.
Fu Yen melihat Ashura termangu menatap kemegahan istana raja sesungguhnya. Pancaran mata Ashura siratkan rasa kagum tak terhingga. Dalam pemikiran Fu Yen mungkin gadis padang rumput tak pernah melihat istana megah karena kerajaan padang rumput hanya kerajaan kecil tak begitu makmur.
"Siap???" bisik Fu Yen dekat telinga Ashura kembalikan alam sadar gadis ini.
Ashura mengangguk. Fu Yen menggandeng tangan Ashura menapak tangga pertama menuju ke rapat pertama Ashura di kerajaan. Kasim Du dan pengawal raja ikut dari belakang sambil tersenyum. Fu Yen terlalu nampakkan kasih sayang pada Ashura. Padahal hal ini aan menimbulkan rasa curiga karena saat ini Ashura berperan sebagai lelaki cantik penasehat baru raja.
"Jangan lebay Yang Mulia! Ini tempat umum. Apa Yang Mulia mau disebut orang kurang normal? Gandeng lelaki ganteng dan imut macam aku." Ashura menepis tangan Fu Yen untuk hindari macam pandangan negatif. Isu negatif bisa merusak nama baik sang raja. Sebagai penasehat raja Ashura wajib lindungi Fu Yen dari segala yang bisa hancurkan image beliau.
Fu Yen sejujurnya tak suka ditolak Ashura namun niat gadis ini hanya mau lindungi dia juga tak dapat diabaikan. Alhasil keduanya berjalan berjauhan menuju ke atas ruang megah kerajaan.
Fu Yen berjalan dengan anggun lewati para pejabat yang sudah menanti dari pagi. Gaya Fu Yen sukses bikin Ashura terkagum. Fu Yen berubah menjadi sosok oenuh wibawa kharisma seorang raja sejati. Ashura janji akan buat Fu Yen bangga punya penasehat plus plus. Sopan dan manis.
Fu Yen duduk di kursi kebesaran dengan gagah di samping berdiri Kasim Du dan Ashura. Alun dan beberapa pengawal berdiri di belakang siap lindungi sang raja dari segala bahaya. Suasana jadi sangat resmi apalagi seluruh penghuni ruang memberi hormat pada Fu Yen sambil membungkuk. Kepala Ashura pusing lihat para pejabat menjilat sok hormat. Mata Ashura jelatan perhatikan setiap orang yang hadir. Ada Fu Kuang berdiri paling depan bersama seorang pria flamboyan.
Ashura melempar enyum pada pria itu sambil senyum kocak. Nyatanya laki itu adalah orang yang dia jumpai di daerah bencana. Chen Yang membalas senyum Ashura tak kalah kocak. Fu Kuang mendesis kurang senang Ashura dan Chen Yang main mata di ruang sidang. Ingin rasanya Fu Kuang jitak kepala Ashura agar tak obral senyum mana mana. Tapi ini ruang rapat tak dapat berbuat seenaknya.
"Wahai para menteriku yang baik. Pagi ini kita berjumpa bahas masalah kerajaan yang cukup banyak. Kuharap kalian punya saran dan pendapat untuk kesejahteraan rakyat." Fu Yen mulai kemukakan kata hati.
"Salam Yang Mulia..hamba Fu Kuang. Hamba rasa kita semua harus bersatu sejahterakan rakyat. Kita tak boleh berpangku tangan hanya andalkan pejabat daerah yang tak punya fasilitas memadai." Fu Kuang duluan kemukakan usul. Mulut Fu Kuang ngoceh tapi matanya menatap lurus pada penasehat berbibir merah ranum itu.
"Apa saran jenderal Fu Kuang"
"Kusarankan bangun saluran air ke daerah yang sering dilanda kekeringan."
"Kau punya cara buat saluran segitu panjang membelah hutan? Sarana apa yang bisa kau pakai untuk capai hasil bagus?"
"Aku punya cuma perlu penasehat Yang Mulia untuk jalankan misi ini. Penasehat Yang Mulia punya wawasan sangat luas dan pinter. Hamba yakin akan berhasil bila penasehat Yang Mulia ikut bantu hamba berkerja nanti."
__ADS_1