
Kicauan burung pagi bangunkan Ashura dari tidur tak nyenyak. Semalaman Ashura memikirkan Fu Yen yang seperti orang tak tahu balas Budi. Dia sudah banyak bantu raja namun seorang selir baru mampu menghapus semua ingatan Raja terhadap Ashura.
Ashura bangkit dari ranjang menuju keluar mencari kedua abdi setianya. Ashura tak ingin rencananya rusak karena lelaki mata keranjang. Dia datang bawa misi kedamaian untuk kerajaan. Peduli amat dengan posisi seorang ratu.
Ayin sudah bersiap di depan pintu kamar Ashura. Ayin tidak tahu apa yang telah terjadi dengan majikannya tetapi Ayin dapat melihat betapa majikannya sedang tidak bahagia. Perihal apa gerangan membuat majikannya itu bermuram durja. Sebagai seorang pembantu Ayin hanya berharap Ashura cepat menemukan keceriaannya lagi.
"Selamat pagi tuan putri!" sapa Ayin sambil membungkukkan badan.
Ashura tersenyum hambar membalas sapaan Ayin tanpa semangat. Ashura merasa diabaikan oleh raja membuatnya sangat sedih. Di saat Ashura sudah percaya pada Fu Yen laku itu banyak tingkah. Ashura takkan maafkan Fu Yen bila berani main gila lagi.
"Sediakan sarapan Ayin! Nanti kita ke rumah Jenderal untuk bahas pekerjaan kerajaan!"
"Siap tuan putri!" Ayin mengundurkan diri dengan sopan melangkah mundur perlahan barulah balik badan menuju ke dapur.
Istana mereka sangat sepi tanpa hiruk pikuk para dayang seperti istana selir lain. Di sini cuma ada Amuk dan Ayin melayani Ashura. Istana sebesar ini hanya dihuni oleh tiga penghuni. Tak heran kesannya sepi.
Ashura sudah terbiasa bercanda dengan Fu Yen beberapa waktu ini. Sekarang dia sendiri seakan ada yang hilang. Seharusnya Ashura sadar kalau Fu Yen itu seorang raja. Wanita di sampingnya tak mungkin cuma satu. Bisa puluhan bahkan ratusan. Di zaman kerajaan raja punya segudang wanita itu bukan hal aneh. Tergantung para selir merebut perhatian raja.
Ashura dan Ayin berangkat ke tempat Fu Kuang dengan jalan kaki. Pihak kerajaan tidak menyediakan kereta untuk penghuni istana dingin karena orang tinggal di situ dianggap orang buangan.
Kedua wanita ini menyelusuri sepanjang jalan sekaligus cuci mata melihat keramaian kota di pagi hari. Udara sini masih segar tanpa polusi. Belum ada kenderaan mengeluarkan asap seperti zaman moderen. Polusi menjadi tuan rumah setiap negara.
Hari ini Ashura berdandan sebagai putri tinggalkan atribut penasehat kerajaan. Ashura tampil sebagai seorang gadis cantik memaksa setiap mata para laki singgah di wajahnya yang beda dengan wanita di zaman ini.
Ashura cuek bebek tak open tatapan nakal setiap lelaki. Dia lebih senang berjalan menikmati keramaian di pusat kota. Ayin dengan setia menemani nonanya berjalan sepanjang jalan.
"Nona...uang anda jatuh!" terdengar suara dari belakang mengingatkan Ashura kalau uangnya jatuh. Ashura cuek saja karena merasa tak punya uang. Di badannya tak ada uang sepeserpun. Fu Yen tak pernah bekali Ashura dengan uang. Ashura hanya perlu bilang kalau butuh sesuatu.
"Nona..." seru orang itu tak menyerah walau Ashura melangkah tanpa menunda langkah.
Ayin mencolek Ashura kasih kode ada lelaki mengejar mereka. Ashura kedipkan mata minta Ayin terus berjalan. Trik murahan cari perhatian cewek dengan modus Ashura kehilangan uang.
Orang itu benaran sangat gigih tak menyerah walau dicueki oleh Ashura. Dia berlari dahului Ashura dan Ayin sambil memegang dompet dari zaman baheula berupa kantong dari kain berhias bunga-bunga.
Anak laki cukup tampan dengan mata bersinar tajam dan kulit bersih. Anak ini pasti dari keluarga terpandang bila dinilai dari cara dia berpakaian. Ashura tak tahu apa yang diinginkan oleh anak muda itu.
Anak itu tersenyum perlihatkan barisan gigi rapi bersih. Kalau di bawa ke zaman Ashura bisa dijadikan model iklan pasta gigi. Sayang zaman ini belum ada fotomodel. Gambar saja masih harus dilukis oleh pelukis.
"Nona...ini dompetmu jatuh!" Laki itu mengangsurkan dompet kain itu dengan sopan.
"Maaf ya adik kecil! Itu bukan milikku karena aku orang miskin tak punya uang."
Laki itu tak percaya pada pengakuan Ashura dia tak punya uang. Penampilan Ashura jelas dari kalangan atas. Malahan Ashura terlalu cantik untuk jadi orang miskin.
Laki itu tidak serta-merta percaya pada pengakuan Ashura. Dia tetap ngotot itu milik Ashura walau Ashura sudah menolak.
"Aku berjalan di belakangmu melihat dompet ini jatuh dari badan nona. Kalau bukan milik nona siapa yang punya?" laki tetap sopan tanpa beri kesan cabul.
"Mungkin milik orang lain adik kecil! Aku betul tak punya uang sebanyak ini. Kalau aku ambil artinya aku mencuri uang orang."
__ADS_1
"Gitu ya? Aku Cang Lang."
"Anak menteri Cang?" tebak Ashura tanpa maksud tertentu. Hanya menebak saja. Laki perlente gitu pasti punya latar belakang kuat.
"Kau kenal aku?" laki itu berseru girang Ashura tahu dia anak pejabat.
Ashura ingat menteri pangan yang mirip tikus tapi jujur. Bapaknya mirip tikus tapi anaknya cukup ganteng. Dapat turunan gen dari ibunya kali.
"Apa kabar bapakmu?"
"Baik cuma hari ini lagi istirahat. Lututnya sakit karena berdoa seharian di istana."
Ashura mau ketawa ngakak ingat penderitaan para pejabat istana juga para wanita yang sok elite. Makan tuh doa! Ashura tidak sempat saksikan karena kesal pada Fu Yen lupa daratan kedatangan tamu dari kerajaan. Ashura akan buat raja dan pejabat lebih menderita lagi.
Tunggu beberapa hari lagi Ashura akan buat gebrakan baru bikin seluruh penghuni istana kelabakan. Orang-orang ini sudah terlalu lama hidup nyaman maka harus diberi penderitaan termasuk raja cabul itu.
Ashura angguk-angguk seolah paham penderitaan bapak Cang Lang. Cang Lang senang Ashura mengenal bapaknya artinya Ashura bukan sembarangan wanita. Orang bisa kenali menteri tentu saja tak jauh dari pemerintahan.
"Aku pergi dulu ya! Kelak kita akan jumpa lagi." Ashura pamitan ingin segera ke tempat Fu Kuang untuk laksanakan misi kedua yakni turun lapangan lihat pertanian rakyat.
"Nona mau ke mana biar kuantar. Kau sudah kenal bapak aku maka aku sebagai lelaki harus beri penjagaan kepadamu."
Ashura goyang tangan menolak pengawalan Cang Lang. Dia tidak boleh terlalu pamer siapa dirinya karena akan membahayakan diri sendiri. Orang-orang akan mengincar dia. Apalagi dia sudah buat banyak kebijakan merugikan para pejabat. Sedikit banyak pasti ada dendam di hati mereka.
"Terima kasih adik kecil! Aku lebih leluasa jalan sendiri. Kelak kita pasti jumpa lagi." Ashura beri kode kepada Ayin agar tinggalkan anak menteri perlente ini. Bergaya pakai duit orang tua apa hebatnya.
"Nona..aku punya toko buku! Kalau kau suka baca silahkan singgah ya!" seru Cang Lang sebelum Ashura pergi menjauh.
"Kelihatannya dia anak baik tuan Puteri." bisik Ayin menoleh lagi ke belakang.
Cang Lang masih mematung memandangi kepergian Ashura. Pesona Ashura telah membawa sebagian hatinya. Cang Lang belum pernah lihat wanita secantik Ashura dalam seumur hidup. Cang Lang tak tahu kalau dia harus bersaing dengan raja dan Jenderal perang kerajaan. Belum lagi paman raja Chen Yang. Sanggupkah Cang Lang bersaing dengan saingan super power?
Ashura dan Ayin sampai juga di depan rumah Jenderal. Penjaga istana Fu Kuang tidak serta merta izinkan Ashura masuk tanpa izin sang Jenderal. Rumah jenderal mana mungkin sembarangan terima orang.
Ashura menanti dengan sabar penjaga melapor pada jenderal kalau ada wanita cantik datang berkunjung. Kalau Jenderal lagi sibuk Ashura harus balik lagi ke istana dingin lanjut jalan kaki.
Di luar dugaan Ashura sang jenderal sendiri keluar sambut Ashura. Lelaki tertawa lebar mendapat tamu sangat diharapkan berkunjung pagi begini.
Jenderal terlihat sangat ceria jumpa Ashura gadis yang telah dia tandai untuk jadi nyonya jenderal.
"Selamat datang Puteri cantik."
"Pagi-pagi merayu...belum ada uang receh! Aku diterima tidak?"
"Siapa berani larang tuan Puteri masuk ke istana aku? Sudah masuk tak boleh keluar lagi ya!" gurau Fu Kuang disambut tawa derai Ashura.
Andai Ashura tidak masuk perangkap Fu Yen dengan senang hati dia masuk ke istana Jenderal. Fu Kuang bisa lebih diandalkan ketimbang Fu Yen yang hanya tahu wanita dan laporan pejabat.
"Ini namanya penculikan. Jenderal kancil bisa dituntut culik penasehat kerajaan."
__ADS_1
Fu Kuang bukannya menciut malah tertawa makin lebar. Jenderal girang tak terhingga Ashura datang lagi ke tempatnya dalam status siapapun tak masalah. Mau jadi penasehat kerajaan, mau sebagai tuan Puteri tak jadi masalah buat Fu Kuang. Yang penting Ashura sudah datang.
"Mau sekali dituntut apalagi dituntut menikah."
Ashura menggigit bibir lesu dengar kata nikah. Apa dia masih berharga buat jenderal setelah menjadi wanita Fu Yen. Sekarang Ashura baru nyesal telah bodoh terperangkap dalam romansa cinta Fu Yen.
"Huusss...aku datang mau bahas soal kerja! Bukan pacaran."
"Oh... ayok kita kerja! Aku mau ajak kamu pergi lihat hasil rancangan awal kamu. Kamu bisa kritik bila salah."
"Hari ini aku datang mau lihat lahan pertanian petani. Setelah itu baru kita urus soal senjata dan sepeda. Aku mau buat evaluasi tentang pertanian serta tanaman muda agar rakyat bisa nikmati hasil pertanian lebih bagus lagi."
"Masuk dulu baru kita pergi!"
"Kurasa kita langsung berangkat supaya tidak kalah sama matahari. Sebentar lagi matahari akan jadi musuh wanita. Dengan kejam dia gosongkan kulit aku yang mulus." Ashura menyibak rambut bergenit dikit. Fu Kuang menyipitkan mata pura-pura tergoda oleh Ashura. Bukan pura-pura melainkan memang tergoda seratus persen.
"Baiklah tuan putri cantik! Aku akan persiapkan kereta kuda. Atau kita pergi dengan kuda saja lebih cepat."
"Mungkin jenderal lupa aku tak pandai berkuda. Sekali kena tendang langsung kembali ke perut ibuku!"
Fu Kuang tertawa terbahak-bahak bikin para pengawal keheranan. Jenderal yang jarang bercanda itu bisa juga guyon dengan gadis cantik. Fu Kuang sangat berubah bila bersama Ashura.
"Mungkin kau lupa sudah berapa kali kamu berkuda dalam pelukan aku! Tambah hari ini kurasa tak ada masalah. Dayang kamu bisa tunggu di sini sampai kita kembali."
Ashura sedang menimbang untung rugi berkuda dengan Fu Kuang. Kalau raja muda tahu bisa tuduh dia berselingkuh dengan adiknya. Calon ratu main mata dengan Jenderal. Ini akan bawa dampak jelek bagi nama mereka.
Lebih parah akan memicu perselisihan antara dua bersaudara. Satu raja dan satunya jenderal. Ashura tak mau jadi kerikil di antara dua saudara itu. Mereka harus akur bangun negara.
"Aku takut matahari jenderal. Kita pergi dengan kereta kuda saja."
"Baik..aku akan persiapkan kereta kuda!" Fu Kuang ikuti keinginan Ashura untuk tunjukkan dia laki punya timbang rasa. Bisa memanjakan seorang wanita cantik adalah berkah bagi lelaki sejati.
Ashura suka Fu Kuang tidak memaksa seperti Fu Yen. Fu Yen suka memerintah orang karena dia adalah raja dari kerajaan ini. Sabdanya itulah hukum tak tertulis.
Fu Kuang tersenyum gallant tatkala kereta kuda berhenti di depan Ashura. Bunyi ringkikan kuda menyadarkan Ashura harus naik ke transportasi model baheula itu. Ashura tak mau Ayin capek berjalan ikuti kereta sepanjang jalan. Di zaman ini pembantu maupun dayang tak ada nilai sama sekali. Mereka dianggap sebagai budak harus patuh pada majikan. Tapi Ashura bukan orang abad ini tak hargai orang kecil. Ashura hargai semua manusia dasarnya sama walau beda status.
Ayin diminta ikut naik ke kereta kuda kendatipun duduk di samping pak kusir kuda. Ini lebih lumayan daripada Ayin harus jalan kaki ikuti ke mana arah jalan majikan.
Ashura di dalam kereta barulah Fu Kuang ikut masuk dengan gagahnya. Tanpa baju kebesaran jenderal perang Fu Kuang tetap keren. Kewibawaan Fu Kuang lebih nyata dibanding Fu Yen. Fu Kuang cukup tampan sebagai lelaki dari arena perang.
Fu Kuang beri senyum pada Ashura begitu naik ke atas kereta. Senyum khas lelaki berkharisma tinggi. Maunya yang jadi raja itu Fu Kuang, laki ini jauh lebih gagah dari Fu Yen. Tapi sayang dalam silsilah keluarga Fu Kuang tetap berada di posisi kedua.
"Kita ke mana dulu?" tanya Fu Kuang kalem bikin hati Ashura meleleh. Seorang jenderal selembut sutra bikin cewek baper saja. Namun Ashura harus kuatkan hati tidak tersentuh oleh gombalan pria zaman ini. Cukup sekali terjebak oleh rayuan Fu Yen si laki kurang ajar.
"Kita tinjau lahan pertanian dulu. Aku mau tahu cara mereka bercocok tanam."
"Soal ini aku kurang ngerti tapi kita bisa bertanya. Kadang mereka akan berpindah-pindah bila lahannya tidak subur lagi."
"Itu kesalahan besar. Tanah itu bisa kita segarkan lagi dengan pupuk alami. Bisa ambil kompos dari kandang ternak. Bisa juga kita buat dari tanaman yang sudah tak terpakai. Aku akan terangkan pada penduduk desa cara bertani yang baik. Kumohon jenderal kancil bersedia dampingi."
__ADS_1
Fu Kuang makin pusing dibuat oleh Ashura. Biasanya tuan putri hanya tahu berdandan lalu menunggu pasangan berkunjung. Pejabat kerajaan biasa menganut poligami sampai beberapa isteri. Termasuk raja. Raja lebih parah boleh punya selir sesuka hati. Asal suka boleh tambah selir.