
Fu Yen seperti orang linglung menerima kenyataan pahit ini. Dia terlalu nyaman menikmati status sebagai raja yang dipuja orang setiap hari. Dia tak tahu kalau dalam istana sedang menyimpan bara api siap membakar seluruh istana bahkan seluruh kerajaan. Fu Yen lupa daratan dengan status sebagai seorang raja yang kuasai semuanya. Kini fakta baru telah terpasang di depan mata kalau orang yang dia percaya selama ini akan menjadi musuh dalam selimut.
Fu Yen menatap keempat orang dalam ruangan bergantian. Fu Yen belum mengerti mengapa di kerajaan dia ada alat demikian bagus. Dia belum pernah melihat benda secanggih ini. Dari mana asal barang ini. Siapa pemilik barang ini membuat sang raja masih dibalut oleh sejuta tanda tanya.
"Dari mana barang ini?" tanya Fu Yen menghadap Hwa Lien yang memainkan barang ini. Sang raja mau tahu sampai sedetailnya tentang barang yang bisa menyimpan suara orang dalam kotak kecil.
Hwa Lien meringis menatap Ashura yang tak tahu harus dari mana dia jelaskan asal usul barang ini. Apa mungkin Fu Yen percaya dengan semua cerita yang akan dia katakan. Fu Kuang dan Chen Yang sudah maklum namun Fu Yen belum tentu bisa terima di kerajaan dia muncul makhluk dari abad berbeda.
"Biar aku yang cerita! Aku tahu Ashura pasti tak bisa buka mulut di saat ini! Kalian pergilah keluar biar aku yang akan buka semuanya!" Chen Yang memaklumi posisi Ashura saat ini. Dia terdaftar sebagai selir Fu Yen dan mendadak mengaku manusia dari zaman berbeda. Fu Yen belum tentu bisa terima kenyataan ini kalau Ashura yang buka mulut.
Hwa Lien menarik tangan Ashura untuk tinggalkan tempat kerja Chen Yang. Biarlah para laki yang selesaikan soal status Ashura. Hwa Lien ngerti masalah ini bukan hanya sekedar candaan. Ini menyangkut kehidupan putri Shu Rong yang asli serta perdamaian antara dua negara. Fu Yen sudah gagal lindungi Putri Shu Rong sampai putri itu meninggal secara tragis.
Hwa Lien dapat melihat Ashura muram durja harus bongkar status dia di saat ini. Saat ini Ashura sedang berusaha memajukan kemakmuran rakyat serta mengembalikan martabat kerajaan ini dari ancaman kerajaan Tang. Ashura hanyalah seorang putri palsu yang menyamar sebagai putra Shu Rong. Mungkin Fu Yen akan hukum Ashura telah berbohong mengaku putri Shu Rong.
Hwa Lien dan Ashura duduk di taman menunggu Chen Yang dan Fu Kuang membuka pikiran Fu Yen tentang Ashura. Hwa Lien santai saja main ponsel tak peduli kegalauan Ashura.
Ashura berapa lehernya pertanyaan dalam hati apakah kepala dan lehernya akan segera berpisah? Bukankah sang raja paling doyan penggal kepala orang? Tak senang hati jadikan kepala orang sebagai mainkan. Ashura tak dapat bayangkan kalau dia tewas di zaman purba. Gimana kedua orang tuanya juga musuh terindah si Liem! Apakah dia akan menangis tersedu-sedu kehilangan Ashura?
Ashura melontarkan mata ke arah gadis nakal yang masih fokus pada game di ponsel. Apa yang bisa dikerjakan oleh putri ini selain main game. Kelihatannya tuan Putri telah kecanduan main game dari abad modern. Ashura menjadi gemas Hwa Lien mengabaikan dia untuk permainan.
"Alien..bisakah kau pindah mata dari hp?" tanya Ashura mencolek kuping Hwa Lien.
"Tak bisa.." jawab Hwa Lien tanpa memindahkan mata dari hp. Lagi serunya main game mana mungkin Hwa Lien mau peduli pada nasib Ashura saat ini. Hwa Lien yakin Raja tak mungkin berbuat sesuatu pada Ashura walau Ashura sudah nyamar sebagai putri Shu Rong. Harusnya raja malu tak bisa lindungi Shu Rong, masih untung Ashura maju gantiin posisi Shu Rong. Coba kalau tersiar putri Shu Rong sudah meninggal. Fu Yen hanya menambah musuh.
"Alien...yang serius dong! Gimana kalau abangmu marah aku sudah menyamar sebagai orang lain?"
"Aku penggal dia! Harusnya dia yang malu tak tahu dalam istana ada pembunuhan. Masih untung kamu tampil tutupi kejadian menghebohkan ini! Aku akan lindungi kamu bila raja gila itu ngamuk!" Hwa Lien nyerocos tapi tangan masih sibuk menyentuh layar ponsel. Gerakan Hwa Lien cukup lincah tak ubah anak zaman now.
Ashura merasa tak ada guna bicara dengan orang kecanduan game offline. Coba kalau ada internet di zaman ini mungkin Hwa Lien akan lebih parah lagi kecanduan game. Untunglah Ashura bukan pecandu permainan yang sangat menyita energi mata.
Kedua gadis ini kembali diam. Ashura tenggelam dalam pemikiran sendiri sementara Hwa Lien kembali asyik dengan game yang sudah jadi permainan sehari-hari. Hampir satu jam kedua gadis itu menunggu akhirnya ketiga kerabat istana keluar dari kamar kerja Chen Yang. Ketiga laki itu melihat ke arah dua gadis yang duduk manis dengan gaya masing-masing.
Jantung Ashura berdegup kencang karena tatapan mata Fu Yen seperti orang asing. Laki itu tak percaya wanita muda yang selama ini bersamanya bukanlah tuan putri seperti sangkaan dia. Pantas Ashura sangat cerdas serta memiliki wawasan sangat luas. Ternyata dia terjebak di dimensi berbeda dengan zamannya.
Ashura menunduk tak berani adu mata dengan Fu Yen. Secara mendadak mereka seperti orang asing tak saling kenal padahal hubungan mereka sudah sangat dekat. Hanya satu cerita mengubah segalanya. Cara pandang Fu Yen terhadap Ashura juga berubah. Fu Yen tak tahu harus bagaimana menyapa Ashura. Tetap menganggap dia sebagai putri dari negeri Chau atau menganggap gadis muda itu sebagai makhluk asing.
__ADS_1
Chen Yang mengetahui kalau Fu Yen dan Ashura butuh ruang pribadi untuk ngobrol mengenai semua kejanggalan ini. Chen Yang beri kode kepada Fu Kuang dan Hwa Lien untuk beri kesempatan pada Ashura dan Fu Yen menjernihkan semua yang terjadi mendadak. Keakraban mereka berubah karena hanya satu perbedaan yakni mereka bukan dari zaman yang sama walaupun sama-sama manusia.
Fu Kuang tak rela Ashura ditinggalkan bersama Fu Yen. Sang jenderal takut Ashura kembali dekat dengan Fu Yen. Beberapa waktu ini keduanya agak renggang sejak kehadiran putri Tang. Fu Kuang berdoa semoga Sang raja melupakan Ashura namun harapan itu sirna karena kejadian mendadak merubah keadaan.
Fu Kuang tak bisa abaikan keruntuhan kerajaan hanya demi memuaskan ego sendiri. Dia harus memikirkan keselamatan seluruh rakyat karena mereka masih butuh Ashura untuk menyusun rencana jatuhkan kerajaan Tang serta bongkar kebusukan perdana menteri.
Fu Kuang terpaksa patuh ikut Chen Yang ke tempat lain. Buat Hwa Lien ke mana saja tak jadi masalah asal ada ponsel di tangan. Tempat makin sepi makin tenang putri ini berpacu adrenalin melawan benda pipih itu.
Kini di halaman tinggallah Fu Yen dan Ashura masih terbalut suasana kaku. Ntah mengapa mereka seperti orang asing tak saling kenal. Ada gap membentang antara mereka walaupun pernah tidur seranjang.
Ashura lempar pandangan ke arah lain tak berani menatap langsung wajah Fu Yen. Beda dengan Fu Yen asyik menatap Ashura dari samping karena wajah gadis itu menghadap arah lain. Dari sisi mana saja Ashura tetap tampak cantik. Kecantikan yang tak ada dalam sosok wanita kerajaan ini. Kulit bersih serta mata beda dengan wanita di zamannya yang rata-rata sipit.
"Ashura..apakah itu nama asli kamu?" Ashura menoleh mendengar suara Fu Yen agak kaku. Fu Yen beri kesan sedang jaga jarak dengan Ashura.
"Iya...itu nama asli aku! Aku minta maaf tak pernah cerita kebenaran tentang aku!"
Fu Yen ayun langkah lebih dekat ke Ashura lantas duduk di bangku samping Ashura. Fu Yen tampak bingung harus mulai dari mana ngobrol lebih panjang dengan Ashura. Ntah dari mana muncul tembok pemisah membuat mereka saling menjauh. Padahal biasa mereka bertengkar dan bercanda tanpa jarak.
"Aku juga minta maaf telah anggap kamu ini salah satu selir aku! Aku telah berdosa padamu!"
"Sudahlah! Semua ini karena keadaan! Yang mulia raja tak pancung aku bukan?" tanya Ashura sambil meraba tengkuk belakang. Kalau Fu Yen silap maka tengkuk itu akan jadi kosong tanpa hiasan kepala.
Fu Yen tertawa tak sangka kalau Ashura masih ingat Fu Yen suka ancam dia akan penggal kepala gadis itu bila nakal. Guyonan itu membekas di hati Ashura. Fu Yen mana tega penggal wanita yang telah merebut hatinya. Fu Yen tak butuh wanita lain selama ada Ashura.
"Aku akan simpan kepalamu di kamar untuk jadi pajangan. Sekarang cerita dari awal siapa kamu dan apa tujuan kamu kemari?"
"Tujuan aku ke sini?" Ashura terbelalak Fu Yen minta keterangan tujuan dia ke abad ini. Ini murni kesalahan teknis waktu bermasalah. Ashura samasekali tak berharap muncul di abad yang bukan tempatnya. Kalau boleh memilih Ashura jugactak mau ke sini. Keluarganya di zaman moderen pasti sedang menunggunya serta meratapi kehilangan anak tercinta.
Fu Yen ayunkan kepala menunggu jawaban pasti Ashura. Raja mau tahu mengapa Ashura mau datang ke zaman mundur padahal dia manusia abad moderen.
"Aku tak pernah bermimpi datang ke sini! Ini murni kecelakaan! Aku sedang main-main di negeri Tiongkok dan tiba-tiba terbangun sudah ada di istana dingin. Selanjutnya ya jalani semua peran sebagai putri Shu Rong yang telah meninggal dibunuh ibunda ratu." ujar Ashura tak tutupi fakta lagi. Tak guna dia lindungi orang jahat tak punya hati.
Fu Yen muram durja mendengar suara Ashura yang nyaring. Dia telah gagal lindungi putri yang diantar dari negeri jauh untuk jadi selirnya. Putri bernasib soal ketemu orang licik.
"Aku bukan raja yang baik!" keluh Fu Yen tampak putus asa karena telah gagal melaksanakan amanah dari negeri Chau.
__ADS_1
"Yang mulia raja gampang terlena! Buktinya dapat putri buntalan karung langsung lupa daratan. Apa masih ingat tugas sebagai raja akibat disodori putri segudang lemak?" sindir Ashura mulai berani lagi karena Fu Yen tak tampak marah padanya.
"Dia tamu yang harus kita hormati! Apa yang ada di otak kecil kamu? Kau pikir aku ajak dia nginap di kamar aku?"
"Apa bukan?" Ashura bangkit sambil berkacak pinggang. Nyali Ashura telah kembali untuk melawan Fu Yen seperti biasa.
"Baru kali ini kulihat ada orang berani membentak raja! Nyalimu luar biasa ya! Sini kukasih tahu nona...aku tak pernah menyentuh putri lemak serti katamu! Dia belum diangkat sebagai selir mana boleh diajak naik ranjang. Kau pikir aku ini raja cabul suka perempuan?"
"Ngomong...pagi siang malam berduaan! Lihat tuh lemaknya sudah pindah setengah ke tubuh yang mulia!" Ashura mencubit pipi Fu Yen yang tampak chubby.
Dari jauh Hwa Lien dan Chen Yang tak bisa tahan tawa lihat Ashura berani mencubit Fu Yen tak peduli itu adalah orang nomor satu di negeri ini. Fu Kuang buang muka tak suka Ashura kembali baikan dengan saudaranya itu. Mungkin cuma Ashura yang punya nyali bully raja.
"Bagaimana aku tak gemuk? Putri Tang sebentar-sebentar makan! Mau tak mau aku harus temani untuk hormati dia!" Fu Yen baru sadar perutnya mulai buncit serta pipi gembul penuh daging.
"Kalian pasangan cocok! Resmikan dia sebagai calon ratu saja! biar kerajaan ini memiliki sepasang raja dan ratu yang subur gentong lemak." ejek Ashura dibarengi tawa renyah.
"Ngawur kamu!!! Apa kau tak dengar kalau kerajaan Tang dan perdana menteri sedang susun rencana serang kita? Fu Kuang bilang kamu punya cara hancurkan kerajaan Tang! Dengan apa kita bisa melawan mereka yang mempunyai kekuatan penuh."
"Dengan semangat dan keyakinan! Besok kita lihat amunisi yang telah kusiaokan untuk melawan Tang. Cuma jangan sampai bocor karena sekeliling yang mulia penuh dengan mata-mata. Orang yang paling bertanggung jawab adalah perdana menteri. Dia yang harus kita jebloskan ke penjara duluan untuk amankan negeri ini. Dia itu sedang sakit. Kita bisa gunakan kesempatan ini untuk jatuhkan dia!"
Fu Yen terkesima tak sangka gadis muda ini termasuk wanita perkasa mampu tangani masalah besar. Ashura sudah berhasil bongkar satu rencana besar yang akan hancurkan kerajaan. Kini tinggal angkat orang-orang tersebut agar tak punya akses hubungan dengan orang luar lagi.
"Maksudmu?"
"Sekarang aku mau tanya apa yang mulia sudah terima aku sebagai Ashura bukan Shu Rong?"
Fu Yen dengan berat hati mengangguk. Menerima Ashura sebagai Ashura berarti dia tak punya hak lagi atas. Ashura sebagai selir. Dia tak bisa intim dengan Ashura karena wanita muda itu bukan isterinya lagi. Mereka hanya bisa berhubungan sebagai teman maupun antara raja dengan rakyat biasa.
"Aku hanya minta kau tak boleh pergi dari sisi aku! Kau tetap penasehat kerajaan yang harus bersama raja setiap saat!"
"Ok..itu aku setuju! Mulai detik ini aku Ashura hanya penasehat kerajaan bukan selir Raja lagi! Yang lalu kita lupakan!"
"Lupakan apa? Aku sangat sayang dan cinta padamu! Akunajan lamar kamu secara resmi kalau persoalan kita sudah selesai!"
Ashura tak jawab karena tak yakin tetap berada di sini bila tugasnya telah selesai. Shu Rong sudah janji akan kembalikan Ashura ke zamannya bila dendamnya terbalaskan!
__ADS_1