CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Berterus Terang


__ADS_3

Ashura ingin sekali lepaskan tendangan ke kepala orang nomor satu di negeri ini. Raja sinting rutuk Ashura dalam hati. Sama adik sendiri juga iri hati.


"Kasim Du..kita balik! Oya Hwa Lien..jangan ganggu pengawalku! Dia bertugas dua puluh empat jam. Dia tak boleh istirahat sebelum tugas selesai." Fu Yen beri peringatan pada Hwa Lien agar jauhi Ashura.


"Kanda pelit..kami cuma berteman. Aku suka padanya memang ada salah?"


"Salah..pengawal Shu itu hanya milik raja. Dia harus berada di sisi raja setiap saat. Jadi lupakan kalau mau ajak dia keluyuran tak jelas macam kamu."


"Dasar pelit! Pengawal Shu bisa keriputan asyik pelototi wajah kanda. Wajah suram.." ujar Hwa Lien sambil ngeloyor pergi dengan tampang seram.


Fu Yen menatap Ashura seolah ini semua salah Ashura punya tampang cantik. Semua orang jadi jatuh cinta padanya. Terutama para wanita pencinta pria ganteng. Mungkin kini Ashura jadi trending topik di kalangan wanita istana. Tampan ngak ketulungan.


"Jangan merepet! Bukan salahku." Ashura duluan sekak Fu Yen sebelum laki itu buka mulut keluarkan kata tak sedap di telinga Ashura.


"Mulai hari ini kau tak boleh keluar istana." Fu Yen hanya bisa keluarkan kata ini karena Ashura sudah duluan patahkan apa yang mau dikatakan sang raja.


"Raja diktator! Percayalah! Hamba pasti akan menjamur di dalam istana. Busuk sekalian." repet Ashura kesal plus geram.


Fu Yen makin semena mena batasi seluruh ruang gerak Ashura. Mungkin Fu Yen pikir Ashura hanyalah boneka bisa disetir sana sini sesuai hasrat hati sang pemilik.


Fu Yen tak mau jawab kata kata Ashura memilih pergi tinggalkan istana kerajaan menuju ke kereta kuda. Ashura cepat cepat ikut dari belakang. Langkah Fu Yen besar dan panjang membuat Ashura kewalahan ikuti langkah laki bertubuh jangkung itu. Liem juga tinggi namun lebih kurus dikit dari Fu Yen. Sang raja lebih berisi, massa otot lebih kekar di banding Liem.


Ashura cepat cepat buang pikiran tentang Liem. Di saat ini mana bisa pikir musuh terindahnya. Cepat cari tahu dalang pembunuh Shu Rong lalu tinggalkan jaman baheula yang menyusahkan.


Ashura asyik melamun sampai tak sadar Fu Yen berdiri di depannya. Kepala Ashura mendarat bebas di dada sang raja yang bidang.


"Aduh..sakit!" Ashura menyentuh jidat kejedot dada empuk sang raja.


"Lupa bawa mata ya?"


"Iya..tertinggal di istana dingin. Hamba balik sana ambil mata dulu."


"Benarkah? Apa bukan ada rencana kabur? Ingat dua abdimu masih di tanganku! Mau beramal sumbang kepala pada singa gunung?"


"Ciss..pinternya ngacam!" Ashura melengos naik ke kereta kuda tanpa tunggu Fu Yen lagi. Fu Yen dan Liem sama saja selalu membuat Ashura kheki. Ada saja tingkah bikin Ashura naik darah.


Fu Yen menyusul masuk ke dalam kereta kuda sambil tarik nafas panjang. Sungguh gadis berdarah panas. Andai ganti selir lain bikin tingkah kayak gini pasti masuk daftar hitam. Seumur hidup tak bisa jumpa raja lagi.


Ashura masih pasang wajah bete. Kehadiran Fu Yen dianggap angin lalu. Baru kali ini ada wanita berani marahan sama raja. Bahkan sebut Fu Yen raja gila. Ashura terlalu berani ambil resiko pancing amarah sang raja.


"Aku melakukan semua ini untukmu." akhirnya Fu Yen ngalah ajak Ashura bicara duluan.


"Untukku? Apa bukan demi egomu?"


"Shu Rong..apa kau pikir aku raja tak tahu apa apa? Nyawamu terancam jelang pemilihan ratu. Aku sengaja undurkan waktu supaya sainganmu tak berniat buruk padamu lagi."


"Maksud Yang Mulia?"


"Kau adalah calon terkuat dari semua wanita istana. Kau adalah amanah dari raja terdahulu untuk jadi ratuku. Aku sengaja tak beritahu kamu karena kamu ini berdarah panas. Kamu pasti akan cari orang yang mau celakai kamu."


Ashura teringat nasib Shu Rong yang sial jadi korban orang tamak. Ternyata Fu Yen juga tahu kalau Shu Rong sedang diincar akan dihabisi.


"Yang Mulia juga tahu nasibku apes?"


"Aku bukan raja tolol macam pikiranmu. Cuma banyak hal membuatku harus masa bodoh. Kau buka mataku agar lebih peduli rakyat. Aku kagum pada keberanian juga caramu berpikir. Kamu sangat pinter."


"Yang Mulia sudah tahu ceritaku maka aku mau jujur pada Yang Mulia. Waktu kedua abdiku hampir dipancung dengan tuduhan membunuhku. Aku nyaris mati diumpan ke serigala liar. Aku diculik dari istana dingin dan dibuang ke hutan. Untunglah muncul seseorang membantuku kembali ke istana untuk selamatkan kedua abdiku."


Fu Yen tercengang dengar kata kata Ashura. Fu Yen tak sangka sudah terjadi hal mngerikan dalam hidup gadis pujaannya.


"Benarkah?"

__ADS_1


"Untuk apa hamba bohong? Kenapa hamba tolak jadi ratu? Ini karena trauma kejadian mengerikan malam itu. Hamba diculik dalam kamar lalu dibius dan dibuang ke hutan. Gelap gulita tanpa ada yang bantu. Menjelang pagi datang orang tolong hamba!"


"Ya Tuhan..kau sungguh tabah! Maafkan aku Shu Rong! Aku tak tahu kau alami hal begitu mengerikan. Mulai sekarang aku akan lindungi kamu. Kau tak boleh jauh dariku. Bahaya masih akan datang lagi."


"Hamba juga tahu. Beri hamba kuasa untuk bisa punya akses keluar masuk istana!"


"Kau mau apa? Serahkan padaku saja urusanmu! Kau fokus tangani pembukuan negara."


"Pelit amat! Hamba cuma mau ijin keluar istana agar gampang pantau lapangan. Tiap hari harus ajak Yang Mulia pergi bersama kan tak mungkin."


"Shu Rong..apa kau tak ngerti kalau nyawamu terancam setiap saat? Aku tak ijinkan kamu ngelayap karena takut ada pihak ingin nyawamu. Kau anak pinter pasti ngerti maksudku."


"Hamba tahu tapi hamba tak mungkin hidup dalam bayanganmu tiap hari. Hamba kan punya privasi sendiri. Apalagi hamba sedang cari jalan hasilkan bibit unggul tanaman untuk petani. Hamba perlu ruang sendiri."


"Apa maumu?"


"Kembali ke istana dingin. Di sana tenang dan tempatnya lapang tanpa banyak orang usil. Hamba akan bekerja dengan tenang."


"Kau sedang diincar. Tinggal bertiga sama kedua abdimu bukan solusi bagus. Aku akan sediakan tempat untukmu di ujung istana ini. Kau bisa kerja dengan tenang."


"Tak perlu..Yang Mulia cukup tempatkan beberapa pengawal di istanaku saja. Semua akan aman."


"Nanti kupikirkan. Sekarang kau selesaikan masalah pembukuan negara. Kita tak perlu musuhan lagi bukan?"


"Baiklah! Kita gencatan senjata."


"Aku tak ngerti maksudmu."


"Dasar orang kuper. Kata ini saja ngak ngerti. Maksudku untuk sementara kita berdamai. Kapan kapan kita perang lagi."


Fu Yen melongo dengar masih ada perang antara mereka. "Masih ada perang lagi? Apa kau tak capek cari masalah denganku terusan? Kenapa tak jadi kelinci manis duduk di pangkuanku saja?"


"Bukankah hamba kambing bodoh nan jelek? Bagaimana bisa jadi kelinci? Urus saja kelincimu yang lain. Terutama selir penuh kumanmu. Syukur syukur Yang Mulia dapat jatah nikmati kuman dari selir kesayanganmu."


Ashura melengos malu tak mau dengar ocehan Fu Yen. Masalah mereka belum kelar soal Ashura berada di tempat tidur Fu Yen. Kini Fu Yen tawar hal tak masuk akal pula. Sungguh memalukan.


"Dasar laki mesum.." desah Ashura pelan.


"Apa katamu?" Fu Yen menarik Ashura mendekat ke badannya. Ashura meronta keras sambil pukul dada sang raja. Gerakan kuat kedua orang ini buat kereta bergoncang. Kasim Du dan para pengawal tercengang tak tahu apa yang sedang terjadi dalam kereta. Dalam imajinasi mereka pasti terjadi sesuatu hal dahsyat baru kereta bisa goncang demikian kuat.


"Dasar kau Fu Yen licik. Mau jadi penjahat mesum tak tahu malu ya!"


"Aku cuma mau kamu tahu aku tidak sakit seperti bayanganmu."


"Jangan sentuh aku! Nanti tertular penyakit kotormu!"


"Apa kau lupa kita pernah tidur bersama? Kau sudah jadi milikku seutuhnya. Mungkin perlu kuingatkan bagaimana panasnya kita bercinta?"


"Laki memalukan..ambil keuntungan dari gadis kecil. Kita musuhan lagi." Ashura buang muka tak mau peduli pada tawa licik Fu Yen.


"Kita lihat saja berapa bulan lagi perutmu akan menggunung! Kau akan lahirkan putera mahkota."


Ashura menutup kuping rapat rapat tak mau dengar ocehan provokasi Fu Yen. Laki itu puas bisa bikin Ashura mati kutu.


Fu Yen yakin Ashura masih lugu soal cinta. Dibodohin dikit sudah percaya pernah jadi teman tidur Fu Yen. Apa bercinta hanya sekedar ocehan bibir tanpa rasa. Perlu kerja sama dua pihak baru bisa terjadi hal penyatuan dua manusia.


"Terserah kamu! Kalau kau hamil jangan minta tanggung jawabku ya!"


"Tidak akan. Aku akan gugurkan anakmu. Lalu aku kabur sejauh mungkin dari laki mesum macam kamu."


"Itu dosa tahu...bukankah setiap orang berhak hidup layak seperti yang sering kamu katakan. Kenapa tega buang anak sendiri?" Fu Yen pura pura sedih atas niat Ashura mau gugurkan kandungan bila hamil anak Fu Yen.

__ADS_1


"Itu anak di luar nikah. Aku tak mau dibilang punya anak haram."


"Siapa berani bilang gitu? Setiap wanita yang diberi ke raja wajib lahirkan anak raja. Termasuk kamu. Dari awal kamu sudah masuk daftar jadi wanitaku. Hamil juga wajar."


"Itu kata raja mesum. Aku mau menikah secara resmi tanpa adanya perempuan lain dalam hidup suamiku. Kamu lain..dikelilingi sejuta virus." Ashura tak gunakan kata Yang Mulia lagi saking kesal pada Fu Yen.


"Baiklah! Aku akan selesaikan masalah wanita istana agar kamu jadi ratu tunggal dalam hidupku. Aku janji."


Ashura bukan langsung senang diberi janji kosong. Tak gampang buat Fu Yen hanya punya seorang bini. Tradisi dari jaman dahulu sudah termaktub raja harus banyak selir. Ashura tak mau terlena oleh janji Fu Yen yang belum tentu terlakana. Biarlah waktu yang berbicara.


"Tak usah janji. Kita lihat gimana kelanjutan kisah cintamu? Drama apa bakal muncul lagi? Ingat..aku tak mau jadi budak tempat tidurmu."


"Aku tahu..sekarang fokus selesaikan tugasmu."


"Iya" sahut Ashura singkat.


Perjalanan dari istana utama ke istana kebajikan terasa panjang padahal jaraknya pendek. Bagi Ashura tersiksa berada satu kereta sama orang yang tak hargai perasaan cinta sesungguhnya. Fu Yen hanya punya nafsu bukan cinta.


Begitu sampai istana kebajikan Ashura langsung masuk ke kamarnya tenangkan diri. Semua percakapan antara dirinya dengan Fu Yen sangatlah mengganggu pikiran. Bagaimana kalau betul dia hamil? Lalu gimana kalau Fu Yen sudah terkena penyakit kelamin dari Selir Ning Fei?


Aneka pikiran buruk melintas di otak Ashura. Andai betul dia hamil artinya tamat sudah masa depan kelak. Laki mana mau sama bini tak perawan lagi.


Ashura merebahkan diri di tempat diri sambil berenung. Sungguh apes jumpa Shu Rong. Niat baik hati bantu hantu cantik malah dia sendiri terjebak dalam kondisi tak menyenangkan.


Ayin hadir menjumpai Shu Rong begitu tahu tuan puterinya sudah balik dari rapat selir. Ayin mau tahu keadaan Shu Rong beberapa hari ini. Mereka sudah jarang bersama sejak Ashura ditarik raja jadi penasehat.


"Tuan puteri Shu Rong.." panggil Ayin hati hati takut Ashura terganggu oleh kehadirannya.


Ashura tersenyum melihat pelayannya datang dengan langkah segan.


"Masuklah Ayin! Bagaimana rasa jadi tuan puteri?"


"Takut ketahuan. Tuan Puteri kelihatan kurang sehat ya! Ayin bikinkan sup jahe?"


"Tak usah! Duduklah sini!" Ashura menepuk tempat tidurnya agar Ayin mendekat.


Ayin mendekati Ashura sedikit segan. Ashura mengganggam tangan Ayin begitu gadis itu mendekat. Ashura mau Ayin tahu kalau dia tulus sayang padanya. Bukan anggap pelayan tapi sahabat.


"Tuan puteri.."


"Ayin..aku akan minta pada raja agar kau dan Amuk menikah. Kalian berdua akan tinggal di istana dingin selama aku terkurung di sini. Fu Yen tak ijinkan aku kembali ke istana dingin. Aku tak mau kau dan Amuk buang waktu di badanku. Kalian juga berhak bahagia. Kau mau?"


Ayin menunduk malu. Sebagai seorang gadis mana mungkin Ayin berani ambil keputusan sendiri. Semua hidup Ayin sudah diberikan pada Ashura sebagai majikan. Kalau Ashura menginginkan mereka menikah Ayin pasti tak menolak.


"Hamba serahkan pada tuan puteri saja."


"Tak boleh gitu! Terpenting kau suka tidak pada Amuk? Menikah tanpa perasaan sama saja makan sayur tanpa garam. Hambar. Aku tak mau kau menikah terpaksa."


"Kalau Amuk mau boleh."


"Artinya kau ada perasaan pada Amuk ya?"


Ayin mangut pelan. Ashura tertawa senang. Debut jadi mak comblang dadakan mulai buahkan hasil. Sekarang tinggal panggil Amuk tanyakan perasaan pada Ayin. Andai Amuk juga mau artinya sudah klop.


"Baiklah! Nanti aku bicarakan sama Amuk. Sekarang sediakan makananku. Aku lapar. Raja gila itu lupa kasih makan kambing kecilnya."


"Tuan puteri..jangan omong gitu! Menghina Yang Mulia bisa dipenggal."


"Cis..raja mesum gitu! Dikit dikit penggal orang. Kurang kerjaan."


"Hamba akan sediakan makanan untuk tuan puteri! Jangan omong jelek tentang raja lagi ya! Hidup kita tak aman nanti."

__ADS_1


"Iya..pergilah! Aku lapar sekali. Mana lagi tugas masih menanti. Dasar apes.." keluh Ashura sambil gulingkan badan ke tempat tidur dengan frustasi.


Ayin geleng kepala lihat tuan puterinya makin hari makin aneh. Gaya puteri lemah lembut hilang sejak mereka kembali dari batalnya hukuman pancung buat dia dan Amuk. Ashura berubah total jadi orang berani.


__ADS_2