
Hwa Lien tak segan merangkul Ashura setelah tahu penasehat abangnya itu seorang anak cewek. Hwa Lien gembira jumpa kawan bisa diajak konyol-konyolan. Malahan Ashura yang grogi mendapat sambutan luar biasa dari Hwa Lien. Semula Ashura mengira anak itu bakal ngambek kena tipu penampilan cowoknya.
"Maaf tuan putri! Aku diminta oleh Yang Mulia Raja berdandan lelaki agar bisa masuk ke ruang rapat kerajaan." Ashura membungkuk hormat pada gadis manja itu.
Hwa Lien menggoyang tangan tak ambil pusing dengan semua tata Krama. Kalau boleh memilih dia juga tak ingin dilahirkan di istana yang begitu banyak adat istiadat serta bergudang peraturan tak tertulis.
"Haiya...siapa peduli itu? Kata paman raja kamu ini makhluk dari masa datang. Aku mau lihat kehidupan di masa datang. Apa wanitanya secantik aku?" Hwa Lien lebih tertarik pada cerita paman raja tentang Ashura ketimbang semua peraturan.
Ashura menatap Chen Yang habis akal jumpa makhluk tak kalah songong darinya. Ashura terpaksa keluarkan alat-alat dari masa depan. Satu persatu benda dalam tasnya dia keluarkan biar Hwa Lien percaya dia tak bohong.
"Wah...bendamu memang aneh!" Hwa Lien menyentuh barang Ashura masih takut-takut. Anak ini takut tiba-tiba meledak melukai dirinya.
"Ini namanya ponsel di zaman kami. Di zaman kami tak ada jarak karena semua dapat dijangkau dalam waktu singkat."
Ashura kembali mendongeng sama seperti dia bercerita pada Paman raja. Kalau paman raja anteng dengar kisah Ashura beda dengan Hwa Lien yang berteriak-teriak kagum. Ashura bercerita sambil tunjukkan bukti yang tersimpan di laptop dan ponselnya.
Angan Hwa Lien kontan melambung berharap dilahirkan di zaman Ashura. Segalanya dipermudah terutama cara berpakaian yang simpel tidak ribet seperti pakaian mereka sampai berlapis-lapis. Bahkan ada foto Ashura dalam pakaian santai kaos oblong dan celana pendek buat Ashura tampak lebih muda lagi. Hwa Lien pingin sekali hidup bebas seperti burung di langit. Tidak dikurung dalam istana dengan segudang kata tak boleh.
"Sekarang kau percaya aku ini bukan orang dari zaman kalian kan?" Ashura menutup laptop menatap Chen Yang dan Hwa Lien silih berganti.
Hwa Lien dan Chen Yang kontan manggut. Bukti yang dikeluarkan Ashura sudah cukup buktikan bahwa Ashura tak bohong.
"Kau cerita ini demi apa?" tanya Hwa Lien. Anak ini ternyata tidak sebodoh yang dia bayangkan. Ashura ungkap semua ini tentu ada tujuannya.
"Kau pintar tuan Puteri. Aku mau minta tolong padamu untuk tegakkan keadilan buat Puteri Shu Rong. Kau harus menyelinap ke kamar Ratu dan selir Ning Fei. Pasang alat perekam di kamar kedua orang itu."
Hwa Lien angguk setuju. Dia ke mana saja tak ada orang terlalu perhatikan. Seharian kerjanya memang main. Tak ada yang heran bila dia keliaran di seluruh istana.
"Di mana harus kuletakkan benda ini?"
"Di tempat tersembunyi. Di ruang tamu dan kamar mereka. Kamu harus hati-hati jangan sampai ketahuan! Tiga hari kemudian kamu harus ambil kembali dan serahkan padaku. Kau bisa?"
"Bisa asal kamu harus pinjamkan barang kamu padaku. Aku mau tinggal di sini bersamamu." Hwa Lien berterus terang tertarik pada benda Ashura.
"Kau boleh berada di sini hanya waktu siang. Aku ini kan dikenal anak laki mana boleh ada anak gadis di rumahku di malam hari."
Hwa Lien agak kecewa tapi apa yang dikatakan Ashura memang benar. Orang akan curiga pada Ashura bila malam Hwa Lien bersama penasehat raja. Nama baiknya akan hancur.
"Baiklah! Aku akan pergi begitu malam tiba."
Chen Yang diam saja biarkan Ashura dan Hwa Lien ngobrol lebih intim. Chen Yang sama dengan Ashura ingin tegakkan keadilan buat Puteri Shu Rong yang meninggal menggenaskan.
"Baiklah! Aku akan ajar kamu main benda ini. Kamu bisa main permainan di benda ini. Kamu akan betah."
Hwa Lien bersorak gembira Ashura tidak pelit bagi benda aneh dari zaman moderen. Kapan lagi dia bisa nikmati barang aneh kalau bukan sekarang.
Ashura tersenyum senang dapat teman sehati bisa berbagi suka duka di kala sepi. Temannya bertambah tidak bersama raja melulu.
Chen Yang merasa telah menjadi paman terbaik di kerajaan ini. Dia berhasil menyenangkan anak-anak muda penuh semangat. Dia merasa sudah sangat tua padahal umurnya juga belum terlalu tua. Bahkan belum tiga puluh tahun.
"Anak-anak...Kalian ngobrol saja. Aku mau lihat persiapan acara doa besok. Aku harus atur sebaik mungkin." Chen Yang bermaksud mengundurkan diri.
Ashura merasa berdosa telah permainkan orang sebaik paman raja. Tak mungkin juga dia ngaku apa yang dia lakukan hanya untuk beri pelajaran pada para penjabat rasakan penderitaan rakyat yang kelaparan.
"Silahkan paman raja! Terima kasih sudah dengar keluhan aku!" Ashura membungkuk sopan kepada orang lebih tua.
"Kamu semua adalah anak-anak aku! Aku wajib rawat kalian."
__ADS_1
Ashura tertawa dalam hati dari mana punya ayah semuda ini. Bukan cuma muda juga ganteng untuk ukuran di zaman ini.
"Terima kasih paman raja!"
"Sudah ..paman pergi! Jangan lupa janjimu kalau akan beri barangmu bila semua sudah selesai!"
"Pasti..."
"Bagus...permisi! Alien.. jangan nak ya!"
"Iya paman raja. Aku juga mau barang penasehat Shu."
"Panggil saja Ashura!"
"Baik kak Ashura cantik!" Hwa Lien merapatkan tangan tanda suka pada Ashura.
"Kita antar paman raja keluar dulu!"
"Tak usah...kalian lanjut ngobrol." Paman raja menolak diantar sampai ke depan istana. Paman raja tak ingin merepotkan Ashura yang ternyata punya banyak hal mesti dikerjakan. Bantu kerajaan juga cari keadilan buat Shu Rong.
Ashura mengajar Hwa Lien main game di laptop. Gadis itu tidak terlalu bodoh untuk menangkap setiap penjelasan Ashura. Gadis itu cepat ngerti setiap game diterangkan.
Hwa Lien sudah tak open pada Ashura begitu sudah ngerti. Matanya fokus sejuta persen pada layar monitor laptop Ashura.
Sekali-kali dia berteriak kalau berhasil mengalahkan komputer. Tingkah Hwa Lien persis anak kecil sedang bertempur dengan benda mati. Berbagai emosi bergejolak dalam diri anak itu.
Ashura hanya pantau dari samping biarkan Hwa Lien luapkan kegembiraan pada benda itu. Ashura sendiri menyibukkan diri dengan pekerjaan yang akan dia lakukan hari selanjutnya. Ashura susun tabel rencana membantu rakyat kecil. Malam ini Ashura harus memeriksa hasil kerja arwah Shu Rong. Apa dia sudah lengkapi pesanan Ashura.
Pagi menjelang, suara Kokok ayam bergema membangunkan seluruh penghuni istana. Hiruk pikuk kegiatan terlihat sana sini di setiap bangunan istana. Masing-masing memiliki majikan sendiri membawahi puluhan pengawal serta dayang. Hanya satu istana dilanda kesepian yaitu istana calon ratu.
Ashura kembali berdandan seperti seorang penasehat istana pendamping raja. Tanpa proses ribet Ashura mampu mengurusi diri sendiri. Di zaman Ashura mana ada dayang pribadi mengurus seorang putri sampai sedetailnya. Dari pagi hingga malam di layani oleh beberapa dayang wanita. Ashura tidak terbiasa dengan kehidupan seperti ini.
Sekarang Ashura hanya menunggu kehadiran kasim Du untuk membawanya menemui raja. Sesungguhnya Ashura bisa pergi sendiri namun peraturannya dia harus tetap menunggu perintah dari raja baru boleh keluar dari istananya.
Ternyata yang datang bukanlah kasim Du melainkan tuan Putri Hwa Lien. Pagi sekali anak itu sudah datang menemui Ashura. Ashura sudah bisa baca kedatangan Hwa Lien bukan lain masih belum puas main game.
Suara Hwa Lien bergema di halaman istana Ashur yang sepi. Gadis itu datang sendirian tanpa didampingi oleh dayang. Hwa Lien orang pengertian tidak mau bongkar rahasia Ashura maka pilih datang sendiri. Padahal itu bukan gaya seorang tuan Puteri.
"Ashura..." teriak Hwa Lien meramaikan keheningan istana Ashura.
Ashura keluar dari kamar menyambut kedatangan si biang onar itu. Pagi ini Ashura melihat dandanan Hwa Lien lebih sederhana tanpa pernak-pernik ramai di rambut maupun pakaian. Hwa Lien cepat belajar kehidupan zaman moderen. Tidak norak seperti penampilan wanita di zaman Hwa Lien.
"Pagi kali kamu sudah datang."
Hwa Lien menggamit tangan Ashura memaksanya masuk ke dalam kamar. Hwa Lien tak sabaran mau main game lagi. Anak ini sudah kecanduan game dari zaman Ashura. Ini reaksi wajar bagi anak muda. Di zaman Ashura para kawula muda juga tergila-gila pada game. Baik yang offline maupun online.
"Aku mau main lagi." Hwa Lien langsung duduk di tempat tidur Ashura tak peduli keadaan.
"Nona cantik...bukankah kita harus ke lapangan istana untuk berdoa?"
"Kalian saja pergi. Doa aku itu kurang manjur." tepis Hwa Lien mengelak diri harus ikut puasa.
"Kamu Puteri raja pasti jadi sorotan. Eh..tugasmu sudah selesai?"
"Sudah...aku kerjakan semalam! Ibunda ratu sedang berada di kuil untuk berdoa. Sedangkan selir Ning Fei tidak kelihatan di istana maka aku langsung pasang benda rekam itu. Pokoknya sudah beres."
"Tidak ketahuan?"
__ADS_1
"Ya tidak...tak ada tempat terlarang buatku! Ayoklah Ashura! Aku mau main game lagi. Permainan sangat asyik."
"Kita ke lapangan dulu. Nanti kamu pura-pura pingsan jadi kamu bisa menyelinap balik ke sini. Kau bisa main sepuasnya. Kita sebagai tuan Puteri harus jadi suri teladan bagi warga."
Hwa Lien mendengus tak senang dinasehati oleh Ashura. Dalam pemikiran anak ini hanya ada game yang menantang adrenalinnya. Hanya permainan tetris sudah menarik perhatian anak ini. Bagaimana kalau dia berada di dunia Ashura yang penuh dengan permainan lebih menarik. Rasanya Hwa Lien pasti tidak akan tidur selama 24 jam hanya untuk bermain di depan komputer.
"Baiklah! Kamu harus tolong aku biar kita bisa kabur!"
"Iya ..kamu berdiri paling depan biar dekat aku. Aku lapar.."
"Bukankah kita mesti tahan lapar agar doa kita di dengar Tuhan?"
"Iya sih...tapi aku belum makan dari semalam. Abangmu lupa antar makanan untukku semalam."
"Dasar Abang gila.. kau tunggu di sini saja! Aku akan bawa makanan untukmu. Takutnya
bukan aku yang bisa melalaikan kamu." Hwa Lien bergerak lincah keluar dari istana Ashura. Gadis itu punya semangat jempolan. Daya juangnya pantas diberi pujian.
Ashura heran mengapa Fu Yen tidak datang ke tempat nya seperti biasa. Tak ada kabar samasekali bahkan Kasim Du tidak datang bawa berita untuknya. Tak ada kabar tak jadi masalah tapi soal perut kan harus diurus. Ashura tak sempat berpikir buruk pada Fu Yen. Dia raja tentu saja mempunyai tugas lain selain menemaninya. Dan lagi Ashura bukanlah satu-satunya wanita raja. Mungkin saja semalam raja menggilir selirnya yang lain.
Ashura tak ingin terjebak dalam pusaran penyakit maut. Bila benar Fu Yen berhubungan dengan selir lain maka Ashura harus mundur tak mau ikutan jadi wanita raja. Biarlah dia berada di istana pengasingan asal sehat.
Hwa Lien balik dengan bungkusan di tangan. Biasa makanan akan dibawa dalam kotak kayu. Mengapa anak itu tidak bawa kotak melainkan bungkusan kain. Apalagi dilakukan anak ini.
Hwa Lien meletakkan bungkusan di atas meja sambil tertawa gembira. Anak periang ini tampak bahagia berhasil bawa sesuatu buat Ashura.
"Apa ini?"
"Roti kukus. Raja perintah tak boleh ada kegiatan di dapur sampai doa selesai. Tak ada makanan di dapur. Pas kulihat ada beberapa buah roti kukus ya kubawa sini. Ayok makan!"
Ashura membuka bungkusan dari kain itu lihat roti model apa disuguhkan anak bandel ini. Ada tiga potong roti kukus tanpa isi. Dari bentuknya saja sudah siratkan tidak enak.
Niat baik Hwa Lien juga tak boleh diabaikan terpaksalah Ashura ambil satu untuk ganjal perut ketimbang pingsan di lapangan. Andai Ashura ke sana tanpa mengisi perut pasti akan jatuh pingsan.
Tak ada rasa samasekali. Cuma terasa bau tepung roti dengan sedikit rasa manis. Kalau roti ini dijual di zaman Ashura dijamin tak laku. Roti dan kue di zaman sekarang aneka model plus berbagai varian rasa. Ashura mana doyan roti tanpa rasa ini. Namun rasa lapar memaksa dia mesti telan makanan ini.
Cukup satu pindah ke perut Ashura. Ini cukup mengganjal perut sampai sandiwara Hwa Lien ditayangkan secara live.
Ashura minum sepuasnya sadar nanti tak boleh makan dan minum lagi. Dia harus bertahan karena ini adalah idenya. Ashura jadi contoh teladan buat yang lain supaya tak berkesan Ashura sedang hukum mereka para pejabat.
"Gimana? Sudah kenyang?"
"Sudah...yok kita pergi! Oya kau kunyah ini supaya tidak kelelahan nanti. Ini akan bantu kamu lebih kuat." Ashura memberi Hwa Lien dua butir permen dari zaman Ashura.
Hwa Lien menatap buah buah benda mungil di tangan. Dibungkus dengan kertas indah seperti perak. Apa isi dalam bungkusan ini?
"Apa ini?"
"Di zamanku namanya permen. Rasanya manis sedikit pedas. Itu akan menyegarkan kerongkongan kamu."
Hwa Lien tampak ragu untuk menelan benda ini. Dari bentuknya sudah aneh. Apa bisa dimakan? Pertanyaan ini terngiang di benak Hwa Lien.
"Bisa di makan?"
"Bisa! Dibuka bungkusan dulu!"
"Oh..."
__ADS_1