CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Ketangkap Basah


__ADS_3

Ayin masih bertanya tanya mengapa sang puteri berubah total. Biasanya bicara seperlunya dengan nada lembut tanpa emosi. Kini puteri seperti api siap bakar penghalang jalannya.


Ayin berjumpa Kasim Du sesaat hendak menuju ke dapur. Kasim Du memanggil Ayin mendekat. Ayin tergopoh gopoh dekati orang kepercayaan raja itu.


"Salam Kasim Du.." Ayin membungkuk sopan. Kasim Du adalah senior di situ jadi tetap harus dihormati.


"Beri kabar pada tuan puteri bahwa Yang Mulia Raja menunggunya makan. Suruh datang ke kamar kerja Yang Mulia"


"Iya Kasim Du." Ayin segera batal ke dapur minta jatah makan untuk puteri. Ternyata sang raja sudah sediakan makanan untuk sang puteri.


Ayin tahu sang raja sangat suka pada puterinya namun sang puteri tidak tanggapi.


Penyebab sang puteri tidak suka pada raja belum jelas di mata Ayin. Semua wanita bermimpi jadi wanita raja walau hanya sekedar selir. Namun Ashura malah nolak.


Ashura melototi Ayin melihat pelayannya balik dengan tangan kosong. Perut Ashura sudah tak dapat diajak bersabar. Cacing cacing pada demontrasi minta disuap nasi.


"Ayin..mana nasiku?"


"Tuan puteri diminta makan bersama raja muda. Ditunggu di kamar kerja."


Tanpa diuruh dua kali Ashura langsung bangkit menuju ke ruang kerja Fu Yen. Tumben makan di ruang kerja. Biasa juga makan dalam kamar.


Langkah Ashura lumayan cepat saking laparnya. Ayin ikut dari belakang bagai anak bebek ikut induk. Langkah Ashura lincah bersemangat mengingat makan enak sudah menanti.


Fu Yen memang sudah menanti di meja lebih rendah dari meja makan biasa. Tak ubah seperti meja makan orang Jepang duduk beralas bantal tipis. Berbagai hidangan tersedia di meja makan menggoda selera Ashura.


Tanpa malu malu Ashura segera ambil tempat seberang raja. Fu Yen biarkan Ashura mengendus harum makanan di meja tapi belum ijinkan gadis itu makan.


Ashura udah tak sabar ingin pindahkan makanan ke perutnya satu persatu tapi sang raja masih santai tanpa berniat ijinkan Ashura pegang sumpit.


Suasana hening tanpa suara. Kasim Du dan Ayin saling berpandangan tak tahu apa maksud Fu Yen menyiksa gadis cantik di depannya.


Lama lama Ashura menjadi tak sabaran. Gadis ini bangkit dari tempat duduk berniat pergi. Ashura kesal dipermainkan raja. Diajak makan tapi cuma untuk pelototi makanan tanpa boleh menyentuh makanan itu.


"Mau ke mana?" tegur Fu Yen lihat Ashura berniat angkat kaki.


"Cari rumput di taman. Mungkin bisa dimakan." sahut Ashura asalan saking jengkel.


Ayin dan Kasim Du tertawa geli lihat cara Ashura balas kata sang raja. Fu Yen selalu bilang Ashura kambingnya maka Ashura katakan cari rumput supaya Fu Yen tahu kambingnya sudah lapar.


"Aku cuma lagi berpikir apa kamu sanggup habiskan segitu banyak makanan. Kok marah?"


"Siapa marah? Kambing biasa makan rumput..bukan eperti kelinci yang harus disuap makan perhiasan."


"Tajam sekali mulutmu! Duduklah! Makan sesukamu."


"Tidak berselera lagi. Kita mulai kerja saja." ketus Ashura jual mahal tak mau makan lagi.


"Ngambek? Ayo duduk! Aku tak berniat jelek! Aku cuma mau rasakan bagaimana rakyat kita merasa lapar. Kita telat dikit makan sudah sangat tersiksa apalagi rakyat kita berhari tak makan." keluh Fu Yen sedih.


Ashura melemah setelah dengar penjelasan Fu Yen. Ternyata niat Fu Yen hanya mau rasakan gimana merasa lapar. Sungguh menyiksa. Itu hanya telat beberapa jam. Bagaimana rakyat yang tak makan berhari hari. Pasti sangat menyedihkan.


Ashura kembali duduk di bantal tanpa selera lagi. Makanan di meja seolah sedang mengejek Ashura yang tak tahan lapar. Lapar sedikit langsung ngambek. Rasa kemanusiaan Ashura sangat tipis tak ingat mereka yang kelaparan.


"Maafkan hamba! Tak terpikir oleh hamba kesedihan rakyat di sana. Yang Mulia jangan kuatir! Hamba janji akan majukan pertanian kerajaan agar semua rakyat dapat makanan. Ijinkan hamba cari jalan agar ada bibit unggul!"


"Kuijinkan asal untuk rakyat. Apapun yang kau perlukan tinggal bilang. Aku akan penuhi sekuat tenaga."


"Terima kasih..hamba cuma mau kerja tenang di istana dingin."


"Tak boleh..kau kan kerja di istana ini. Sudah kusediakan tempat luas untukmu. Kau bebas bekerja tanpa diganggu."


"Termasuk Yang Mulia?"

__ADS_1


"Aku juga tak boleh datang melihatmu kerja?"


"Boleh tapi jangan ganggu! Yang Mulia cukup sediakan bibit padi untukku. Setelah kelar pembukuan hamba akan mulai kerja."


"Baiklah! Kau bebas lakukan apapun asal jangan keluar dari istanaku! Sekarang makanlah! Pekerjaan masih menantimu."


"Siap Yang Mulia.." tanpa malu malu lagi Ashura mengambil sumpit mencomot makanan satu persatu umpan cacing di perut. Rasa hangat langsung mengalir dalam perut setelah keroncongan beberapa jam.


Fu Yen tersenyum melihat Ashura maka dengan lahap. Gayanya alami tanpa dibuat buat. Ashura tak perlu bikin gaya centil untuk pikat raja. Raja sudah terpikat sejak pertama lihat wajah Ashura di malam dingin.


Singkatnya seusai makan Ashura dan Fu Yen mulai hitung hitungan lagi. Ashura temukan banyak kejanggalan dalam pembukuan. Tak satupun angka cocok dalam pembukuan para pejabat. Kelihatannya para pejabat tak sangka raja akan periksa pembukuan sehingga asal isi biar ada catatan.


Ashura terangkan satu persatu pada Fu Yen semua keganjilan pembukuan. Fu Yen bukan raja bodoh tak tahu cara berhitung. Fu Yen juga pernah sekolah karena sudah dipersiapkan jadi raja sejak kecil.


Tak terasa keduanya periksa catatan pembukuan hingga larut malam. Ashura si tukang tidur tak dapat nahan ngantuk akhirnya tumbang tertidur di meja kerja Fu Yen.


Fu Yen tersenyum melihat gadisnya tertidur berbantal tangan di meja kerjanya. Ashura kelihatan main cantik dalam wajah tanpa dosa.


Fu Yen menyentuh wajah Ashura perlahan takut bangunkan kambing cantiknya. Kulit wajah Ashura lembut bagai kulit bayi.


"Kenapa kamu sangat cantik?" desis Fu Yen lembut.


Perlahan Fu Yen mengecup kening Ashura. Harum di badan Ashura selalu datangkan rasa damai di hati Fu Yen. Inikah yang namanya cinta?


Fu Yen bersumpah dalam hati akan jaga Ashura seumur hidupnya. Satu Ashura sudah cukup wakili semua wanita yang ada. Gadis ini mampu bangkitkan semangat hidup Fu Yen yang nyaris sirna gara gara berbagai tekanan istana. Ashura mengajarkan Fu Yen jadi pemimpin baik untuk rakyat. Bukan pemimpin di atas singgasana saja.


Malam makin dingin hadirkan udara lembab. Ashura menggeliat mencari kehangatan dari tubuh Fu Yen. Fu Yen tentu saja dengan senang hati peluk gadisnya beri kehangatan biar tidurnya lebih nyenyak.


Fu Yen mengangkat Ashura menuju ke kamarnya. Kasim Du masih setia menanti di depan pintu ruang kerja Fu Yen. Tanpa perintah sang raja kasim Du mana berani mengundurkan diri.


Mata Kasim bersinar melihat Fu Yen keluar dari ruang kerja sambil gendong Ashura dalam pelukan. Lagi lagi ang raja akan tidur dengan calon ratu nakal itu. Selir selir lain akan gigit jari menanti kehadiran sang raja hangati ranjang mereka.


"Kasim Du pergilah istirahat! Pengawalan cukup di depan kamarku aja."


"Siap laksanakan! Selamat bersenang Yang Mulia. Rawatlah kambing kecilmu biar ada bayi kambing!" ujar Kasim Du bergurau.


Fu Yen lepaskan pakaian lalu masuk ke dalam selimut menyongsong fajar bersama Ashura. Fu Yen tulus pada Ashura tak mau memaksa gadis ini melakukan hal tak dia inginkan. Fu Yen mau Ashura serahkan diri secara suka rela.


Fu Yen memeluk Ashura erat erat seakan tak ingin berpisah dengan gadisnya. Sedetikpun tak boleh tersiakan. Ashura makin lelap tidur dalam rengkuhan laki tepat.


Kicauan burung mengiringi Ashura buka mata songsong pagi cerah. Begitu mata indah Ashura terbuka seraut wajah tampan berada persis di depan mata. Wajah Fu Yen dekat sekali dengan wajah Ashura nyaris tanpa pemisah.


Ashura meringis tak berani bersuara. Rasa malu menjalar ke seluruh badan. Lagi lagi dia berada di tempat tidur sang raja. Sungguh memalukan.


"Sudah bangun?" Fu Yen ikut buka mata.


"Kenapa aku di sini?"


"Memang di sini tempatmu. Kau sangat cantik bangun tidur. Tidur bentar lagi. Kita tidur sangat telat jadi tak perlu bangun pagi." Fu Yen meraih tubuh Ashura yang mungil ke dalam pelukannya.


"Kita bangun! Nanti ada orang lihat sungguh tak enak. Mereka akan pikir yang bukan bukan."


"Biarkan aja! Aku masih lelah dan ngantuk. Tidur lagi!"


"Aku tak ngantuk lagi. Kita masih banyak kerja Yang Mulia. Kerja kita belum selesai."


"Sudah selesai..nanti kita minta tolong pada paman raja bikin perhitungan akhir. Kau temani aku saja!" Ujar Fu Yen pejamkan mata rasakan hangatnya tubuh gadis tersayang.


"Fu Yen..jangan konyol! Apa kata orang kau simpan penasehat dalam kamarmu? Orang akan pikir kamu itu punya kelainan jiwa suka lelaki."


"Aku suka kamu. Mau laki perempuan aku tak peduli. Aku cuma mau kamu."


"Dasar sinting! Ini artinya kelakianmu diragukan."

__ADS_1


"Oya???" Fu Yen buka mata merasa tertantang oleh kata kata Ashura. Kini Fu Yen menatap Ashura lekat lekat membuat Ashura takut.


"Maaf..aku hanya bercanda!"


"Canda? Aku juga mau bercanda." Fu Yen memegang wajah mungil Ashura lalu dekatkan ke wajahnya. Bibir Ashura yang ranum jadi santapan gratis Fu Yen sebagai hidangan pagi. Bibir Fu Yen langsung tempel di bibir Ashura sambil **********.


Ashura melawan tak mau dicium Fu Yen. Makin Ashura melawan makin naik nafsu Fu Yen menguasai gadisnya. Fu Yen mencium Ashura sampai gadis ini terengah engah kehabisan oksigen. Fu Yen melepaskan bibirnya dari bibir Ashura sambil merasa bibir mungil itu.


"Bibirmu manis.."


"Kau...perampok!" Ashura melap bibirnya dengan kesal. Ciuman pertamanya dirampok Fu Yen di pagi buta.


"Aku yang pertama bukan?"


"Cis..pacarku banyak! Aku sudah sejuta kali ciuman."


"Wow..hebat! Sudah jadi seniorku kalau gitu. Coba ajar aku cara berciuman yang baik." Fu Yen kembali ***** bibir mungil Ashura. Kali ini Fu Yen lakukan dengan lembut karena yakin Ashura takkan melawan lagi.


Benar saja Ashura hanya meronta sesaat lalu menerima ciuman Fu Yen. Lidah Fu Yen masuk ke dalam rongga mulut Ashura cari kenikmatan lebih jauh. Fu Yen sangat mahir menguasai Ashura sampai gadis ini terlena.


Tangan Fu Yen mulai nakal mencari cari sesuatu yang lebih merangsang. Dua gundukan yang terbungkus kain tak luput dari sentuhan Fu Yen. Remasan nakal Fu Yen bikin Ashura mendesah. Ntah merasa geli atau nikmat disentuh laki berpengalaman dalam bercinta ini.


Satu persatu pakaian Ashura copot dari tempat semestinya. Fu Yen memberi hal baru buat Ashura yang masih lugu dalam bercinta.


Fu Yen sudah mantap laksanakan niat jadikan Ashura sebagai wanitanya. Kalau tidak dimulai dari saat ini kelak akan lebih susah raih Ashura. Moment ini adalah waktu tepat karena Ashura tak melawan malah berkesan menikmati permainan Fu Yen.


Fu Yen mengusap wajah Ashura sebelum melakukan ritual yang akan menutup masa depan Ashura dari pandangan laki manapun. Fu Yen akan rengut sesuatu yang jadi kebanggaan para wanita. Sesuatu yang akan dipersembahkan pada suami.


"Aku mencintaimu.." bisik Fu Yen lembut di telinga Ashura.


Ashura tak jawab hanya bisa mendesah malu. Fu Yen mengecup bibir Ashura lagi.


Fu Yen mulai lepaskan pakaiannya agar bisa rasakan kemulusan kulit Ashura. Fu Yen menatap Ashura dalam dalam seakan minta persetujuan Ashura melakukan penyatuan tubuh mereka.


"Aku akan melakukan dengan pelan."


Ashura menutup mata biarkan Fu Yen melakukan semua keinginan. Ntah kenapa Ashura tak mampu melawan pagi ini. Segala terasa pasrah dalam pelukan laki yang matian dia tolak.


Fu Yen mulai arahkan sang burung perkasa ke sangkar baru yang masih gres. Fu Yen merasa dadanya bergetar walau sudah pernah melakukan hubungan intim dengan beberapa selir. Menghadapi Ashura seperti baru pertama bercinta. Bangga juga bahagia bia taklukkan gunung es yang selalu menggoda matanya.


"Kanda..." pintu kamar Fu Yen terbuka dari luar secara kasar.


Fu Yen kaget melihat Hwa Lien masuk tanpa permisi. Fu Yen cepat cepat menutup tubuh Ashura dengan selimut agar adiknya tak melihat ada wanita di tempat tidurnya. Nafsu yang sudah diubun kepala langsung sirna oleh kehadiran pengacau besar. Ritual yang nyaris berhasil dilaksanakan jadi gagal.


"Ada apa?" bentak Fu Yen kesal acaranya berantakan gara sang adik tak tahu diri.


"Mana penasehatmu? Aku cari dia tapi tak ada."


"Hwa Lien..keluarlah dulu! Kanda belum berpakaian. Kau tunggu di ruang kerjaku."


"Aku cuma mau jumpa penasehat Shu. Kanda tak perlu repot urus aku. Katakan di mana dia?"


"Dia sedang ada kerja. Pergilah dulu! Nanti kanda temui kamu."


"Baiklah! Jangan lama!" Hwa Lien keluar dari kamar Fu Yen dengan riang gembira berharap jumpa penasehat Fu Yen yang gantengnya selangit.


Fu Yen menghela nafas kesal. Tujuannya hampir berhasil kuasai Ashura jadi buyar.


"Kasim Du.." seru Fu Yen marah.


Kasim Du masuk ke kamar dengan ketakutan karena tak dapat tahan langkah puteri Hwa Lien.


"Maaf Yang Mulia..tuan puteri tak dapat dilarang!"

__ADS_1


"Jangan ijinkan siapapun masuk tanpa perintahku! Siapkan sarapan pagi!"


"Siap Yang Mulia." Kasim Du cepat cepat angkat kaki sebelum kena semprot lagi.


__ADS_2