CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Pasukan Perang


__ADS_3

Fu Yen percaya kalau Ashura mampu tunaikan semua janji yang dia buat. Anak ini tak main-main bila sudah tekuni satu masalah.


Akhirnya si putri malas Hwa Lien bersiap ikut berpartisipasi dalam kancah perang yang sedang dirancang Ashura. Ashura meminta Ayin siapkan sedikit makanan dan minuman untuk dibawa ke tempat mereka akan mulai merencanakan perang besar. Mereka tak tahu kapan baru bisa pulang sebelum pahami semua peralatan dari zaman moderen. Ashura sendiri belum yakin bisa operasikan semua peralatan tersebut. Mereka seperti orang buta masih harus meraba-raba capai tujuan.


Paman raja dan Fu Kuang datang barengan dengan kuda yang sangat kokoh. Kharisma Fu Kuang memang kuat mampu bersaing dengan sang raja. Bahkan Fu Kuang lebih keren di mata Ashura. Cuma sayang Ashura tak melihat cahaya kebaikan dalam mata Fu Kuang. Mungkin laki itu sudah terlalu sering membunuh orang sehingga tak punya sifat welas dalam diri jenderal itu. Ashura asyik membandingkan Fu Yen dan Fu Kuang sampai lupa mereka punya janji untuk segera bergerak.


Sekarang gimana cara mereka berangkat ke lokasi. Fu Kuang hanya bawa kuda bukan kereta kuda. Ashura harus numpang pada siapa. Kini status Ashura bukan selir maka Fu Yen tak punya hak memaksa dia harus berkuda dengan sang raja.


Chen Yang ngerti isi pikiran Ashura tak mau berpihak pada siapapun. Wanita ini terjepit antara raja dan Jenderal. Paman raja yakin kalau jenderal juga punya perasaan terhadap Ashura.


Paman raja tidak akan biarkan kedua bersaudara berseteru demi seorang wanita. Dia harus bertindak tengahi antara kedua keponakan hebat tersebut.


"Ashura ikut paman raja. Sini Ashura! Hari ini kita pergi berlima dulu. Setelah semua sudah yakin baru kita balik atur siapa yang akan ikut latihan." Chen Yang bersuara duluan sebelum kedua pembesar itu saling bersitegang mau berkuda dengan Ashura.


"Ok tak masalah! Aku bisa berkuda sendirian. Yok kita berangkat! Asiang...Alan kalian tunggu di sini saja! Masak yang enak ya!"


Kedua dayang Hwa Lien mengangguk patuh. Mereka tentu saja lebih senang tak perlu ikut Hwa Lien keliaran sana sini. Berada dalam istana paling nyaman.


Fu Yen dan Fu Kuang tidak membantah lagi. Hanya mata tajam mereka menatap iri kepada paman raja berkuda dengan wanita pencuri hati itu.


Para pengawal Fu Yen juga tak diizinkan ikut. Mereka ditugaskan mengawal istana dingin sampai sang raja balik. Para dayang girang bukan main ada pengawalan di istana dingin. Paling tidak mereka bakal punya teman ngobrol yang baru. Siapa tahu ada signal cinta hampiri mereka.


Fu Kuang mengepak pantat kuda dahului yang lain bergerak menuju ke tempat yang telah mereka tentukan. Di belakan menyusul Fu Yen dan Hwa Lien barulah paman raja dan Ashura menyusul berjalan santai.


Paman raja menikmati keindahan pagi bersama gadis muda incaran raja. Bau tubuh Ashura membuat Paman raja mengerti mengapa kedua keponakannya tergila pada wanita muda. Ashura memang istimewa. Ashura lain dari yang lain.


Fu Yen kesal pada Paman raja bergerak sangat lamban. Sang raja anggap paman raja sengaja berjalan pelan biar ada kesempatan lebih lama bersama Ashura. Kalau bukan Chen Yang itu pamannya pingin rasanya hunus pedang ke leher laki kemayu itu.


Cukup lama mereka berkuda barulah tiba di tempat yang agak tersembunyi itu. Kehadiran mereka disambut tiupan angin cukup kencang seolah menyambut kedatangan Ashura untuk memulai debut sebagai tutor perang.


Kelima orang itu hentikan kuda tak jauh dari lapangan yang telah berisi benda aneh di mata manusia abad ini. Yang paling menyolok adalah tiga tank baja berdiri kokoh sejajar paling depan. Fu Kuang dan Fu Yen tak bisa berkata apa-apa selain terpana. Mereka tak menduga kalau Ashura tepat janji mau bantu mereka berperang. Semua peralatan Ashura sungguh di luar bayangan mereka.


Benda aneh seperti kotak besi dengan belalai keras di depan. Di belakang kotak besi itu tersusun kotak-kotak besar dari baja juga. Mereka belum tahu apa isi kotak itu maka belum tertarik pada isi kotak. Perhatian mereka tertuju pada mobil tank garang itu.


Ashura minta diturunkan dari kuda tak heran dengan peralatan perang canggih di zamannya. Ashura sudah sering benda ini walau hanya dari jauh.


Fu Kuang menyambut Ashura turun dari kuda menggendong gadis itu sampai berdiri di atas kaki sendiri. Fu Yen mengerling jengkel kalah cepat dari adiknya. Siapa suruh gerakan sangat lamban.


"Wah...apa ini kuda besi yang kamu cerita?" Hwa Lien langsung dekati tank penuh rasa ingin tahu.


"Hampir mirip tapi ini khusus untuk perang. Kalian lihat benda panjang di hidungnya? Itu akan keluarkan peluru menembak musuh. Jujur aku juga tak tahu cara operasinya tapi kita bisa belajar. Sekarang kita lihat dulu isi kotak. Kurasa isinya senjata menembak."

__ADS_1


Ashura mengangkat roknya yang lumayan mengganggu. Pakaian ribet gini hanya menghambat setiap gerak gerik dia.


Beramai mereka berusaha buka kotak besi yang berjejer rapi cukup banyak. Mereka harus buka satu persatu untuk lihat isi dalam.


Fu Kuang yang buka kotak pertama namun tak berhasil. Fu Kuang tak tahu kalau kotak ini punya kode tersendiri untuk bisa dibuka. Hanya Ashura ngerti gimana buka karena di zaman sekarang tak perlu kunci lagi, cukup gunakan kode sandi untuk buka pintu maupun barang lain.


Ashura masukkan kode standar yakni bilangan nol beberapa kali barulah terbuka. Fu Kuang membantu Ashura membuka kotak yang cukup berat. Seluruh bagian dari kotak terbuat dari baja tebal karena isinya adalah senjata mematikan.


Kotak yang baru dibuka ternyata isinya amunisi peluru tajam. Warnanya keemasan tersusun rapi dalam wadah dari kotak fiber. Semua mata mengarah pada benda yang baru pertama kali mereka lihat. Bentuknya kecil dan runcing berwarna emas.


"Wah emas ya? Banyak sekali." seru Hwa Lien antusias.


"Bukan emas tapi tembaga. Isinya mesiu untuk dimasukkan dalam senjata. Inilah peluru yang akan menembus jantung musuh. Ayok kita buka kotak lain!" Ashura bergeser ke kotak sebelah lihat apa isinya.


Lagi-lagi satu peti peluru panjang pendek. Ashura menduga di situ ada peluru senjata sniper yang lebih besar. Mereka pindah lagi ke kotak lain yang bentuknya agak memanjang. Mungkin di sinilah senjata Laras panjang disimpan.


Ashura membuka dengan semangat mau lihat bentuk asli senjata yang selama ini hanya bisa dilihat dari tayangan maupun gambar. Tak urung Ashura grogi juga tatkala kotak perlahan di buka oleh Fu Kuang.


"Wah..apa ini?" paman Chen Yang tercengang melihat senjata sniper tertata rapi dalam box besi itu. Tangan Paman Chen Yang mengelus permukaan senjata pakai kaki penyanggah. Semua masih terlipat rapi dalam box belum tersentuh oleh tangan lain. Asli baru keluar dari pabrik.


Ashura hendak mengeluarkan benda mematikan itu namun kalah tenaga. Fu Kuang cepat tanggap membantu Ashura wujudkan niat mengeluarkan benda itu lalu letakkan di atas tanah.


Tak ada yang bergerak cek bagaimana fungsi benda ini karena mereka masih menimbang apa yang harus dilakukan. Kelima orang ini mengelilingi senjata berat sambil berpikir keras daya kerja benda ini.


Senjata Laras panjang lumayan banyak sesuai dengan peluru tersedia. Ada bazoka serta pelurunya yang lumayan gede serta senjata sniper tadi. Semua lengkap sesuai janji Shu Rong. Sekarang tinggal mereka pelajari cara gunakan senjata tersebut.


Ashura mencari buku petunjuk seperti janji Shu Rong namun tak ketemu. Di mana arwah penasaran itu menyimpan buku tentang cara operasikan benda-benda perang itu.


Tampaknya Ashura harus memanggil arwah itu lagi minta kepastian cara fungsikan benda-benda perang ini.


Fu Yen belum bicara apa-apa masih takjub benda luar biasa ini bisa hadir di zaman mereka. Dengan cara apa Ashura transfer benda ini ke zaman mereka. Ashura bisa bawa benda ini ke sini artinya dia bisa balik ke zamannya setiap saat. Fu Yen belum siap kehilangan Ashura.


"Luar biasa...sekarang kita harus bagaimana? Bawa pulang semua benda ini?" Chen Yang tak putus kagum pada kecanggihan benda zaman Ashura. Belum difungsikan saja sudah tampak kedahsyatan benda tersebut. Gimanalah bila mereka berhasil belajar seluk beluk cara kerja senjata tersebut.


"Tidak perlu. Mungkin kita bawa pulang satu dua untuk kita pelajari di rumah. Kita bawa yang ringan saja." Ashura menunjuk pistol dan senjata sejenis AK 47.


"Lalu yang lain kita tinggal di sini? Gimana kalau tukang kayu kebetulan lewat sini? Mereka pasti akan ambil untuk dibawa pulang." timpal Hwa Lien.


"Untuk sementara kita tutup kembali dan kunci. Mereka takkan bisa buka. Untuk malam hari kita terpaksa minta pengawalan pasukan setia. Gimana menurut yang mulia raja?" Ashura serahkan keputusan pada Fu Yen sebagai penguasa kerajaan. Biarlah Fu Yen yang tentukan apa yang harus mereka lakukan lindungi benda canggih ini.


"Kita bangun tenda di sini dan nginap di sini. Kita tak mungkin bolak balik istana. Ini akan menarik perhatian para menteri." ucap Fu Yen.

__ADS_1


"Justru yang mulia berada di sini akan menarik perhatian. Yang mulia harus kembali ke istana sebelum dicari orang dalam istana. Aku yang akan jaga benda ini malam nanti. Aku akan bangun tenda bersama pasukan inti sambil pelajari cara kerja benda ini. Kita segera balik dan atur para pengawal untuk jaga malam." tukas Fu Kuang berpikir lebih jauh.


Apa yang dikatakan Fu Kuang mengandung kebenaran. Fu Yen terlalu lama menghilang akan menjadi sorotan para pembangkang. Usul Fu Kuang bisa dipakai. Fu Kuang seorang jenderal perang pasti lebih ngerti strategi mengelabui musuh.


"Kita lihat dulu cara kerja mobil tank. Aku bisa jalankan tank tapi tak tahu cara gunakan senjata di dalam kenderaan berlapis baja itu. Kita belajar bersama-sama." Ashura beri usulan lain lihat isi dalam mobil tank.


Untuk operasikan sekedar berjalan mungkin Ashura bisa. Cara kerja mungkin tak ubah seperti mobil umumnya. Cuma Ashura harus tahu setiap tombol berfungsi apa. Jalan paling tepat adalah masuk ke dalam untuk lihat secara langsung.


"Baiklah!" Fu Yen setuju.


Beramai mereka masuk ke dalam tank melalui pintu samping yang cukup sulit dibuka karena berat. Untunglah ada Fu Kuang dan Fu Yen punya kekuatan lebih mampu membuka pintu mobil baja itu.


Bau cat menyeruak menganggu hidung. Baunya cukup tajam mencubit ujung hidung membuat Ashura terpaksa menutup hidung dengan ujung pakaian. Hwa Lien juga tercium bau kurang segar ini. Beda dengan para laki yang lebih fokus pada isi dalam mobil tank.


Banyak sekali panel mengatur fungsi kegunaan mobil tank. Ini tidak terlalu sulit bagi Ashura karena sedikit banyak dia ngerti apa lambang dari setiap panel di dashboard tank. Tak jauh beda dengan mobil matic masa kini.


Mungkin Ashura bisa jalankan mobil tank ini walaupun belum berani tembakkan peluru dari mobil baja ini. Mereka harus coba dengan menanggung segala resiko.


"Ayo duduk biar aku coba fungsikan mobil ini!" Ashura ambil tempat di bagian supir. Ashura amati setiap panel cari kunci kontak hidupkan tank.


Keempat orang di belakang kontan cari posisi nyaman di jok masing-masing. Tak ada yang mau duduk di samping Ashura masih takut kena imbas bila terjadi sesuatu.


Ashura menekan tombol starter hampir mirip mobil maticnya di zaman moderen. Seketika deru suara mesin berbunyi tanda benda kotak ini telah berfungsi.


Hwa Lien tepuk tangan gembira salah satu alat mereka telah bisa digunakan. Ketiga pria dewasa di belakang terhenyak tak sangka Ashura demikian hebat bisa kuasai benda besi ini. Ashura naik sederajat lagi di mata mereka.


"Ok...kita jalan!" Ashura majikan mobi tank ke depan dengan mantap. Ashura bisa asal jangan diminta menembakkan peluru saat ini. Ashura belum capai ke tahap itu.


Mobil tank merayap perlahan maju bikin penumpang terpesona. Tak terpikir di otak mereka benda ini bisa jalan seperti kuda. Bahkan lebih cepat dari kuda.


Cuma belum ada yang bersuara. Mereka masih nikmati trip pertama naik mobil tank baja. Sayang mobil tank tertutup rapat tak bisa nikmati pemandangan luar.


Kalau gunakan mobil biasa mungkin lebih santai bisa jalan-jalan melihat keluar jendela kaca. Di balik plat besi apa yang bisa dilihat. Namun begitu para penumpang tak protes. Mereka syukuri semua nikmat yang dianugerahkan pada mereka saat ini.


Belum jauh jalan Ashura hentikan mobil sambil menoleh ke arah penumpang. Ashura menatap penumpangnya satu persatu lihat gimana reaksi mereka interaksi dengan benda bukan zaman mereka.


"Ada pertanyaan?"


"Luar biasa. Aku mau belajar jalankan kotak ini." seru Hwa Lien penuh semangat dibarengi rasa penasaran.


Ashura tersenyum lihat betapa Hwa Lien ingin maju seperti dirinya. Ini pertanda baik untuk kemajuan kerajaan ini.

__ADS_1


"Para laki yang harus belajar nyetir baru bisa serang kerajaan tetangga. Mari kuajar jalan kan kenderaan ini."


__ADS_2