CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Kerja Bakti


__ADS_3

Fu Kuang tertegun mendengar kata-kata Ashura yang sepenuhnya mengandung kebenaran. Sehebat apapun mereka jika telah wafat tetap hanya seonggok daging yang bakal busuk dimakan tanah.


"Kau benar! Bila kelak kita sudah menang perang maukah kamu keluar istana dan hidup bersama aku di luar istana?"


Ashura tak berani janji muluk karena dia adalah selir istana. Kalau dia terima Fu Kuang sama saja memicu perselisihan antara dua saudara. Ashura tak boleh membuat kedua orang itu saling berseteru karena dia.


"Kita fokus laksanakan misi kita dulu. Masih banyak waktu buat kita untuk menata hari depan. Aku juga masih banyak tugas harus diselesaikan. Aku harus turun lapangan bagi bibit unggul lalu urus mereka yang terkena penyakit kelamin. Aku tak mau orang lain tangani semua ini. Aku mau turun tangan sendiri."


Alasan yang diberikan oleh Ashura cukup masuk akal. Fu Kuang tak boleh egois memikirkan perasaan sendiri sementara Ashura banyak sekali yang harus dia lakukan untuk negeri ini. Betul kata Ashura kalau mereka masih banyak waktu untuk menata hati. Fu Kuang harus bersabar sampai Ashura benar-benar terbebas dari semua beban tanggung jawab.


"Maukah kamu ceritakan tentang zaman kamu dan apa kerjamu di sana?" Fu Kuang alihkan pembicaraan.


Ashura tersenyum ingat kehidupannya di dunia nyata. Ashura termasuk gadis berprestasi di kampus juga di bidang olahraga Wushu. Teman terdekat Ashura adalah Liem musuh terindah. Sayang semua itu sirna. Dia terdampar di negeri ntah berantah tanpa ada target akan bisa balik ke pelukan orang tua kandung dan bertengkar dengan Liem lagi.


"Di zaman kami tak ada perbedaan laki dan perempuan. Di sana orang boleh belajar ilmu setinggi langit asal ada kemauan. Di zaman kami banyak perempuan mengalahkan para lelaki baik segi pemerintahan maupun prestasi lain. Satu lagi..di zaman kami satu laki cuma boleh satu isteri. Kalaupun mau tambah isteri syaratnya sangat banyak. Harus ada persetujuan isteri pertama serta buat hitam putih. Tidak seperti di sini setiap laki boleh banyak isteri asal mampu."


Fu Kuang termenung mendengar cerita Ashura. Fu Kuang bisa petik pelajaran kalau kehidupan di zaman Ashura banyak peraturan yang mesti ditaati. Tak bisa seenak perut berbuat salah.


"Lalu yang lain?"


"Di zaman kami tak ada siang malam. Langit boleh gelap namun lampu menerangi seluruh alam. Kami punya penerangan yang disebut listrik. Mari kutunjukkan kehidupan malam di tempat asalku!" Ashura membuka laptop mencari gambar kehidupan malam di kota. Lampu kelap kelip hiasi seluruh kota dengan aneka warna terang. Untunglah Ashura menyimpan video dia dan temannya jalan-jalan di mall. Dalam mall cahaya lampu terang benderang walau tampak dari balik kaca langit gelap.


Fu Kuang terpaku mempercayai semua cerita Ashura. Fu Kuang makin yakin kalau Ashura bukan berasal dari zaman mereka.


"Apakah di zaman kamu masih ada peperangan?"


"Ada tapi jarang! Hanya ada satu dua negara suka menekan negara yang kecil cuma banyak negara besar lain siap bantu perang. Pendek kata lebih banyak kedamaian daripada perang. Kami bebas ke mana saja asal urus surat ijin berangkat. Kami gunakan pesawat terbang untuk bepergian. Kalau dekat kami gunakan mobil. Mari kutunjukkan yang mana pesawat dan yang mana mobil!" Ashura kembali membuka layar laptop untuk memperlihatkan mobil dan pesawat yang tak pernah dilihat oleh sang Jenderal.


Fu Kuang lebih kritis dari Hwa Lien dan Paman raja. Lelaki ini bertanya lebih detail tentang semua kehidupan masa depan. Fu Kuang sangat tertarik pada semangat kehidupan di masa depan. Andaikata dia hidup di zaman Ashura pasti akan menyenangkan. Namun sayang faktanya dia hidup di zaman masih serba kuno. Yang paling vital yakni listrik mereka tak punya. Padahal listrik itu sangat berguna untuk menunjang kebutuhan hidup. Bahkan jadi satu keharusan, tanpa listrik roda perekonomian tak lancar.


Tak sampai situ. Ashura juga ajarkan cara berhitung cepat dan baik. Di zaman moderen hanya perlu satu alat kecil yaitu kalkulator untuk menyelesaikan semua hitungan paling sulit sekalipun. Otak tak perlu diperas untuk menghitung lebih banyak. Di zaman kerajaan masih mengandalkan sempoa alat hitung zaman. Cukup membantu namun kurang efektif.


Pokoknya Ashura menerangkan apa yang dia ketahui untuk menambah perbendaharaan ilmu Fu Kuang. Mata dan pikiran Fu Kuang makin terbuka setelah dapat pencerahan dari Ashura. Mereka sangat ketinggalan namun apa daya karena teknologi saat ini belum mencapai taraf di zaman Ashura. Fu Kuang ahrus makin berusaha untuk mengejar walaupun dalam segala keterbatasan.


Chen Yang dan Fu Kuang sampai malam berada di istana dingin Ashura. Fu Kuang banyak belajar dari Ashura. Fu Kuang berjanji akan mengejar ketinggalan wali seadanya.


Di tempat lain Fu Yen uring-uringan dengar Fu Kuang dan Paman Raja berada di istana dingin sampai larut malam. Fu Yen percaya Ashura takkan macam-macam karena ada Hwa Lien bersama dia cuma Fu Yen takut Fu Kuang akan menikung dia. Fu Kuang mempunyai daya tarik sendiri sebagai jenderal perang kerajaan. Kharisma Fu Kuang melebihi Fu Yen yang raja.


Fu Yen mengutus Kasim Du memantau langsung suasana istana Ashura untuk melihat apa sang Jenderal dan Paman raja telah benar-benar meninggalkan istana dingin. Fu Yen tak harap kedua lelaki itu menginap di istana dingin karena ini akan membayarhayakan posisinya di hati Ashura.


Untunglah laporan Kasim Du sangat sesuai dengan harapan Fu Yen. Tak ada tanda-tanda kedua pembesar kerajaan itu di istana dingin. Suasana istana dingin tenang tanpa ada gejolak serta pengawalan berlebihan. Kalau ada Fu Kuang di sekitar pastilah akan banyak prajurit di sekitar sana. Ini tak ada siapapun berarti tanda paman raja dan Jenderal.

__ADS_1


Kasim Du balik ke istana raja untuk melapor hasil pantauannya. Semua berjalan aman sesuai keinginan sang raja. Fu Yen menarik nafas lega tak perlu kuatir tentang selir kesayangan itu. Fu Yen harus secepatnya ambil keputusan angkat ratu supaya dia tak perlu ketar ketir ingat Ashura bersama saingan berat yakni jenderal.


Pagi-pagi sekali Ashura dan Hwa Lien mencari kereta gerobak untuk membawa bibit dibagikan kepada petani. Ashura turun tangan sendiri mengurus semua ini karena sekalian beri penyuluhan kepada petani. Ashura tak percaya pada orang untuk laksanakan tugas mulia. Membagi dengan tangan sendiri ada kenikmatan sendiri karena saksikan langsung orang yang berhak menerima pembagian bibit.


Seharian Ashura dan Hwa Lien bekerja keras memajukan kehidupan rakyat. Mata Hwa Lien terbuka lebar melihat langsung kehidupan rakyat jelata yang sangat memprihatikan. Mereka yang berada dalam istana hidup dalam kemewahan sedangkan rakyat kecil serba kekurangan. Untunglah muncul Ashura buka mata dan hati Hwa Lien untuk lihat fakta betapa banyak rakyat kecil hidup serba kekurangan.


Kedua gadis ini lelah bukan main namun sangat puas. Mereka telah berbuat banyak untuk kemakmuran kerajaan mereka. Hwa Lien yang biasa nya manja kini tergeletak bak mayat hidup di atas ranjang Ashura. Gadis ini tak bisa bergerak lagi saking capeknya. Fu Kuang dan Paman raja yang janjinya mau datang bantu mereka tak muncul samasekali.


Ashura sendiri rebahkan badan di atas dipan kayu untuk istirahatkan tubuh mungilnya. Seluruh tulang Ashura serasa berpisah-pisah tak bersatu lagi.


Para dayang Ashura dan Hwa Lien tak kalah capek dampingi majikan mereka turun lapangan. Malam ini tak ada yang mau gerak lagi selain tidur. Makan malam juga terlewati. Sekarang adalah waktunya memanjakan tubuh. Hwa Lien yang biasa tergila pada hp juga tiada niat sentuh benda itu. Semua ingin istirahat.


Ntah berapa lama mereka tertidur tiba-tiba pintu gerbang digedor orang pakai kayu. Suara menggelegar memecahkan keheningan malam. Amuk yang paling duluan bangun karena dialah satu-satunya lelaki di istana ini. Amuk merasa takut hadapi keributan di luar sendirian maka membangunkan Ayin dan kedua dayang Hwa Lien. Ketiga gadis muda yang sudah tertidur lelap dibangunkan Amuk secara babi buta.


"Ayin...Asiang...Alan...bangun!" seru Amuk keras.


Dayang Hwa Lien yang bernama Asiang paling duluan dengar panggilan Amuk mencolek kedua temannya untuk melihat mengapa Amuk bangunkan mereka di tengah malam buta begini. Apa yang telah terjadi sampai ada kehebohan di tengah malam.


"Bangun...tuh Amuk panggil!" ujar Asiang menggosok mata biar bisa melihat lebih jelas.


"Ya ampun kamu ini! Suka ya pada Amuk sampai terngiang suara laki itu! Ambil saja untukmu!" Ayin tak open suara Asiang. Ayin pilih menarik selimut lebih rapat halau rasa dingin yang menggigit tulang. Siapa lagi tertarik bahas laki si tengah malam gini. Mending bermimpi bersayangan dengan Amuk di taman bunga.


Asiang menepuk pantat Ayin agar sadar dia sedang berada di alam nyata dengar gedoran pintu gerbang sangat kuat serta suara Amuk yang menggelegar.


"Ayin...Amuk ntah kenapa? Ayok bangun!" Asiang kembali ingatkan Ayin kalau Amuk memang berada di luar sedang memanggil mereka.


Ayin sedang mengumpulkan seluruh roh yang sempat terbawa ke alam mimpi. Suara Asiang begitu kencang menyadarkan Ayin dia tidak sedang bermimpi. Alan tak mau tahu lanjut tidur berlayar sampai ke benua Antartika.


"Amuk..." desah Ayin sudah sadar Asiang tidak sedang menggodanya. Keduanya segera berpakaian lantas buka pintu menemui Amuk. Pintu terkuak disambut tiupan angin kencang menerpa tubuh kedua anak manusia ini.


Di antara keremangan Ayin melihat wajah Amuk penuh kecemasan. Ayin segera sadar telah terjadi sesuatu hal luar biasa.


"Amuk...ada apa?"


"Kupikir kalian sudah mati. Pintu gerbang kita digedor orang kencang sekali. Ku takut yang mulia raja datang!"


Ayin mengernyit alis heran mengapa sang raja datang malam begini. Apa yang membuat sang raja datang tengah malam mencari Ashura. apapun ceritanya mereka tetap harus membuka pintu karena mengabaikan Raja adalah menentang sang raja.


"Kita bangunkan tuan putri dulu! Jangan sampai tuan putri kena amarah yang mulia raja!" Ayin bergerak menuju ke kamar Ashura dan Hwa Lien.


Apapun cerita tuan putri mereka adalah orang pertama yang harus tahu apa sedang terjadi. Mereka tak boleh gegabah membuat Ashura kena amarah sang raja.

__ADS_1


Keempat orang itu bersama-sama ke kamar Ashura. Ayin mengetok pintu kamar dengan segala kesopanan. Ashura adalah majikan terbaik yang pernah dia temui maka itu Ayin dan Amuk sangat sayang kepada Ashura.


"Siapa?" terdengar suara bantal dari dalam kamar.


"Ayin tuan putri!"


"Kamu kurang kerjaan ya? Tengah malam gini ketok pintu kamar aku!"


"Maaf tuan putri! Di luar ada orang ketok pintu gerbang. Kami sangat takut!"


Ashura terdiam berusaha menganalisa apa sedang terjadi di istana mereka ini. Siapa kurang kerjaan mengetok pintu gerbang mereka di saat orang sudah lelap tidur. Ashura mencolek Hwa Lien supaya bangun.


Hwa Lien mengintip sebentar lalu tutup mata lanjut mimpi. Hwa Lien mana ada urusan dengan semua yang terjadi di istana.


"Hwa Lien ayo bangun! Ada orang gedor pintu istana!"


"Biar saja! Paling juga tangannya putus!"


"Kalau yang gedor abang kamu gimana? Apa kepala kita masih bisa tegak di leher?"


"Aduh ampun! Kurang kerjaan!" Hwa Lien terpaksa bangun setelah dengar alasan Ashura ajak dia keluar dari kamar. Kedua gadis ini segera berpakaian untuk menemui orang kurang akal itu.


Ashura dan Hwa Lien keluar barengan dari kamar. Mereka berdua melihat para dayang dan Amuk sudah lengkap menunggu perintah dari Ashura selaku pemilik istana dingin.


"Ayo kita lihat siapa pingin dipukul sama palang pintu!" Hwa Lien jalan duluan tak sabar mau semprot orang yang ganggu tidurnya. Hwa Lien janji takkan bermurah hati pada kelompok pengacau mimpi itu.


Ayin dan Asiang bawa lentera untuk terangi jalan yang memang gelap dan sunyi. Ashura dan Hwa Lien beriringan sambil gandeng tangan biar hangat. Alan dan Amuk ngekor dari belakang sampai di depan pintu.


"Siapa di luar sana?"


"Maaf ganggu malam hari tuan putri! Hamba Alun..."


Ashura beri kode pada Amuk untuk buka pintu setelah tahu yang datang itu pengawal Fu Yen. Mengapa Fu Yen utus Alun datang malam begini ke teman mereka. Kalau tak ada hal penting tentu Fu Yen takkan usik ketenangan istana dingin.


Alun membungkukkan badan begitu melihat dua putri cantik berwajah lesu berdiri di depannya. Beberapa pengawal ikut beri hormat kepada tuan putri kerajaan tersebut. Ashura beri tanda tak usah banyak adat. Angin malam cukup dingin membuat Ashura kurang enak badan. Ashura berasal dari negeri khatulistiwa mana bisa menahan dinginnya musim gugur yang akan berganti musim dingin.


"Ayok masuk!" ajak Ashura hargai Alun. Ashura pernah bekerjasama dengan pengawal Fu Yen itu. Orangnya baik dan sopan. Ahli bela diri lagi.


"Kami diurus yang mulia raja untuk jemput tuan putri. Putri Ning Fei butuh pengobatan dari tuan putri. Kondisinya sangat buruk."


Ashura menatap Hwa Lien minta pendapat. Kelihatannya apa yang dikatakan Hwa Lien mengenai Ning Fei adalah benar. Penyakit kelamin selir itu sudah mencapai taraf kronis.

__ADS_1


__ADS_2