
Ashura merasa ada yang menyentuh wajahnya. Sesuatu yang dingin menerpa kulit wajahnya yang sudah lama tak terurus karena terdampar di zaman yang salah. Masih untung wajah Ashura bukan wajah berminyak yang butuh perawatan ekstra. Dia cukup rajin bersihkan wajah sebelum tidur maka untuk sementara bisa bertahan dari gempuran sengatan matahari.
Ashura membuka mata melihat siapa yang iseng menyentuhnya. Seharusnya tak perlu berpikir Ashura sudah bisa duga siapa yang punya kerja ganggu orang di tenaga malam buta.
"Shu Rong..." bisik Ashura takut Hwa Lien yang tertidur di sampingnya terbangun. Ashura segera turun dari tempat tidur mencari tempat agak jauh dari tempat tidur agar bebas ngobrol dengan Shu Rong.
Shu Rong melayang ikuti Ashura sampai ke sudut kamar yang jauh dari cahaya. Ashura menyeret langkah pelan sedangkan Shu Rong tinggal geser kaki sudah dekat Ashura.
"Kurasa tugasmu hampir selesai! Kau tinggal selesaikan perang lalu seret para penjahat ke penjara maka kau akan segera jumpa keluarga kamu." kata Shu Rong tanpa diminta.
Ashura tertegun. Ashura juga tak sangka kalau Shu Rong akan bicara mengenai kepulangan dia ke abad dia. Tak urung hati Ashura tercekat ingat akan tinggalkan dunia yang baru saja dia jelajahi tak lama ini. Sudah siapkah dia tinggalkan Fu Yen yang mirip Liem musuh terindah dia. Tinggalkan semua kenangan indah dan jelek dari zaman ini.
"Haruskah aku segera pulang?" gumam Ashura tak sadar menyatakan kalau dia betah di sini.
"Ini bukan zaman kamu. Keluarga kamu juga sedang menunggumu. Aku sudah sediakan semua permintaan kamu serta cara pemakaian benda tersebut. Aku ambil dari peralatan perang secara gaib. Pergunakan sebijak mungkin. Setelah perang benda ini harus raib seperti tak pernah ada."
"Aku tahu...terima kasih Shu Rong! Kau sudah ringankan semua pekerjaan aku. Aku akan minta raja segera eksekusi para pembunuh kamu. Aku punya satu pertanyaan untukmu."
"Apa itu?"
"Kalau aku hilang berarti putri Shu Rong juga hilang. Bagaimana tanggung jawab Fu Yen terhadap kerajaan Chau?"
"Kau minta pulang ke kerajaan Chau setelah perang selesai. Di situ kamu akan hilang maka Fu Yen tak perlu tanggung jawab. Aku akan pulangkan kamu saat itu supaya semua hidup aman. Kau harus tepat janji bagi bibit unggul pada kerajaan Chau. Angkatlah derajat kerajaan kami!"
"Aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku takkan biarkan kerajaan Chau tetap tertinggal. Mereka akan menjadi bangsa yang besar. Percayalah padaku!"
"Aku percaya. Pergunakanlah peralatan perang dengan bijak ya! Jangan sembarangan membunuh orang!"
"Aku tahu...aku akan tangkap sang raja biar takluk sehingga tak perlu banyak korban. Yang jadi korban utama tentu saja anak isteri para tentara. Kita akan usahakan minimalkan korban perang."
"Ya...semoga berhasil! Aku pergi dulu. Aku tunggu semua janji kamu." Arwah Shu Rong perlahan menghilang tanpa menunggu jawaban Ashura. Keheningan kembali melanda ruang kamar Ashura.
Ashura tahu kalau beban di pundaknya tidak kecil. Dia harus bisa menjaga semua agar tak ada korban perang yang lebih banyak jatuh pada rakyat kecil. Apa dia harus duluan bergerak sebelum pasukan kerajaan Tang terbentuk sempurna? Di saat mereka sedang bersiap Ashura akan melakukan penyerangan dini.
Soal ini Ashura harus diskusi dengan Fu Kuang selaku jenderal perang kerajaan. Laki itu pasti lebih ngerti soal perang ketimbang Ashura yang hanya pandai berandai. Jika perlu tak perlu perang Ashura harus taklukan raja Tang. Cuma Ashura tak tahu dengan cara apa dia baru bisa lakukan hal besar ini. Ashura tetap harus ajak Chen Yang dan Fu Kuang diskusi soal ini. Kalau Fu Yen mau ikut nimbrung mungkin akan dimasukkan dalam kelompok pasukan perang.
Ashura mencoba lanjut tidur agar punya tenaga untuk mulai berjuang esok hari. Ashura habiskan sisa malam hanya tidur ayam. Pikiran Ashura bertambah karena Shu Rong bilang dia akan segera tinggalkan kerajaan ini kembali ke zamannya. Ashura sudah harus persiapkan mental menata hidup seperti semula kembali hadapi modernisasi. Ashura tak bisa menolak takdir hidupnya terlahir sebagai manusia abad moderen.
Udara segar dan kicauan burung menyapa Ashura sebagai salam ucapan selamat pagi. Ashura melirik ke samping tempat tidurnya masih ada putri songong nan cuek. Putri Hwa Lien belum puas bermimpi semalaman hingga pagi datang masih bermimpi. Ashura tak tega bangunkan gadis itu pilih bersihkan badan dari segala kekusutan sisa semalam.
__ADS_1
Di luar sana ketiga dayang andalan Ashura dan Hwa Lien pasti sudah menunggu layani majikan mereka. Ketiganya dayang setia tak banyak tanya walau banyak keanehan dalam istana dingin ini. Ashura dan Hwa Lien tidak seperti majikan lain menekan para dayang seperti menekan seekor anjing setia.
Ashura perlakukan mereka tak ubah saudara sendiri. Tak heran mereka betah berada di istana dingin yang paling tak disukai para selir terbuang. Tinggal di istana ini sama saja diasingkan dari kehidupan istana.
Tapi bagi Ashura itu merupakan berkah tak perlu banyak adat hidup dalam lingkungan penuh kemunafikan. Apa arti semua taat Krama sopan namun penuh intrik saling menjatuhkan.
Ashura sengaja buka pintu lebar-lebar biar Hwa Lien bangun. Hari ini mereka akan lakukan hal paling bersejarah yakni melihat senjata pamungkas dari Shu Rong. Ashura sendiri belum pernah sentuh langsung benda-benda membahayakan nyawa orang itu. Dia hanya sering melihat dipegang aparat kepolisian serta tentara penjaga keamanan negara. Senjata bazoka, sniper dan senjata laras panjang hanya dilihat dari gambar saja. Hari ini Ashura akan bersentuhan langsung dengan benar mengerikan itu.
Ayin, Asiang dan Alan berhamburan masuk ke dalam kamar Ashura begitu pintu terbuka. Mereka tak sabar ingin bermain dengan Ashura yang penyayang itu. Wajah mereka berseri-seri tanda cukup tidur. Mereka adalah gadis remaja yang tak beruntung harus menjadi budak dari para putri kerajaan.
"Selamat pagi tuan putri..." sapa Ayin sambil mengantar teh hangat untuk Ashura dan Hwa Lien.
Asiang dan Alan tertawa cekikikan melihat majikan mereka masih pulas dalam tidur. Sudah begini di mana harga seorang putri. Hwa Lien sama saja dengan gadis muda lain tidur sembarangan tak peduli suara bising.
"Pagi nona-nona cantik!!! Sudah sarapan?"
"Kami sudah...bukankah tuan putri izinkan kami sarapan duluan?" jawab Alan sedikit takut Ashura akan salahkan mereka berani makan duluan. Di tempat lain mereka bisa dipancung langkahi majikan.
"Sudah tepat...kalau lapar harus makan biar kuat layani kami. Hari ini kita akan pergi ke satu tempat. Kalian tak boleh bocorkan rahasia ke mana kita pergi kalau masih mau kepala kalian yang cantik berada diantara leher. Di sana akan ada jenderal dan raja jadi semua serba rahasia."
Ketiga gadis itu menyimak kata-kata Ashura sambil melongo. Ashura akan ajak mereka ke mana sampai pakai ancaman segala. Ashura tak pernah kasar pada mereka apalagi ancam segala. Ini pasti sangat rahasia baru Ashura sedikit ekstrim.
"Ikut dan tutup mulut! Tak seorang pun boleh tahu tentang perjalanan kita hari ini. Kalian hanya boleh melihat tak boleh komentar. Sekarang bangunkan putri tidur itu. Kita harus segera bergerak."
"Baik tuan putri..." Alan bergerak hampiri tempat tidur bangunkan Hwa Lien yang tidur mirip kerbau hamil muda. Malas tak mau bergerak lagi.
Ayin dan Asiang hidangkan sarapan secara bergantian. Di istana ini tak ada koki layani mereka seperti di istana lain. Di sini mereka harus kerjakan sendiri saling membahu. Namun itu bukan masalah buat ketiga gadis itu. Dengan begini malah lebih tenang. Tak ada suara bising serta saling iri-irian yang akan timbul konflik sesama dayang.
"Ya ampun masih malam kalian bangunkan aku!" seru Hwa Lien menarik selimut tutupi muka biar tak melihat matahari yang mulai perlihatkan wujud genit bersinar keemasan.
"Oya??? Kita tinggalkan dia sendirian di sini! Menurut kabar kalau lagi sepi istana ini suka muncul makhluk berbulu panjang doyan cewek malas." kata Ashura kalem.
"Ashura...kau cari mati ya? Aku ini putri kesayangan kerajaan ini. Siapa lawan aku berarti cari masalah." teriak Hwa Lien bergema di seluruh ruangan kamar.
Ashura tertawa terbahak-bahak. Ashura mana takut ancaman kosong Hwa Lien. Di sini siapa yang lebih berkuasa? Ashura atau Hwa Lien? Coba kalau Ashura boikot gadis itu tak beri pinjaman ponsel jamin gadis itu akan mati berdiri.
"Siapa sedang sakit jiwa teriak di pagi hari?" tiba-tiba muncul suara lelaki bernada bulat bikin hangat hati orang yang dengar suaranya.
Ashura melayangkan ke pintu kamar melihat Fu Yen berjalan masuk ke dalam dengan pakaian bersih dan rapi. Fu Yen tinggalkan pakaian raja yang ribet. Dia berpakaian lebih merakyat sehingga tampak seperti seorang pelajar daripada seorang raja.
__ADS_1
Ketiga dayang istana dingin segera bungkuk beri hormat pada Fu Yen. Ashura juga ikutan bungkuk beri salam hormat untuk jaga wajah Fu Yen sebagai raja. Tak mungkin juga Ashura perlihatkan sikap membangkang di depan para dayang. Ini akan merusak reputasi Fu Yen sebagai raja.
"Tumben pagi sekali datang?" tanya Ashura
Fu Yen melirik Hwa Lien yang kusut di atas tempat tidur. Gadis itu sudah tak bisa lanjut tidur karena penguasa kerajaan sudah hadir di situ. Dia mesti kasih muka pada abangnya walau ada rasa jengkel acara tidurnya terganggu.
"Bukankah kita ada janji?" Fu Yen duduk di bangku kayu dalam kamar Ashura. Mata laki itu meneliti sarapan pagi untuk Shura dan adiknya. Hanya ada roti kukus dan secawan air tahu. Tak ada makanan istimewa seperti dalam istana utama.
Betapa prihatinnya hidup Asyura di istana dingin namun wanita itu tidak pernah mengeluh walau mendapat perlakuan tidak layak. Ashura tetap optimis jalani kehidupan dalam kerajaan ini.
"Kalian cuma makan ini tiap hari?" Fu Yen menunjuk makanan di meja dengan hati sedih. Orang yang dia sayangi hanya konsumsi makanan sangat sederhana. Tetapi apa daya karena perlakuan dari istana utama kepada istana dingin tetaplah begini dari zaman ke zaman.
"Menurut yang mulia gimana?" Ashura balik tanya biar raja tahu kalau dia mendapatkan perlakuan tak adil.
"Bukankah aku sudah minta kamu balik ke istana utama tapi kamu masih juga mau di sini. Tempat ini seperti tempat kutukan takkan pernah dapat cahaya dari istana utama."
Ashura mencibir mitos yang dikarang oleh manusia. Mana ada tempat kutukan kalau bukan niat jahat seseorang hendak mengucilkan penghuni istana ini. Asal terlempar di sini selalu dianggap manusia buangan tak layak hidup normal. Itu semua hanya keinginan sekelompok orang berhati busuk.
"Tempat ini justru damai. Yang terkutuk orang yang niat jahat. Aku rasa. orang bikin peraturan adanya istana dingin itu yang harus kita kutuk. Kami bahagia di sini walau hidup sederhana. Tuh lihat adikmu putri kesayangan bahkan tak mau keluar dari sini!" sahut Ashura tajam mau buka mata Fu Yen kalau dalam istana banyak hal menyimpang.
"Ashura itu betul kanda raja! Sini damai tak ada konflik. Aku betah di sini! Jangan suruh aku balik ke istana yang membosankan! Anggap saja aku ini putri terbuang juga. Cuma aku minta jatah makan kami diperhatikan. Masa tiap hari sayur saja. Lama-lama muka aku bisa seperti kambing." keluh Hwa Lien menjulurkan kaki menginjak lantai untuk bersihkan badan. Badannya keringatan bau asam. Mau jadi apa bila tercium oleh abangnya.
"Dengar tuh permintaan adikmu! Bukan aku yang minta lho!"
"Baiklah! Besok hari ini kalian akan dapat koki seperti tempat lain. Berapa dayang kamu minta?" Fu Yen langsung tanggap hendak menyenangkan Ashura. Tujuannya bukan pada Hwa Lien melainkan Ashura.
Ketiga dayang istana dingin kaget mendengar kalau tempat kerja mereka akan tambah penghuni. Ini akan merusak kedamaian istana ini. Bertambah orang bertambah masalah.
"Oh itu tak perlu! Cukup jatah makanan ditambah. Kami tak perlu orang lain. Kami bisa urus diri sendiri." tolak Ashura tak ingin menambah keruwetan dalam istana dia. Penolakan Ashura melegakan ketiga dayang yang sudah ketar-ketir bakalan ada saingan rebut kasih sayang Ashura. Ashura sangat baik pada mereka bertiga tanpa pilih kasih.
"Yakin?"
Ashura ayunkan kepalanya yang mungil berkali-kali menolak tawaran Fu Yen. Ashura bukan orang bodoh mau masukkan mata-mata dalam istananya. Bisa jadi dayang yang baru adalah orang suruhan ibunda ratu yang tak mau ada saingan untuk Ning Fei. Ibunda ratu tak tahu kalau Ning Fei sedang sekarat.
Asiang dan Alan melayani Hwa Lien berpakaian setelah membersihkan diri. Hwa Lien mana peduli kalau dalam ruangan ada lelaki lain. Laki itu abangnya untuk apa malu-malu.
"Kita jadi pergi?" tanya Fu Yen berambisi besar ingin mengetahui apa yang sedang direncanakan oleh Ashura. Kalau gadis itu sudah bertindak pasti bukan urusan kecil. Ashura sudah berubah banyak untuk kerajaan ini. Membantu dia atasi kelicikan para menteri, membangkitkan semangat bercocok tanam para petani dan kini buat gebrakan baru mengajak kerajaan lawan kerajaan lebih besar.
"Kita tunggu jenderal dan Paman raja. Aku sudah siap memimpin kalian meraih kemenangan." ujar Ashura yakin.
__ADS_1