
Hwa Lien dan Ashura tercengang melihat beberapa pengawal istana sedang memukuli seorang lelaki tua. Ashura tak tahu penyebab lelaki tua itu dipukul namun kelakuan pengawal itu sudah salah. Mereka laki sehat memukuli orang tua itu sudah salah.
Hwa Lien mengeram lihat betapa arogan pengawal istana terhadap rakyat. Seorang pengawal saja berani semena-mena pada rakyat apalagi para pejabat yang tingkatan lebih tinggi.
"Kurang ajar!" desis Hwa Lien sangat marah pada pengawal itu. Hwa Lien ingin sekali menggampar pengawal yang berbuat kejam kepada rakyat. Seharusnya seorang pengawal mengayomi rakyat bukan mengancam rakyat.
Hwa Lien ingin maju memberi pelajaran kepada pengawal itu namun ditahan oleh Ashura. Ashura melihat ada orang berkuasa dalam kereta kuda memberi perintah kepada pengawal untuk memukuli orang tua itu. Ashura ingin tahu siapa orang di balik kereta yang sangat kejam itu. Kereta itu jelas dari dalam istana karena ada lambang kerajaan.
"Itu ada orang besar di dalam! Kita tunggu dulu sampai setan itu perlihatkan wujud." ujar Ashura sambil berbisik.
"Apa mau tunggu bapak itu meninggal baru kita bertindak? Aku tak peduli siapa di dalam kereta. Aku akan hajar dia walaupun dia itu kanda raja. Mana ada raja busuk hati gitu." Hwa Lien menepis tangan Ashura maju hampiri pak tua yang sudah tak berdaya di atas jalan raya.
Ashura belum berani unjuk diri sebelum tahu siapa di balik kereta. Ashura yakin itu bukan raja karena Fu Yen takkan siksa rakyatnya.
"Woi..kalian setan atau manusia!" seru Hwa Lien garang sambil berkacak pinggang menantang para pengawal yang kejam itu.
"Jangan campuri urusan kerajaan! Orang ini telah halangi jalan tuan Puteri maka harus dihukum!" sahut pengawal dengan garang.
"Tuan Puteri? Tuan Puteri gila dari mana memberi perintah pukul rakyat? Pasti orang gila nyamar jadi Puteri!" Hwa Lien semprot para pengawal dengan kalimat tak sedap di kuping. Warga yang lihat keberanian Hwa Lien tepuk tangan salut pada keberanian gadis ini. Belum pernah ada orang berani melawan pengawal kerajaan selama ini. Mungkin Hwa Lien orang pertama buka mulut lawan kekejaman pengawal garang ini.
"Kau cari mati ya?" bentak pengawal tak sangka ada yang berani lawan mereka.
"Mati kok dicari? Dia datang kalau sudah waktunya. Awas kalau kalian siksa rakyat tak berdosa lagi! Aku akan kejar kalian sampai ke lubang tikus!"
Perkataan Hwa Lien memancing tawa warga yang menyaksikan pertikaian Hwa Lien dengan pengawal. Semua angkat topi puji keberanian Hwa Lien menantang maut. Cari masalah dengan kerajaan sama saja cari mati. Hukum penggal bisa saja diturunkan untuk orang lawan pemerintah.
Ashura sendiri tak bisa tahan tawa dengar ocehan Hwa Lien tak gentar hadapi pengawal istana. Dia Puteri istana yang asli yakni adik kandung raja. Siapa berani lawan titah tuan Puteri kerajaan. Pengawal kerajaan bukanlah lawan sulit buat Hwa Lien.
"Siapa begitu kurang ajar berani sebut aku orang gila?" terdengar suara perempuan bernada lembut dari balik kereta.
Hwa Lien bukannya mundur malah berkacak pinggang lebih tinggi sambil membusungkan dada menantang orang gila dalam kereta.
"Aku!!! Kenapa? Tak senang? Silahkan turunkan perintah pukul aku!" koar Hwa Lien menantang orang di balik kereta dengan gagah.
" Oh...senang ya cari perhatian? Apa kau mau mayatmu digantung di gapura pintu gerbang?"
"Wow...aku takut!" ejek Hwa Lien dengan suara sengaja dibuat-buat. Hwa Lien makin buat tingkah mengesalkan orang dalam kereta juga para pengawal yang sok arogan. Andai mereka tahu siapa yang berada di depan mata mereka mungkin akan bunuh diri seketika.
Tak ada sahutan dari dalam melainkan seorang dayang keluar dari dalam disusul bayangan seorang wanita gemulai keluarkan kaki sebelum badan nongol. Dari bentuk sepatu saja sudah menunjukkan orang itu bukan dari kalangan bawah. Sepatu warna pink yang telah di bordir dengan bunga mawar. Cukup halus buatan tangan orang yang sangat ahli membuat membordir itu.
__ADS_1
Ashura menahan nafas karena penasaran dengan orang dibalik kereta kuda itu. Siapa orang itu sampai tidak mengenal Hwa Lien yang sangat terkenal di kerajaan. Hwa Lien juga tak sabar ingin mengetahui siapa wanita di balik kereta kuda ini. Suaranya lemah lembut tapi hatinya sangat kejam. Inilah contoh manusia munafik.
Wanita itu muncul juga. Ashura tak dapat tahan tawa melihat sosok orang yang keluar dari kereta kuda. Di mata Ashura orang itu mirip bintang sinetron salah binatang pelawak semasa muda. Persis tak ada bedanya. Mungkin masih cantik pelawak dibanding orang itu cuma orang itu sangat tinggi semampai. Itulah kemenangan dia sebagai wanita.
Hwa Lien terpingkal-pingkal melihat wanita yang muncul dari balik kereta kuda. Bagi Hwa Lien orang itu tampak aneh dengan dandanan mirip dakocan dijual di kaki lima toko. Pipi dipulas memerah seperti kena tinju Mike Tyson. Alis dibuat segaris mirip cacing sedang istirahat di atas mata. Hidung rada mirip buah jambu monyet sedang mekaran.
Wanita itu tersinggung diketawain oleh Hwa Lien. Amarah yang baru saja naik kontan melejit tinggi dihina oleh Hwa Lien.
"Pukul dia!" kelembutan yang semula hinggap dalam intonasi suara wanita itu berubah seperti suara monster kejepit kalajengking. Melengking pecahkan ketenangan pasar.
Ashura sadar kondisi sudah tidak kondusif segera maju. Hwa Lien mana sanggup lawan para pengawal yang bertubuh tegap. Sekali gampar langsung balik istana cari tabib. Pengawal wanita itu sudah angkat tombak hendak hajar Hwa Lien. Hwa Lien mundur selangkah sedang merogoh kantong untuk perlihatkan plakat dia seorang Puteri kerajaan. Namun Ashura cepat bertindak melindungi Hwa Lien dari pukulan tombak orang-orang kasar itu.
"Berhenti..." seru Ashura membuat pengawal itu berhenti sejenak. Mereka ragu untuk maju karena sadar kedua orang ini pasti bukan sembarangan orang. Hanya orang tertentu berani cari masalah dengan orang kerajaan.
Wanita dakocan itu gusar perintahnya dihentikan oleh gadis muda hampir mirip gadis yang pemberani tadi.
"Siapa kalian berani cari perkara dengan aku? Aku ini calon ratu kerajaan ini! Aku ini Puteri kerajaan Tang!" ujar wanita itu membanggakan statusnya.
Ashura tak bisa sembunyikan rasa kaget lihat siapa wanita itu. Calon ratu masa depan kerajaan ini seperti boneka Jepang belum sepenuhnya berbentuk sempurna. Masih harus dipoles agar tampak wujud aslinya.
"Apa? Calon ratu? Jadi dayang saja kamu belum pantas apalagi jadi ratu. Apa raja sudah katarak tak lihat jelas raut wajahmu?" Hwa Lien keluarkan kata lebih jahat dari tadi. Hwa Lien tak sabaran ingin jatuhkan orang bermental bijak laut itu.
"Bunuh mereka. Gantung mayat mereka di pintu gerbang agar seluruh rakyat tahu akibat melawan aku. Aku ini calon ratu kalian. Mulai saat ini seluruh rakyat harus patuh pada perintah aku!" Wanita itu menunjuk ke seluruh rakyat yang berada dia sekitar kejadian. Wajahnya arogan bikin Hwa Lien dan Ashura mual.
"Orang gila mimpi kelewat tinggi. Siapa berani sentuh aku seujung rambut maka aku akan cabut bulu ketek kalian satu persatu jepitan panas." Hwa Lien maju tak kalah arogan. Hwa Lien merasa harus unjuk gigi biar para pengawal tahu siapa yang harus dilindungi. Puteri kerajaan mereka atau Puteri dari kerajaan seberang yang soknya minta ampun. Dikit-dikit bunuh orang. Memangnya nyawa orang tak berharga samasekali?
"Siapa kalian sombong sekali?"
"Aku?" Hwa Lien menunjuk hidungnya dengan gaya sok. "Aku ini nenek moyang kamu! Jadi sopan dikit sama orang lebih tua. Dan kalian karuang beras! Pulang katakan pada raja kalian agar buka mata lihat perempuan yang mau diangkat jadi ratu. Pembunuh berdarah dingin! Orang begini tak pantas jadi ratu. Jadi algojo kerajaan saja!"
"Kurang ajar! Kalian tunggu apa lagi! Hajar dua pengacau ini! Mereka ingin membunuh tuan Puteri maka harus dihukum mati!" teriak dayang wanita itu punya sifat sami mawon dengan majikan. Sama-sama keji.
Pengawal itu serba salah. Mau maju atau mundur karena lihat Hwa Lien demikian angkuh berani tantang pengawal raja. Hanya orang punya kuku berani lawan pengawal kerajaan.
Hwa Lien mengeluarkan benda sakti dari balik baju lantas segera simpan lagi agar tak jadi pusat perhatian. Para pengawal yang mengenal plakat itu segera mundur tak berani lakukan sesuatu pada Puteri kerajaan mereka. Siapa tak kenal Puteri Hwa Lien yang terkenal keras dan bandel. Menyakiti tuan Puteri sama saja antar nyawa sama malaikat maut secara sukarela.
"Kalau kulihat sekali lagi kalian sakiti rakyat maka akan kuusulkan kalian jadi Kasim semua. Sekarang kalian bawa orang gila ini pergi dari sini sebelum orang cemooh kalian sebagai pembunuh berdarah dingin." Hwa Lien usir para pengawal dari keramaian kota sebelum terjadi hal lebih ekstrim.
"Baik tuan Puteri! Maafkan kami!" para pengawal mengerti maksud Hwa Lien tak mau perpanjang masalah agar tidak jadi tontonan masyarakat ramai.
__ADS_1
"Bagus...kalian digaji bukan untuk menyakiti rakyat tapi untuk jaga rakyat"
Para pengawal menunduk tak berani menantang perkataan Hwa Lien karena mereka memang sudah salah. Tapi mereka juga tidak bisa melawan perintah dari tuan Puteri kerajaan seberang. Raja sudah pesan layani Puteri itu sebaik mungkin.
Ashura menarik nafas lega melihat Hwa Lien mulai tunjukkan sisi baik dari dirinya sebagai seorang yang lahir dari keluarga pemimpin. Hwa Lien pantas menyandang gelar tuan Puteri karena bijaksana. Hwa Lien akan menjadi pemimpin yang baik di kemudian hari.
Ashura beri kode pada Hwa Lien untuk tinggalkan tempat ini sebelum ada laporan sampai ke telinga raja. Mereka kabur dari istana juga merupakan kesalahan tak bisa dimaafkan. Raja muda akan hukum mereka berdua bila tak segera menghilang.
Hwa Lien mengerti lantas membawa pak tua itu pergi dari situ diiringi tatapan penuh dendam oleh wanita berhidung jambu monyet itu. Dia sungguh tak puas ada orang kalahkan dia hanya dalam beberapa kalimat. Puteri ingin cari masalah sampai hati puas maka dia tak biarkan Ashura dan Hwa Lien kabur tanpa kena hajar olehnya.
Wanita mengangkat tangan beri kode kepada pengawal kerajaannya untuk hadang Ashura dan Hwa Lien. Pengawal kerajaan sudah tak berani sentuh Hwa Lien setelah tahu itu tuan Puteri mereka. Para pengawal serba salah terjepit oleh dua Puteri yang sama egois.
Empat pengawal berpakaian preman secara teratur berlari halangi langkah Ashura dan Hwa Lien. Mereka dalam posisi siaga ajak kedua wanita itu berantem. Pedang di tangan terhunus siap tebas kedua wanita itu. Hwa Lien kaget karena ada orang berani usik dia setelah tahu siapa dia.
Ashura kontan melindungi Hwa Lien dan bapak itu. Ashura tak punya senjata untuk lindungi diri. Dan lagi Ashura bukanlah lawan keempat laki bertubuh tegap itu. Ilmu bela diri mereka tentu saja lebih tinggi dari Ashura yang berlatih hanya untuk kesehatan dan pertandingan Wushu.
"Kau berlindungilah Hwa Lien!" bisik Ashura takut Hwa Lien terluka kena tebasan pedang.
"Kau gimana? Aku bisa dikuliti oleh abang aku bila kamu terluka. Mereka sungguh kurang ajar tak hargai aku!
"Kau minta pedang pada pengawal kerajaan kita agar aku punya lindungan."
"Kau bisa main pedang? Ini bukan saatnya bermain!" Hwa Lien kuatir pedang pengawal lukai Ashura. Pedang itu tak punya mata tak bisa lihat siapa yang diserang. Tak tahu itu musuh atau majikan. Dihunuskan berati ada darah.
"Kita usaha saja!"
"Baiklah! Eh..kalian berikan pedang padaku! Kalian ini gentong nasi atau sampah masyarakat? Puteri kalian diserang kalian tinggal diam!" bentak Hwa Lien gemas pada sikap lamban para pengawal kerajaan tak bisa bergerak lindungi majikan sendiri.
Pengawal segera tersadar kalau tuan Puteri mereka dalam bahaya akan dihajar oleh pengawal kerajaan Tang. Mereka berbaris lindungi diri Ashura dan Hwa Lien melawan pengawal kerajaan seberang itu. Keadaan jadi kacau karena pengawal yang tadinya bersatu kini telah saling berhadapan. Perang mini akan berlangsung bila salah satu pihak bergerak duluan. Pedang tak bermata saling terhunus siap mencari darah.
"Hentikan!" terdengar bentakan kasar penuh wibawa. Semua menoleh ke arah suara penuh kharisma tersebut. Seorang lelaki berpakaian bersih dan rapi berjalan dengan gagah ke dalam kancah keributan.
Ashura dan Hwa Lien tertawa senang mendapat bala bantuan. Para pengawal kontan mundur dalam posisi siap di tempat. Siapa mau lawan jenderal kerajaan yang terkenal gagah perkasa.
"Kanda Jenderal...untung kamu datang! Lihat dakocan ini mau bunuh kami!" Hwa Lien merangkul lengan Fu Kuang dengan manja sambil melelet lidah ke arah wanita yang histeris itu. Hawa membunuh sangat kental melekat pada wanita itu.
"Ada apa ini?" Fu Kuang mengitari mata ke sekeliling terakhir jatuh ke wajah tuan Puteri dari negeri seberang itu.
"Orang gila ini perintah orang pukuli bapak ini sampai terluka begini! Katanya dia tuan Puteri tapi akal seperti orang stress. Memalukan ada Puteri seperti orang kanibal." cerita Hwa Lien mengejek Puteri itu tanpa jaga muka orang itu.
__ADS_1
"Bohong...mereka berdua yang cari masalah halangi jalan aku! Aku mana tega berbuat jahat pada orang kecil." Puteri Tang itu bela diri berbohong dengan mulus. Puteri lupa kalau banyak jadi saksi kebrutalan dia.