
Ashura menjadi sosok berharga di mata kasim Du. Calon ratu yang tak sombong. Wanita raja yang lain di sayang raja sedikit saja sudah bertingkah seperti ratu benaran. Angkuh sok berkuasa. Yang ini malah ingin menyatu dengan mereka yang derajat lebih rendah. Tak ada gelagat Ashura memandang rendah semua pelayan di istana.
"Tuan puteri..anda orang baik! Hamba sebagai orang yang sudah lama di sini nasehati agar jangan percaya pada siapapun! Di sini jarang ada orang tulus."
"Terima kasih Kasim Du. Anda kuanggap sebagai orang tuaku yang jauh di mata. Kalau aku ada salah jangan segan tegur ya!"
Mata Kasim Du berbinar dianggap keluarga oleh Ashura. Seumur hidup belum ada orang bersedia menjalin tali keluarga dengannya karena posisinya hanyalah kasim yang hidupnya akan tamat bila raja tak ingin dia lagi. Sisa hidup akan merana tanpa keluarga. Itulah resiko jadi kasim istana.
"Hamba akan perhatikan semua kata Yang Mulia tuan puteri. Terima kasih sudah anggap hamba sebagai orang tua."
"Anggap aku anakmu. Kalau nakal kau harus tegur biar jangan makin salah!"
"Tentu nak! Tentu nak.." mata kasim Du berkaca kaca menahan rasa haru tak terhingga. Kini dia punya keluarga walau hanya sekedar kalimat dari bibir. Di nilai dari sifat Ashura yang selalu tulus pada siapapun. Kasim Du percaya Ashura tak hanya sekedar menghiburnya.
"Terima kasih sudah mau akui aku Kasim Du! Mulai sekarang kau bapakku. Kalau di depan orang aku akan panggil kasim Du. Tapi kalau kita berdua aku akan panggil bapak. Boleh kan?"
Kasim Du cepat cepat mengangguk penuh rasa bahagia. Ingin sekali laki tua ini memeluk anak angkatnya itu. Namun Kasim Du masih belum berani sok akrab mengingat perbedaan status.
Ashura paham niat kasim Du yang buat gerakan gelisah ingin salurkan rasa sayang pada angkat baru. Tanpa malu Ashura maju memeluk Kasim Du duluan.
"Bapak.." panggil Ashura sopan.
Kasim Du membalas pelukan Ashura sambil menangis. Ini adalah hari paling bahagia dalam hidup mendapat seorang anak baik. Seorang puteri lagi. Di mana ada kasim dapat nasib gitu bagus diakui bapak oleh seorang puteri.
"Anak baik..bapak akan lindungi kamu dari semua ancaman bahaya. Sekarang kau istirahat. Nanti bapak akan pantau kamu lagi. Bapak akan tempatkan beberapa pengawal sesuai keinginanmu."
"Ya..bapak juga hati hati! Kita berdua hidup dalam lingkaran api yang setiap saat bisa bakar kita."
"Bapak tahu..bapak akan balik ke istana. Yang Mulia masih rapat di istana utama. Makan siangmu akan diantar sini."
Ashur mengangguk damai. Kasim Du segera mengundurkan diri melaksanakan tugas harian yakni melayani raja. Tugas yang tak pernah selesai kecuali pensiun.
Ashura menghela nafas kasihan pada nasib kasim baik itu. Semoga kasim Du tulus sayang padanya. Paling tidak kini Ashura sudah punya kawan yang bisa diajak bicara habiskan rasa jenuh.
Tanpa biarkan diri terlalu lama melamun nasib. Ashura memilih masuk kamar barunya. Keheningan terasa sekali karena istana ini benar benar tanpa penghuni lain.
Dekorasi kamar nyaris sama seperti kamar umumnya. Tak ada yang terlalu istimewa. Tempat tidur, meja makan, meja kerja dan beberapa ornamen hiasan lengkapi kekosongan kamar ini. Ashura merasa tak perlu keberatan dengan semua keederhanaa ini. Yang penting misinya cepat kelar. Liem dan Hastomo masih menunggunya di dimensi lain. Kedua orang tuanya pasti sedang menunggu juga. Puteri kesayangan mereka raib tanpa kabar tentu sangat menyakitkan.
Ashura tak mau larut dalam kesedihan yang takkan habis. Lebih dia fokus urus masalah pertanian sesuai keinginan utama dia. Sekarang tinggal tunggu kehadiran Shu Rong bawa bibit dari masa depan. Bibit masa depan jauh baagus dari bibit jaman yang hanya mengandalkan masa tanam sangat panjang.
Andai Ashura bisa majukan pertanian penduduk lokal maka taraf hidup rakyat akan lebih baik. Otomatis negara akan banyak uang putaran. Negara bisa maju asal rakyat hidup layak.
Ashura cari sumber air untuk kehidupannya sehari hari. Bagi Ashur air adalah sumber kehidupan vital. Tanpa fasilitas mewah tak jadi soal asal dapat hidup bersih dan sehat.
Rumah barunya cukup lumayan luas walau sangat sederhana. Keadaan sangat bersih cuma sangat sepi. Ashura tak masalah karena ini yang dia mau agar lebih leluasa bergerak dan berhubungan dengan Shu Rong si hantu cantik.
__ADS_1
Setela lelah berputar sekitar istana Ashura memilih itirahat dalam kamar sambil tunggu makan siang Ashura mendapat satu ruang cukup besar untuk tampung semua bibit dari Shu Rong nanti. Sekarang tinggal usahakan agar jangan ada orang masuk ruang itu. Semua harus rahasia agar rahasia Ashura tak terbongkar.
Sampai tengah hari tak ada yang antar makanan . Ashura sangat lapar namun ditahannya. Di mana janji Kasim Du mau antar makanan untuknya. Kasih sayang kasim Du hanya di mulut saja tanpa ada gerakan yang nyatakan dia memang teringat pada Ashura. Fu Yen gitu juga. Sudah dapatkan apa yang dia mau Ashura dicampakkan di istana lebih parah dari istana dingin.
Saking lapar Ashura tertidur di tempat tidur. Ashura memaki Fu Yen yang melupakannya tertinggal di istana terpencil. Sedih juga kesal kawani Ashura bermimpi di siang hari.
"Bangun nak..ini bapak datang!" suara lembut kasim Du membangunkan dari mimpi buruk siang hari. Perlahan Ashura buka mata harap itu bukan mimpi.
Kasim Du memang nyata berdiri di hadapannya sambil senyum lembut. Ashura cepat cepat bangkit dari tempat tidur harap Kasim Du bawa sesuatu ganjal perutnya yang sedang di demo puluhan cacing.
"Bapak..kenapa lama sekali?"
"Ada sedikit debat rumit di rapat tadi. Yang Mulia raja sedang diserang puluhan pejabat yang tak puas raja pulangkan banyak selir istana juga masalah pajak yang dibebankan pada pejabat. Mereka berontak menolak bayar."
Ashura jadi tertarik pada cerita kasim Du tentang kegigihan pejabat ingin tekan Fu Yen tetap ikuti adat lama simpan puluhan wanita di istana. Pasti ada sesuatu di balik kegigihan para pejabat pertahankan para selir.
"Lalu apa kata Fu Yen?"
"Jenderal Fu Kuang dan paman raja dukung kebijaksanaan Yang Mulia raja. Termasuk beberapa pejabat tapi banyak yang nolak. Yang Mulia sudah tetapkan takkan cabut perintah yang sudah keluar. Selir tetap harus keluar istana. Sekarang kau makan dulu. Bapak teringat padamu tapi tak bisa bergerak menanti sidang selesai!"
Ashura menyesal telah menuduh Kasim Du tak bertanggung jawab padanya. Ternyata ada halangan lain buat orang tua ini tak dapat antar makanan untuknya.
"Terima kasih pak! Terima kasih.." ujar Ashura terbata bata di penuhi rasa sesal tak terhingga.
Kasim Du menepuk tangan Ashura agar jangan merasa bersalah. Wajar Ashura tak bahagia karena siang sudah lewat sangat lama. Perut manja Ashura pasti udah menangis minta diisi.
Ashura mangut dengan mata berbinar. Gadis ini cepat-cepat bantu Kasim Du keluarkan makanan dari rantang kayu yang penuh makanan lezat. Kasim Du benar benar laksanakan tugas sebagai bapak baik bagi anaknya.
Ashura mengawali makan dengan mengambil makanan buat kasim Du sebagai tanda hormat anak pada bapak. Kasim Du perhatikan gerakan Ashura tanpa protes. Kalau di hadapan Fu Yen mana boleh gitu namun ini hanya ada mereka berdua.
Ashura beri penghormatan pada sang bapak sebagai tanda sopan pada orang tua. Kasim Du makan dengan mata berkaca kaca bahagia dapat anak tahu diri dan sopan pula. Mungkin inilah makan siang Kasim Du yang terindah. Makanan terasa lebih nikmat walau dasar makanan itu sama saja dengan makanan sehari hari.
"Enak bapak?"
"Sangat enak..setelah ini bapak akan kembali ke kamar Yang Mulia. Mungkin Yang Mulia ada perintah lain. Bapak kasihan juga pada Yang Mulia dapat tekanan demikian kuat. Semoga dia kuat hadapi semua ini. Kau harus kasih semangat pada beliau ya!"
"Sejak kapan aku bikin ulah? Aku hanya mau fokus cari bibit unggul untuk penduduk agar semua hidup nyaman."
"Bapak percaya padamu. Bapak tak sangka di dalam istana tersimpan sebutir mutiara indah pancarkan cahaya terangi kerajaan ini."
Ashura tersipu malu dipuji Kasim Du. Apa yang dilakukan tak seberapa bila dibanding pengorbanan Shu Rong yang mati muda gara gara orang sirik. Ashura wajib bantu Shu Rong dapatkan keadilan bongkar niat busuk para penjahat.
"Pak..dalam istana banyak trik jahat. Semua berlomba cari posisi tinggi. Segala cara kotor dilakukan demi capai tujuan mereka. Bapak juga harus hati hati terhadap semua rencana kotor para pencri kemegahan."
Kasim Du menghela nafas tahu maksud perkataan Ashura. Bertahun hidup dalam istana apa yang tak diketahui kasim Du namun kasim ini tak punya kuasa ambil tindakan tegas karena tanpa perintah raja dia tak bisa berbuat apapun.
__ADS_1
"Bapak lebih tahu darimu. Rencana Yang Mulia kembalikan para selir adalah jalan tepat. Para pejabat selalu main gila sama para selir. Mereka umbar nafsu bersama para selir muda yang ditinggal mati Yang Mulia raja terdahulu juga pangeran tertua yang juga meninggal."
Ashura mangut mangut maklum mengapa para pejabat menentang pembubaran para selir. Ternyata istana jadi tempat maksiat buat para pejabat hambur ******. Pantas muncul banyak bibit penyakit kelamin.
"Pantas para pejabat tak mau bubarkan harem harem istana. Penyakit kelamin pasti merajalela. Apa bapak pernah dengar para selir ada yang sakit kencing nanah atau gatel-gatel di ********?"
Kasim Du berpikir sejenak ingat ingat siapa yang pernah sakit demikian. Sebagai kasim utama apa yang tak diketahui sang kasim. Semua laporan hatus masuk ke tangannya dulu baru diteruskan ke raja.
"Ada..selir mendiang pangeran semua kena penyakit yang kau maksud. Termasuk Ning Fei. Kata pelayan istana selir Ning Fei kadang ******** selir keluarkan bau busuk seperti binatang mati. Sangat bau..tapi dia sering berobat sampai keluar istana tapi tak sembuh."
"Ya ampun..sudah kena penyakit kelamin masih berani pingin jadi ratu. Yang Mulia raja tak boleh dekati wanita itu kalau tak mau tertular. Penyakit mematikan kalau sudah parah. Coba bapak selidiki siapa lagi kena penyakit ini. Aku akan coba cari obat untuk sembuhkan mereka yang terkena. Jaga Yang Mulia jangan dekati para selir dulu!" Ashura benar benar panik dengar penyakit kelamin sudah mewabah di lingkungan istana.
Anak anak lahir bisa cacat bila hamil dalam keadaan terkena penyakit kelamin. Ashura tak tahu sampai di mana penyebaran penyakit kelamin yang akan merusak masa depan semua oarng yang terkena. Ashura tak dapat bayangkan bagaimana kalau Fu Yen tertular penyakit itu. Bisa bisa kerajaan ini jadi hancur. Ashura harus lebih ketat jaga Fu Yen dalam hal menyalur nafsu lelaki. Bukan Ashura cemburu pada selir lain namun mengingat kesehatan sang raja.
"Bapak harus jaga Yang Mulia raja. Jangan sampai jatuh ke pelukan selir selir yang terkena panyakit kutukan itu."
"Tentu anakku..tugas ini seharusnya ada di tanganmu. Saat ini Yang Mulia raja hanya tertuju padamu. Dia hanya berhubungan denganmu."
"Bapak tahu kalau kami..??"
"Bapak orang tua nak! Kau adalah wanita raja wajar dia lakukan padamu. Pandai pandailah jaga hati Yang Mulia agar dia tak pindah hati."
"Pak..andai seorang laki suka pada kita maka cintanya takkan pindah kecuali cintanya hanya pemanis di mulut. Aku tak mau terlalu mengharap cinta palsu dari Yang Mulia. Cuma aku akan kasih pengertian beliau bahaya penyakit kelamin. Selanjutnya terserah dia."
Kasim Du makin kagum pada cara berpikir Ashura yang sangat deasa walau umur masih muda. Gadis ini benar gadis baik. Selama berada di sisi raja belum pernah dengar Ashura minta ini itu selain minta makan. Wanita lain banyak sekali permintaan demi perkaya diri sendiri.
"Bapak akan jaga Yang Mulia untukmu!"
"Bukan untukku tapi untuk semua penduduk kerajaan ini. Raja sehat, penduduk makmur itulah contoh kerajaan yang kokoh."
Kasim Du angkat jempol puji anak angkat. Kasim Du bangga angkat anak demikian pinter juga baik hati. Tak sia sia hatinya berbunga dapat anak sangat baik.
"Baiklah bapak balik ke tempat raja! Kau jaga diri ya. Nanti malam bapak akan datang hidupkan lilin di kamarmu." Kasim Du tak bisa lama lama berada di tempat Ashura mengingat setiap saat sang raja butuh bantuannya dalam melaksanakan tugas.
Ashura mengantar Kasim Du sampai pintu gerbang istananya. Ashura melihat dua pengawal menjaga di depan pintu gerbang. Wajah kedua orang itu demikian kuyu tak bersemangat. Ashura menduga kedua orang itu pasti kelelahan berdiri sepanjang hari.
Sepergi kasim Du Ashura memandangi kedua pengawalnya sambil menghela nafas. Ashura benar tak tega siksa dua orang yang bertugas melindunginya. Kalau boleh memilih mereka juga tak ingin jadi oarng kecil yang selalu ditindas. Tapi takdir berkata lain tak beri kesempatan mereka berpikir.
"Kalian sudah makan?" tanya Ashura lembut tak mu buat dua orang itu grogi.
"Belum tuan puteri."
"Kalian tentu lapar. Ayo masuk kita makan dulu!"
"Jangan tuan puteri! Kami bertugas menjaga tuang puteri!" sahut salah satu di antara mereka tegas.
__ADS_1
"Aduh kalian ini! Tenaga kalian sudah habis bagaimana mau jaga aku?"