
Chen Yang dan Hwa Lien rebutan ingin main game offline tersebut. Ashura terpaksa ambil ponsel satu lagi agar kedua orang itu tidak saling rebutan. Untunglah Ashura punya dua ponsel pribadi keluaran edisi terbaru. Pusing lihat kedua orang saling rebutan.
"Berhenti..." seru Ashura menengahi kedua orang itu.
Hwa Lien menunda langkah lalu sembunyikan ponsel di balik punggung tanpa hargai orang lebih tua. Di saat begini mana terpikir mana yang lebih tua. Yang penting adalah menguasai benda ajaib ini. Chen Yang melontarkan tatapan bermusuhan pada keponakan bandel itu. Tak ada sopannya terhadap orang tua.
"Ini ada satu lagi! Tak usah rebutan!" Ashura angsurkan satu lagi ponsel warna ungu metalik. Yang ini lebih indah dari ponsel sebelumnya yang warna hitam mati.
Secepat kilat Chen Yang meraih benda itu sebelum didahului Hwa Lien bengal. Bukan tidak mungkin Hwa Lien akan merebut benda itu dan menjadikannya sebagai milik pribadi. Chen Yang tak mau kalah set lawan gadis nakal. Hwa Lien sudah kuasai satu maka yang satu ini harus jadi miliknya. Peduli amat dengan reputasi sebagai seorang pembesar kerajaan. Nama kosong tak bisa menyenangkan hati yang suasananya itu ke itu. Kini Ashura menawarkan pembaharuan tak terjebak dalam zaman kuno melulu. Kapan lagi nikmati kehidupan moderen kalau bukan selagi ada kesempatan.
"Wah...benda ini akan segera tertera nama Chen Yang." ujar Chen Yang mengejek Hwa Lien yang termenung melihat benda di tangan Chen Yang lebih indah dan menarik mata. Mulut Hwa Lien memanjang lima senti ke depan kurang senang dikalahkan oleh paman raja.
"Dasar laki tak punya etika. Tak bisa mengalah pada wanita!" omel Hwa Lien melontarkan lirikan tajam ke arah paman raja. Paman Raja pura-pura tidak mengetahui lirikan keponakannya yang sedang ngambek itu. Permainan lebih menarik ketimbang menjadi om yang baik.
"Bendanya sama cuma beda bentuk saja! Mari sini ku ajar paman raja!" Ashura mendekati Paman raja yang sedang bahagia itu. Ashura bantu aktifkan ponsel yang memang belum dihidupkan untuk hemat batere. Ashura harus pintar menjaga kelangsungan hidup hp karena di sini tak ada listrik untuk cas ulang batere. Masih untung ada Shu Rong mau menerobos waktu hadirkan power bank untuk cas alat canggih Ashura.
Ashura jelaskan satu persatu fungsi gambar yang ada dalam layar ponsel. Nyatanya Chen Yang tidak lemot yang dia sangka, bahkan Chen Yang lebih pintar dari Hwa Lien memahami semua ajaran Gina.
Chen Yang membelai benda pipih itu seolah barang itu adalah barang paling berharga buat dia. Senyum simpul tersungging di bibir lelaki bermata sipit itu. Chen Yang merasa dia terlahir di abad moderen setelah sentuh benda aneh ini.
"Maaf ya! Kalian tak boleh perlihatkan barang ini pada orang lain. Ini akan mengubah sejarah yang sudah ada. Aku datang bukan untuk mengacaukan sejarah tapi untuk menegakkan keadilan." Ashura beri peringatan kepada kedua orang itu agar jangan kebablasan pamer benda ini.
"Kamu tak usah kuatir! Kami akan tutup mulut!" Hwa Lien buat gerak kan kancing mulut rapat-rapat. Ashura berharap Hwa Lien serius jaga rahasia dia.
"Kamu tak usah kuatir Ashura! Kami bukan orang tolol mau mengacaukan kehidupan kamu! Kamu sudah percaya pada kami maka kami takkan khianati kamu. Sekarang katakan ada apa kau panggil aku ke sini? Tak mungkin kamu memanggil aku hanya untuk mengajari aku memainkan benda ini?" Chen Yang ambil tempat duduk di bangku tanpa sandaran. Benda pipih di tangannya sudah menghilang di balik bajunya. Ashura tak tahu kapan laki itu menyembunyikan ponsel dari incaran Hwa Lien.
Ashura mengangguk ingat kalau dia panggil Chen Yang dan Fu Kuang dengan tujuan taklukkan negara Tang yang sangat angkuh dengan kekuatan militernya. Kerajaan itu sudah taklukkan banyak kerajaan kini beralih pada kerajaan mereka dengan cara halus. Menyodorkan Putri mereka untuk membentuk aliansi perdamaian. Perlahan mereka pasti akan menguasai kerajaan ini juga dengan kekuatan Putri mereka yang akan menjadi ratu. Ashura ingin hentikan semuanya sebelum keadaan chaos.
"Aku mau kita perang." ujar Ashura tenang.
Mata Chen Yang kontan melebar. Mata sipit itu memaksa membesar untuk kondisinya rasa kaget mendengar pernyataan Ashura. Kerajaan mereka lumayan kuat namun tak sebanding dengan kekuatan Tang. Kalau berperang mereka pasti akan kalah.
"Kau sehat Ashura?"
__ADS_1
"Aku tahu kalian ragu pada kekuatan sendiri namun kalian lupa aku datang dari masa depan untuk bantu kalian. Kita cuma perlu dua ratus tentara terus terlatih dan berbadan sehat. Aku akan pimpin kalian hancurkan musuh." kata Ashura penuh semangat.
"Tentara mereka ratusan ribu orang! Kita cuma dua ratus? Belum capai batas garis perang kita sudah kalah." sahut Chen Yang mematahkan semangat Ashura yang menggebu. apa yang dikatakan oleh Chen Yang adalah logika. Mana mungkin dua ratus tentara lawan puluhan ribu tentara terlatih milik kerajaan Tang.
Ashura tersenyum tidak kecil hati. Memang sangat tak masuk akal dua ratus tentara lawan puluhan ribu namun Ashura akan andalkan senjata canggih dari masa depan. Ashura akan minta Shu Rong sediakan senjata tank produk zaman moderen. Satu tank saja sudah bisa tundukkan ribuan tentara. Orang zaman ini berperang hanya mengandalkan kekuatan tombak dan pedang. Ashura akan andalkan senjata berisi peluru dan amunisi zaman kekinian. Cuma mereka perlu latihan dulu sebelum bergerak. Fu Kuang akan tetap jadi jenderal perang karena dia lebih tahu strategi perang.
"Kalian lihat dulu senjata aku baru ambil keputusan perang atau tidak. Kalian sediakan tempat agak tersembunyi agar aku bisa letakkan senjata mematikan tanpa diketahui orang lain."
Chen Yang dilanda dilema antara percaya dan tidak kepada Ashura. Kalau dilihat dari riwayat Ashura yang luar biasa bisa jadi Ashura bukan sedang karang cerita bohong. Namun Chen Yang tak bisa ambil keputusan karena jenderal perang adalah Fu Kuang. Dia yang bisa ambil keputusan maju perang atau bertahan di bawah tekanan Tang.
"Kita diskusi dengan Fu Kuang dulu! Biar dia yang tentukan perang atau tidak." Chen Yang takut salah langkah karena itu bukan bidangnya. Soal pemerintahan dia masih ngerti sedikit namun bila diajak ke Medan perang dia tak tahu apa-apa.
Hwa Lien tidak tertarik pada obrolan Ashura dan Chen Yang. Dia lebih tertarik pada permainan dalam ponsel. Itu lebih menarik daripada bincangan masalah perang.
Baru saja mereka sebut nama sang jenderal tiba-tiba Fu Kuang datang. Lelaki tetap gagah tanpa baju perang. Aura Fu Kuang memang terakhir sebagai jenderal di Medan perang. Wibawa Fu Kuang tidak terlawan oleh kepintaran Chen Yang. Ashura tetap kagum pada Fu Kuang sebagai lelaki berkharisma. Sebenarnya Fu Kuang lebih cocok jadi raja ketimbang Fu Yen yang selalu plin plan ambil keputusan. Tapi Fu Yen terakhir sebagai putra mahkota maka dia tak bisa ngelak tugas sebagai raja. Masih untung tak ada perebutan kekuasaan seperti dalam cerita di film. Fu Yen dan Fu Kuang saling dukung membangun kerajaan ini.
"Ada apa dengan aku?" Fu Kuang melangkah masuk ke ruang Ashura dengan langkah kokoh. Ketiga orang dalam ruangan segera menoleh ke arah suara bas bikin hati cewek meleleh.
"Jenderal sudah datang! Silahkan duduk!" Ashura menyambut Fu Kuang dengan gembira. Orang yang dia harapkan datang sudah lengkap berarti acara diskusi bisa segera dimulai.
"Ada acara apa kalian?" Fu Kuang menatap paman raja yang diam saja tak berkutik begitu Chen Yang datang. Chen Yang memang segan pada Fu Kuang yang terkenal tegas pada siapapun.
"Kami sedang diskusi mau perang lawan kerajaan Tang!" ujar Ashura kalem bikin Fu Kuang tersentak. Betapa besar nyali Ashura berani ajak mereka berperang lawan kerajaan yang sangat terkenal armada perang.
"Nona kecil...tak usah bermimpi terlalu muluk! Berapa biaya kita harus perang lagi? Negara kita sedang dilanda berbagai bencana mana mungkin keluarkan dana sangat besar lagi untuk perang."
"Aku yang akan pimpin perang dengan peralatan canggih. Mungkin jenderal harus kenal siapa aku! Mungkin paman raja bisa jelaskan siapa aku ini! Aku capek bila harus rus ulang cerita sama berulang-ulang."
Chen Yang mengangguk terima tugas menjadi penerang status Ashura yang sesungguhnya. Chen Yang dengan senang hati menceritakan asal usul Ashura agar Fu Kuang tahu dari mana Ashura. Chen Yang mendehem beberapa kali untuk legakan kerongkongan sebab akan diajak bercerita panjang lebar. Fu Kuang menunggu suara pamannya dengan seksama sementara Ashur pilih bergabung dengan Hwa Lien yang tenggelam dalam game.
"Ashura bukanlah Puteri Shu Rong yang asli. Puteri Shu Rong yang asli sudah meninggal. Ashura seberang ke sini untuk cari kebenaran kematian Puteri Shu Rong. Ashura datang dari ribuan tahun mendatang untuk bantu kita."
Fu Kuang melongo tak percaya pada cerita paman raja. Fu Kuang anggap paman raja sedang berkhayal tentang kehidupan masa depan sampai muncul karangan tak masuk akal ini. Ashura jelas-jelas gadis muda dari kerajaan Chau mengapa berubah jadi gadis dari masa depan. Dongeng pengantar tidur yang indah.
__ADS_1
"Paman raja tak perlu karang cerita untuk bantu kedua gadis konyol ini! Aku maklumi segala kenakalan mereka! Aku tak marah kok mereka bikin ulah di pasar!"
Chen Yang sudah tahu kalau Fu Kuang takkan gampang percaya pada ceritanya. Fu Kuang tentu saja perlu bukti untuk yakin bahwa Ashura bukan milik masa mereka melainkan masa depan. Dengan berat hati Chen Yang keluarkan ponsel milik Ashura yang kini telah pindah tangan. Chen Yang meletakkan benda itu di atas meja agar Fu Kuang melihat lebih jelas benda ajaib ini.
"Ini milik Ashura! Benda dari masa depan! Sekarang benda ini jadi milik aku! Kita tak perlu dilukis untuk dapat gambar! Di sini kita bisa merekam semua kegiatan kita lalu main permainan masa depan." Chen Yang menerangkan cara kerja benda aneh di mata Fu Kuang.
Fu Kuang menatap benda itu silih ganti dengan Ashura yang sedang bercanda dengan Hwa Lien tak jauh dari tempat Chen Yang dan Fu Kuang duduk. Sesungguhnya Fu Kuang belum percaya cerita Chen Yang namun paman raja bisa buktikan perkataannya dengan hadirkan benda masa depan yang aneh.
Tangan Fu Kuang bergerak menyentuh barang di atas meja dengan hati-hati takut benda itu akan mengeluarkan sesuatu yang bahayakan jiwa. Sebelum tangan Fu Kuang berada di atas benda itu tangan Paman raja duluan menyambar ponsel Ashura.
"Aku akan perlihatkan cara kerjanya. Benda ini milik aku!" Chen Yang menyentuh layar agar aktif. Seketika warna cerah layar ponsel menyilau mata Fu Kuang tampak bodoh.
Fu Kuang harus percaya setelah saksikan keajaiban benda ini. Betapa indah warna layar ponsel Ashura. Gambar bunga mawar dipadu dengan kupu-kupu kecil di sekeliling bunga. Itu hanya gambar namun seperti gambar betulan.
Chen Yang tak biarkan Fu Kuang terpana lebih lama. Paman raja ajak Fu Kuang selfie di depan kamera. Paman raja yang sudah ngerti cara pakai ponsel dengan enteng bergaya biar tampak lebih imut. Dasar Chen Yang ada bakat jadi banci kalengan maka klop gaya kebancian.
Fu Kuang agak kaget ada cahaya lampu flash berkelebat di depan mata. Fu Kuang menutup mata tak tahan cahaya yang datang secara mendadak. Jantung Fu Kuang nyaris copot diajak kenalan dengan benda aneh ini.
Chen Yang malah tertawa ngakak senang bisa permainkan Jenderal yang terkenal galak.
"Lihat ini! Ya ampun ternyata kamu jelek difoto. Seperti orang ngantuk." Chen Yang perlihatkan hasil jepretan kepada Fu Kuang.
Dalam layar kaca ponsel Fu Kuang memang tampak seperti orang bodoh memejamkan mata dibarengi ekspresi kaget. Di samping Chen Yang tampak rilex dan ganteng.
"Ini kita?" tanya Fu Kuang menyentuh gambar di layar. Disentuh oleh Fu Kuang gambar menghilang seketika. Gambar telah kembali ke posisi ambil gambar. Fu Kuang tampak kecewa fotonya menghilang.
"Iya kita...kita ambil foto lagi! Yang santai biar tampak ganteng." Chen Yang ulangi lagi jepret. Fu Kuang mulai ngerti pasang wajah kaku seorang jenderal. Tak ada senyum apalagi berpose ceria seperti paman raja.
Jepretan kali ini lebih baik walau tetap kurang menarik soalnya Fu Kuang masih kaku. Melihat fotonya masih ada Fu Kuang mulai tertarik pada peradaban Ashura.
Mau tak mau Fu Kuang harus percaya kalau Ashura bukan manusia zaman mereka. Dari awal Fu Kuang juga heran kepintaran Ashura merakit senjata dan kenderaan. Kini keheranan Fu Kuang sudah terjawab.
"Aku percaya! Paman dan Hwa Lien sudah tahu dari awal Ashura bukan datang dari kerajaan Chau?"
__ADS_1
"Aku paling duluan tahu barulah Hwa Lien. Kini Ashura mau ajak kita taklukkan Tang. Aku sangat ragu tapi Ashura yakin mampu lawan mereka dengan dua ratus pasukan. Aku kurang yakin."