CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Kabur


__ADS_3

Fu Yen cepat cepat berpakaian setelah kasim Du pergi. Fu Yen tak dapat melanjutkan ritual panas di pagi hari mengingat adiknya ada di istana. Adiknya bisa saja datang setiap saat. Hari masih panjang untuk meraih cinta Ashura.


Fu Yen segera keluar begitu selesai berpakaian. Fu Yen mau kasih kesempatan pada Ashura untuk berbenah. Gadis ini pasti malu bertemu dengannya saat ini. Fu Yen maklumi perasaan malu Ashura.


Ashura yang masih bergulung dalam selimut malu buka main terlena dalam permainan Fu Yen. Laki itu sangat berpengalaman hadapi gadis muda macam Ashura. Ashura yang masih lugu cepat terpesona oleh cara Fu Yen merayunya di tempat tidur. Sungguh memalukan jatuh pada rayuan maut Fu Yen padahal Ashura matian menolak jadi wanita raja.


Ashura segera berpakaian lalu kembali ke kamarnya cari Ayin. Pelayan setia itu sudah menanti Ashura di depan pintu kamar. Pelayan ini pasti mengira Ashura masih tidur dalam kamar sendiri.


"Tuan puteri.." sapa Ayin begitu melihat Ashura muncul dengan wajah pucat. Pelayan ini bertanya tanya dalam hati apa yang telah terjadi pada majikannya itu. Sesuatu tak menyenangkan pasti sedang terjadi.


"Aku mau mandi. Sediakan air mandi. Lalu berberes kita kembali ke istana kita."


"Tapi Yang Mulia tak ijinkan kita keluar istana ini."


"Kita harus keluar dari sini. Panggil Amuk siap siap balik istana dingin. Kita keluar dari pintu belakang agar raja tak tahu."


"Apa ini bukan cari mati lawan perintah Yang Mulia raja?"


"Cerewet..ayo cepat! Sekalian cari sarapan dan bawa bahan makanan buat kita makan siang nanti."


Ayin tak dapat berbuat apa apa melawan perintah Ashura. Dia sebagai pelayan tak dapat berbuat apapun selain patuh walau tahu sangat beresiko melawan semua amanah raja.


Ketiganya bergerak cepat mumpung sang raja sedang tak pantau semua kegiatan mereka. Mereka kabur melalui pintu belakang yang jarang dipantau karena agak terbelakang juga agak semak.


Sebenarnya Ashura hanya menduga adanya pintu belakang. Di mana persis letak pintu belakang Ashura juga tak tahu. Dalam cerita sinetron China selalu ada pintu kecil untuk pelayan keluar masuk antar bahan dapur juga kayu bakar.


Tak disangka Amuk tahu tempat tersembunyi itu maka mereka dapat kabur dengan aman. Mereka jalan menyusuri jalan setapak yang jauh dari keramaian. Jalan yang jarang dilalui orang.


Tak lama mereka tiba di rumah yang sepi tak berpenghuni. Aroma seram menyeruak bikin buku kuduk berdiri begitu berhadapan sengan pintu gerbang istana dingin. Pantas disebut istana dingin karena suasananya memang angker dan dingin.


Ashura memandang pintu gerbang dengan hati lega. Akhirnya dia bisa bebas hirup udara segar tanpa tekanan sang raja. Masih banyak yang ingin Ashura lakukan sebelum kembali ke alamnya. Ashura bertekad bantu para petani kembangkan cara bercocok tanam sempurna. Tak perlu pindah pindah ladang cari tanah subur lagi.


"Ayok kita masuk dan gotong royong bersihkan istana tercinta kita!" Ashura kasih semangat pada kedua abdinya.


"Siap tuan puteri!"


Ashura tersenyum melihat kedua abdinya semangat tanggapi himbauannya. Tanpa ragu mereka langsung beraktifitas bersihkan istana yang sangat berdebu karena ditinggal berhari hari.


Ashura turun tangan bantu Ayin dan Amuk walau dilarang kedua orang itu. Mereka segan melihat seorang puteri raja turut kerja bakti bersihkan istana. Seorang puteri sangat dihormati serta dihargai mana boleh kerja berat. Namun Ashura lain. Tak sedikitpun sombong nyatakan dia puteri raja. Orang sederhana juga rendah hati.


Ayin dan Amuk bahagia dapat majikan sebaik Ashura. Penuh pengertian dan pinter.


Menjelang malam semua bersih dan segar. Mulai ada tampak kehidupan di istana dingin. Suasana tak seseram waktu pertama kali masuk. Malahan suasana sangat tenang damai.


Ayin dan Amuk juga senang bisa kembali hidup tenang di istana tenang ini walau orang bilang istana hantu. Bagi mereka itu hanya rumor untuk jelekkan penghuni istana dingin.


Ashura memilih istirahat dalan kamar setelah seharian melakukan kegiatan melelahkan. Pinggang terasa mau patah bekerja terlalu keras. Untunglah proyek Fu Kuang buat saluran air di istananya cukup sukses. Air bisa mengalir baik walau tak sempurna. Ashura akan cari jalan agar ke depan saluran sederhana ini akan dibuat lebih baik lagi.


Ayin dan Amuk duduk santai di depan teras kamar Ashura nikmati angin malam. Suasana demikian romantis buat sepasang anak manusia yang sedang dimabuk asmara.


Ayin malu malu kucing duduk bersama Amuk menatap kekelaman malam. Langit musim panas dipenuhi bintang bintang kecil kelap kelip goda hati yang terpanah panah asmara.


Ketenangan mereka terkoyak oleh gedoran kasar pintu gerbang. Ayin dan Amuk saling berpandangan ketakutan kalau kalau ada orang ingin celakai puteri mereka lagi. Pengalaman kehilangan puteri bikin keduanya trauma pelayan setia itu.


"Lapor sama tuan puteri dulu!" bisik Ayin pelan takut di dengar orang dari luar.

__ADS_1


"Kamu saja pergi. Aku berjaga di sini." balas Amuk berbisik lembut di dekat telinga gadis pujaannya. Ayin tersipu malu merasakan hawa hangat nafas Amuk. Jantungnya berpacu cepat menahan rasa aneh menjalar seluruh badan.


Amuk tersenyum bisa rasakan gerakan aneh Ayin terhadap pendekatannya. Amuk yakin Ayin juga suka padanya. Cintanya tak bertepuk sebelah tangan.


"Aku pergi. Hati hati ya!" Ayin segera masuk kamar Ashura melapor ada orang sedang gedor pintu gerbang mereka.


Sementara gedoran makin kencang pecahkan keheningan malam. Amuk makin takut hadapi kenyataan lebih buruk. Bagaimana kalau yang datang penjahat ingin culik sang puteri. Nyawa mereka pasti akan terancam gara gara kebusukan orang yang tak suka pada puteri Shu Rong.


"Buka pintu atau istana ini akan kubakar malam ini." terdengar suara bas yang keras tak bersahabat.


Lutut Amuk langsung lemas karena kenal pemilik suara yang terkenal keras. Sang raja datang sendiri jeput calon ratunya yang kabur dari pengawasan sang raja.


Amuk segera buka pintu gerbang mengingat masih ada orang harus diselamatkan. Andai dia bersikeras tak mau buka pintu sang raja murka maka yang kena imbas tetap dia dan Ayin. Sang raja mana tega hukum gadis pujaannya.


Fu Yen duduk di atas pelana kuda memancarkan amarah bak gunung berapi sedang bergejolak hendak semburkan lahar panas.


Amuk cepat cepat berlutut mohon ampun sebelum disemprot sang penguasa negara.


"Maaf Yang Mulia...hamba tak tahu kalau yang datang Yang Mulia. Hamba kira yang datang penjahat hendak ganggu tuan puteri kami."


"Sudah tahu puteri kalian diincar orang mengapa berani kamu bawa dia keluar istana? Mau cari mati ya!"


"Tuan puteri hanya mau lihat kondisi istana yang sudah lama ditinggal. Rencana besok kami akan balik istana Yang Mulia." Amuk berusaha berkilah.


Fu Yen turun dari kuda berjalan menuju ke kamar terbesar di istana ini. Tak usah dibilang Fu Yen tahu itu kamar Ashura. Pembelaan Amuk hanyalah kiasan untuk bela Ashura. Kedua pelayan itu tak dapat disalahkan karena mereka hanya abdi yag ikuti semua perintah majikan.


Kamar Ashura sepi bahkan cahaya penerangan juga minim pertanda pemilik kamar sudh lelap terbuai mimpi.


Ayin yang melihat raja segera bersujud minta ampun ikut keluar istana bersama Ashura padahal Fu Yen wanti wanti Ayin jangan bawa Ashura ke manapun tanpa perintah dia.


"Kau tak sayang kepalamu?" tegur Fu Yen tegas pada Ayin.


Amuk hanya bisa diam tak tahu harus bagaimana bela Ayin gadis yang dia cintai. Fu Yen sedang marah sulit dikendalikan. Bagaimanapun Fu Yen seorang raja, perintahnya diabaikan pasti membangkitkan amarah beliau.


"Kalian semua undur diri. Jangan ada yang boleh masuk kamar ini!"


"Siap Yang Mulia!" Ayin segera angkat kaki dar depan pintu kamar Ashura.


Fu Yen membuka pintu kamar Ashura mencari sosok pembangkang yang bikin hatinya remuk. Sepulang dari istana utama Fu Yen tak menemukan gadisnya maka dia langsung panik. Padahal Fu Yen sedang pusing oleh masalah kerajaan yang melibatkan puluhan pejabat istana.


Fu Yen mengharap Ashura bisa tenangkan hati sesampai di istana. Namun sayang gadis yang telah merebut seluruh hatinya minggat tanpa permisi. Amarah Fu Yen kontan memuncak naik ke otak. Ingin rasanya Fu Yen cincang para pengawal yang tak becus kawal sang puteri.


Fu Yen tahu Ashura pasti balik ke istananya karena gadis ini sudah berkali minta ijin balik istana dingin.


Kini Fu Yen sudah berdiri di dalam kamar Ashura. Cahaya remang remang dalam kamar tak mampu hilangkan bayangan seorang wanita cantik di atas tempat tidur.


Hati Fu Yen lega melihat wanita yang dia cintai berada aman di tempat tidur. Amarah Fu Yen kontan reda setelah jumpa penawar lara ada di depan mata.


Fu Yen membuka pakaiannya ikut naik tempat tidur tak peduli penolakan sang puteri. Fu Yen rindu sekali walau terpisah belum sehari.


Fu Yen memeluk Ashura dari belakang sambil rasakan kedamaian nyata berada dalam kehangatan tubuh gadis tercinta.


"Kenapa kabur dariku?" bisik Fu Yen lembut di kuping gadisnya.


Ashura yang pura pura tidur tak mau menjawab. Lebih baik tak jawab daripada panjang proses hukuman. Sang raja mana mungkin tak hukum Ashura yang berani membangkang.

__ADS_1


"Tak mau jawab? Baiklah! Artinya ini adalah salah Ayin dan Amuk ajak kamu keluar istana. Besok fajar adala waktu tepat laksanakan hukuman pancung."


Deq jantung Ashura nyaris berhenti dengar hukuman buat kedua abdinya. Fu Yen selalu ancam Ashura pakai kedua abdinya. Fu Yen tahu Ashur sangat peduli pada nasib kedua abdinya itu.


"Aku jawab.." Ashura balik badan menghadap Fu Yen yang ingin tertawa terbahak. Ternyata lagu lamanya masih mampu goncang pertahanan Ashura.


Kini wajah Ashura berhadapan dengan wajah sang raja. Dekat sekali nyaris lengket. Fu Yen perhatikan bibir mungil yang rasanya legit. Ingin sekali Fu Yen ******* bibir mungil itu untuk beri tahu kalau di hati raja ada gadis bernama Shu Rong.


"Mau jawab apa? Mau jadi buronan raja?"


Ashura gigit bibir merasa grogi berada jarak sangat dekt dengan raja. Fu Yen makin gemas ingin sekali daratkan bibirnya ke bibir ranum Ashura. Namun harga diri seorang raja harus dipertahankan di depan gadis bengal macam Ashura.


"Hamba ingin sendiri maka pulang sini. Hamba malu."


"Malu sama siapa? Sekarang kau tak malu?"


"Malu..Yang Mulia demikian berharga tak boleh bersanding sama hamba yang puteri buangan istana dingin. Masih banyak wanita lebih mulia berhak di sisi Yang Mulia."


"Itukah alasanmu kabur dariku? Ke ujung dunia akan kukejar kamu. Kau adalah milikku. Tak seorangpun boleh sentuh kamu selain aku."


"Hamba takut bersama Yang Mulia. Hamba takut kejadian pagi tadi terulang lagi." sahut Ashura jujur tak mau sembunyikan perasaan sebenarnya.


"Kenapa? Kau tak suka padaku? Padahal tadi pagi kau begitu menikmati sentuhanku. Kenapa kau tak jujur pada diri sendiri kau juga tertarik padaku?"


"Hamba masih belum sadar tidur pagi tadi..terbawa suasana romantis pagi. Hamba tak bermaksud goda Yang Mulia."


"Oh..gimana kita coba sekali lagi? Ini sudah malam..kamu sadar sepenuhnya." goda Fu Yen bikin Ashura makin ketakutan.


"Hamba ngantuk..hamba mau tidur." Ashura menarik selimut tutupi wajah rona merah menjalar di pipi.


Fu Yen menarik selimut Ashura tak biarkan gadisnya bikin alasan tak masuk akal lagi. Fu Yen ingin kasih pelajaran pada Ashura agar kelak tak kabur darinya lagi. Fu Yen merasa semangat hidup hilang setelah tahu gadisnya kabur.


"Kau selalu mengelak bila diajak bicara. Aku ini suamimu! Kau adalah selirku. Suka tak suka kau adalah wanitaku."


"Hamba mau tidur."


"Tidurlah! Tapi beri aku ucapan selamat malam."


"Selamat malam Yang Mulia."


"Pakai bibirmu. Cium aku sebagai hukuman pelarian yang nakal."


Ashura mencibir tak mau beri bibirnya sebagai alat hukuman. Enak saja minta dicium. Memangnya bibirnya barang umum bisa ditawar sebagai ganti hukuman.


"Bibirku lagi sakit." kilah Ashura main akal lagi.


"Sini biar kuobati!" Fu Yen meraih kepala Ashura langsung dekatkan ke bibirnya. Tanpa siakan kesempatan Fu Yen ***** bibir yang dari tadi dia incar.


Begitu dapat kesempatan emas mana mungkin dia siakan. Fu Yen memasukkan lidahnya dalam rongga mulut Ashura mencari keberadaan lidah gadis ini. Hawa segar dari mulut Ashura yang rajin sikat gigi membuat Fu Yen makin betah berada posisi kuasai bibir Ashura.


Ntah berapa lama Fu Yen mencium Ashura hingga gadis ini merasa kurang oksigen. Fu Yen lepaskan bibir Ashura sambil tersenyum. Nikmat sekali kulum bibir mungil nan indah itu.


"Kau sangat manis..aku suka bibirmu. Jual padaku ya!" olok Fu Yen bikin Ashura tersipu malu. Ashura kalah lagi terhadap pesona raja. Mulut menolak raja namun hati menerima. Apa mungkin Ashura juga mulai suka pada Fu Yen?


"Yang Mulia.." desis Ashura malu.

__ADS_1


"Kau tahu aku suka sekali padamu. Seumur hidupku baru kali ini tergila pada wanita. Kau seperti darah yang mengalir di seluruh tubuhku."


"Gombal..hamba mau tidur. Besok hamba akan balik istana raja. Malam ini biar hamba tidur sini. Yang Mulia silahkan kembali ke istana. Tak baik seorang raja tinggalkan istana sendiri."


__ADS_2