CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Hujan Lebat


__ADS_3

Pesona Ashura terlalu kuat untuk dilawan. Chen Yang seperti jumpa bidadari dari surga dalam bentuk lelaki cantik. Chen Yang terpesona sampai tak mampu mengatakan apapun. Ashura goyang goyangkan tangan di depan mata Chen Yang agar laki itu sadar kembali ke alam nyata.


"Saudara Chen Yang???"


"Oh maaf..mari kuantar ke rumah gubenur.!" Chen Yang mempersilah Ashura jalan duluan. Harum semerbak dari badan Ashura makin ganggu alam sadar laki perlente itu.


"Terima kasih." tanpa ragu Ashura maju ke depan dengan gagah berani. Chen Yang ikut dari belakang bersama dua pengawal pribadinya.


Ashura melihat semua orang kaya di jaman ini memilki pengawal ke manapun pergi. Apa keamanan di jaman ini sangat tipis? Seharusnya orang jaman lebih baik dan lugu. Untuk berbuat jahat masih belum seekstrem orang jaman moderen.


Sesampai di depan rumah gubenur sudah ramai penduduk menanti pembagian makanan. Ashura melihat Fu Yen berdiri tak jauh dari tempat pembagian makanan ditemani seorang laki berumur berjenggot kambing. Ini biang gorilla kurang ajar rutuk Ashura dalam hati. Punya anak kayak setan vampire bangkit dari kuburan isap sari gadis muda.


Ashura bersyukur Fu Yen berani tegas pada gubenur yang pura pura bodoh tak tahu penderitaan rakyat. Untunglah Fu Yen turun tangan sendiri urus bencana alam ini.


Ashura melihat Alun berdiri di samping raja sambil memainkan mata pantau keadaan sekeliling cari tahu adanya bahaya yang bisa mengancam keselamatan raja. Ashura melambai pada Alun mengharap pengawal itu melihatnya.


Benar saja mata elang Alun menangkap bayangan Ashura. Alun membisikkan sesuatu pada raja. Fu Yen mengarahkan pada Ashura dengan tatapan mengancam.


Tatapan itu berbahaya. Silap silap kepala berpindah dari leher. Ashura sudah ngerti itu signal Ashura harus bergabung dengan sang raja.


"Saudara Chen Yang. Aku minta ijin dulu. Majikanku sudah menungguku. Jumpa lagi." Ashura membungkuk sopan sebelum meninggalkan Chen Yang di lapangan rumah gubenur.


Chen Yang mengangguk maklum. Ashura menyelinap dari kerumunan menuju ke tempat sang raja. Ashura sudah persiapkan mental dimarahi sama majikan arogannya. Apalagi dalam suasana perang dingin. Fu Yen mungkin saja makin persulit dia.


Susah payah Ashura sampai juga di samping raja. Ashura tak mau memandang raja biar tak ada tatapan mengancam jiwa.


"Dari mana kamu ini? Tuanku hampir balik penginapan cari kamu. Katanya kamu mau pimpin ritul hujan." bisik Alun dekat kuping Ashura.


"Jumpa orang ganteng itu! Ngobrol bentar. Sudah beres persiapan acara pemanggilan hujan?" balas Ashura pakai nada rendah.


"Sudah beres..tinggal tunggu pawang hujan sinting."


"Sialan kamu Lun! Segini ganteng dibilang sinting."


"Bukan aku yang bilang tapi majikan kita. Jangan asyik bertengkar sama raja! Nyawamu terancam. Kita orang bawahan mana mampu lawan titah tuanku?"


"Aku tak takut mati asal jangan ganggu kedua abdiku dan kamu! Semua orng akan mati cuma tergantung waktu dan teknik matinya." bisik Ashura santai bikin Alun bergidik. Enak saja omong kematian seperti hendak ke pasar sayur.


"Capek omong sama kamu."

__ADS_1


"Kalian dua sudah selesai ngobrolnya?" terdengar suara Fu Yen tak bersahabat. Ashura dan Alun kontan mati kutu tak berani omong apapun. "Arahkan rakyat ke lapangan untuk ikuti upacara ritual hujan! Semoga ide kambing judes berhasil."


"Kalau tak berhasil apa dipancung?" tanya Ashura ngeri ngeri sedap. Semoga Shu Rong tak main main dalm hal ini. Nyawa Ashura bisa dipertaruhkan kalau gagal.


"Tergantung suasana hatiku dan kelakuanmu! Masih suka melawan artinya sedang gali kuburan untuk beberapa orang." kata Fu Yen tanpa memandang Ashura. '


"Gak asyik..dikit dikit pancung penggal..emang kita semua ternak pake disembelih." rengut Ashura tak peduli Fu Yen mau omong apa.


Alun mencolek Ashura agar diam. Sungguh berbahaya memancing amarah sang raja saat ini. Raja dalam suasana hati sedang tak bagus. Wajah sang raja dingin seperti biasanya padahal sejak kehadiran Ashura di istana Fu Yen tampak lebih manusiawi. Sekarang kembali dingin tak bersahabat.


Fu Yen mengatakan sesuatu pada Gubenur setelah kehadiran Ashura. Fu Yen sudah tak sabar mau tahu apa yang bisa dilakukan gadis konyol ini untuk bantu rakyat.


Gubenur berdiri dari tempat duduknya menghadap ke masyarakat yang sedang mengambil jatah makanan. Ashura melirik gubenur yang kelihatannya tak bahagia dapat tugas langsung dari sang raja. Kalau raja tak turun tangan langsung maka sang gubenur akan pura pura bodoh tak peduli nasib rakyat. Kumpulkan harta sebanyak untuk senangkan anak berotak mesum.


"Wahai rakyatku tercinta. Kita diberi cobaan oleh Tuhan. Muncul bencana kemarau panjang. Yang Mulia Raja kita langsung datang kemari beri bantuan. Kita harus berterima kasih pada Raja kita. Dan pada kesempatan ini Raja kita meminta kita berdoa bersama di lapangan memohon pada Tuhan agar diturunkan hujan. Marilah kita bersama sama menuju ke lapangan untuk berdoa." kata Gubenur dengan lantang.


Kata kata gubenur tentang kehadiran Yang Mulia Raja beri reaksi riuh. Para penduduk langsung bersujud di hadapan Fu Yen ucapakan terima kasih. Berbagai kata kata pujian muncul dari mulut ratusan pasang mulut. Rakyat bangga punya pemimpin penuh cinta. Bukan hanya duduk manis di istana ditemani wanita cantik.


Ashura tersenyum senang Fu Yen dapat pujian. Ini artinya saran Fu Yen terjun ke okasi bencana adalah langkah tepat. Nilai seorang raja akan makin tinggi di mata rakyat. Mereka akan makin cinta pada raja bijaksana.


Fu Yen bersyukur dalam hati ikuti saran Ashura memantau kondisi penduduk. Ini akan memberi kesan baik di hati rakyat. Fu Yen melirik gadis bengalnya yang cengar cengir senang hanyut dalam rasa puas. Mengapa gadis ini tak tertarik padanya padahal posisi sebagai raja mampu beri segala yang diinginkan Ashura. Kenapa gadis ini memilih hidup susah?


Fu Yen, Alun dan Ashura menuju ke lapangan dengan kereta kuda. Rakyat dengan suka rela ikuti kereta raja dari belakang dengan tertib. Semoga kehadiran orang nomor satu di negeri ini mampu antar rakyat hidup lebih baik.


Fu Yen dan Ashura duduk dalam kereta masih tak mau berdamai. Sifat keras Ashura jauh lebih kuat dari perkiraan Fu Yen. Fu Yen mengira Ashura akan menyerah kalau dicuekin tapi ini malah bikin gadis ini makin senang. Wajah tambah berseri pula. Rasanya Fu Yen ingin cubit pipi mulus itu kuat kuat agar Ashura menjerit minta ampun. Fu Yen yakin tak mudah bikin Ashura kapok. Ashura hanya takut abdinya disakiti itulah kelemahan gadis ini. Lain tak ada yang mampu goyahkan nyali gadis ini.


Ashura bosan duduk berdua tanpa ngobrol. Mau ajak raja ngobrol tapi gengsi. Bukan Ashura namanya kalau mau duluan ajak damai. Ashura memilih bersenandung lagu mandarin yang lagi ngehit di jaman atom. Di translate yang berarti Andai Satu Hari Tak Dapat Pertahankan Kamu. Suara Ashura lumayan merdu walau tak semerdu penyanyi asli.


Fu Yen memejamkan mata menghayati lagu alunan suara Ashura. Nada moderen gitu masih asing di kuping Fu Yen. Tapi lagu Ashura cukup menghibur di kala suntuk gini.


Alun yang duduk di luar kereta ikut nikmati suguhan lagu Ashura yang gratis tanpa pungut bayaran. Suara Ashura lumayan merdu untuk hibur hati.


"Lagumu bagus.." Fu Yen keluarkan suara puji lagu Ashura bukan puji suaranya. Ashura mendecak gemas. Capek capek nyanyi yang dipuji hanya lagu bukan orangnya. Tanpa penyanyi apa lagunya bisa bagus? Dasar orang aneh sungut Ashura dalam hati.


"Iya tuanku..lagunya keluar dari perut bumi." sahut Ashura sinis.


"Kalau gitu selain minta hujan aku akan minta perut bumi keluarkan lebih banyak lagu. Toh bumi ini punyaku termasuk seluruh isinya." ujar Fu Yen angkuh. Ashura buang mukan tidak termakan provokasi Fu Yen. Ashura tahu Fu Yen mau sampaikan kalau Ashura termasuk milik sang raja.


"Ke ge eran." rutuk Ashura perlahan. Nyesal juga dia nyanyi menghibur diri sendiri. Ternyata ada pendengar gratis klaim itu lagunya.

__ADS_1


"Mulai sekarang kerjamu kutambah. Setiap hari harus nyanyi untukku."


Ashura besarkan mata menantang Fu Yen. "Dasar apa aku harus nyanyi? Seorang pengawal tak wajib lakukan hal tak masuk kontrak kerja."


"Dasarnya sederhana. Kau sudah diantar ke istanaku untuk jadi wanitaku. Dasar kamu kambing liar melawan terus! Kau adalah punyaku! Ingat itu!"


"Ogah..tapi boleh juga! Sekali nyanyi bayarannya dua ratus tael emas."


"Kau perampok atau gadis istana?" seru Fu Yen mulai tak sabaran hadapi Ashura. Gadis ini keras minta ampun. Namun bikin Fu Yen makin semangat ingin meraih Ashura ke pelukan. Ini tantangan baru bagi raja muda. Ternyata tak semua wanita tergila padanya.


Alun yang di luar tersenyum sendiri. Akhirnya sang raja sendiri akui kalau pengawal Shu adalah seorang gadis. Raut wajah Ashura telah gambarkan kalau gadis itu memang terlahir sebagai seorang gadis. Mata Ashura yang indah bagai telaga bening. Masalahnya sekarang siapa yang mampu dobrak hati Ashura untuk masuk ke dalam jaga hati kecil itu. Orang paling kuasa di kerajaan tak mampu bendung sifat keras Ashura. Apalagi dia yang hanya pengawal kecil. Alun hanya bisa mengharap keajaiban selalu datang bila kita berhati tulus. Cinta itu merdeka bebas singgah ke manapun selama ketulusan berada dalamnya.


Kereta berhenti di lapangan yang sudah ramai. Di tengah lapangan tersedia meja persembahan berisi beberapa macam buah serta kue aneka warna. Ada dupa gede sebagai pengantar persembahan. Ashura beragama Kristen tentu tak begitu ngerti cara persembahan orang penganut agama Buddha. Ashura terpaksa ikuti insting biar orang yakin dia mampu turunkan hujan.


Ashura gemetar juga hadapi oarng banyak. Beban di pundak tidak kecil mengingat semua menaruh harapan padanya. Fu Yen menepuk bahu Ashura kasih semangat agar gadis ini tak grogi. Fu Yen tahu Ashura sedang menanggung beban moral.


"Tak ada yang akan hukum kamu walau gagal. Kita sudah berusaha. Aku hargai niat baikmu. Mari kita ke altar!" Fu Yen menggandeng tangan Ashura melangkah maju ke altar persembahan.


"Terima kasih.." sahut Ashura lega. Kata kata Fu Yen beri spirit baru pada Ashura. Rasa percaya diri muncul makin berkobar.


Ratusan pasang mata ikuti gerak langkah Ashura berlutut di hadapan altar. Suasana jadi hening karena hormati Ashura yang mau jadi sukarelawan berdoa demi rakyat.


Ratusan rakyat ikut bersujud mengikuti langkah Ashura. Fu Yen tak mau kalah ikut beri contoh baik pada rakyat. Sang gubenur tertawa sinis namun tak berani membantah. Kemarau seterik gini mana mungkin turun hujan. Jangan hujan lebat, gerimispun tak bakalan datang di saat ini.


Ashura berdoa dengan segenap ketulusan memohon pada yang kuasa agar bebaskan rakyat dari penderitaan panjang. Sudah cukup lama rakyat menahan lapar dan haus karena cuaca terik. Sudah saatnya rakyat nikmati dikit rasa adem.


Di tengah rasa pesimis tiba tiba angin bertiup kencang dibarengi awan mendung tebal menyelimuti langit. Antara rasa syukur dan kaget menyeruak di hati segenap masyarakat. Terdengar lantunan puji syukur dan ucapan terima kasih bergema dari bibir yang cukup alam hidup derita.


Fu Yen tegakkan kepala menatap langit penuh rasa syukur. Hati Fu Yen bergetar hebat seakan ingin berteriak bahagia bisa melihat rakyat bersuka cita. Ini tak lepas dari niat baik Ashura yang selalu memikirkan nasib rakyat.


Fu Yen melirik Ashura yang masih memejamkan mata memohon pada Yang Maha Kuasa agar secepat mungkin turunkan curahan hujan selebat lebatnya. Gadis misterius penuh keajaiban. Lucu, konyol, keras, manja, cerewet plus pinter semua lengkap pada satu sosok manusia ini. Mungkin Fu Yen tak perlu gadis lain lagi kalau Ashura siap jadi ratunya.


Tetesan air pertama jatuh di tangan Fu Yen. Fu Yen julurkan telapak tangan ingin yakinkan itu memang air dari langit. Setetes demi setetes jatuh mulai basahin bumi. Sorak gempita berkumandang di seluruh lapangan bersuka cita air hujan yang diidamkan akhirnya turun. Penduduk menari nari di tengah lapangan menyambut kehadiran air langit. Tak ada yang mau meghindari curahan air yang makin lama makin lebat.


Ashura merasa matanya panas keluar air. Ntah itu air mata atau air hujan. Itu tak penting lagi. Yang penting adalah hujan benaran udah turun. Mata Ashura berkaca kaca memandangi Fu Yen. Rasa haru melebihi tinggi gunung membuncah di hati.


Ashura akhirnya menangis. Fu Yen segera meraih Ashura ke pelukannya menenangkan gadis ini. Jasa Ashura sangat besar berhasil turunkan hujan untuk rakyat. Rasa dahaga sekian lama akhirnya terbayar.


Ashura menangis tersedu sedu dalam pelukan Fu Yen. Gubenur sendiri merasa terharu juga walau pertama sinis pada Ashura. Ternyata niat bersih Ashura mampu mengetok pintu hati Yang Maha Kuasa. Mau tak mau Gubenur harus beri penghargaan pada Ashura walau telah hajar anaknya. Rasa kesal berubah jadi rasa hormat.

__ADS_1


"Seorang pengawal raja apa pantas nangis seperti anak kecil?" bisik Fu Yen.


__ADS_2