
Hati Fu Yen terhibur sekali bila Ashura mulai dengan tingkah lucunya. Mereka telah lalui berbagai rintangan sampai hari ini. Waktu itu Fu Yen masih mengira Ashura adalah putri negeri tetangga untuk diangkat sebagai pendamping raja. Siapa tahu Ashura gadis turun dari langit membantu dia menyelesaikan semua perkara sulit yang telah dia hadapi bertahun-tahun.
Hujan melarang Ashura meninggalkan sang raja yang sedang galau itu. Ashura ngerti perasaan Sang Raja sedang hancur karena ibu yang dia sayangi selama ini ternyata ular berbisa. Namun Fu Yen tidak bisa berlama-lama larut di dalam kesedihan yang tak berkesudahan ini. Dia harus bangkit melawan konspirasi yang akan menghancurkan kerajaan.
Ashura dan Fu Yen duduk berduaan di dampingi Kasim yang telah kembali bawa kudapan untuk Ashura. Kasim Du ingin sekali ngobrol dengan anak angkatnya yang cukup lama terpisah. Mereka jarang komunikasi beberapa waktu ini. Ashura sibuk urusan diluar istana bersama Hwa Lien sedangkan sang raja direpotkan oleh kehadiran putri kerajaan Tang.
Ashura memandangi kue ala zaman kuno yang dihidangkan Kasim Du. Rasanya tentu tak selezat kue zaman Ashura. Tapi apa Ashura punya pilihan mau makan black forest serta segala jenis chiffon cake. Untuk sementara Ashura harus menahan selera. Kelak kalau ada umur panjang telah kembali ke zamannya barulah Ashura akan balas dendam cicipi segala jenis kue manis.
Fu Yen perhatikan Ashura yang memandangi kue di atas meja dengan tatapan aneh. Fu Yen mau tahu apa yang ada di pikiran Ashura terhadap kue dari Kasim Du. Gadis itu sedang menimbang untuk makan atau akan abaikan niat baik Kasim Du.
"Kenapa? Tak ada selera?" pancing Fu Yen tak sabar melihat Ashura belum bergerak comot kue tersebut.
Ashura tersadar lantas tersenyum kecil. "Aku sedang memikirkan kue yang ada di abad aku. Aku sering beli cemilan untuk makan bila sedang belajar. Kadang ditemani papa dan mama. Waktu yang sangat berbahagia."
"Apa orang tua kamu sayang padamu?"
"Sangat sayang...aku ini putri satu-satunya dalam keluarga. Dan aku punya tetangga yang selalu jaga aku walau kami sering bertengkar. Dia seperti Abang tua buat aku." Ashura mulai teringat pada musuh terindah yang berada di dimensi berbeda. Sedang apa laki itu? Apa mungkin sedang merana memikirkan musuhnya ditelan waktu berbeda.
Fu Yen merasa dadanya sesak digerogoti cemburu maha besar. Ternyata Ashura sudah punya pasangan di zaman lain. Gimana tampang laki itu? Apa segagah dia yang raja? Berbagai dugaan terlintas dalam benak Fu Yen. Yang pasti semua menjurus ke arah iri dan cemburu.
"Apa kerja dia?"
"Mahasiswa maksudku pelajar juga atlet Wushu."
Fu Yen kurang paham namun sok ngerti manggut-manggut kan kepala. Kalau Tuhan izinkan Fu Yen ingin hidup di abad Ashura untuk lihat seberapa maju zaman masa depan. Sayang dia terlahir di abad tak sama.
"Apa kamu bahagia setiap hari?"
"Tentu saja...kedua orang tua aku selalu memanjakan aku. Aku juga tak banyak tingkah bikin malu orang tua. Di zaman kami yang penting saling menghormati tanpa harus merendahkan diri. Di zaman kami tak ada perbedaaan laki wanita. Semua sama punya hak dan kewajiban sama. Yang mulia boleh mulai terapkan tak ada perbedaaan manusia. Semua berdiri di atas kaki sendiri dengan profesi berbeda."
Fu Yen mengangguk setuju. Fu Yen akan belajar dari Ashura untuk capai kerajaan lebih makmur. Sekarang tugas pertama adalah singkirkan semua pejabat koruptor agar rakyat dapat hak setara. Fu Yen masih butuh bantuan Ashura untuk stabilkan kerajaan.
"Aku akan usaha menjadi raja yang baik untuk rakyat. Kau harus ingatkan aku agar jangan tergelincir lagi. Oya...kau mau nginap di sini? Kamarmu masih dibersihkan setiap hari tunggu majikan kembali."
"Hwa Lien menungguku di istana dingin. Lebih baik aku pulang sebelum adikmu penggal kepala aku." gurau Ashura disambut tawa Fu Yen. Ashura sedang menyindirnya suka main penggal bila ada yang lakukan kesalahan.
"Tunggu reda hujan aku akan antar kamu."
__ADS_1
Ashura goyang tangan larang Fu Yen keluar istana. para pejabat akan curiga kalau sang raja sering keluar dari istana. Di saat ini Putri Tang masih berada di sekitaran. Ashura takut sewaktu-waktu tuan putri itu mencari sang raja.
"Yang mulia jangan sering keluyuran. Nanti jadi sorotan. Besok kita jumpa di hutan belakang. Sebelum balik ke istana aku mau lihat kondisi putri Ning Fei. Aku mau lihat apa obatnya sudah habis? Bukankah dia harus keluar istana? Takutnya penyakitnya belum sembuh total bisa bawa akibat buruk."
"Baiklah! Kamu memang gadis mulia. Ning Fei gitu jahat dan kamu memaafkan dia."
"Dia sudah terima karma dia. Aku pergi dulu ya! Yang mulia jaga diri jangan terlena dan sembarangan makan makanan suguhan orang lain. Hanya Kasim Du yang boleh atur menu Yang Mulia Raja." Ashura utarakan rasa kuatir Fu Yen masuk jebakan para pemberontak. Orang di sekeliling Fu Yen rata-rata berakal maling.
"Aku tahu...kamu juga hati-hati jangan gegabah! Aku akan minta beberapa pengawal jaga kamu."
Ashura bangkit dari bangku lalu membungkukkan badan tetap hatur salam walau sangat bertentangan dengan kebiasaan Ashura. Gimanapun Ashura harus jaga muka Fu Yen sebagai raja.
Kasim Du mengikuti Ashura dari belakang antar wanita itu sampai ke kereta kuda yang sudah menanti. Kasim Du sengaja antar Ashura karena sudah kangen ingin ngobrol lebih lama dengan anak angkatnya itu. Kasim berhenti persis di depan kereta kuda menatap Ashura dengan mata sayu.
Hati Ashura tersentuh melihat sang ayah angkat memendam rasa kangen kepadanya. Ashura juga ingin bercerita panjang lebar dan melawak seperti dulu. Sayang kesibukan telah merebut waktu mereka. Ashura benar-benar disibukkan oleh masalah kerajaan.
Ashura menyentuh tangan Kasim Du dengan lembut. Ashura ingin katakan kalau Kasim Du tetap sangat berharga buat dia. Kasim Du membalas sentuhan Ashura dengan mata berkaca-kaca menahan rasa rindu.
"Doakan semua cepat selesai bapak. Nanti kita berkumpul seperti dulu." bisik Ashura pelan tak ingin yang lain dengar hubungan baik mereka.
"Iya nak..kamu jaga diri ya! Bapak tak bisa jaga kamu setiap saat. Hindari kontak fisik dengan ratu karena wanita itu sangat licik." balas Kasim Du tak kalah pelan.
Kasim angguk sambil membantu Ashura naik ke atas kereta kuda. Sebelum masuk ke dalam kereta Ashura sempat beri seulas senyum manis untuk Kasim Du sebagai tanda hormat pada laki tua itu.
Kasim Du melambai tangan memberi kode agar pengawal segera antar anak angkatnya ke tempat selir Ning Fei. Ashura orang bertanggung jawab merawat Ning Fei. Dendam Shu Rong tetap harus dibalas namun bukan dengan cara celakai orang. Ashura harga nyawa semua orang walaupun orang itu bersalah. Biarlah nanti hukum yang akan adili Ning Fei bersama ratu.
Kereta kuda bergerak pelan tinggalkan istana milik Fu Yen. Dua pengawal duduk di depan kereta dan yang lain ikut berjalan dari belakang. Andai saja Fu Kuang sukses rakit sepeda maka kehidupan para pengawal akan lebih nyaman. Mereka tak perlu berlari-lari mengejar sang majikan lagi. Mereka bisa ikut dari belakang naik sepeda.
Istana Ning Fei tidak terlalu jauh dari istana Fu Yen. Ning Fei termasuk salah satu selir andalan maka dia tak boleh tinggal terlalu jauh dari raja. Ning Fei harus hadir setiap dibutuhkan oleh raja. Baik sebagai teman tidur maupun teman berbagi cerita.
Ashura diantar dua pengawal masuk ke dalam istana Ning Fei. Yang lain menunggu di luar berjaga-jaga dari segala kemungkinan. Maklumlah Ashura adalah orang penting bagi Fu Yen. Fu Yen sangat bergantung pada penasehat kerajaan itu.
Ning Fei tampak jauh lebih sehat dari sebelumnya. Wanita itu sudah bisa keluar menyambut Ashura begitu dapat laporan kalau penasehat istana datang berkunjung. Ning Fei belum ngeh siapa sesungguhnya Ashura. Ning Fei hanya tahu kalau Ashura itu orang kepercayaan sang raja.
Ning Fei membungkuk hormat kepada Ashura sebagai salam hormat kepada dewa penolong dia. Ning Fei bersyukur berkat Ashura dia terbebas dari siksaan rasa sakit di daerah vital. Kondisi Ning Fei memang belum sembuh total namun sekarang ajuh lebih baik dari sebelumnya. Ning Fei tentu anggap Ashura sebagai dewa penolong.
"Salam Ashura..."
__ADS_1
Ashura curangi cepat-cepat menolak salam Ning Fei yang berlebihan. Ashura tak tahu kalau Ning Fei merasa berhutang Budi kepada Ashura. Tanpa Ashura dia masih bergelut dengan rasa sakit dan demam sekujur tubuh. Berkat obat yang diberikan oleh Ashura makan selir Ning Fei merasa jauh lebih baik.
"Kau sedang sakit untuk apa keluar dari kamar? Aku datang untuk melihat keadaan kamu. Apa kamu ada merasa lebih sehat?"
Selir Ning Fei mempersilahkan Ashura masuk ke dalam rumah sebelum menjawab pertanyaan wanita muda itu. Selir Ning Fei sama sekali belum mengetahui kalau dewa penolongnya adalah seorang gadis muda yang menyamar sebagai penasehat kerajaan. Selir Ning Fei hanya bisa mengagumi ketampanan penasehat kerajaan yang berlebihan.
Ashura tak enak menolak ajakan selir Ning Fei untuk bertamu ke dalam. Ashura ayunkan langkah melewati pintu masuk ke dalam sekalian ingin mengorek keterangan dari mulut selir itu. Bukan Ashura namanya bila tak gunakan kesempatan untuk mencari tahu apa yang terjadi antara Perdana menteri dengan ibunda ratu.
Ashura mengambil tempat di kursi yang telah disediakan di ruangan tamu sendiri ini. Ashura duduk tegak untuk tunjukkan dia seorang laki gagah walau profilnya lebih mirip cewek. Tak ada salahnya bila berusaha tampil macho walaupun seluruh onderdilnya adalah perabotan cewek.
Selir Ning Fei memberi kode kepada dayang untuk menuangkan teh kepada penasehat yang telah sangat berjasa kepadanya. Mata selir Ning Fei terlihat lebih bersinar setelah kehadiran Ashura di tempatnya. Wajah Ashura yang tampan telah menyejukkan mata selir itu.
"Aku sudah baikan walau masih ada sakit sedikit. Apa obatnya harus diteruskan?"
"Tentu saja... habiskan semua obat biar sembuh total. Sejak saat ini jangan sembarangan berbagi tempat tidur dengan lelaki. Setelah sembuh kau bisa hidup normal dan punya anak. Tapi janji cukup satu lelaki."
Selir Ning Fei mengangguk sendu ingin menarik simpatik Ashura. Selir Ning Fei pikir Ashura bisa beri perhatian lebih setelah dia bebas dari istana. Ning Fei akan kembali ke rumah hidup sebagai putri biasa tanpa embel-embel seorang selir lagi. Ning Fei memang merasa rugi tidak diangkat jadi ratu namun Ning Fei juga tak kalah lega telah terbebas dari segala ikatan yang bikin hidupnya sengsara. Selir ini harus jadi budak Perdana menteri untuk mengantarnya ke kursi ratu.
Sayang semua rencana pupus karena sang raja tak tertarik pada segudang selir. Sang raja sudah memerintahkan kalau semua wanita yang mempunyai tingkatan sebagai selir harus keluar dari istana. Tak ada yang berani membangkang perintah sang raja yang telah mendobrak tradisi kerajaan menyimpan selir sebanyak-banyaknya dalam istana.
Ntah siapa yang bernasib mujur jadi ratu tunggal tanpa saingan merebut cinta sang penguasa.
"Besok akan keluar istana. Apakah kamu akan datang kunjungi aku di rumah?" tanya selir Ning Fei lembut sangat mengharap Ashura mau mengunjunginya walaupun dia tidak berada di istana lagi.
"Tentu saja tuan putri! Aku akan datang bila anda perlu aku. Gimana kelanjutan hubungan dengan perdana menteri? Apa dia akan cari kamu di luar istana?"
"Aku tak tahu tapi kudengar dia sedang sakit juga. Kemarin dia ada minta tabib istana cari obat yang sama dengan obat untukku. Dia malu jumpai kamu maka hanya bisa berobat sama tabib istana. Kudengar *********** mengeluarkan darah dan mulai bau busuk." ujar Ning Fei serius.
"Segitu parah kah? Kalau dibiarkan dia bisa kena infeksi akut dan berujung kematian. Pokoknya mulai sekarang kamu harus menjauhi perdana menteri. Kamu baru saja sembuh sangat rawan untuk tertular lagi maka itu kamu harus hati-hati."
Ning Fei kembali manut perkataan Ashura. Sudah cukup lama perdana menteri tak datang kepadanya mungkin tahu selir Ning Fei sedang sakit bagian vital maka kambing bandot tua itu alihkan perhatian pada wanita lain.
"Dia sudah jarang datang padaku...kudengar beberapa malam ini dia sering bertamu ke ruang putri Tang. Ada apa antara mereka aku tak tahu. Bisa jadi hanya jumpa antar kerajaan bisa juga Perdana menteri habiskan malam bersama putri Tang."
"Bukankah kamu bilang dia sedang sakit? Apa mungkin dia berhubungan badan dengan wanita lagi?" Ashura tak percaya kalau ada laki secabul gitu. Torpedo karatannya sedang di grogoti sejuta kuman namun masih mau diluncurkan. Malang nasib Putri Tang bila melakukan hubungan dengan perdana menteri yang mata keranjang itu.
Hidup putri Tang akan hancur seperti selir Ning Fei. Putri itu sejuta persen akan tertular penyakit menjijikkan itu. Punahlah masa depan putri Tang.
__ADS_1
"Aku tak tahu...aku sudah tak peduli semua itu. Yang penting aku sembuh dan tak ingin terulang sakit begini. Aku tak mau berada di istana lagi yang hanya menjanjikan mimpi kosong."