
"Kita urus hal lebih penting yang mulia raja! Sekarang kita panggil Paman raja dan Jenderal untuk berembuk rencana kita selanjutnya!" Ashura tak beri janji apapun karena memang tak punya jawaban untuk sang raja. Ashura merasa ada yang lebih penting dari sekedar ungkap perasaan.
Kerajaan berada dalam tungku panas siap meleleh mana ada selera bahas soal isi hati. Utamakan yang penting dulu!
"Terserah kalian saja!"
Ashura mengangguk melambai ke arah Hwa Lien cs untuk ikut gabung. Chen Yang dan Fu Kuang yang bergerak sedangkan Hwa Lien terlanjur betah duduk di tempat adem untuk lanjut lawan benda tipis yang dari hari ke hari makin menarik.
Sebenarnya Fu Yen kesal dia adalah orang paling akhir tahu kalau Ashura adalah manusia dari abad lain. Tapi Ashura punya alasan sendiri tutupi hal ini dari raja. Banyak hal memaksa Ashura tak boleh terus terang.
Kini keempat orang duduk satu meja untuk ambil langkah pertama melawan perdana menteri yang sudah keluar dari jalur semestinya. Mereka harus tegas copot kekuasaan perdana menteri agar tak bisa berkiprah dalam pemerintahan. Namun semua tergantung kebijakan Fu Yen.
Duduk berempat satu meja saling menatap menunggu salah satu dari mereka akan bicara. Wajah Fu Yen paling tak sedap dipandang merasa diremehkan tak tahu kalau gadis yang selama ini dampingi dia bukanlah selirnya melainkan orang nyasar dari abad berbeda.
"Sekarang katakan apa rencana kalian? Aku ini sudah bodoh tak bisa apa-apa lagi! Kalian semua sudah tahu Ashura itu wanita dari dimensi lain tapi kalian tutupi dari aku!" Fu Yen mulai ngoceh perasaan kesalnya.
"Kami juga baru tahu yang mulia! Begitu tahu kami langsung hubungi kamu! Yang paling tahu tuh adikmu Hwa Lien!" Chen Yang mengelak biar tak jadi sasaran amarah sang raja. Wajar kalau raja kesal. Yang lain tahu apa yang sedang terjadi dalam istana sedangkan dia masih asyik temani gentong lemak tak tahu kerajaan akan segera tamat.
"Hwa Lien!!!" desis Fu Yen melirik adiknya itu. Pantesan Hwa Lien betah amat bersama Ashura. Di balik keakraban mereka ternyata tersimpan rahasia besar.
"Itu semua tak penting! Cepat atau lambat semua akan terungkap! Sekarang kita harus susun strategis copot perdana menteri dari kursi pemerintahan. Biar dia istirahat di rumah saja. Orang itu sudah waktunya kita jebloskan ke penjara. Menurut Ning Fei sumber penyakit kelamin di istana berasal dari perdana menteri! Dia gauli semua selir istana tanpa pilih bulu. Sekarang rata-rata selir kena penyakit itu. Dia sendiri pasti sedang menderita juga! Kita adakan rapat mendadak nanti malam! Yang tak hadir langsung kita copot dan langsung ganti yang lain. Aku usulkan kedudukan perdana menteri diberikan kepada Paman raja! Kedudukan penting ini kita amankan dulu sampai semua badai berlalu baru atur ulang!" Ashura langsung kemukakan pendapat daripada asyik memikirkan yang tak penting.
Fu Yen belum puas menuntut jawaban mengapa tak ada yang jujur padanya mengenai Ashura. Tapi melihat Ashura sangat bersemangat menjatuhkan perdana menteri maka dia terpaksa simpan dulu rasa kesal itu.
"Usul yang bagus tapi aku tak mau menjadi perdana menteri selamanya! Aku tak mau dipusingkan oleh sekuat masalah kerajaan." sahut Chen Yang.
"Untuk sementara paman raja yang ganteng! Aku tahu kamu kan suka selfie pamer wajah ganteng kamu. Besok kita pergi lihat senjata kita barulah kita latihan! Jenderal sudah ada catatan mengenai pasukan yang akan kita latih?" Ashura berbalik menatap Fu Kuang.
"Kami memang memiliki pasukan inti yang rahasia! Mereka ahli berkuda dan ahli panah! Mungkin mereka bisa kita rekrut. Mereka ada sekitar seribu orang!"
__ADS_1
Ashura tepuk tangan gembira telah punya pasukan inti siap pakai.Tinggal poles dikit dengan kecanggihan senjata zaman moderen maka kemenangan akan berada di tangan mereka. Fu Kuang makin terpanah lihat betapa ceria Ashura mendapat kabar baik. Wanita segagah ini sungguh sayang bila harus berakhir dalam istana jadi pajangan buat sang raja. Ashura bisa kepak sayap lebih lebar bola bersamanya. Cuma sayang Fu Kuang tak bisa berkata apa-apa untuk sementara ini. Ashura masih berada dalam kekuasaan sang raja.
"Lalu bagaimana tentang kejahatan ibunda ratu dan perdana menteri telah membunuh kedua orang tua kalian? Apakah kalian akan biarkan dia lolos begitu saja?"
"Kupastikan dia akan terima hukuman setimpal! Mati begitu saja terlalu mudah untuknya! Aku akan musnahkan seluruh keluarganya sampai ke anak cucu!" geram Fu Yen ingat bagaimana jahatnya ibunda ratu dan perdana menteri. Kini semua telah jelas siapa biang kehancuran kerajaan.
Ashura merasa tak nyaman kalau sang raja ingin memusnahkan seluruh keturunan perdana menteri. Perdana menteri seorang diri yang berbuat salah tidaklah mungkin membawa anak cucunya ke dalam jurang penderitaan. Ashura harus bela anak cucu perdana menteri bila sang raja ingin hukum mereka. Cukup hukum perdana menteri dan ibunda ratu serta para menteri yang terlibat dalam kejahatan ini.
"Maaf yang mulia! Kurasa orang tak bersalah tak perlu ikutan dihukum! Biarlah perdana menteri yang dihukum. Anak cucunya belum tentu tahu kejahatan sang menteri jadi lebih baik yang mulia bijak tak sembarangan jatuhkan hukuman."
"Kejahatan demikian besar tak bisa kita sisakan! Biarlah keturunan orang jahat punah!" ujar Fu Yen geram sambil mengepal tinju. Andaikata tak ada yang lain Ashura ingin memeluk Fu Yen untuk tenang sang raja biar lebih bijak dalam ambil keputusan. Satu orang berbuat salah tak perlu bawa yang lain.
"Yang mulia...anda orang bijak! Satu nyawa manusia itu pemberian Tuhan! Kita tak berhak mengambil nyawa orang lain tanpa sebab jelas! Kita boleh hukum perdana menteri seberat-beratnya tapi tidak untuk keluarganya. Mereka juga korban dari kejahatan menteri jadi bebaskan orang tak bersalah! Kita boleh gantung perdana menteri biar jadi contoh buat yang lain!" Ashura masih pertahankan pendapat tak boleh musnahkan seluruh keluarga perdana menteri. Ashura tak peduli dengan peraturan kerajaan yang telah berlalu dari dulu. Kepala keluarga berbuat salah seluruh anggota keluarga harus ikut tanggung dosa.
Bagi Ashura peraturan ini harus dirombak agar tak banyak korban berjatuhan hanya untuk pikul beban kesalahan satu orang.
Chen Yang setuju dengan pendapat Ashura. Membunuh orang bukanlah jalan terbaik hanya untuk umbar emosi. Setiap nyawa manusia itu berharga. Chen Yang juga berharap Fu Yen lepaskan keluarga perdana menteri dan ibunda ratu beserta seluruh keluarga dari hukuman berat.
Semua kaget Fu Yen mendadak hilang semangat pimpin kerajaan. Ini tak boleh terjadi di saat genting begini. Harusnya Fu Yen makin semangat berjuang usir para penjahat dari kerajaan agar tercipta kemakmuran buat seluruh rakyat.
"Ishhh...omong apa itu? Mana ada raja sontoloyo gitu? Kapan rakyat makmur kalau rajanya tak punya semangat? Jenderal itu tugasnya melindungi kerajaan sedangkan sang raja tugasnya jalankan roda pemerintahan memberi keamanan pada rakyat! Sudah...tak usah pikir aneh-aneh! Malam ini kita mulai basmi perdana menteri dan ibunda ratu. Panggil mereka datang! Tak datang langsung yang mulia angkat paman raja ganti rubah licik itu! Gitu saja! Akan kukuliti rubah tua sampai bulunya rontok semua!"
"Nona...tak semudah itu copot dia! Dia bisa jadi perdana menteri berarti dia itu orang kuat! Kau pikir semudah itu jatuhkan dia? Kurasa kita harus pikir cara lain buat dia tak bisa keluar rumah! Tak usah malam ini! Aku akan buat dia tak bisa bergerak!" kata paman raja punya rencana lain. Wajah laki gemulai itu tampak bersinar licik. Ntah rencana apa tersirat dalam benak laki itu.
"Rencana apa paman?" tanya Ashura tertarik. Gadis muda ini bergeser lebih dekat ke paman raja mau tahu rencana bagus apa akan dirancang oleh paman raja.
"Ada deh! Kalian lihat saja! Sekarang kurasa kita bisa bubar! Aku masih ada pekerjaan lain bersama Hwa Lien!"
Ashura mencibir sudah duga Chen Yang sudah tak sabar ingin berfoto-foto lagi dengan ponsel. Kedua benda canggih Ashura sudah dipatenkan oleh kedua kerabat istana itu. Mereka berdua gunakan benda itu dengan tujuan berbeda. Hwa Lien sibuk main game sedangkan Chen Yang sibuk selfie pamer kegantengan dia di kamera.
__ADS_1
Fu Yen dan Fu Kuang mana tahu apa isi pikiran paman raja hanya bisa angguk menunggu aksi sang paman melumpuhkan perdana menteri. Semoga saja rencana Paman raja sukses membantu Fu Yen tenggelamkan sang perdana menteri.
"Ashura mau di sini atau pulang ke istana dingin?" tanya Fu Kuang setelah yakin Paman raja tak mau diganggu lagi.
"Aku kan pulang bersama Hwa Lien! Kami main di sini dulu! Oya yang mulia raja jangan abaikan putri Tang dulu ya! Nanti dia curiga kalian sudah mengetahui sesuatu. Nanti mereka berubah rencana sulit buat kita mencari tahu rencana mereka lagi!"
Fu Yen mengangguk. Fu Yen ingin lebih lama bersama Ashura karena dia masih penasaran dengan cerita latar belakang gadis muda ini. Datang dari abad berbeda seperti kisah dalam dongeng saja. Namun fakta Ashura sudah di sini mau tak mau Fu Yen harus terima kenyataan.
"Aku main di sini sebentar dulu! Kalau jenderal mau pulang silahkan!" Fu Yen menolak pergi. Fu Kuang mengangguk tak bisa menunggu karena dia harus urus banyak urusan. Dia harus ke gudang senjata untuk melihat hasil kerja para pengarahan senjata yang sedang merakit senjata atas arahan Ashura serta sepeda yang diinginkan Ashura. Belum lagi mengumpulkan Paar prajurit untuk dijadikan pasukan tempur.
"Aku pergi...yang mulai raja pulangnya hati-hati! Nanti aku akan minta pengawal jemput yang mulia raja! Jangan keliaran sembarangan!"
Fu Yen berterima kasih atas perhatian adiknya. Dapat dipastikan Fu Kuang bukan orang tamak haus akan kekuasaan. Kalau Fu Kuang disuruh pilih jadi raja atau hidup tenang bersama Ashura di luar istana tanpa ragu Fu Kuang akan pilih hidup sederhana diluar istana bersama orang tercinta. Fu Kuang sangat mencintai Ashura dari pandangan pertama.
Fu Kuang pergi dengan langkah gagah tinggalkan istana Chen Yang. Sejujurnya Chen Yang tak suka Fu Yen masih berada dalam istana nya. Ini akan ganggu ruang gerak dia berfoto sepuasnya dalam istana. Maklumlah orang lebay tak pernah lihat peradaban moderen. Bagi Chen Yang peradaban Ashura menarik hati.
"Kalian ngobrol di ruang kerja aku saja! Di sini sudah mulai panas! Masuklah ke dalam!" Chen Yang mengusir Ashura dan Fu Yen dari taman karena dia mau berfoto ria di taman. Chen Yang tak mau orang lihat dia beraksi dengan segala pose.
Ashura yang ngerti kemauan paman raja segera ajak Fu Yen berlalu dari taman beri ruang pada lelaki gemulai itu jepret sana sini! Biarlah dia nikmati peradaban yang tak seharusnya hadir di zaman ini. Secara tak langsung Ashura sudah mengacaukan peradaban. Tapi toh ini bukan keinginan Ashura. Dia hanya ikuti arus cerita sesuai dengan kondisi.
Fu Yen dan Ashura berjalan beriringan menuju ke halaman belakang istana Chen Yang. Fu Yen tak mau masuk ke ruang kerja Chen Yang karena merasa tak bebas berada di tempat bukan ruang miliknya. Banyak sekali yang ingin ditanyakan oleh sang raja kepada Ashura. Gimanapun sang raja sangat penasaran dengan kehidupan orang di masa depan. Sebagai seorang raja Fu Yen malah tak tahu apa-apa. Malah adiknya lebih maju tahu persis kehidupan di masa depan berdasarkan cerita dari Ashura.
Fu Yen membawa Ashura duduk di taman belakang ditumbuhi aneka bunga cantik. Semua bermekaran padahal sedang musim gugur. Biasa di musim ini bunga pada rontok kehilangan keindahan. Tapi semuanya tak berlaku di taman paman raja. Laki itu punya teknik merawat keindahan bunga di istananya.
Ashura senang melihat hamparan bunga berhias hampir seluruh halaman belakang. Bundanya kebanyakan di dominasi warna merah dan kuning terang. Mungkin bunga ini yang bertahan menghadapi gempuran musim gugur. Kalau bunga mawar dan yang lain-lain pasti sudah kehilangan keindahan bila telah memasuki musim gugur yang akan disusul dengan musim dingin.
Fu Yen menunjuk ke batu besar yang bersih agar Ashura mau duduk di situ. Mereka butuh waktu cukup panjang untuk ngobrol membuka simpul yang terlanjur kusut.
Ashura menepuk permukaan batu itu untuk yakin tempat itu bebas dari kotoran. Permukaan telapak tangan Ashura tetap putih dan kering tunjukkan tempat ini kena perawatan tangan terampil. Tanpa ragu lagi Ashura letakkan pantat bersatu dengan permukaan batu. Fu Yen ikutan duduk tanpa cari tahu seperti Ashura. Dia duduk begitu saja seakan dia bukan penguasa kerajaan. Fu Yen tak ubah seperti pemuda lain sedang kencan dengan wanita muda di halaman.
__ADS_1
Beberapa ekor kupu-kupu beterbangan menemani kedua insan ini ngobrol. Mungkin juga sang kupu-kupu penasaran dengan obrolan kedua anak manusia ini pasang kuping curi dengar.