CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Peraturan Baru


__ADS_3

Fu Yen menatap Ashura dari samping yakinkan diri kalau wanita ini yang telah dampingi dia beberapa waktu ini. Apakah dia masih wanita yang sama dengan selir kesayangan yang selalu curi perhatian dia. Tak ada yang berubah selain wanita ini tampak lebih dewasa. Keseriusan telah terukir di wajah yang biasanya konyol.


Fu Yen mengatur nafas sebelum buka mulut tanya ini itu pada Ashura. Fu Yen mau tahu sedetailnya tentang Ashura di kehidupan mendatang.


"Kau punya orang tua?"


Ashura menoleh mendengar Fu Yen bersuara. Laki ini tidak segarang biasa sewaktu duduk di singgasana. Dia sama saja dengan Liem bila berdekatan dengannya.


"Punya dong! Mereka sangat sayang padaku. Aku ini anak satu-satunya. Aku ini masih kuliah maksudku sekolah." Ashura cepat ralat karena tahu Fu Yen pasti tak ngerti apa yang dimaksud dengan kuliah. di sini mereka hanya tahu menuntut ilmu yang hanya didominasi oleh pihak lelaki. Perempuan hanya boleh belajar dalam lingkungan tertentu tidak campur dengan wanita.


"Mereka pasti kehilangan kamu. Apa kau tak rindu pada mereka?"


Wajah Ashura berubah sedih ingat kedua orangtuanya yang sudah pasti akan sedih kehilangan putri tersayang. Tapi apa daya dia sudah terlanjur datang ke sini.


"Aku tak tahu bagaimana kedua orang tua aku. Aku rindu pada mereka." ujar Ashura sambil mengeluh sedih.


"Maafkan aku tak bisa bantu kamu kembali ke tempat asal kamu! Aku juga minta maaf tak tahu kalau kau bukan Shu Rong. Aku telah merampas hak kamu sebagai anak gadis."


Ashura ingin katakan kalau itu bukan salah Fu Yen. Fu Yen kan hanya tahu Ashura itu Shu Rong selirnya. Dalam hal ini tak ada yang perlu disalahkan karena semua terjebak dalam situasi.


"Lupakan itu yang mulia raja. Sekarang kita harus menata kerajaan agar jangan jatuh ke tangan salah. Besok kita akan buka sejarah kebangkitan kerajaan. Yang Mulia tak boleh bocorkan rahasia kalau kita punya pasukan hebat biar ibunda ratu dan perdana menteri tidak melapor pada kerajaan Tang. Percayalah padaku kalau semua akan beres. Aku kan penasehat kerajaan yang hebat."


Fu Yen agak terhibur Ashura mau bercanda lagi. Fu Yen dikuasai rasa bersalah pada Ashura yang telah menjadi korban salah paham. Fu Yen pikir Ashura akan marah padanya namun gadis ini justru bantu dia menata kerajaan.


"Apa di masa depan semua orang hidup bebas?"


"Ya... di zaman kami tidak ada perbedaan antara lelaki dan wanita. Semua mendapat hak dan kedudukan yang sama di dalam bermasyarakat. Tak ada tingkatan lelaki lebih tinggi dari wanita. Bahkan banyak wanita lebih kuat dari kelaki."


"Aku percaya setelah lihat kamu. Kamu begitu gigih dan pintar. Aku jadi iri pada kalian hidup bebas tanpa kekangan. Tidak banyak aturan seperti di sini."


"Yang mulia bisa rombak sistem aturan yang menghambat kemajuan kerajaan. Beri kesempatan pada semua orang pintar untuk tunjukkan bakat mereka. Yang mulia lihat Hwa Lien! Dia itu sebetulnya cerdas. Mampu melawan sistem dalam ponsel aku. Itu butuh akal panjang untuk lawan sistem. Cuma sayang bakatnya kalian pendam maka dia hanya bisa jadi putri manja."


"Lalu aku harus bagaimana?"

__ADS_1


"Yang mulia harus izinkan semua wanita sekolah termasuk mereka rakyat jelata. semua anak kecil harus sekolah agar bisa berguna untuk membangun kerajaan. Jangan biarkan mereka buta huruf tidak mengenal apa yang dinamakan kemajuan. Rakyat yang menjadi tiang satu kerajaan. Kalau mereka pinter maka makin banyak orang ingin melindungi keutuhan kerajaan ini."


"Gimana kalau mereka sudah pintar akan memberontak menduduki kerajaan?"


Ashura tertawa pada pikiran picik Fu Yen. Kalau rajanya bijaksana tak mungkin rakyat akan berontak. Kalau rajanya bijaksana mungkin mereka akan dengan senang hati mendukung kelangsungan kerajaan ini.


"Itu tergantung pada kebijakan yang mulia raja. Coba kalau yang mulia Raja adil kepada seluruh rakyat maka mereka akan hidup makmur dan tidak terpikir macam-macam. Aku melihat kalau ketimpangan sedang melanda negeri ini. Banyak sekali rakyat hidup di bawah kemiskinan karena kalian pembesar istana hanya mementingkan diri sendiri. Bukankah yang mulia Raja sudah turun lapangan melihat kondisi rakyat yang sangat menderita?"


Sang raja termenung mendengar penjelasan Ashura yang sangat masuk akal. Dia telah turun lapangan saksikan banyak rakyat hidup sengsara sementara mereka yang hidup dalam istana gelimang harta. Kata-kata Ashura seperti Godam besar ketok kepala Fu Yen sadar bahwa dialah yang bisa sejahterakan rakyat. Fu Yen harus rombak sistem pemerintahan yang hanya duduk di istana dengar laporan para menteri.


"Kau benar...aku ingin belajar sistem pemerintahan di masa depan agar semua rakyat bisa hidup makmur dan sejahtera."


"Memang sulit untuk mencakup seluruh rakyat namun paling tidak yang mulia sudah usaha. Aku dan Hwa Lien sudah membagi bibit tanaman kepada para petani. Semoga saja mereka bisa bercocok tanam dengan baik."


"Terimakasih Ashura. Kau datang memang untuk menyelamatkan kerajaan kami. Aku tetap butuh kamu untuk bantu aku memerintah Kerajaan ini. Kumohon jangan tinggalkan aku!"


"Aku janji tapi sebatas penasehat karena sekarang kamu sudah tahu aku bukan selir kamu. Kita tak boleh terlalu intim lagi."


Fu Yen hanya bisa mengangguk lesu. Dia memang tak boleh anggap Ashura milik pribadi lagi karena wanita muda ini jelas bukan selirnya. Hanya selir bayangan Shu Rong.


Lagi-lagi Fu Yen hanya bisa mengangguk. Untuk saat ini pikiran Fu Yen sangat kacau. Bagaimana tidak kacau? Dia telah kehilangan selir lucu yang selalu bikin dia jungkir balik. Terbongkar rahasia kematian kedua orang tuanya serta rencana perdana menteri kudeta kerajaan bergabung dengan kerajaan lain. Fu Yen sebagai raja paling bertanggung jawab menangani semua kekacauan ini. Fu Yen harus tega hukum ibunda ratu yang jahat. Ibunda ratu tega bunuh orang demi ambisi sendiri. Ibunda Fu Yen dan Shu Rong jadi korban kejahatan ibunda ratu.


"Malam ini kau akan nginap di sini atau balik ke istana dingin?"


"Tentu saja balik istana dingin. Di sana kandang aku. Di zaman kami laki hanya boleh satu isteri demikian juga isteri. Tak boleh duakan suami atau isteri. Hukumnya masuk penjara. Kalian di sini boleh punya segudang selir maka timbul perselisihan antara sesama isteri. Tak heran kalau timbul niat jahat habisin saingan. Kurasa yang mulia harus hapus sistim poligami. buat mereka yang mempunyai banyak istri harus dihukum seberat-beratnya. Jika perlu kebiri seperti seorang Kasim." Ashura mulai cuci otak Fu Yen untuk terapkan sistim monogami supaya tak banyak wanita jadi korban keserakahan suami.


Fu Yen seperti masih ragu untuk hapus tradisi turun temurun lelaki boleh punya banyak isteri asal mampu beri makan. Kalau di hapus bisa timbulkan konflik dengan para suami yang terlanjur banyak istri. Bisa-bisa dia dimusuhi seluruh laki di kerajaan ini. Fu Yen harus pikir panjang sebelum ikuti permintaan Ashura.


"Kita pelan-pelan terapkan peraturan baru. Kita fokus pada pendidikan dulu ya!" Fu Yen bujuk Ashura tidak memaksanya untuk terapkan berbagai kebijakan sekaligus. Fu Yen akan rombak sistim keadilan merata namun perlu waktu cukup panjang. Tak bisa bilang berubah langsung berubah. Tak semudah balik telapak tangan.


Ashura sudah rasakan kalau Fu Yen tak mampu melarang para pria beristri banyak. Penyakit lelaki susah dihapus. Mereka tamak berlomba pamer isteri sebanyak-banyaknya. Termasuk sang raja yang jadi pelopor simpan puluhan selir. Kalau dimulai dari Fu Yen otomatis rakyat akan segan. Raja saja cuma satu istri maka mereka juga harus ikut.


Ashura perlihatkan gestur tak senang Fu Yen terlalu lemah terapkan hal paling vital buat wanita. Wanita mana tak ingin memiliki hati suami seutuhnya. Mereka punya rasa cemburu namun harus ditelan dalam-dalam. Ini akan jadi penyakit hati menimbulkan rasa iri disusul berbagai kejahatan.

__ADS_1


"Terserah yang mulia. Anda seorang pemimpin, semua keputusan di tangan yang mulia. Aku mau balik ke istana dingin. Kamu sudah boleh balik kumpul dengan gentong lemak kamu. Angkat saja dia sebagai ratu biar singgasana kamu jadi empuk." kata Ashura dengan sinis. Wanita itu pergi tinggalkan raja tak peduli harga diri sang raja terbanting berkeping-keping.


Fu Yen menghela nafas. Hanya wanita ini yang berani abaikan dia sebagai utusan dewa. Raja adalah utusan dewa yang dipercayakan pimpin kerajaan. Di mata Ashura sang raja hanya orang tolol si setir puluhan menteri. Kini Fu Yen petik hasil sendiri mendapatkan banyak masalah dari kebodohan dia.


Fu Yen membersihkan pakaian dari sisa kotoran di atas batu baru menyusul Ashura yang telah kembali ke rumah paman raja. Ashura mencari Hwa Lien untuk ajak gadis itu balik ke kandang mereka. Ashura capek omong sama orang tak punya nyali. Mau dibantu jadi pemimpin bijak tapi terkukung pada tradisi menyesatkan.


Hwa Lien tak masalah aku diajak ke mana. Gadis itu tak peduli mau dibawa pulang ke mana. Asal dia bisa main game offline tak peduli dunia mau runtuh. Ashura bersiap-siap balik ke istana dingin bersama Hwa Lien dan dayang gadis itu. Fu Yen sudah dijemput oleh satu pasukan pengawal untuk balik ke istana. Sebenarnya Fu Yen ingin bawa Ashura bersamanya namun telah ada jurang pemisah antara mereka. Ashura hanya bisa berperan sebagai penasehat kerajaan bukan sebagai selir lagi.


"Kalian tak mau kuantar sama kereta kuda?" Fu Yen masih menawarkan kenderaan jadul untuk jadi tumpangan.


Hwa Lien minta pendapat Ashura sebelum memberi jawaban pada abangnya. Maunya sih numpang biar mereka tak lelah berjalan. Tapi Hwa Lien juga tak mau langkahi Ashura sebagai pemilik istana dingin. Hwa Lien masih butuh Ashura untuk melihat peradaban maju.


"Kita pulang jalan santai saja Hwa Lien. Kita ini kan rakyat jelata tak pantas satu kereta dengan yang mulia raja." ketus Ashura bikin hati Fu Yen terkikis hingga terluka. Betapa sinisnya gadis kesayangan itu hanya karena Fu Yen tak bisa beri keputusan mengenai poligami. Betapa sulit pahami seorang wanita.


"Ashura apa perlu demikian kejam hukum aku?" tanya Fu Yen membuat Hwa Lien tertawa kecil. Abangnya raja tapi tetap saja tak mampu lawan tajamnya mulut Ashura. Hwa Lien tak athu penyebab konflik antara dua orang itu namun bisa rasakan ada aura tak sedap.


"Mana berani hukum raja. Apa tak takut kepala aku pindah ke kuburan? Yok Hwa Lien! Kita pulang ke istana paling menyedihkan." Ashura menyambar tangan Hwa Lien tinggalkan Fu Yen mematung di depan kereta kuda.


Hwa Lien melambaikan tangan pada Fu Yen turut dukacita Fu Yen secara resmi telah bermusuhan dengan Ashura. Padahal tadi masih baik-baik saja. Angin cepat sekali bertiup arah berlawanan.


Fu Yen mengurut dada yang tak sesak namun pedih. Dia ingin selalu bersama Ashura namun gadis itu selalu ingin bentang jarak. Cara Ashura menekan Fu Yen cukup ekstrim. Ashura mau Fu Yen turuti cara pandang dirinya hargai posisi wanita biar muncul Srikandi mumpuni di kerajaan ini.


"Baiklah nona! Aku akan ikuti saran kamu larang poligami. Tapi beri aku sedikit waktu untuk menyusun alasan tepat biar aku tak dianggap raja lalim larang kesenangan orang."


Ashura yang telah melangkah menjauh tersenyum tipis. Ternyata hanya dengan pura-pura ngambek sang raja akan mengalah. Andai Fu Yen sukses menekan angka poligami maka rakyat akan damai. Tak ada konflik dalam rumah tangga membuat suasana aman sentosa. Tak ada korban saling iri hati lagi.


"Terimakasih...jumpa besok yang mulia raja!" seru Ashura tanpa hentikan langkah. Gadis muda ini terus melaju pergi dari istana paman raja.


Fu Yen ikut tersenyum sedikit lega Ashura mau jawab keputusan yang telah dia buat. Fu Yen harus pikir panjang lebar cari alasan tepat larang poligami dalam lingkungan istana dan pejabat. Semua akan di mulai dari orang penting barulah di contoh oleh bawahan. Semoga peraturan baru ini tak ganggu jalannya pemerintahan. Fu Yen kuatir Kuang akan dapat tantangan dari para pejabat yang terlanjur punya lusinan selir. Mengumbar nafsu tanpa batas.


Ashura kembali ke istananya berharap Shu Rong mau datang beri keputusan soal senjata yang akan dia sediakan di lapangan yang telah disiapkan oleh Paman raja. Mereka tidak bisa lengah menunggu dari hari ke hari melawan kerajaan Tang yang makin dekat. Ashura yakin kalau kerajaan Tang telah mempersiapkan segalanya menjelang pernikahan sang raja dengan Putri Tang.


Ashura berharap Hwa Lien cepat tidur biar Shu Rong bisa muncul. Arwah Shu Rong pasti tidak akan muncul bila adanya Putri Hwa Lien. Tak semua orang boleh tahu kalau arwah Shu Rong masih gentayangan di sekitar istana sebelum keadilan untuknya ditegakkan.

__ADS_1


Hwa Lien tidur malam sekali asyik main game. Ashura sampai tertidur duluan barulah Hwa Lien menyusul tidur setalah cas ponsel Ashura pada power bank. Hwa Lien benar-benar sudah kuasai sebagian teknologi zaman Ashura. Ini membuktikan kalau wanita tak kalah dari pria maka Ashura mau beri kesempatan pada wanita di zaman ini untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya.


__ADS_2