
Ashura tak tega jahilin paman raja lebih jauh pilih mengajukan diri sebagai alasan Fu Yen harus ke sini. Sekalian test seberapa sayang Fu Yen kepada Ashura. Berat ke mana? Ke putri Tang atau ke putri Shu Rong.
"Jenderal pergilah katakan Ashura kurang sehat mau jumpa yang mulia raja! Bawa dia ke sini untuk berembuk. Semua resiko biar aku yang tanggung!" kata Ashura.
"Jangan gitu! Kita ini satu tim maka kita harus kompak! Kita hadapi bersama. Aku akan jadi saksi siapa Ashura sebenarnya! Kalau raja mau hukum biarlah aku juga ikut!" Hwa Lien bangkit dari bangku berkata dengan gagah berani.
"Bagus..itu baru adikku! Kurasa Fu Yen akan kirim kamu ke kerajaan bar-bar di Padang rumput untuk jadi selir bangsa bar-bar."
Hwa Lien mengulum bibir sendiri bentuk bulatan sampai bibir itu mengecil. Hwa Lien tidak terpikir sedikitpun untuk cepat menikah. Ashura jadi guru inspirasi Hwa Lien untuk menjadi wanita kuat. Wanita di zaman ini asal sudah umur 17 tahun sudah harus persiapkan diri untuk dipinang berdasarkan instruksi orang tua. Hwa Lien juga tinggal tunggu waktu dipinang orang.
Fu Kuang tak punya pilihan selain ikuti saran dua anak gadis yang punya karakter hampir sama. Suka ngawur walau kadang benar. Jenderal bersedia lakukan apapun demi keselamatan seluruh negeri ini. Menyerah begitu saja kepada kerajaan besar itu bukan pilihan Fu Kuang sebagai jenderal kerajaan.
Apapun cara Fu Kuang harus seret Fu Yen ke tempat paman raja untuk buka mata raja gila wanita itu. Dikasih kambing berbedak saja mungkin juga akan jatuh cinta.
Fu Kuang lalui beberapa pengawal langsung masuk ke tempat kerja Fu Yen. Tak ada yang berani melarang Fu Kuang jumpai Fu Yen. Mereka tahu hubungan abang adik itu cukup baik walaupun Fu Kuang bukan saudara satu ibu.
Fu Kuang mengetuk pintu lalu langsung masuk tanpa indahkan tata Krama harus izin dari raja baru boleh masuk. Mata Fu Kuang melihat Fu Yen sendirian sedang sibuk membaca laporan dari pasar pejabat istana. Ntah itu laporan akurat atau laporan palsu.
"Akuang??? Tumben datang pagi sekali? Sudah sarapan?" tanya Fu Yen ramah sebagai abang. Di sini Fu Yen tidak terlalu beradat seperti di luar. Di sini tak ada siapa-siapa untuk apa banyak peraturan yang membuat jarak antara mereka.
"Shu Rong di tempat paman raja. Dia sedang kurang sehat! Kau pergi lihat dia!"
Fu Yen meletakkan buku lalu bangkit dari tempat duduk cukup kaget. Kemarin dia jumpa anak itu masih dalam keadaan baik-baik. Mengapa mendadak sakit.
"Panggil tabib istana!" Fu Yen berusaha tenang walau dalam hati galau. Fu Yen tak habis pikir mengapa Ashura tidak datang kepadanya melainkan ke tempat paman raja. Fu Yen agak cemburu mengingat Ashura telah melupakan dirinya.
"Dia tak perlu tabib istana. Cukup kamu datang ke sana! Kau sudah cukup lama abaikan dia untuk orang lain! Kalau kau tak ada rencana angkat dia biarlah dia menjadi wanita di istana aku tapi kau harus umumkan sendiri biar Shu Rong tak ada hubungan dengan kamu lagi!" ucap Fu Kuang dingin. Ini kesempatan mendapatkan Ashura. Fu Kuang tak peduli kalau Ashura telah menjadi wanita Fu Yen. Fu Kuang tahu itu pasti bukan keinginan Ashura.
Fu Yen terperangah tak percaya kalau adiknya masih menyimpan rasa suka kepada Ashura. Fu Yen pikir adiknya itu telah tutup hati terhadap Ashura. Siapa sangka perasaan Fu Kuang tak pernah berubah.
"Itu tak mungkin! Dia terlahir untuk jadi selir istana!"
"Bukankah kamu sudah punya wanita yang lebih subur? Apa masih perlu Ashura?" Fu Kuang melontarkan kalimat tajam ingatkan Fu Yen tidak terlena oleh wanita.
"Kau pikir aku suka pada wanita itu? Aku juga tak berdaya harus lihat betapa liciknya wanita itu manipulasi keadaan." ujar Fu Yen mengusap perlihatkan dia juga tak punya daya hadapi wanita dari kerajaan lebih besar itu.
__ADS_1
Fu Kuang menjadi tak tega terusan serang Fu Yen. Posisi mereka memang sedang terjepit oleh kerajaan penuh ambisi besar itu. Kalau boleh Fu Yen juga ingin bebas memilih orang yang dia cintai untuk menemani dia memakmurkan rakyat.
"Sekarang gimana? Mau ikut aku atau tetap menunggu karung beras datang ke sini!"
Fu Yen menjadi bingung harus pilih mana! Sebentar lagi putri Tang akan segera muncul monopoli waktunya. Kalau tak jumpa Fu Yen gadai berbadan sehat itu akan bikin onar dalam istana membuat semua orang panik. Tidak melihat Ashura hati Fu Yen juga tak tenang. Sang raja jadi dilema harus berjalan ke arah mana. Kiri kanan tetap saja terbentang jurang di depan mata.
Fu Kuang tak sabar menunggu jawaban abangnya. Bagi Fu Kuang abangnya itu terlalu lemah maka pejabat bisa atur dia. Fu Kuang harus buka jalan menundukkan semua pejabat sebelum keadaan makin terpuruk.
"Aku pergi!" Fu Kuang ambil keputusan tak menunggu jawaban Fu Yen. Biarlah abangnya itu nikmati sisa waktu menjadi raja. Kalau mereka sukses perang lawan kerajaan Tang maka Fu Kuang akan ambil alih tahta agar kerajaan mereka menjadi makin kuat.
Fu Yen kaget tak sangka adiknya berubah menjadi keras tak menghormati dia sebagai seorang raja. Fu Kuang melenggang meninggalkan ruang kerja Fu Yen dengan gagah perkasa. Fu Kuang mau tunjukkan pada Fu Yen kalau seorang lelaki harus tegas.
"Tunggu...aku ikut!" Fu Yen menyusul dari belakang. Fu Kuang mengulum senyum berhasil provokasi perasaan abangnya. Kalau dari dulu Fu Yen gagah berani mungkin semua bibit penyakit tak bercokol dalam tubuh pemerintahan. Namun belum terlambat memperbaiki semuanya.
Kedua Abang adik mengendarai kuda menuju ke tempat paman raja. Dari belakang beberapa pengawal ikut termasuk Kasim Du. Mereka berlari kecil menyusul sang raja. Beginilah nasib para bawahan. Harus rela berkorban demi raja yang dianggap titisan dewa.
Rumah paman raja tidak terlalu jauh dari istana maka tak butuh waktu lama untuk capai tempat yang biasa tenang itu. Kehadiran Fu Yen tentu saja membuat para pelayan di sana kelabakan. Raja tak pernah datang ke tempat mereka sebelumnya. Angin apa membawa penguasa sampai datang sendiri ke tempat adik mendiang raja terdahulu.
Fu Kuang membawa abangnya langsung ke tempat di mana Chen Yang orang itu sedang diskusi masalah kerajaan yang cukup pelik. Fu Yen sangat hormat pada ibunda ratu namun ternyata wanita itu menjadi dalang kematian ibunda Fu Yen. Lalu perdana menteri menjadi pembunuh raja terdahulu. Mereka harus ungkap semuanya sebelum terjadi perang besaran antara dua kerajaan.
"Ashura...kau sakit?" tegur Fu Yen bernada kuatir.
Ashura mengangkat kepala beradu mata dengan lelaki yang sangat dekat dengannya beberapa waktu ini. Ntah mengapa mereka mendadak renggang tanpa alasan jelas. Mungkin karena kehadiran putri dari negeri Tang itu. Putri itu telah merebut hampir seluruh waktu sang raja. Perlahan dan pasti Ashura tersingkir.
Ashura mengukir bibir dengan seulas senyum hambar. Ashura sedikit kecewa walaupun Fu Yen telah datang. Lelaki itu terlalu asik dengan kehadiran Putri baru yang menurutnya pasti lebih menarik. Namun Ashura tak bisa melawan tradisi kerajaan yang haruskan raja memiliki beberapa isteri.
"Iya kurang sehat!" sahut Ashura seadanya agar kepergian Fu Kuang ke tempat Fu Yen tidak sia-sia. Mengundang Fu Yen datang tentu saja harus ada alasan.
"Kita balik ke istana ya! Di sana ada tabib!" Fu Yen menyentuh kepala Ashura dengan lembut mau perlihatkan dia peduli kepada selirnya itu.
"Aku hanya lelah yang mulia! Mungkin dengan istirahat sebentar akan pulih lagi!" sahut Ashura basa basi.
Chen Yang merasa bosan dengan semua basa basi tak ada guna ini. Mereka punya bahasan lebih penting dari hanya omong kosong. Paman raja sangat cemas kerajaan ini akan segera tunduk pada kerajaan Tang.
"Kita ngobrol di ruang kerja aku saja!" Chen Yang bangkit dari bangku berjalan tanpa menunggu persetujuan yang lain. Makin cepat ngobrol makin bagus biar ada keputusan Fu Yen mau dibawa ke mana kerajaan ini.
__ADS_1
Fu Kuang orang kedua berjalan ke tempat dituju paman raja. Hwa Lien cepat-cepat mengumpulkan benda ajaib Ashura untuk dibuka untuk sang raja nanti. Putri itu juga menyusul kedua pembesar istana ke tempat kerja paman raja.
Di situ tinggal Ashura dan Fu Yen agak kaku. Di antara mereka seperti ada dinding penyekat memisahkan mereka. Ashura merasa sangat jijik pada Fu Yen yang doyan wanita. Apa tak ada bisa dilakukan sang raja dengan wanita selain hubungan intim. Ashura tak tahu sampai di mana hubungan Fu Yen dengan sang putri. Dalam otak Ashura terlintas hubungan tak wajar.
"Mana putrimu?"
"Di istana tamu! Kenapa? Kau marah dia dekat dengan aku?" tanya Fu Yen sambil berdiri di belakang Ashura. Fu Yen sudah rindu pada hari. tubuh Ashura yang lain dari yang lain. Rasanya Fu Yen ingin peluk wanitanya namun sebagai raja dia masih harus kontrol diri.
"Apa hak aku marah? Anda adalah penguasa yang boleh punya selusin wanita. Kan senang punya mainan baru! Sehat lagi...tak perlu selimut sudah hangat sendiri!"
Fu Yen merasa Ashura bukan memuji melainkan mengejek putri Tang yang subur sehat. Ada nada getir dalam irama suara Ashura.
"Kau tahu dia adalah tamu! Kita harus hormati dia! Kau pikir aku ada hubungan mesra dengannya?" Fu Yen meneliti air muka Ashura cari kecemburuan wanita itu.
"Apa bukan? Lengket seperti permen karet!" sungut Ashura lantas bangkit dari bangku berjalan jauhi Fu Yen. Ashura malas diajak bahas soal wanita raja. Takkan ada habisnya. Semalam baru saja minta tolong dia urus selir Ning Fei sekarang mau cerita soal putri Tang. Kuping mungil Ashura belum siap terima laporan tentang wanita-wanita di ranjang Fu Yen.
Fu Kuang menarik nafas tak tahu harus bagaimana omong baik-baik dengan Ashura. Wanita muda itu terlanjur cap Fu Yen buaya bin kadal. Pantang lihat daging lezat. Begitu terdeteksi langsung main embat. Daripada berdiri seperti orang linglung Fu Yen menyusul ke ruang kerja Chen Yang.
Di dalam sudah duduk rapi kerabat Fu Yen di kursinya yang sudah tersedia. Ashura duduk berdampingan dengan Hwa Lien sedangkan Chen Yang duduk berdampingan dengan Fu Kuang. Ada satu kursi lebih besar tersedia mungkin untuk Fu Yen sebagai penguasa kerajaan. Walau dalam suasana kekeluargaan tetap saja kental pembagian posisi.
Fu Yen tahu kursi terakhir itu disediakan untuknya. Tanpa tanya Fu Yen duduk di kursi itu menanti apa rencana Paman raja selanjutnya mengajaknya ke ruangan ini. Semua diam mengarah mata ke raja. Ditatap ramai-ramai membuat Fu Yen tak enak hati juga. Tatapan itu seperti ujung jarum menusuk kulit Fu Yen. Tak berbentuk namun terasa tak nyaman.
"Ashura putar rekaman untuk di dengar yang mulia raja!" ucap Paman raja kepada Ashura. Suara paman raja terdengar keren wibawa. Paman raja mau tunjukkan kalau dia juga bisa gagah kalau diperlukan.
"Biar aku saja! Kita mulai dengan suara perdana menteri dan Ibunda biar Abang tahu betapa jahat mereka!" Hwa Lien mengeluarkan ponsel yang telah diisi oleh rekaman. Hwa Lien sudah cukup jago jalankan semua aplikasi dalam benda pipih itu.
Fu Yen yang tak tahu apa-apa hanya diam saja menunggu aksi Hwa Lien bongkar konspirasi besar dalam istana. Fu Yen memang tak tahu kalau di istananya ada benda canggih dari abad atom. Dia masih terpaku pada tradisi kosong yang akan antar dia ke jurang kematian.
Mata Fu Yen menangkap benda aneh memiliki cahaya terang di tangan adiknya namun Fu Yen tak bertanya menanti aksi Hwa Lien selanjutnya.
Hwa Lien mengaktifkan ponsel langsung terdengar percakapan antara ibunda ratu dan perdana menteri. Fu Kuang dan Paman raja sudah dengar dari awal sudah tak heran dengan benda aneh ini.
Fu Yen kaget sampai berdiri karena dalam benda itu terdengar jelas suara dua orang sedang bicara tapi tak ada orangnya. Rona wajah Fu Yen berubah putih kaget dengar semua percakapan yang menyinggung tentang rencana makar serta penyebab kematian kedua orang tua Fu Yen.
Fu Yen mematung dengar sampai berakhir. Fu Yen tak bergeming sedikitpun dari tempat dia berdiri. Fu Yen seolah kena kutukan peri ular Medusa. Jadi batu setelah melihat benda di kepala wanita itu.
__ADS_1
Hwa Lien belum puas bongkar bobrok pembesar istana lanjut buka rekaman percakapan Ashura dengan Ning Fei. Fu Yen kembali dibuat bengong mendengar rekaman ulang percakapan antara dua selirnya. Kali ini Fu Yen mengarah mata ke arah Ashura yang suaranya terekam sedang ngobrol dengan selirnya yang lain. Semua ini kejutan besar buat Fu Yen. Dari mana asal benda canggih ini bisa menyimpan suara orang dalam kotak tipis.