
Ashura menelan ludah lihat Fu Yen mulai naik darah lagi. Gadis ini kontan melemah tak berani keluarkan suara lagi. Bisa saja Fu Yen buat hukuman lebih ngeri. Ayin dan Amuk pula sasarannya. Nasib kedua anak itu bia jadi di ujung tanduk gara gara Ashura suka asalan.
"Tuanku..maksud hamba Alun dan tuanku bisa datangi kantor gubenur minta buka dapur umum." Ashura berubah manis tak berani ngotot mau ikut. Nasib ketiga temannya jadi taruhan bila dia masih mau membangkang pada Fu Yen. Ashura memilih mundur selangkah demi kemajuan ke depan.
"Aku akan urus itu. Tak perlu kau kuatirkan. Sekarang kamu makan dan tidur." perintah Fu Yen wibawa.
"Makan ya boleh tapi tidur ya ogah! Masih siang..tuanku tak usah susah. Janji jadi kambing jinak. Sangat jinak."
Alun tak dapat nahan senyum lagi lihat gaya Ashura yakinkan Fu Yen dia akan jadi anak patuh. Alun makin suka pada Ashura setelah kali beberapa kejadian. Mata Alun makin terbuka kalau gadis yang dikurung di istana dingin ternyata sangat menarik. Siapa demikian kejam biarkan Ashura merana di istana dingin tanpa fasilitas lengkap. Andai Alun kenal Ashura dari dulu mungkin Alun akan bawa Ashura keluar istana nikmati hidup normal.
"Alun sediakan makanan untuk pengawal Shu!"
"Siap tuanku!"
Sepergi Alun Ashura menggenggam tangan Fu Yen berterima kasih tak hukum Alun gara gara dia.
"Terima kasih tuanku! Hamba tahu tuanku tak sekejam itu."
"Nasibmu masih mujur. Lain kali tak ada mujijat lagi. oya..kenapa kau takut lihat darah?"
Ashura menghela nafas mendengar pertanyaan Fu Yen. Kenangan lama terbayang lagi di mata Ashura. Kenangan buruk yang terusan hantui Ashura hingga kini.
"Abangku meninggal ditusuk orang jahat. Waktu itu aku berumur sepuluh tahun. Kami berdua naik sepeda pulang dari les. Ntah dari mana muncul dua laki besar. Mereka langsung tusuk abangku hingga berdarah darah. Aku histeris minta tolong! Penjahat itu kabur setelah tusuk abangku. Abangku dibawa ke rumah sakit tapi nyawanya tak tertolong karena darah sudah kering." cerita Ashura membuat Fu Yen dikit bingung. Beberapa hal yang tak Fu Yen pahami seperti rumah sakit, les dan sepeda. Namun melihat kesedihan gadisnya Fu Yen tak mau banyak tanya. Fu Yen memilih memeluk Ashura beri rasa nyaman.
"Semua sudah berlalu..kau harus lebih semangat hidup biar abangmu bangga punya adek macam kamu."
Ashura mengangguk dalam pelukan Fu Yen. Alun sudah kembali membawa beberapa macam makanan bersama pelayan penginapan. Alun melirik Ashura berada dalam pelukan Fu Yen dengan hati tak karuan. Mungkinkah dia cemburu pada Fu Yen yang memeluk Ashura. Alun segera menepis bayangan buruk itu. Mana boleh suka pada wanita raja.
"Silahkan pengawal Shu!" Alun masih pura pura tak tahu Ashura itu wanita demi jaga muka sang raja.
Fu Yen membantu Ashura turun dari tempat tidur perlahan. Sikap Fu Yen jauh dari gaya seorang penguasa kerajaan. Kini Fu Yen tak ubah pencinta wanita seperti lelaki lain.
"Hati hati.."
"Yang luka tangan tuanku! Kaki sehat kok. Hamba bisa jalan sendiri."
"Mulai lagi cerewetnya. Cepat makan biar cepat sehat. Makan yang banyak."
Ashura melihat makanan di meja penuh selera. Tidak semua sayuran hijau yang khusus untuk kambing. Ini tersedia daging dan ikan. Ashura makan tanpa malu malu tak peduli tatapan aneh dua lelaki dewasa. Gadis istana seperti orang tertimpa bencana alam. Teramat lapar.
Fu Yen memantu Ashura makan dengan hati gembira. Gadis konyolnya cepat pulih walau telah lalui hal tak mneyenangkan. Ashura cocok jadi ratu. Jiwa gadis ini begitu welas tahu susah orang. Fu Yen harus rebut hati Ashura walau apapun terjadi. Segala rintangan akan dia hadapi demi dapatkan calon ratu masa depannya.
"Kenyang..Tuanku tak mau makan?" tanya Ashura setelah yakin perutnya tak sanggup di isi makanan terisa. Masih tersisa beberapa makanan tak tersentuh.
__ADS_1
"Aku sudah..kau merasa sehat sekarang?"
" Sangat sehat. Alun mau makan? Sayang makanan ini tersisa."
"Sudah makan. Bagaimana kalau makanan ini kita bagikan pada rakyat kecil?"
Ashura menjentik jari tanda setuju. Wajah Ashura berseri seri bisa berbagi pada rakyat yang membutuhkan walu hanya makanan sisa. Toh semua masih layak di makan.
Alun segera minta pelayan penginapan mengurus makanan sisa layak makan untuk dibagi pada masyarakat yang terkena bencana. Saat ini sedikit makanan terasa sangat berharga. Tak boleh ada yang siakan makanan.
Ashura tertawa bahagia walau beberapa saat lalu diliputi rasa tegang karena ancaman hukuman dari Fu Yen. Hati Ashura lega ternyata Fu Yen tak sekejam bayangannya.
Seusai makan Ashura mulai dirundung rasa bosan lagi. Berdiam diri tanpa kerjakan apapun adalah hal paling menyiksa bagi gadis energik ini. Maunya Ashura ikut dalam partisipasi urus korban bencana kelaparan.
Fu Yen mana ijinkan Ashura terjun ke lokasi bencana yang bisa terjadi kerusuhan setiap saat. Kadang para korban ada yang anarkis jarah makanan tanpa peduli keselamatan orang lain. Tempat paling aman adalah dalam kamar penginapan.
"Tuanku..sekarang sudah aman. Apa kita sudah boleh ke rumah gubenur urus masalah dapur umum?" tanya Ashura perlahan karena melihat Fu Yen termenung di depan meja makan. Apa yang sedang dipikir raja muda hingga tampak serius banget.
"Alun akan urus semuanya. Kau tak perlu kuatir. Aku sedang pikir cara cari air minum untuk masyarakat."
Ashura benarkan pemikiran Fu Yen. Selain makanan air juga sangat diperlukan saat ini. Musim kemarau gini air sumur ikut kering. Manusia bisa mati tanpa asupan air minum.
Rasa kuatir Fu Yen cukup beralasan. Kekurangan air juga bisa bunuh penduduk. Untuk minum saja harus turun ke lembah cari air. Di daerah lembab lembah masih banyak tersisa air. Namun di saat kekekurangan makanan gini penduduk mana ada tenaga turun naik lembah gotong air. Ashura harus cari jalan agar air bisa mengalir ke perkampungan tanpa harus digotong.
Otak Ashura mulai berpikir cari jalan pintas naikkan air dari lembah ke permukiman. Andai Ashura seorang insinyur mungkin penduduk akan tertolong. Namun sayang Ashura justru hanya seorang insinyur pertanian dan atlet wushu. Apapun cara Ashura harus mampu bantu masyarakat dalam kesusahan ini.
Fu Yen tertarik pada gumaman Ashura. Fu Yen berbalik diri menatap Ashura sambil menatap wajah gadis cantik ini. Dalam wajah Ashura emang tersimpan magnet mampu bius orang dalam pesona. Menatap wajah Ashura membangkitkan imajinasi terdampar dalam pulau hanya dipenuhi angan indah.
"Kau punya cara untuk naikkan air dari lembah?" tanya Fu Yen antusias.
"Aku akan berusaha namun aku perlu bantuan Jenderal Kancil."
"Jenderal Kancil? Siapa?"
Ashura tertawa kecil lihat Fu Yen bingung dia menyebut seseorang dengan panggilan aneh.
"Itu adekmu si Fu Kuang...dia sangat pinter dan kuat. Tuanku bisa andalkan dia bantu rakyat."
"Kalian sangat akrab?"
Ashura mengangguk tak mau bohongi Fu Yen. Bersama Fu Kuang Ashura merasa lebih nyaman. Tak perlu takut sewaktu waktu kepala berpindah tempat. Fu Kuang sangat ngemong tahu kebutuhan Ashura sebagai wanita.
Fu Yen mendesah kecil merasa cemburu. Mengapa cemburu padahal di istana masih banyak wanita cantik siap layani sang raja dengan senang hati. Atau Raja sudah jatuh cinta pada Ashura sebagaimana kodrat alam laki wanita saling mencintai pupuk hari depan.
__ADS_1
"Mengapa harus Fu Kuang?"
"Tuanku...Jenderal Kancil punya banyak tentara siap bantu kita. Mereka kuat dan sehat. Untuk laksanakan proyek ini kita butuh banyak tenaga kerja. Kalau tak boleh ya sudah!" Ashura melengos balik badan tak mau melihat Fu Yen. Tepatnya Ashura ngambek keinginan tak terpenuhi. Niat Ashura bersih ingin sejahterakan rakyat. Tapi pikiran Fu Yen melenceng ke mana mana.
"Aku juga bisa hadirkan tenaga kerja."
"Bukan cuma tenaga kerja tuanku tapi teknik kerja. Di sini kita perlu banyak bambu dan kayu. Jenderal Fu Kuang cepat tanggap apa yang ada di pikiranku maka aku perlu beliau untuk bantu."
"Kenapa tak mau andalkan aku? Kamu pikir otakku sudah berkarat karena terlalu lama tinggal di istana?" Fu Yen tak suka dianggap remeh oleh Ashura. Fu Yen memancarkan rasa kesal lewat tatapan mata tajam seolah ingin belah dada Ashura agar tahu apa isi hati gadis ini.
"Apa bukan?" sindir Ashura sinis. Hidup Fu Yen hanya dengar laporan para pejabat lalu sibuk urus para wanita istana yang berlusin lusin. Siapa nama para selir mungkin Fu Yen sendiri tak hafal.
"Kenapa kamu demikian sinis kalau cerita masalah wanitaku?"
"Hamba mana berani Yang Mulia? Hamba cuma bayangkan kehidupan tuanku dikelilingi sejuta wanita. Hidupmu habis urus wanita wanita yang hanya habiskan dana istana. Lalu apa yang tuanku dapatkan? Bau badan berbeda dari tiap selir? Apa tuanku bangga bisa giliri wanita berbeda tiap malam? Yang ada kena penyakit kelamin. Apa tak pernah terpikir tuanku kalau wanita istana akan main gila bersama laki lain?" ujar Ashura tajam. Kebenaran ini harus diungkap supaya Fu Yen sadar langkahnya salah kumpulkan puluhan selir. Wanita yang terbuang pasti akan cari kehangatan dari pria lain untuk penuhi nafsu mereka.
Fu Yen termenung mencoba pahami makna kata kata Ashura. Jujur Fu Yen sendiri tahu yang mana selirnya karena tiap tahun selirnya bertambah tanpa dia sadari. Para pejabat sodorkan anak masing masing untuk perkuat posisi di pemerintahan.
"Aku tak seburuk itu. Tidak semua selir kuajak naik tempat tidur. Kalaupun tak aku tak melakukan hal senonoh. Apa kau pikir otakku hanya ada tubuh wanita?" bantah Fu Yen mulai tak senang dipandang rendah oleh Ashura.
"Kunasehati tuanku agar pilih satu wanita jadi ratu lalu bebaskan wanita lain agar mereka bisa hidup layak bersama orang tercinta. Tuanku bisa fokus pada satu gadis dan cintailah dia! Hidup tuanku pasti lega."
"Kau tahu apa tentang cinta? Berapa banyak cintamu pada lelaki? Pada Fu Kuang?" kata Fu Yen cemburu.
"Kenapa bawa jenderal? Yang kita bahas sekarang adalah tuanku. Kok melar ke mana mana. Hamba belum temukan orang yang bisa bikin hamba tertawa sendiri, nangis merindukan orang itu. Mungkin suatu saat orang itu akan muncul bawa hamba menghitung hari demi hari sampai ajal menjeput kami." kata Ashura sambil bayangkan profil Liem. Fu Yen memang mirip Liem tapi mereka tak sama. Liem selalu lucu ganggu Ashura namun selalu beri perlindungan secara diam diam.
Fu Yen memejamkan mata merasa sedih tak mampu merebut hati Ashura. Apa Ashura takut bersaing dengan selir selir lain atau Ashura tamak tak mau Fu Yen membagi cinta.
"Tuanku..Gubenur datang mau jumpa tuanku! Dia sudah tahu tuanku yang datang sendiri pantau bencana." Lapor Alun sambil membungkuk. Mata Alun diarahkan pada Ashura yang masih kesal pada Fu Yen. Mengapa gadis ini manis sekali. Ashura beda dengan wanita raja yang lain. Gadis ini memiliki nilai sangat tinggi di hati Alun. Apa dia jatuh cinta pada gadis sang raja?
"Suruh masuk! Dan kau masuk ke kamar sebelah. Tak boleh keluar tanpa perintahku. Ingat janjimu mau jadi anak baik." Fu Yen beri perintah pada Ashura agar menghindari pertemuan dengan gubenur.
"Iya tuanku reseh!" Ashura keluar dari kamar sang raja menuju ke kamar sebelah yang memang disediakan untuknya. Sekarang ini Ashura tak bisa melawan sang raja karena ancaman sang raja tehadap abdinya. Mereka tak boleh mati konyol gara gara dia. Selama Ashura masih di kerajaan dia akan lindungi hidup abdinya. Ashura patuh demi semua orang.
Fu Yen puas melihat kepatuhan Ashura tak ikut dalam urusan negara. Memang sangat tidak pantas seorang wanita ikut campur urursan negara. Wanita istana hanya boleh bergerak seputar istana melakukan segala sesuatu berdasarkan peraturan yang sudah ada sejak ratusan tahun. Tak ada yang boleh berubah. Wanita tetap berada di belakang seorang lelaki sejati.
Ashura memilih buka laptop cari bahan untuk bantu petani yang tertimpa bencana. Ashura harus memajukan pertanian agar rakyat makmur. Pola tanam orang jaman hanya mengandalkan tenaga manusia sangat terbatas ruang gerak. Ashura memikirkan cocok tanam lebih moderen dikit mengandal fasilitas ternak. Kuda dan kerbau bisa diajak kerja sama untuk bajak sawah dan ladang.
Ashura harus cari Fu Kuang buat roda bajak dari baja. Pedang bisa dibuat demikian indah di jaman ini. Rasanya bukan tak mungkin buat roda bajak dari baja. Ashura harus coba cari Fu Kuang walau apapun terjadi. Kalau Fu Yen mau terserah. Yang penting memajukan rakyat. Ashura tak mau kedatangannya ke jaman ini tak tinggalkan apapun.
"Ashura.."
Ashura menoleh. Shu Rong asli berdiri di tempat gelap memberi senyum hambar pada gadis ini. Ashura cukup kaget didatangi arwah Shu Rong di siang hari. Apa hantu ini tak takut cahaya matahari?
__ADS_1
"Mau apa kau datang? Kapan kau pulangkan aku ke keluargaku?" Ashura tak berani dekati Shu Rong takut dijahilin. Sifat hantu siapa bisa tebak.
"Terima kasih sudah mau bantu rakyat kecil. Sudah kuduga kau gadis baik."