Cinta Putri sang pemimpi musim dua * Cinta diantara Anak Kandungku *

Cinta Putri sang pemimpi musim dua * Cinta diantara Anak Kandungku *
Aku hanya ingin sebuah kejujuran


__ADS_3

semenjak makan malam itu Amira terus memikirkan dengan perubahan yang Lilian tunjukkan.


meskipun dengan senyuman manis yang selalu menemani langkah gadis muda itu, namun senyuman itu terasa begitu hampa Amira rasakan.


nampak sebuah mobil pribadi dengan simbol yang salah satu perusahaan terbesar dinegri ini terlihat baru saja memasuki tempat parkirkan disebuah universitas terbaik di kota nya.


dengan setelan khas kantornya seseorang laki-laki dewasa dengan ketampanan yang ada dan dengan tatapan tegasnya, hingga aura kedisiplinannya dapat dirasakan siapa saja yang menatapnya, seorang laki-laki dewasa itu nampak turun dari dalam mobil dengan gaya tenang dan wibawanya, langkah kaki laki-laki dewasa itu melangkahkan kakinya menuju kesebuah ruang ekslusive dan disana ia sudah bisa melihat sosok gadis manis dengan tatapan lembutnya gadis yang sangat diidam-idamkan para kaum hawa, gadis dengan sejuta pesonanya.


"Nona Lilian Putri Alamsyah(dengan senyuman ramahnya)". Ferdinand


"paman? ". Lilian


Ferdinand menundukkan pandangannya dengan cukup tenang, ya dia adalah laki-laki yang normal meskipun ia menyadari didepannya adalah seorang putri dari tempatnya ia bekerja namun jauh dari lubuk hatinya dirinya sebagai laki-laki yang normal tetap saja memiliki ketertarikan dengan gadis yang satu ini.


dengan sopan ia mempersilakan Lilian untuk lebih dulu berjalan dan mengarahkannya.


"mari nona". Ferdinand


ya Ferdinand diutus oleh Amira untuk menjemputnya. Amira ingin meluruskan kesalahpahaman diantara mereka, kesalahpahaman ini tidak boleh berlanjut dan terlarut-larut ya Amira sudah menemukan sebuah jawaban dari berubahnya sikap adik kesayangannya itu.


hening hanya sebuah keheningan diruangan itu. Lilian dapat melihat dengan jelas raut cantik ,tegas milik kakaknya itu tengah memperhatikannya berjalan menuju kearahnya.


"Lilian...(Amira terbangun dari posisi duduknya) silahkan duduk...(tersenyum ramah)". Amira


"paman...(Amira mempersilahkan Ferdinand untuk membiarkan mereka berbicara empat mata)". Amira


"Hem...(Ferdinand paham dan pamit undur diri)". Ferdinand


setelah kepergian Ferdinand.


"kenapa kak Amira ingin menemui ku ditempat ini kak, bukannya dirumah kita dapat selalu bertemu? (dengan pura-pura biasa)". Lilian


"duduklah sayang, ini harus diluruskan..."Amira

__ADS_1


Lilian duduk saling berhadapan dengan kakak serba bisanya itu.


canggung, dan salah tingkah yang jelas dari pihak Lilian membuat Amira merasa kasihan dan semakin besar rasa bersalahnya.


"Lilian... maafkan kak Amira, itu tidak seperti yang kau lihat sayang...!!". Amira


"maksud kak Amira apa, sebenarnya kakak ingin membahas tentang apa bukannya diantara kita tidak ada masalah ya kak...(dengan tersenyum kecut)". Lilian


"kakak tau semuanya...huffft...(Amira berdiri dari posisi duduknya dan mendekat kearah dimana Lilian duduk dan ikut duduk di sebelah sofa Lilian duduk dan meraih tangan Lilian yang sudah nampak berkeringat itu) maafkan kakak... hubungan diantara kakak dan Neil sudah berakhir sayang, Neil telah melupakan kakak sejak dulu...dan yang harus kau tau Lilian, dihati Neil hanyalah ada namamu seorang Lilian Putri Alamsyah kau tidak perlu risaukan itu (dengan mengelus pelan dan menatapnya sayang)". Amira


ya Amira telah mengetahui disaat ia mengungkapkan isi hati atas semua rasa cinta dan rasa kecewanya terhadap Neil dan disaat ia mencium Neil ada sosok gadis cantik dengan segala kesempurnaannya tengah melihat kejadian itu tanpa terlewatkan.


ya Amira mengetahui semuanya dari penyelidikannya sendiri, Amira mencari bukti akan perubahan yang Lilian tunjukkan, dan alangkah terkejutnya Amira disaat sebuah kamera pengawas telah merekam semua kejadian itu dari berbagai sudut hingga dadanya sesak disaat kamera pengawas itu menangkap gerakkan yang Amira dan Neil tidak ketahui dan sadari ya gerakkan itu adalah gerakkan milik seorang gadis dengan segala kesempurnaannya *Lilian Putri Alamsyah* Lilian yang mengikuti Neil Secara diam-diam mendapatkan sebuah kejutan yang meruntuhkan keyakinannya.


"hiks... maafkan Lilian kak, Lilian Sungguh tidak tau ... Lilian Sungguh merasa bersalah telah mencintai kak Neil ". Lilian


akhirnya tangisan Lilian pecah juga yang dua hari ini terlihat diam dan berusaha menutupi perasaannya dengan susah payah


"tidak kak, Lilian yang salah... Lilian...(kata-kata Lilian terhenti disaat sebuah suara menegurnya)". Lilian


"sayang apa yang kau lakukan disini bersama Ferdinand...(terlihat seorang laki-laki dewasa rupawan tengah berdiri diambang pintu)". Neil


ya laki-laki dewasa itu adalah Neil yang mengikuti Lilian, disaat dirinya tengah menjemput Lilian tanpa sepengetahuan Lilian ,tidak mengabari terlebih dahulu karena menurutnya itu adalah sebuah kejutan namun bukan dirinya yang memberikan kejutan untuk Lilian disaat netranya melihat Ferdinand yang notabene nya adalah bawahan dari calon mertuanya tengah menggiring Lilian masuk kedalam mobilnya dan itu membuat Neil terlihat begitu cemburu dan berfikiran buruk terhadap Ferdinand, dibenaknya apakah Ferdinand akan berbuat suatu sebuah kejahatan kepada Lilian ya karena setau dirinya Ferdinand akan tinggal dikantornya dijam-jam seperti ini namun ini semakin membuat Neil merasa curiga dan waspada disaat Lilian dan Ferdinand hanya berdua menuju kearah yang berbeda /jalan arah pulang. semua prasangka buruk berputar-putar di kepalanya dengan pedal gas yang teratur Neil mulai mengikuti Ferdinand yang membawa kekasihnya, kekasih yang begitu ia sangat cintai.


"kak Neil...(keduanya)". Amira dan Lilian


Amira dan Lilian menoleh ke sumber suara mereka begitu di dibuat kaget oleh penampakkan sosok dengan raut wajah yang menampilkan ketampanannya itu.


"maaf nona Amira ...(nampak Ferdinand yang menyusul Neil berdiri dibelakangnya)". Ferdinand


"apa yang kalian lakukan disini? sayang....Neil dapat melihat Lilian dengan air mata yang masih jelas terlihat mengalir dipipi manisnya (dengan perhatian dan segala kekhawatiran yang bisa Amira tangkap dari pengelihatanya membuat dada terasa sesak) apa yang membuat mu menangis sayang (nampak Neil begitu manis dan hangat dalam pengucapannya)". Neil


"Lilian....Lilian tidak apa-apa kak, Lilian hanya kelilipan debu...(disaat Neil mendekat dan memastikan Lilian baik-baik saja)". Lilian

__ADS_1


"aku permisi...(Amira tidak tahan melihat Neil yang begitu perhatian kepada adik manisnya itu dan berusaha menghindar dari jangkauan keduanya)". Amira


"tunggu Amira...(Neil menangkap lengan milik Amira tanpa ada rasa canggung, ia masih ingat betul disaat Amira menciumnya penuh perasaan)". Neil


"lepaskan tidak perlu seperti ini...(Amira menampik kasar tangan milik Neil , rasa sakit hati dan kecewa terhadap Neil masih belum bisa ia singkirkan dan ia takut Lilian semakin salah paham dibuat nya. ya Amira tidak mungkin sanggup untuk menyakiti perasaan orang yang begitu ia sayangi) ". Amira


"maafkan aku Amira, aku memang salah tapi ini terjadi dengan sendirinya, meskipun aku akui aku tidak bisa untuk melupakanmu dan berhenti memikirkanmu namun mungkin memang sebaiknya seperti ini.... (Neil sampai lupa dengan sosok yang ada disampingnya Karena rasa Besar bersalahnya)". Neil


"apa yang kau katakan Neil, (kata-kata dari Neil semakin membuat Amira marah ia takut pengakuan Neil bisa membuat liliannya merasa semakin sedih dan terombang-ambing..)". Amira


"kak...(Lilian yang sedari tadi hanya diam ikut bicara) kenapa kak Neil tidak pernah menceritakan tentang ini sebelumnya bukannya diantara kita tidaklah ada suatu hal apapun yang harus disembunyikan? kenapa kak Neil melakukan ini kepada Lilian? (Lilian semakin terisak dengan tangisanya)". Lilian


"maafkan aku sayang...ini diluar kendaliku ". Neil


"kenapa kak Neil dengan mudah melupakan janji yang kak Neil pernah buat sendiri? kak Neil apakah tau dengan perasaan yang saat ini kak Amira rasakan? kak Neil jahat... kenapa kak Neil tidak menceritakan semuanya sebelum Lilian benar-benar mencintai kak Neil...(Lilian tidak kuat untuk berdiri ia terduduk di sofa yang sempat ia duduki dan Amira tanpa sadar meneteskan kristal beningnya ia tidak menyangka akan Lilian yang ikut membelanya meskipun Amira tau hati adik kesayangannya itupun tidak lebih jauh baik dari dirinya)". Lilian


Neil meremas rambutnya kasar betapa risau yang kini mendera, jauh dilubuk hatinya ia masih sangat mencintai Amira namun disisi lain dirinya juga telah mencintai Lilian, gadis dengan penuh pesona keindahannya.


"Kalian jangan fikirkan aku, aku berbahagia atas kebahagiaan kalian ...akhhh...(Amira mendekat kearah dimana lilian duduk namun ditengah langkah kakinya tiba-tiba Amira oleng dengan memegangi pelipisnya)". Amira


ya sejatinya Amira, Amira adalah sosok pegila bisnis ya bisa dikatakan bakat yang ada tidak boleh di sia-siakan hingga ruang istirahat Amira tersendat ditambah persaannya yang sedang galau membuat ia terasa begitu memikul beban yang begitu berat membuat kondisi kesehatannya menurun namun Amira tetap memaksa untuk sehat ia tidak mau terlihat lemah Dimata orang-orang.


dengan gerakkan cepat Neil menangkap Amira yang terlihat oleng hingga keduanya saling bertatap mata, selembar foto dengan wajah khas imutnya terjatuh di lantai. menampilkan dua sosok sahabat kecil ya bisa dibilang seperti itu. foto itu bagai tersapu angin hingga jatuh tepat di depan kaki milik Lilian. Lilian mengambilnya dan memperhatikan foto yang terlihat sangat manis ya foto itu menampilkan sepasang laki-laki dan perempuan kecil tengah bergandengan tangan sambil tersenyum , senyuman tanpa beban dan sangat polos.


"ini sangatlah manis... apa ini adalah kalian kak...!!!". Lilian


Lilian menatap keduanya yang masih saling berpegangan satu sama lain, Lilian menggenggam foto itu dengan erat. Lilian menggelang dan memejamkan netranya sejenak.


"hiks...... maafkan Lilian, Lilian sudah masuk dalam kehidupan Kalian". Lilian


Lilian berlari tanpa permisi Sungguh sakit rasa hatinya , rasanya begitu hancur berkeping-keping dirinya. kenyataan ini sungguh getir untuk dirasa hingga sesak di dadanya tidak kuasa ia tahan.


Lilian berlari membawa perasaan hancurnya. seorang yang sama ia sayangi seorang yang sama ia begitu banggakan telah memiliki kisah yang sama juga.

__ADS_1


__ADS_2