
"hiks....". Amira
Niel membalikkan posisi berdiri Amira dan mengusap air matanya.
"jangan menangis lagi aku disini, aku akan tetap bersamamu... jangan pernah ragukan kesungguhanku sayang". Neil
"apa cintamu masih kau simpan untuk Lilian kak? (menatap lurus tepat kemanik Neil mencari jawaban)". Amira
"tidak Amira, aku hanya mencintaimu.
mungkin selama ini aku salah, aku salah mengartikan rasaku...aku begitu menyayangi Lilian... namun belum untuk mencintainya.
dan akupun sudah salah telah khilaf dengan rupa Lilian hingga diriku diperdaya oleh naf..ku sendiri dan ingin memiliki Lilian, tapi aku tersadar Amira bahwa cinta sejatiku adalah dirimu. dan kau datang disaat yang tepat, mungkin aku akan menyesal dalam seumur hidupku jikalau kau datang setelah aku menikahi Lilian.
aku sangat bersyukur dengan keadaan ini, aku bisa bersamamu lagi kekasih kecilku.
mungkin harus dengan cara seperti ini kita dipertemukan kembali, anggap saja sang Rabb memberi warna dalam cinta kita. agar kita bisa lebih bisa dewasa dalam menjalani hidup ini dengan segala kerumitannya.
dan yang perlu kau tau Amira , dirimu selalu ada didalam sini. hidup dan tumbuh tiada tergantikan". Neil
"Anda pembohong tuan...!.
dan begitu tanpa rasa bersalahnya Anda , tahukah Anda, anda telah membuatku cemburu dengan pengakuan anda terhadap adikku sendiri.
maka dari itu aku tidak percaya dengan Anda lagi (Amira mendorong dada bidang itu dan berbalik hendak melangkah)". Amira
"aku telah mengakui semua kesalahanku dan aku telah mengakui semua kebodohan dan kehilafanku.
tolong katakanlah dengan cara apa agar kau mau percaya dengan kesungguhan cintaku Amira (Neil meraih tangan milik Amira dan menggenggam tangan itu kedalam dada-nya).
katakanlah padaku dengan cara apa aku menebus semua kebodohan dan kehilafanku dimasa lalu... supaya kau mau memaafkan aku dan menerima cintaku kembali dengan utuh, seperti cinta kita di masa lalu... cinta yang murni tanpa rasa yang mengganjal seperti ini?!!!". Neil
Amira melirik sejenak kepada lawan bicaranya, pengakuan Sang mom Nichole dan kelemahan suaminya kepada kepatuhannya kepada keluarganya membuat ia diserang rasa takut untuk mempercayai laki-laki disampingnya itu lagi.
__ADS_1
"entahlah kak, aku tidak yakin dengan kesungguhanmu , bahkan aku sendiri tidak yakin dengan diriku sendiri.
meskipun kita sudah menikah, kita sudah menunaikan janji kita ...tapi apakah kita kuat ...apa kau tidak lihat diantara kedua orang tua kita...kita ...(terpotong)". Amira
"stttt....(Neil menutup bibir ribut Amira dengan jari telunjuknya) kita akan tetap bersama. kita akan buktikan kita bisa, kita akan membuat kedua orang tua kita bisa akur dan hidup saling berdampingan... Hem...(Neil mendekatkan diri dengan menangkap wajah Amira dengan kedua tangannya, Mereka saling bertatap dalam keheningan yang sama) cup....(Neil mengecup Pelan bibir Sang kekasih kecilnya).
aku ingin malam ini kita melakukanya sebagai pasangan suami istri yang sesungguhnya, kita terlalu sibuk dengan pemikiran kita memikirkan alam disekitar kita, hingga kita melupakan malam pertama kita (membisik intens tepat disamping telinga Amira)". Neil
dan keadaan itu membuat debaran yang sama diantara keduanya debaran cinta.
"kau...kau baru pulang, tubuhmu bau asap debu dan polusi kak, aku .. aku tidak mau...(dengan kedua rona dipipinya dengan nada yang berubah selembut mungkin dengan nada malunya)". Amira
"bukannya kau ingin bukti dariku hem, I love you.....I love you ...I love you... ". Neil
_skip_
hah.... huffft.... Suara resah penuh tanya.
terlihat Amira mondar-mandir di depan cermin sesekali menatap sebuah pintu yang tertutup rapat dengan samar gemericik air yang mengalir jatuh.
"kenapa kau senyum-senyum seperti itu didepan cermin? apa kau tengah merencanakan sesuatu dibelakang ku. kekasih kecilku...(Neil sudah tengah berdiri dengan sehelai handuk yang ia tautan dipinggang hingga dada bidangnya terekspos nyata menatapnya dengan tatapan seperti tidak biasanya)". Neil
glekkk.... Amira dengan susah payah menelan salavinanya melihat penampakan di depannya.
murni dengan tetesan air yang masih terlihat menambah kesan segar untuk dirasa.
"kak Neil". Amira
"jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi karena sekarang aku bukan kakak tampanmu lagi... tapi sekarang aku adalah suamimu panggilah aku dengan panggilan yang lebih dewasa, gagah, panggilan sayang tau semacamnya....Hem...(dengan melangkah mendekati dimana posisi Amira tengah berdiri) ". Neil
"sayang...!!!,apa tidak sebaiknya kita makan dulu. aku rasa perutku merasa lapar lagi...". Amira
"Hem...(tersenyum sesuatu), baiklah kita makan dulu tapi setelah aku memakanmu terlebih dahulu". Neil
__ADS_1
Neil menyerang dengan hasrat yang sudah menggebu-gebu.
penolakkan Amira, membuatnya menuruti keinginan sang istri tercinta untuk mandi dengan waktu yang cukup menyita waktu. tapi setelah itu Neil tidak akan menyia-nyiakan mengulur-ulur waktu lagi untuk menjamah istrinya.
ia akan membuktikan kesungguhan akan cintanya, mungkin setelah ia dapat memberikan keturunan diantara kedua orang tua mereka akan memadamkan api permusuhan.
"ahhh....(teriakkan Amira disaat Neil melempar handuknya kesembarang tempat hingga tidak menyisahkan secuil penutup apapun ,ada gerakkan yang aneh disana)". Amira
"jangan menjerit keras-keras nanti tetangga menggunjingku karena kekuatanku (Neil meraih Amira dan menuntunnya untuk mendaratkan tubuhnya di kasur yang sudah sedari tadi menantikan kehadiran mereka)". Neil
ya sejatinya Amira bukanlah gadis sepolos dulu ia pernah melihat adegan seperti ini di layar ponselnya, ia juga pernah memergoki temannya sedang melakukanya.
dan ia juga pernah beberapa kali memergoki Daddy Lanangnya tengah bermain dengan penghangat ranjangnya tanpa setatus yang jelas.
tapi Amira adalah Amira ,Amira adalah sosok yang masih sama menjaga dirinya dengan baik, jauh dari sentuh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. masih asli akan kemurniannya.
ya karena Amira sudah menargetkan ia akan melakukannya dengan seseorang laki-laki yang dicintainya.
yaitu Max Neil Nathaniel yang sekarang tengah menanggalkan satu persatu penutup ditubuhnya.
"kak....uhggggh......(dengan Suara tertahannya Amira meremas rambut lawan mainnya)". Amira
"ini akan sesaat terasa sakit, tapi setelah itu hilang dengan sendirinya...katakan sayang... bukan kakak". Neil
awalnya Amira gugup dan rasa yang sedang ia alami. ingin menangis ingin juga kabur tapi setelah lama dirasa ia mulai mengerti dan paham dengan Suara-suara yang aneh yang lahir dari bibir teman-temannya bahkan Daddy Lanangnya disaat melakukan adegan dewasa itu. ya rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
begitupun dengan dirinya ia sampai melupakan rasa malu dan rasa takutnya.
hingga ia dengan cukup lihai membalas dan memberikan sentuhan yang menurut Neil itu lagi-lagi bisa membangkitkan niatanya untuk terus bertempur.
_skip_
"terima kasih Amira Alexander... kekasih kecilku... bergumam (dengan membetulkan posisi tidurnya)". Neil
__ADS_1
Neil menyusul Amira yang sudah terlelap dengan posisi nyamannya.