
mendapatkan tatapan dari seseorang yang memiliki nama besar sekaligus terkenal dengan sedikit otoriternya membuat Lilian gadis remaja polos dengan pengalaman minimnya sedikit sungkan untuk kembali menatapnya bagi Lilian tatapan itu tatapan yang tidak asing seperti laki-laki yang lain sering melakukan tatapan itu kepadanya.
"Lilian, ...Lilian akan bahagia bila kak Amira juga bahagia dad, (Lilian mencoba tegar dengan keadaan hatinya dan kuat untuk membalas tatapan dari Daddy Lanangnya), Lilian yakin dengan seiring berjalannya waktu Lilian bisa menerima keadaan ini". Lilian
"hiks....".mom nichole
rasanya ia tidak rela untuk melepas Lilian menantu idamannya.
dan Fuji mengelus memberikan kekuatan untuk sang istri.
"sayang...".mom putri
sedangkan mom Putri mendekat kearah suaminya kini tengah berada.
amar menoleh dan menggenggam erat tangan milik sang istri.
"anak kita pasti kuat... bergumam". Amar
tanpa diduga Daddy Lanangnya mendekat dan dengan tiba-tiba meraih dan mengelus pucuk kepala Lilian.
melihat adegan itu amar mendelik dan satu langkah ia maju kedepan namun sang mom putri sejurus kemudian menahan lengan milik suaminya.
"kita harus menghargai Lilian mas... (membisik mencoba menenangkan suaminya, Rumi sangat kagum akan Lilian gadis dengan sejuta kelembutan kini berdiri tegar membela kakaknya meskipun mom putri tau perasaan anak sendiri dalam keadaan seperti apa)".mom putri
adegan itu juga membuat yang lain cukup terkejut.
"kau menang gadis kecil (dengan senyuman samarnya).
jika kau saja menginginkan lolly ku untuk bahagia kenapa aku tidak (ada kata-kata yang janggal diucapkannya hingga membuat Daddy Amar gusar)". Lanang
"maksud Daddy, (Lilian tidak akan menyangka akan diperlakukan manis seperti ini dari Daddy kandung saudaranya itu)". Lilian
"aku merestuinya Lilian, aku merestui hubungan Mereka (dengan tatapan lurusnya menatap ke manik Lilian, entah kenapa ia betah berlama-lama untuk menatap gadis polos itu meskipun hatinya tetap milik sang mantan istri tapi entah kenapa matanya tidak dapat berbohong sosok mahluk indah didepan matanya begitu elok, hingga ia lupa dengan usianya)". Lanang
"Daddy....(Amira menghambur memeluk sang Daddy Lanang hingga memutuskan pandangan diantara keduanya *Lilian dan Alex*) terima kasih dad.. terima kasih Daddy telah merestui hubungan kami...dan beralih kepada Lilian) terima kasih sayang... terima kasih....". Amira
__ADS_1
Lilian dan Amira saling mengusap air mata.
pemandangan itu terasa haru sekaligus menyakitkan.
"jangan menangis lagi kak, kau berhak bahagia...Lilian akan selalu mendoakan akan kebahagiaan kalian (Lilian dengan senyum tulusnya)". Lilian
"hiks....tidak....(mom Nichole tidak kuat dan memilih untuk pergi)".mom Nichole
"mom, (disaat melihat istrinya pergi tanpa pamit, dan beralih kepada amar dan Putri yang berdiri saling menguatkan)...maaf tuan Amar aku pamit untuk mengejarnya (Daddy Fuji mengejar istrinya setelah amar mengangguk. fuji menepuk pelan pundak sang anak disaat Fuji melewatinya bermaksud memberi dukungan kepada anaknya)". Fuji
"mom..., dad, (disaat Neil melihat kedua orang tuanya pergi secara berurutan. ia menyadari mommynya sangat kecewa dengan keadaan ini fikirnya mommy tersayangnya akan bisa menerima keadaan ini dengan seiring berjalannya waktu seperti yang Lilian bilang sungguh dewasa bukan sosok Lilian diusianya yang masih terbilang masih sangat muda, ya itu karena Lilian adalah sosok yang lembut dan baik hati)". Neil
_skip_
Lanang pulang dikediamanya tanpa membawa Amira.
ia sudah menyerahkan Amira sepenuhnya kepada keluarga Neil sebagai menantu dari keluarga Nataniel.
meskipun begitu perasaannya belum tenang ia memikirkan bagaimana kelanjutan dari nasib sang anak yang menikah dengan cara yang kurang baik dimata umum.
karena Lanang mengetahui sosok Lilian adalah sosok yang banyak digemari dari berbagai kalangan akan kebaikan dan keindahannya. ini pasti akan sulit bagi Amira untuk menjalani hari-harinya sebagai pendamping dari suami sahnya dan Lanang melihat sang mertua tidaklah menunjukkan rasa sukanya kepada anak semata wayangnya.
Lanang berada dibelakang sedangkan Lucas dan Jimmy berada dikemudi depan.
"aku tidak menyangka kita dipertemukan kembali dengan keadaan seperti ini tuan...(Jimmy mengawali)". Jimmy
"akupun sebaliknya, apa saja yang sudah aku lewatkan Jimmy...(nampak Lanang menerawang kepada masa yang silam)". Lanang
"banyak tuan...". Jimmy
sedangkan Lucas hanya menyimak namun ia bisa menebak orang yang ada disampingnya ini adalah orang yang spesial bagi tuannya.
mobil yang membawa Lanang menembus padatnya kota membelah keramaian yang ada.
"begitu ya.
__ADS_1
Hem, aku lelah ... bangunkan aku jika sudah sampai...(sejurus kemudian Lanang memejamkan netranya)". Lanang
sementara itu.
mom Nichole dan dad Fuji pamit undur diri untuk Pulang dikediamannya.
sedangkan Neil bersama keluarga Alamsyahpun boyong dari hotel dikediaman Alamsyah. untuk sementara waktu Neil dan Amira akan tinggal seatap dengan keluarga besarnya termasuk Lilian.
_skip_
*di kamar*
"mom....hiks....(Lilian menghambur kedalam dekapan sang mommy disana Lilian menangis sejadi-jadinya menumpahkan rasa kecewanya, bukan kecewa dengan masalah yang ada didalam keluarganya saja namun masalahnya yang ia dapatkan dari sang dosen yang kini entah kabarnya ada dimana)". Lilian
"menangislah sayang jika menangis membuatmu merasa lebih baik, dan ceritakan apa yang sudah kau lalui hingga Ferdinand baru menukanmu di pagi ini?".mom Putri
Lilian dengan keadaan yang acak-acakan sengaja mengganti pakaiannya. dan sebelum Lilian pergi ke hotel dimana mom dan Daddy Amarnya berada (ditempat dilaksanakan pernikahanya) dia mampir dulu di apartemen milik Neil yang rencananya akan Neil tempati bersama dengannya, ya karena disana sudah ada begitu banyak pakaian lilian yang Lilian persiapkan sewaktu Lilian masih menjadi kekasihnya.
bukan hanya pakaian namun banyak juga barang-brang yang mereka pilih Secara bersama, ya apartemen itu adalah hunian masa depan bagi mereka berdua dan kini kandas ditengah jalan.
sedangkan Amar berdiri diambang pintu menatap kagum akan ketulusan dan keberanian anaknya yang sudah memutuskan sebuah pilihan besar dihidupnya dan menatap iba karena amar tau kesakitan yang kini mendera anak semata wayangnya. pasti akan sulit melepaskan orang yang ia cintai demi untuk orang yang dicintainya pula.
"dad, Lilian ingin memeluk kalian berdua kemarilah....Lilian sangat merindukan Kalian, (bagi Lilian mom dan Daddy Amarnya adalah kekuatan sejatinya)". Lilian
mereka bertiga saling berpelukan saling menguatkan.
berharap esok hari bisa meredakan sesak yang mendera dada ini.
selang beberapa waktu.
"Lilian, kenapa kau ada disana? (ya Ferdinand tidak akan berbohong dengan keadaan yang Ferdinand lihat ketika pertama ia menemukan Lilian)". Amar
"paman!!!... sudah Lilian katakan agar tidak memberitahukan kepada Daddy, paman tau kan ini akan membuat Daddy dan mommy khawatir... membatin". Lilian
"sayang Daddy Amar bertanya kepadamu...".mom putri
__ADS_1
disaat Lilian diam dengan pertanyaan yang sumainya berikan.
"Lilian...". Lilian