
"Nona Lilian....(dengan senyuman senangnya Ferdinand segera menghampiri Lilian yang keluar dari tempat persembunyiannya) kenapa nona sedari tadi tidak mengangkat panggilan dari saya? apa nona baik-baik saja?! (ada binar, entah rasanya tidaklah jemu disaat memandang gadis yang satu ini gadis penuh pesona dan daya tarik yang begitu memikat)". Ferdinand
"Lilian baik-baik saja Paman, maafkan Lilian Paman Lilian tidak mendengarnya selluler Lilian dalam keadaan *diam* ...paman apakah paman mau mengantar Lilian untuk pulang? (terlihat sembab diarea matanya namun itu terlihat lebih baik dibandingkan Ferdinand menyaksikan Secara langsung disaat Lilian menangis, sungguh rasanya dunia pun ikut menangis)". Lilian
"tentu nona (dengan sopan)". Ferdinand
sebenarnya Ferdinand merasa sangat kasihan kepada Lilian, nonanya itu pasti sangat sakit hati mendapati calon suami lebih menyuruhnya* Ferdinand untuk mengejarnya*, namun seakan dirinya Ferdinand hanya bungkam dengan apa yang sudah dia tangkap dari pengelihatan dan pendengarannya seakan kejadian ini adalah sebuah rahasia yang patut ia jaga.
ya Ferdinand tidak menanyakan hal lebih kepada Lilian karena Ferdinand sangat menjaga privasi akan keluarga atasannya dan memegang teguh dengan peraturan yang pihak perusahaan buat.
_skip_
"Lilian, (mom Putri melihat sebuah mobil perusahan tengah memarkirkan mobilnya dan ada sedikit keterkejutan disaat siapa penumpang yang baru turun dari mobil tersebut) sayang kau sudah pulang? (dan sang mommy terheran dengan keadaan sang anak) Lilian kenapa dengan matamu? (mendengar itu Lilian hanya diam, ia nampak sedang memikirkan sesuatu ya Lilian tengah memperkuat kenyakinannya .mom Putri melirik kearah Ferdinand yang ikut menyusul dibelakang Lilian disaat anak kesayangan hanya menundukkan pandangannya) Ferdinand ada apa dengan Lilian? (mom Putri terlihat sangat khawatir meminta penjelasan kepada Ferdinand)".mom Putri
"ekhm, (dengan susah payah Ferdinand menelan salavinanya disaat nyonya putri meminta penjelasan padanya. ya pasalnya Ferdinand juga kurang mengerti dengan permasalahan diantara ketiga muda-mudi itu namun samar mendengar dan melihat interaksi diantara ketiganya (akan penuturan ketiganya) seakan Ferdinand bisa menyimpulkan ada cinta segitiga diantara anak-anak atasannya ini) saya....saya kurang tau nyonya .
maaf alangkah lebih baiknya nonya menanyakan secara langsung kepada nona Lilian, saya pamit nyonya sekali lagi maafkan saya nyonya putri atas ketidaksanggupan saya untuk menjelaskannya! (dengan sopan).
maafkan saya nona Lilian saya rasa saya tidak pantas untuk memberitahukan rahasia ini, saya tidak bisa tau apa yang akan terjadi di saat tuan amar tau... apalagi dengan nona Amira saya tidak tau kemurkaan apa yang tuan Alexander akan tunjukkan....membatin ngeri". Ferdinand
"hem, terima kasih Ferdinand sudah mengantarkan Lilian pulang".mom Putri
"em...(mengiyakan), saya pamit nyonya, Nona". Ferdinand
selepas kepergian Ferdinand.
__ADS_1
disinilah mom putri dan Lilian berada, Mereka nampak duduk tegang di sebuah sofa diruangan keluarga.
"mom....(bibirnya bergetar ia teringat lagi akan semua urutan kejadian yang sudah ia lalui untuk beberapa hari ini. nampak Lilian mengambil nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan Secara teratur) Lilian ingin perjodohan ini dihentikan (dengan kristal yang lolos dari kedua sudut matanya)". Lilian
"degggg....(begitu syok dan kagetnya mom Putri) apa yang tengah kau bicarakan Lilian? apa maksudmu...(nampak mom Putri membesarkan netranya)".mom Putri
"Lilian ingin menyudahi perjodohan ini, Lilian tidak mau menikah dengan kak Neil...". Lilian
"apa yang kau bilang barusan Lilian?!!! (dengan suara yang cukup keras dengan tatapan kagetnya membuat kedua-nya menoleh kearah sumber suara, ternyata Daddy Amar tengah berada diambang pintu ruangan keluarga itu dengan setelan jas kerja yang masih lengkapnya yang masih ia kenakan. ya amar pulang lebih awal karena semenjak tadi perasaanya tidaklah tentang hingga ia memutuskan untuk meminta izin ia takut terjadi sesuatu yang buruk kepada sang istri tercintanya dan alangkah terkejutnya pendengarannya mendengar perkataan yang kurang berkenan di akal ,ya gadis emasnya tengah berucap yang tidak masuk akalnya. perlahan amar mendekat kearah keduanya) katakan sekali lagi Lilian Daddy ingin memastikan kau tadi mengatakan apa?". Amar
dengan Keberanian yang semakin melemah Lilian hanya pasrah, ya Lilian akan memasrahkan semuanya ini demi kebahagiaan akan kakak tersayangnya. meskipun jauh didalam lubuk hatinya ia sangat menginginkan sosok Neil, Lilian mengamsusikan Amira sang kakak lebih pantas untuk mendapatkan seorang Neil , baginya seorang kakak seperti Amira adalah segalanya.
Lilian bangkit dari posisi duduknya dan kini posisinya saling berhadapan dengan sang Daddy tercintanya Daddy yang selalu memberikan kesempurnaan apapun untuk dirinya.
"tidak, tidak mungkin... apa kau sedang bercanda Lilian... pernikahanmu hanya tinggal menghitung hari lagi bersama Neil dan undangan sudah tercetak seminggu yang lalu dan Daddy sudah menyuruh anak buah Daddy untuk segera membagikannya.".Daddy Amar
"tapi Lilian Sungguh tidak bisa dad, Lilian tidak mau seseorang yang menikah dengan Lilian hanya memberikan separuh cintanya untuk Lilian...(mencoba menyakinkan)". Lilian
"apa maksudmu Lilian? kenapa kau bisa berkata seperti itu. apa Neil tengah berselingkuh! (Amar murka dengan dada yang terlihat mulai naik turun,) katakan siapa perempuan itu Lilian? siapa perempuan yang berani-beraninya mengacaukan hubunganmu bersama Neil". dad Amar
"bukan seperti itu dad,...(Sungguh Lilian tidak kuasa untuk mengucapkannya)". Lilian
"katakan Lilian siapa perempuan itu, akan aku berikan pelajaran kepada siapapun yang telah membuat lilianku menangis seperti ini...(Amar mendekat dan menghapus air mata yang sedari tadi lolos dari mata bening milik Lilian)". dad Amar
pemandangan itu membuat sang mommy putri ikut meneteskan kristal beningnya, begitu sayang dan perhatinya sang suami kepada anaknya. ia merasa sangat beruntung bisa bersanding dengan sosok sempurna itu.
__ADS_1
"sayang... (terlihat seseorang perempuan dewasa datang disusul oleh seorang laki-laki dewasa tengah menatap khawatir kearah Lilian sang perempuan dewasa terfokus kepada Lilian sedangkan sang laki-laki dewasa terlihat dengan raut kacaunya tengah melihat kearah dimana perempuan dewasa itu tengah berdiri)". Amira
"Amira kau Belum betul baik... berhati-hatilah (ya disini memang Amira terlihat tidak seperti biasanya perempuan dewasa dengan tampilan elegannya dengan tatapan wibawanya kini terlihat pucat dengan tubuh yang sedikit bergetar)". Neil
degggg.... penuturan dan perhatian yang kak Neil persembahkan untuk seorang kak amiranya membuat semakin menambah keyakinan Lilian untuk mengakhiri hubungannya bersama laki-laki yang akan menjadi calon suaminya. ini sungguh berat untuknya.
"Neil...kenapa ia terlihat begitu akrab dengan Amira? (setau mereka Neil dan Amira kenal sebatas calon kakak dan adik ipar tidak lebih dan bukannya mereka jarang berinteraksi dan berkomunikasi tapi kenapa kini terlihat sedekat itu)".amar dan Putri
semenjak Neil membawa Amira kesebuah rumah sakit dan ketika begitu Amira tersadar ia langsung bangun dan melepas semua selang infus yang menempel ditubuhnya, Amira perempuan dewasa dengan menampilkan aura kepemimpinannya hanya menyerukan sebuah nama ya nama itu ia serukan untuk adik tirinya * Lilian putri Alamsyah*.
dengan menancapkan pedas gas Amira berlalu dari pandangannya dengan kondisi yang buruk membuat Neil mengikuti Amira, dengan perasaan khawatir plus kacaunya dengan keadaan ini ia mencoba memanggil Amira menyadarkan gadis kecilnya gadis yang kini tumbuh menjadi sosok dewasa dengan tampilan positif dan segarnya supaya mendengarkannya namun alangkah ia semakin khawatir disaat Amira tidak memperdulikan dirinya , ya Neil takut terjadi hal yang buruk akan terjadi kepada sang kekasih kecilnya. kekasih kecil? dimanakah sosok Lilian yang beberapa tahun menemani dan mengisi warna dihari-harinya mengapa seakan dirinya hilang dengan begitu saja dibenaknya disaat ia dipertemukan kembali Dengan sosok gadis kecilnya apakah dirinya memang benar masih menyimpan perasaan itu, perasaan yang dulu sempat ada???!. masih pantaskah? dan apakah ia tega untuk melepas seorang gadis sesempurna Lilian?.
ketiganya melihat interaksi yang Neil persembahkan untuk Amira, sebuah perhatian yang tidak terasa Neil perlihatkan secara nyata.
"kak...(ada raut tidak tega disaat netranya melihat sang kakak beraut pucat)". Lilian
"jangan sayang...(Amira menggelang, ya Amira memprediksi Lilian akan memberitahukan rahasianya bersama Neil kepada kedua orang tuannya dan jika hal itu sampai terjadi Amira tau pasti dengan perasaan kecewa dari sang Daddy dan mommy tersayangnya itu akan terluka, Amira tidak mau kalau hal itu sampai terjadi Amira akan melepaskan Neil demi ketiganya (dad Amar ,mom putri dan adik tercintanya lilian)". Amira
"katakanlah kak, jangan membohongi diri sendiri demi Lilian, Lilian tidak mau bahagia diatas penderitaan seorang yang Lilian anggap paling berharga di hidup Lilian... orang yang paling sangat Lilian sayangi...(dengan lelehan kristal bening tulusnya)". Lilian
"Lilian...Amira sebenarnya apa yang terjadi (mom Putri semakin dibuat bingung disaat kedua anaknya saling beradu ucap dan nampak jelas raut kesedihan diantara keduanya)". mom putri
"sayang....(mom putri beralih kepada Lilian ya kerena mom Putri tau Lilian bukanlah tipe yang bisa mudah menyembunyikan sesuatu terutama perasaannya, ya karena Lilian sudah terbiasa dengan hal apapun Lilian akan ceritakan kepada sang mommy karena disini Lilian adalah tipe yang manja dan ketergantungan dengan sosok yang paling dekat dengannya terutama pada sang mommy Putri dan Daddy amarnya) katakanlah sayang, Jangan takut katakanlah yang sebenarnya...(mom putri memberikan kekuatan kepada Lilian)".mom putri
"sebenarnya... sebenarnya ...(Amira dan Neil hanya mampu memejamkan netranya disaat Lilian mengungkapkan dengan hal yang sebenarnya) kak Neil dan kak Amira adalah sepasang kekasih...(dengan susah payah Lilian dengan nada bergetarnya, begitu sakit dan perih yang ia rasakan disaat kenyataan ini ia ungkapkan sendiri)". Lilian
__ADS_1