
"belum, aku belum membuat janji apapun dengan tuan Hafiz... tapi tolong bisakah mba untuk memberitahukan kepada beliau terlebih dahulu...
aku adalah Lilian Putri Alamsyah, orang yang diutus oleh tuan Amar Alamsyah, aku adalah Putri beliau *Amar* untuk menemui tuan Hafiz (dengan nada penuh keyakinan bahwa sang tuan Hafiz bersedia menemuinya)". Lilian
"baiklah Nona... kami akan menghubunginya terlebih dahulu ... tunggu sebentar... (seseorang resepsionis nampak menggerakkan tangannya untuk menghubungi seseorang yang berada disebarang sana dengan sebuah telepon yang sudah disediakan pihak kantor)
(dan... berberapa saat kemudian...)
silahkan Nona Lilian dari sini Nona lurus saja dan setelah itu beloklah kekanan didepan sana akan ada asisten tua Hafiz yang sudah menunggu akan kedatangan anda...(mempersilahkan) ". resepsionis
"baiklah... terima kasih (dengan senyuman cerahnya itu pertanda Lilian bisa bernafas sedikit lega meskipun tetap saja rasa sedikit takut turut menyelimutinya)". Lilian
ya posisi seperti sekarang bisa dibilang Lilian tidaklah inginkan, karena kemanapun dirinya dalam setiap harinya pastilah selalu didampingi seseorang yang benar dekat dengan kesehariannya namun kali ini adrenalinnya nampak sedang diuji, ya Lilian akan kuat dan berani dengan apa yang akan ia hadapi didepan sana.
cklekkk... suara pintu yang terbuka secara perlahan.
dengan perasaan gugupnya sedari tadi bertemu dengan sang asisten yang sesekali mencuri pandang terhadapnya, dan kini Lilian menjawab sapaan dari sosok yang cukup membuatnya cukup terkejut.
ya sosok yang dimaksud Daddy Amarnya terlihat begitu mirip dengan seseorang , tubuhnya tinggi tegap besar ,dan jelas terlihat bulu-bulu halus disekujur tubuh yang terekspos, hidungnya mancung wajah yang rupawan dengan ketegasan rahangnya mencerminkan dia adalah seorang pemimpin dengan tingkat kedisiplinannya.
umurnya terlihat berbeda tipis dengan Daddy Amarnya , namun seseorang yang sedang beradu tatap dengannya sepertinya memiliki usia diatas sang Daddy Amarnya namun tetap saja rupa dan postur maconya itu masih sangat jelas terlihat dan yang membuat Lilian cukup terkejut dan terpaku, manik ini terlihat begitu mirip dengan seseorang namun tetap saja sedikit berbeda ya manik matanya mengingatkan Lilian dengan seseorang yang berada jauh disana.
"apakah Lilian tidak salah bahwa seseorang ini begitu mirip dengan mas Harun , tidak... mungkin ini hanya perasaan Lilian saja (memejamkan sejenak netranya)... membantin". Lilian
"assalamualaikum... Lilian (dengan senyuman simpulnya menatap kagum kearahnya)". Hafiz
"wa'alaikumussalam...tuan Hafiz". Lilian
"jadi benar kau adalah Putri dari tuan Amar Alamsyah? ...mari... silahkan duduklah ,kau pastilah sangat lelah (Hafiz tidak habis fikir dengan pengelihatannya bahwa tuan Amar memiliki Putri dengan penampakkan seperti demikian dengan terus menampilkan senyuman ramahnya).
Lilian? bukannya istrimu juga bernama Lilian bocah... tapi aku yakin Lilian yang sekarang ada di hadapanku bukanlah Lilian seperti yang kau maksud Noah....!. (senyum-senyum sendiri).
dan ternyata kau salah Noah gadis terindah dinegri ini adalah gadis yang sekarang berada di hadapanku (tersenyum samar)... akan aku pastikan dirinya akan menjadi milikku ... membatin)".Hafiz
sedangkan sang asisten diam mengamati gerakkan sang tuan dengan pemikirannya.
__ADS_1
"Lilian? Putri dari tuan Amar Alamsyah? siapakah mereka sepertinya tuan cukup dekat dengan ayah dari gadis ini...
tamu ini, sepertinya tuan Hafiz tertarik dengan gadis ini...aku tidak menyangkanya akhirnya tuan sadar juga bahwa nyonya tidaklah pantas untuk bertahta di hatinya, melihat dari perbuatannya bersama selingkuhan sekaligus teman dekat/karibnya...(tersenyum sinis dalam diam) sepertinya nama nyonya akan segera tergeser... membantin". Kris
Kris adalah asisten yang dibawa oleh Hafiz dari negara seberang yang baru hampir seminggu ini ikut menetap dengannya.
sebenarnya Kris ikut kenegara ini bukanlah bertugas bertujuan untuk menjadi asisten Hafiz, namun Kris hanya membantunya dalam waktu sesaat saja ya karena tujuan utama Kris ikut kenegara ini adalah untuk mengurus Maldi yang jauh dari sang majikan taubatnya itu.
setelah Lilian dan Hafiz duduk saling berseberangan.
"ekhm... Kris suruhlah Nia untuk membuatkan minuman untuk Nona Lilian ". Hafiz
"baik tuan.
(Kris pergi dan sesekali mencuri pandang hingga mata awas Hafiz menyadari gerakkan dari bawahan sedikit pembangkangannya itu)". Kris
"dasar duplikat...andai saja Maldi tidak memanggilmu, tidak akan aku ajak kau tinggal serumah denganku... membatin". Hafiz
Kris pergi dengan tatapan sesuatu.
" jangan bilang seperti itu nona Lilian,anggap saja aku adalah keluargamu , emm...maksudku aku dan Amar sudah sangat dekat jadi jangan terlalu tegang". Hafiz
"em...(mengiyakan dengan senyum sopannya)". Lilian
"jadi apa yang membuat Nona Lilian harus menemuiku sejauh ini, ehkm...maksud saya kenapa Nona Lilian tidak menghubungiku terlebih dahulu...aku bisa menemuimu ditempat yang kau mau Nona". Hafiz
"em...maaf sebelumnya tuan...Lilian rasa menemui tuan dikantornya langsung adalah cara yang lebih baik...ekhm...( rasa canggung bangkit kembali disaat Hafiz lagi menatapnya seperti laki-laki pada umumnya yang menatap antusias kearahnya)... sebenarnya Lilian datang kesini membawa sebuah kabar....................(Lilian menceritakan dengan apa yang sudah terjadi diperusahaan cabang milik Hafiz yang daddy Amarnya pegang tanpa mengurangi dan menambahinya)". Lilian
cklekkk.... Hafiz masuk dengan seseorang perempuan cantik dengan sebuah nampan ditangannya.
_skip_
"baiklah, aku akan ikut bersamamu...aku akan menjadi saksi dan akan berusaha membebaskan Daddymu... tenanglah...(Hafiz memberikan dukungan dan empatinya) tunggu aku ...kita beberapa menit lagi akan berangkat kesana". Hafiz
"terima kasih tuan terima kasih atas kebaikan dan kemurahan hati mu bersedia membantu Daddyku ". Lilian
__ADS_1
"itu sudah menjadi tugasku Lilian, selain daddy Amarmu adalah pegawaiku, bukanya Daddy Amarmu juga sudah aku anggap sebagai layaknya seorang sahabat bahkan saudara". Hafiz
"em... benarkah!. (Lilian tidak menyangka ternyata Daddynya memiliki hubungan baik dengan hampir setiap orang bahkan setiap dari temannya selalu menyapanya disaat bertemu ketika bertemu dengan dirinya)". Lilian
"itu benar Lilian.
dan aku pastikan persahabatan ini akan jauh lebih indah disaat aku memilikimu... membantin". Hafiz
(Hafiz melangkah kearah dimana meja kebesarannya berada dan melakukan sebuah panggilan sesaatnya disana).
"Hem...aku rasa tuan Hafiz adalah orang yang baik, tapi kenapa tatapannya terlihat seperti itu...
apakah aku juga diharuskan waspada terhadapnya (disaat Hafiz bertelepon namun pandangannya sesekali ia edarkan untuk Lilian).
hussttt.... sebenarnya apa yang kau fikirkan Lilian, bukannya tuan Hafiz sudah bersedia membantumu kenapa fikiran negatifmu tiba-tiba bercokol dengan seenaknya... membatin". Lilian
Hafiz menutup panggilannya dan berjalan kearah dimana Lilian dan Kris berada.
"Kris aku akan pergi keluar dengan Nona ini, kau tidak perlu ikut denganku, kau cukup handle beberapa tugasku dikantor, dan setelah itu tunggulah dengan tugas barumu setelah aku memberitahukannya kepadamu, aku akan menelponmu beberapa saat nanti... bersiaplah,apa kau paham dengan apa yang aku perintahkan?". Hafiz
"sudah aku duga... membantin.
paham tuan, saya sangat paham (menunduk memberikan hormat)". Kris
"baiklah Nona Lilian kita akan segera pergi ,mari". Hafiz
"assalamualaikum tuan Kris, kami pergi dulu (Lilian memberikan salamnya)". Lilian
"wa'alaikumussalam... hati-hati (dalam artian lain) dijalan, tuan....(sekali lagi Kris menunduk dengan mengucapakan salamnya)". Kris
setelah kepergian Hafiz dan Lilian.
"huffftt....sebenarnya kau ada dimana raja mudaku ,aku sangat gerah berdekatan dengan Paman suka perintahmu itu... lebih baik memiliki 1000 perintah darimu dibandingkan 1 perintah yang diberikan oleh si tua Hafiz ...bergumam". Kris
Kris melenggang dimana meja kebesaran Hafiz berada dan mulai meraih beberapa tumpukan kertas yang tidak terlalu asing baginya.
__ADS_1