
Lilian bangkit melihat sosok yang samar ketampanannya yang berada didalam rupa aslinya, hanya dirinya yang Harun perlihatkan sosok bermata biru dengan ciri khas ter sendirinya).
dengan tidak terasa kakinya bergerak serasa jiwa laki-laki culun itu memanggil jiwanya menuntun untuk pergi kepadanya.
"Lilian apa yang kau lakukan (Lanang menangkap tangan Lilian yang akan meninggalkannya)". Lanang
"dad....(peggangan erat yang Lanang lakukan membuat Lilian sedikit tersendat) maafkan Lilian dad, Lilian harus menemuinya...(Lilian berusaha melepaskan pegangan Lanang)". Lilian
namun tidak begitu saja Lanang melepaskannya.
"apa yang ingin kau lakukan Lilian? (dengan tatapan kepemimpinannya) aku tidak akan membiarkanmu kemana-mana, kita akan segera melangsungkan pernikahan kita (memaksa Lilian untuk duduk disampingnya lagi)". Lanang
"tidak dad, biarkan Lilian menyelesaikan masalah Lilian terlebih dahulu...Lilian mohon dad". Lilian
melihat gerakan diantara kedua-nya ( Lanang dan Lilian) semua hadirin merasa bingung ditambah lagi seseorang yang tengah berdiri diambang pintu masuk, menatap dan memanggil satu nama ,sebuah nama itu ternyata ditunjukkan untuk calon pengantin.
siapakah sebenarnya tamu tidak diundang itu???
"Ferdinand, Lucas...usir laki-laki bodoh itu...(disaat Lilian mulai melawan)". Lanang
"siap...(Lucas dan Ferdinand menghadang)". Lucas dan Ferdinand
"pergilah sebelum kami menggunakan cara yang kasar". Lucas
"aku tidak akan pergi aku hanya akan membawa tanggunganku...!". Harun
"kami tidak perlu anda menanggung apa-apa tuan, segeralah pergi maka anda akan lebih beruntung". Ferdinand
"jangan halangi saya tuan-tuan, Lilian...(Harun kekeh)". Harun
"mommy...Daddy...(Amira berdiri disaat kedua bola matanya melihat kedua orang tuanya bangkit dari posisi duduknya)". Amira
"tunggu Ferdinand, (amar menghalau) biarkan tuan ini berbicara..., jelaskan tuan siapa dirimu sebenarnya...(bergejolak dalam dada)". Amar
sedangkan mom Putri tidak mau ketinggalan ia mengekor dibelakang sang suami.
"aku adalah dosen Harun tuan Amar, aku yang melakukanya kepada anakmu, aku siap untuk mempertanggung jawabkan atas semua perbuatanku (dengan tegas tidak ada secuil pun keraguan dan rasa minder dengan kesederhanaannya)". Harun
__ADS_1
"apa kau tidak salah tuan...(amar mendengus mendengar pengakuan dari seseorang bertampang culun, apa tidak salah seseorang dengan penampilan seperti ini bisa melakukannya kepada anak emasnya fikiranya)". Amar
"mas... tenanglah (disaat mom putri melihat gelagat mencurigakan milik sang suami)".mom Putri
"saya tidak salah tuan Amar, maafkan perbuatan saya yang telah secara paksa menodai anak Anda! (tanpa rasa ragu dan malu) kedatangan saya kesini untuk mempertanggung jawabkan atas perbuatan saya!". Harun
"humm....(bergemeretak giginya menahan amarah yang muncul secara besar, rasanya Amar ingin memakan bulat-bulat laki-laki yang telah lancang mendapatkan anakknya) sini kau...(Harun mendekat) bukkkgh....(Amar meniju perut yang terasa keras itu) buggghk...(Amar menonjok wajah berkacamata baca hingga kacamatanya hancur berantakan)..dan masih beberapa tinjuan yang amar layangkan kepada Harun)". Amar
"mas cukup...(mom putri tidak tega meskipun hatinya terluka karena seseorang yang berusaha suaminya adili itu)".mom Putri
"hahhh... biarkan aku memberinya sedikit pelajaran mom, ini tidak seberapa dengan kesakitan yang ditanggung anak kita (amar semakin gencar saja melayangkan pukulan dan tinjunya kepada sosok yang hanya diam tanpa mau membalas serangan darinya) kenapa kau diam hahhh...lawan aku, jangan jadi pengecut...(namun Harun hanya menerima pukulan-pukulan dari Amar yang mendarat dibeberapa area tubuhnya )". Amar
"aku pantas menerima semua ini tuan Amar (dengan menahan sakit yang mulai menderanya, namun bisa mengontrol ekspresi kesakitanya)". Harun
hingga....
"uhuk.. uhukgh...(Harun memuntahkan cairan berwarna merahnya dari mulutnya dan menahan perihnya diarea perutnya, untung bukan dadanya yang diserang secara bertubi-tubi Harun masih bersyukur ya luka didadanya sudah mengering namun bila terkena pukulan bisa saja luka itu terbuka lagi)". Harun
"mas...cukup mas, biarkan dia pergi. kau pergilah dosen kita bicarakan nanti, suamiku tidak terkontrol..(mom Putri berusaha menahan suaminya)". mom Putri
"tidak nyonya Putri aku akan tetap disini, Lilian....(mata harun menatap pada sosok yang begitu bersinar dengan gaun pengantinnya)". Harun
"Jangan ikut campur Amira, jadilah anak yang memihak kepada Daddynya...bawa Lilian kedalam aku akan membuat perhitungan dengan laki-laki pengacau itu (Lanang menyerahkan Lilian kepada Amira sedangkan dirinya melenggang kearah depan menghampiri keributan yang ada)". Lanang
"hiks....". Lilian
"ayo jelaskan kepadaku sayang, sebenarnya apa yang terjadi denganmu (Amira menggiring Lilian kedalam rumah dan itu tidak terlepas dari pengelihatan Harun , ia mengepalkan tangannya)". Amira
"sayang....". Neil
"bantulah Daddy Amar, memihaklah kepada-nya (Amira melarang Neil yang akan mengekor dan dengan segera menggiring Lilian pergi dari sana, sedangkan ijab-kabul nya batal hancur berantakan pernikahan Lilian gagal total)" Amira
"berani-beraninya kau muncul dipernikahanku bersama Lilian, kau tau apa akibatnya pernikahanku tertunda...(dengan wajah murkanya)". Lanang
"apa tuan tidak mengaca diri? hei...tuan akulah ayah dari anak yang Lilian kandung jadi akulah yang berhak atas keduanya (Lilian dan anak yang dikandungnya)". Harun
"berani-beraninya kau menghinaku,..Lucas beri dia pelajaran (perintah mutlaknya)". Lanang
__ADS_1
hanya dengan hitungan menit saja Lucas berhasil ditumbangkan, bukanya Lucas adalah seorang bawahan andalan Lanang kenapa dengan mudahnya Harun menumbangkan Lucas?
"Ferdinand...(perintah)". Lanang
"Hem....baik tuan". Ferdinand
tidak jauh dari Lucas Ferdinand tumbang hanya dengan luka di kedua kakinya namun mengenai titik pusat sarafnya hingga Ferdinand mengaduh kesakitan.
"anak buah...(Lanang menggerakkan seluruh anak buahnya hingga mau tidak mau Harun kalah, selain luka yang Amar berikan terlebih dahulu, jumlah yang kalah banyak membuat Harun kalah dan tertangkap)". Lanang
"hadapi aku ,satu lawan satu tuan Alex.. buktikan siapa yang lebih berhak untuk mendapatkan Lilian (tantang Harun)". Harun
"hahaha..... (Lanang tertawa lebar), jangan bermimpi aku tidak Sudi menyentuhmu, tanganku bisa kotor menyentuh tubuh rendah mu. buang-buang waktu meladeni orang rendahan sepertimu ". Lanang
"mas, meski bagaimanapun anak yang dikandung Lilian berhak mengetahui siapa sosok ayahnya...(mom Putri menangkap tangan milik suaminya)".mom Putri
"aku tau sayang, tapi bisakah dirinya meyakinkan kita...". Amar
amar dan mom Putri saling berbisik-bisik.
"anak buah bawa dia ke markas, adili dia karena sudah mengganggu prosesi pernikahanku". Lanang
"tunggu tuan Alex, apa tidak sebaiknya keputusan ini kita biarkan Lilian yang menentukannya!". Amar
"apa kau sudah lupa dengan janji yang kau sudah buat Amar (dengan nada geram menatap tidak terima Amar mencoba bernegosiasi dengan nya)". Lanang
"tapi Daddy Lanang bukanya yang terpenting disini adalah kebahagiaan Lilian...(mom Putri menambahi)". mom Putri
"aku bisa memberikan Lilian segalanya, meskipun aku bukanlah ayah kandung dari anak yang Lilian kandung! (dengan keputusan final yang tidak bisa diganggu gugat).
bawa dia, kurung dia jangan sampai lepas sebelum acara pernikahan ini selesai...(Lanang memerintahkan anak buahnya)". Lanang
"baik tuan...".para anak buah
"tidak tuan, anda tidak sportif...anda pengecut menggunakannya cara seperti ini, Lilian...aku datang untuk bayi kita Lilian...(Harun berteriak dengan suara kebapa'anya)". Harun
"cukup dad, Amira mengetahui semuanya...! (dengan langkah seribu langkahnya Amira menghampiri keributan yang cukup membuat suasana panas di sore itu).
__ADS_1
lepaskan Lilian beserta keluargaku dad, apa yang sebenarnya ada dibenak Daddy...Amira sudah menduganya dad, pasti tidak ada yang beres dengan pernikahan ini. sadarlah dad, pernikahan itu bukanlah untuk mainan-main , pernikahan tidaklah pantas dengan saling memaksakan kehendak apa lagi tidak didasari dengan perasaan saling cinta...(Amira menatap lurus tepat ke manik tatapan tajam milik Daddy Lanangnya)". Amira
"plakkkk....(sebuah tamparan yang mendarat di sebelah pipi kiri Amira yang membekasan cap tangan dengan warna kemerahan) lancang, kau keterlaluan kepada Daddy mu sendiri Amira (dengan suara bentakkan nya)". Lanang