
Dave bangkit dari sofa itu, melangkah mengejar gadis yang baru saja berlalu dari hadapannya...
"Jolene tunggu.... " Namun gadis itu tak menghiraukan Dave yang mengejarnya.
" Jolene...! " Sambil meraih tangan gadis itu, hingga keduanya terhenti, mata gadis itu seperti api menatap Dave, perlahan ia tenangkan dirinya, dengan oksigen yang dihirupnya dalam dalam.
"Apa kau begitu tertarik dengan gadis itu, sampai ingin banyak bicara denganku, hagh??!! " Ucap jolene dengan seringai di bibirnya
"Aku tidak mengejarmu karena Alexandria. Tapi ini tentang kau dan aku. Kenapa dengan sikapmu? Bukankah kita ini saudara? Kenapa kau bersikap...
" Cukup! Hentikan ocehanmu ! .saudara???!! Heghh... Yang kutahu selama ini aku tidak memiliki siapapun Dave. aku hanya punya diriku sendiri, " Mata itu penuh amarah dan kebencian
"Kau marah padaku?!"
"Tidak. Aku marah pada diriku sendiri " Bibir gadis itu bergetar, tatapan matanya Nanar , dan sesaat keduanya saling terdiam.
"Maaf, untuk masa sulit yang harus kau lalui sendirian. Maaf, aku tidak berada disampingmu kala itu. Kita tidak bisa memilih dimana dan darisiapa kita dilahirkan, tapi jika aku bisa membuat permohonan pada Tuhan, dikehidupanku selanjutnya Aku tetap ingin terlahir sebagai saudaramu. sekarang aku disini. Tidak bisakah kita bicara sebagai seorang saudara? Tidak bisakah kita berpelukan seperti seorang teman ? Tidak bisakah kita saling bercerita seperti seorang sahabat? Tidak bisakah ki..."
Belum selesai dave dengan ucapannya, Gadis itu membenamkan wajahnya kedalam dada bidang Dave, ia terisak melepaskan segala kesesakan , kekesalan, dan kekecewaan. Dave mendekap perlahan tubuh gadis itu, mengusap lembut punggungnya, ia sendiri merasa sesak dalam hatinya saat mendengar isak tangis gadis di pelukannya itu.
" Kau tidak sendirian. Mungkin kita memang tidak sedekat yang kuharap, tapi setidaknya kita tetaplah saudara jolene. Aku ingin bisa menjadi seperti seorang kakak yang berhak khawatir kepada adik perempuannya. Datanglah padaku, ceritakan padaku apapun yang tidak bisa kau ceritakan kepada orang lain " Ucap Dave lembut,
.
"Dan kamu juga bisa menganggap Tante sebagai mama kamu sendiri sayang " Ucap seorang wanita yang melangkah kearah mereka.
"Mama...! " Ucap Dave,
"Tante Bellina" Ucap jolene setelah melepaskan diri dari pelukan dave
"Kemarilah sayang " Ucap Wanita itu dengan tatapan hangat kepada jolene, lalu memeluk erat gadis itu. "Sudah lama kan kita tidak bertemu dan berpelukan seperti ini?" Ucap wanita itu lagi
"Tante apa khabar? ".
" I'm good dear. Dan tante berharap khabar kamu juga baik. " Dengan tersenyum hangat seraya memegang lembut lengan gafis itu
" Khabar jolene juga baik Tante, "
__ADS_1
.
"Maafkan tante, tidak bisa mengerti tentang keadaan kamu saat itu. Tante hanya percaya pada apa yang tante lihat. Tante tidak mencoba untuk mendekati kamu, tante tidak mencoba untuk bicara banyak hal denganmu, "
"Jangan meminta maaf Tante, Semua itu bukan salah tante. Ataupun orang lain. Yang salah adalah orang tua jolene, Yang seharusnya meminta Maaf adalah mereka"
"Sayang, berdamailah dengan keadaan. Berdoalah pada Tuhan, agar papa bisa tenang disurga sana "
" Disurga? Heghh... Adakah surga untuk orang seperti papa? Bisakah ia tenang disurga setelah meninggalkan neraka untuk Anaknya? " Sebuah senyum getir terlihat di wajah jolene
"Maaf tante, jolene permisi mau keatas dulu" Lalu ia melangkah pergi menaiki anak tangga rumah itu.
Dave dan Ny.Belina hanya menatap punggung jolene yang berjalan semakin jauh dari tempat mereka berdiri.
.
"Dimana kakekmu?" Tanya Ny.bellina kepada Dave
"Dikamarnya ma. Mungkin lagi istirahat. Mama tidak mengajar hari ini?"
"Mama sudah selesai mengajar dan langsung kemari. Sepertinya minggu depan mama ke kampus kamu, tadi mama dapat undangan untuk mengisi seminar fk.kedokteran IUA dari prof.William Andersson"
"Kenapa sayang?? Hemh?"
"Mama tau, dia Dosen yang pernah memberiku cadaver yang mengerikan untuk bedah anatomi "
\(***fyi ; Cadaver adlh Tubuh yg sudah tidak bernyawa / Mayat Manusia yg diawetkan** \)
"Hhh... Memangnya kau ingin memilih cadaver yang bentukannya masih cantik , masih segar dan wangi untuk kau bedah hemh?? Lagipula prof.wiliam Andersson adalah Dokter hebat Amerika yang sudah mendapat banyak sekali penghargaan dalam dunia medis. Kamu seharusnya beruntung memiliki profesor sepertinya. " Sambil bergeleng dengan tersenyum kearah putranya.
"Yaaa, setidaknya lebih beruntung daripada harus memiliki profesor Bellina Thomson" sahut Dave dengan tertawa kecil menggoda mamanya,
"Oh iya, Nanti saat mengisi seminar di IUA, mama jangan pernah menyinggung soal dave " Lanjut Dave
__ADS_1
"Kenapa?? Kamu juga tidak mau ada yang tau kamu putranya Bellina Thomson ? Apa kamu ingin semua orang berfikir kamu lahir dari Batu? "
"Dave cuma nggak mau dapat banyak pertanyaan dari mahasiswa ataupun para Dosen dikampus soal keluarga. "
"Heghh...dasarr. Kamu tau, diluar sana betapa banyak orang-orang yang ingin Terlahir sebagai putra dari seorang profesor yang cantik dan hebat seperti mama hah??"
"Aaaa...justru itu ma. Makannya Dave tidak mau orang-orang tau. Betapa hebat dan cantiknya mama Dave ini. Bikin iri orang lain itu kan tidak baik ma, dosa " Sahut Dave sekenanya dengan terkekeh
"Lalu bagaimana dengan nanti malam? Mama sudah mencoba bicara dengan kakekmu bberapa waktu yang lalu soal rencana perjodohannya untukmu ini. Tapi sepertinya kakekmu tetap bersikeras"
"Huft.... Ya mau gimana lagi kalau sudah begitu ma. Harapan Dave sekarang cuma 1, semoga Gwen menolak nya."
"Bagaimana kalau Gwen ternyata setuju?''
" Yasudah, Nikahlah Dave dengan Gwen ma. Gwen juga ngga buruk kog. Kalau dinilai dengan angka nilainya 7,5 dapat lah. Selamat mama dapat menantu yang juga seorang Dokter . " Sahut Dave dengan senyum masam
"sejak kapan putraku yang manis berubah menjadi kurang ajar begini?? siapa yang mengajarimu menilai perempuan dengan sebuah angka hegh ??? " sambil menjewer telinga Dave
"auuwhhh... sakit maaaah " Ucap Dave dengan menggosok telinganya karena sakit kena jewer "Dave kan cuma menggambarkan biar lebih mudah menjelaskan seperti apa Gwen dimata Dave mah" lanjut Dave
"Apa Papamu akan datang ??" Tanya Ny.Belina menggantikan topik pembicaraan
"Papa??! Eghmm, tadi sih bilangnya akan datang mah "
"Heghh...Lihat saja jika sampai tidak datang. jangan harap berani menyebutmu sebagai Putranya " ucap Ny.Belina sambil menyilangkan kedua tangannya di beranda.
"hh...pasti papa datang Mah. Kakek sendiri yang meminta papa untuk datang "
"Ohh,, jadi maksudnya jika bukan Sang presdirnya yang meminta untuk datang dia tidak akan datang, begitu???!" Ucap Ny.Belina dengan sedikit gusar
"Kog jadi Serba salah gitu sih Mah ?? " Sahut Dave sambil menggaruk kepalanya sendiri yang tiba-tiba terasa gatal karena Mamahnya yang gusar tidak jelas
"ibu mana yang tidak gusar Dave, ketika mendengar Bapak dari anaknya seperti tidak perduli kepada anaknya ?! "
"Lohh, siapa yang bilang papah tidak perduli dengan Dave sih Mah?? jika papah tidak peduli dengan Dave mana mungkin Papah mengirim banyak uang setiap bulannya untuk Dave selama Hampir sebelas tahun , bahkan sampai sekarang. "
"Uang???! heghh... kamu bicara soal Uang yang diberikan papa kamu untukmu?? Apa uang itu penting untukmu sayang? Apa kamu pernah kekurangan uang selama hidup bersama mama?!"
__ADS_1
"Mama salah faham terus kalau sudah bicara soal papah. Dave ngomongnya apa maksudnya apa, Mama mengartikannya berbeda. hufhhh.... Udah ya mah, jangan bahas soal Papa dulu. mending Mama temuin kakek. Barangkali bisa bikin kakek berubah fikiran. Dave juga mau coba bicara lagi sama jolene. . cup " Ucap Dave sambil mencium pipi Mamanya, dan berlalu menaiki tangga untuk mendapati Jolene.
Ny.Belina pun langsung adem dan mereda emosinya begitu dapat ciuman dari putranya.