
Bryan keluar dari dalam mobilnya, ia berjalan kesebuah kursi besi yang terpasang di bibir taman itu.
Alexandria menatap pemuda yang terkenal dengan sikap dinginnya itu dari dalam mobil, Di sorot lampu kota dan kerlap kerlip lampu taman wajah pria itu terlihat sangat teduh, mata itu berbinar hangat , hidung mancungnya terpahat jelas, dan bibir ranum dengan warna merah alami itu menyempurnakan wajah tampanannya. Ya, dia sangat tampan, jika saja sikapnya sedikit saja lebih hangat mungkin semua wanita akan tergila-gila padanya .
Masih ditatapnya , ketika Terlihat pria itu sedang serius menatap layar ponselnya.
Lalu Alexandria keluar dari dalam mobil, dengan langkah kaki yang sedikit terseyok ia menghampiri Bryan.
Sadar akan kedatangan gadis itu, Bryan dengan sigap berdiri dan membantu gadis itu duduk perlahan pada kursi besi .
"Bagaimana Aku bisa mengantarmu pulang dengan kondisi kakimu yang seperti ini " Ucap Bryan dengan menghela nafas kasar sambil menatap pergelangan kaki gadis yang kini duduk disebelahnya itu.
"Aku tidak papa Bryan. ini akan sembuh setelah aku mengompresnya nanti " Ucap Alexandria
"Jangan membohongiku dengan sikap maupun senyum palsumu itu. Katakan, Apa ini Masih sakit ? " Tanya Bryan dengan menatap gadis itu
Alexandria mengangguk perlahan "Mm, Apa kau bisa meredakan rasa sakitnya bryan ?"
"Hanya ada satu cara " Jawab Bryan sambil melepas blazernya.
Alexandria menatap pria itu dengan isyarat bingung, Terlebih saat Bryan meletakkan Blazer yang dilepasnya dipangkuan Alexandria.
Tepatnya Blazer itu digunakannya untuk menutup kaki bagian atas gadis itu yang hanya tertutup dengan mini skirt .
Lalu Bryan Berjongkok di depan Gadis itu, dan perlahan mengangkat satu kaki yang sakit itu ke pangkuannya.
"Auuw,, Bryan apa yang kau Lakukan ?" tanya Alexandria dengan membulatkankan matanya sambil berusaha menarik kembali kakinya yang berada dipangkuan Bryan., namun laki-laki itu menahannya,
"Diamlah, Kau ingin aku menghilangkan rasa sakitnya kan ?" Dengan menatap lekat pada gadis itu
"iya, Tapi apa yang akan kamu lakukan Bryan ??"
__ADS_1
Tanpa menjawab pertanyaan gadis itu, Bryan justru mengusap lembut pergelangan kaki yang ada dipangkuannya itu.
"Sewaktu aku kecil, ibuku melakukan hal ini saat aku terluka " Ucap Bryan sambil sekilas menatap gadis itu, Lalu kembali mengusap lembut pergelangan kaki dipangkuannya juga meniupnya lembut.
Alexandria tak lagi protes, ia justru tersenyum manis menatap pria yang kini masih berjongkok dihadapannya itu. Entah kenapa, ia merasa bahwa segala sikap dingin Bryan yang selalu ia perlihatkan kini runtuh begitu saja. Seolah semuanya hanya gambaran luarnya saja.
Yang dirasa Alexandria, Sebenarnya lelaki ini sangatlah hangat, sangat peduli, sangat perhatian, hanya Mungkin sering kali ia tidak bisa atau lebih tepatnya tidak tau cara untuk menunjukkannya.
"Sudah Bryan, sekarang sudah lebih baik ,tidak sakit lagi . " ucap Lembut Alexandria
"Benarkah ?" sahut Bryan seraya menatap gadis dihadapannya itu
"Egm.Kau pandai menyembuhkan rasa sakit " Jawab Alexandria dengan anggukan dan senyum kecil
"Kau tau kenapa aku terkesan memaksamu untuk kuliah ?" Ucap bryan seraya menurunkan perlahan kaki gadis itu dari pangkuannya
"Bukan aku tidak menghargai profesimu , atau tidak menghormati keputusanmu, Tapi Aku tidak ingin kau harus mengulang kuliah lagi jika sampai kau tidak lulus semester ini. Aku tidak ingin kau gagal dalam pendidikanmu agar hal itu nantinya tidak menjadi batu sandungan untuk karir dan masa depanmu. Kau pasti tau, di negara ini pendidikan sangat diprioritaskan, dan bahkan menjadi salah satu standar penilaian derajat dan martabat seseorang"
"Aku marah saat kau tiba-tiba pergi tanpa memberitahuku. Dan lebih marah saat mendapatimu dengan keadaan yang seperti ini "
"Maafkan aku Bryan...
"Tidak perlu meminta maaf, karena amarahku bukan kepadamu. Tetapi pada diriku sendiri. Aku marah pada diriku saat hal buruk terjadi padamu."
"Bryan , Apa kau takut pada Daddy ? Jangan khawatir soal itu, aku akan katakan semua yang terjadi karena kecerobohanku sendiri "
"Hegh... Apa kau berfikir aku takut jika Om johan marah kepadaku ?! Tidak Alexandria. Daripada amarah Om johan, aku jauh lebih takut akan dirimu"
"Apa maksudmu Bryan ?" Tanya gadis itu dengan tatapan serius kepada lelaki yang terduduk di sebelahnya
"Ya, aku takut jika kau sakit. Aku takut jika kau menangis. Aku takut jika kau kesepian. Aku takut jika kau terluka. Aku takut, setiap kali aku terlalu jauh hingga tidak bisa menggapaimu " Ucap Bryan dengan menatap lekat kepada gadis yang tepat berada disisinya itu.
__ADS_1
Kini diantara netra itu saling bertemu, saling menyiratkan rasa yang tidak bisa diucapkan lidah.
"Bryan kau,,,
"Aku mencintaimu " Sahut Cepat Lelaki itu.
Seketika suasana menjadi sangat hening, Alexandria benar-benar dibuat tidak percaya dengan apa yang dia dengar , Bagaimana mungkin ? Apakah lelaki ini sedang mabuk ? Tidak, bahkan tidak ada aroma Alkohol sama sekali dari mulutnya. Lalu, bagaimana bisa lelaki ini tiba-tiba mengucapkan kata cinta ?
"Heghh, Apa kau sedang membuat lelucon bryan ? Bahkan wajahmu pun sangat datar. Bagaimana kau bisa membuat candaan dengan ekspresi yang seperti itu ?"
"Apa aku terlihat sedang bercanda ?"
"Tidak. Agh, maksudku aku bahkan tidak pernah melihatmu bercanda"
"Dan sekarangpun aku tidak sedang bercanda. Aku serius dengan yang kuucapkan. Aku mencintaimu Alexandria Vanesaille zein" Ucapnya dengan menekan pada nama gadis yang ditatapnya itu
"Bagaimana bisa kau bilang cinta dengan tiba-tiba ? Kau bilang tidak sedang bercanda bukan ? Tapi yang kau ucapkan hanya seperti lelucon Bryan " ucap gadis itu dengan sorot mata yang heran bercampur kesal
"Apa waktu selama ini masih kau bilang dengan tiba-tiba ? Kau sendiri yang mengatakan tidak mungkin orang sepertiku melakukan suatu hal hanya karena uang bukan ?! Semua yang kulakukan padamu , bukan karena semata-mata Om johan yang memintaku, Tapi karena memang aku mau melakukannya"
Alexandria masih begitu tidak habis fikir dengan pengakuan dari lelaki dihadapannya, semuanya terdengar sangat mengejutkan, mana mungkin ? ? Tanya itu yang terus berputar di kepalanya.
"Bryan,,, Ayo kita pulang saja " ucap gadis itu seraya bangkit berdiri ,
"Apa jawabanmu ?" sergah Bryan dengan ikut bangkit berdiri ,
"Jawaban ? Jawaban macam apa yang kau inginkan dengan situasi yang seperti ini hah ?" lalu gadis itu melangkah kearah mobil land cruiser silver yang terparkir di bibir taman itu
"Aku sudah menepati janjiku untuk mencintaimu jika saat kita sudah sama-sama tumbuh dewasa" Ucap Bryan yang langsung menghentikan langkah Alexandria.
"Janji ?? Janji Apa maksudmu ?"
__ADS_1