
📱 ; Suruh Haris keruangan VVIP 1 sekarang...
Hanya dengan 1 kalimat, Pria itu langsung menutup telfonnya , lalu terlihat mengecek sesuatu dari ponselnya untuk beberapa saat, kemudian meletakkan ponselnya kembali ke tempatnya.
Mendengar nama Manager mereka disebut, 2 pelayan itu terlihat bingung. Bingung kenapa pria itu memanggil manager mereka untuk datang keruangan itu, dan juga bingung bagaimana pria muda itu bisa tau nama dari manager Club itu
"Tuan, kenapa anda memanggil manager kami kemari? " Tanya seorang pelayan itu sambil menatap kearah Bryan,
Bukannya menjawab pertanyaan yang di lontarkan pelayan itu, Bryan justru terlihat tengah menikmati cake coklat yang tersaji cantik diatas piring keramik itu
"Hhh,,, nona-nona apa kalian tau siapa kami? " Tanya Gerald dengan nada yang sangat lembut kepada 2 pelayan namun pandangannya menatap lekat pada seorang pelayan yang berada di pangkuannya itu .
Tidak ada seorangpun yang menjawab pertanyaannya, dan seorang yang berada di pangkuannya justru menarik satu tangannya dari leher Gerald dan menempatkannya didada bidang pria tampan itu, jarinya mengusap lembut dada pria itu, dan terihat ia mulai meraih kancing atas kemeja Gerald , belum sampai jarinya melepas kancing kemeja itu, Tangannya sudah dihentikan, Gerald mencengkram tangan pelayan itu dengan sedikit Keras sampai yang punya tangan sontak menjerit kesakitan
"Dengarkan ucapanku Baik-baik nona, pria yang dianugrahi fisik nyaris sempurna seperti kami, Dan duduk didalam ruang VVIP kls 1, pastinya kami adalah org dari kalangan atas dan Terhormat bukan?!. Jika kami mengingkinkan wanita, pasti kami mengambil mereka yg masih bersegel. Tidak mungkin kami sudi dengan bekas Orang lain nona" Ucap Gerald dengan seringai dingin dibibirnya
"Dan lagi, apa kalian sama sekali tidak tau siapa pria ini? " Timpa Dave menatap 2 pelayan wanita itu secara bergantian sambil menepuk satu bahu Bryan yang tengah duduk santai dengan masih menikmati cake coklat nya.
Kedua pelayan muda itu saling memandang dengan raut wajah yang semakin kebingungan. Terlebih ketika tangan Gerald mulai mengancingkan lagi semua kancing baju wanita yang ada dipangkuannya, bukan hanya kancing yang tadi dibukanya, tapi kancing yg dari awal sudah sengaja dibiarkan terbuka itu juga dikancingkannya
"Jika kau tidak bisa memakai baju dengan benar, lebih baik sekalian tidak usah pakai baju. Telanjang saja, " Ucap Gerald setelah selesai mengancingkan semua kancing baju wanita itu sambil mendorongnya agar beranjak dari pangkuannya, lalu terlihat Gerald mengibas & mengelap baju dan celananya yang tadi tersentuh oleh wanita itu.
Ketika melihat temannya mendapat penolakan , yang seorang pun segera beranjak berdiri menghampiri temannya dengan wajah yang terlihat gemetar ketakutan
"Sepertinya kalian masih baru bekerja disini? Hmm? " Tanya kevin sambil menyilangkan tangan kedadanya dan menatap dingin kearah 2 pelayan yang berdiri di ujung sofa model L itu
" Kami bekerja baru 2 bln di Devil Club Tuan, dan ini pertama kalinya kami melayani ke ruang VVIP 1 ini " Sahut seorang pelayan itu dengan suara yang bergetar sambil menundukkan kepalanya .
"Apakah Selama 2 bulan itu kalian terbiasa menjajakan diri kalian kepada para pelanggan di club seperti yang kalian lakukan saat ini ?" Sahut kevin lagi.
Kedua pelayan itu tidak menjawab sama sekali, hanya terlihat ekspresi wajah yang semakin ketakutan & menundukkan kepalanya dengan meremas ujung baju mereka sendiri , seolah menyiratkan jawaban "iya" Pada pertanyaan yang baru terlontar itu.
Bryan terlihat masih dengan santai menikmati cake coklat nya, hingga piring kecil itu sekarang sudah kosong. Tak ada lagi suara dalam ruangan itu, kecuali suara gemericik wine yang dituang kedalam gelas lagi, dan kembali gelas menjadi kosong dalam sekali tegak.
Melihat hal itu tentu saja ketiga pria lainnya yaitu Gerald,kevin dan Dave hanya bisa saling menatap satu sama lain seolah ada pesan yang disampaikan lewat mata mereka yang saling bertemu, saling mengerti bahwa ini bukan pertanda baik.
"Glek.....
Suara pintu terbuka dan Seorang pria masuk ruangan VVIP itu dengan langkah yang terburu, ia berperawakan tidak terlalu tinggi, namun berbadan tegap proporsional , rambut hitam tersisir rapi kebelakang, dengan balutan kemeja warna cokelat ,dasi hitam, celana hitam, dan sepatu fantofel hitam mengkilat,usianya mungkin sekitar 35th .
"Maaf Tuan, Tuan memanggil sa..."
"Sttt..........tar
Sebuah piring kecil sudah melayang tepat ke pelipis pria itu, sebelum kata yang keluar dari mulutnya selesai , hingga seketika darah segar mengalir sampai ke pipinya.
"Tuan maafkan saya, tolong maafkan saya tuan... Apa yang sebenarnya terjadi ? Apa pelayan ini Telah melakukan kesalahan? " Ucap lelaki itu sambil berlutut dan menyatukan kedua telapak tangannya, ia bahkan tidak berani menyeka darah yang tengah mengalir membasahi pipinya.
Seorang pria terlihat bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri lelaki itu lalu berjongkok tepat dihadapan lelaki itu
"Kau masih berani bertanya apa salahmu? Aku telah memintamu datang, tapi kau membuatku menunggu sampai 15 menit padahal kau jelas berada di Club. Nampaknya kau terlalu sibuk dengan wanita diruanganmu hingga membuatmu lupa sedang berurusan dengan siapa" Ucap pria itu dengan nada yang terdengar santai tapi sangat dingin dan menciutkan nyali siapapun yang mendengarnya.
__ADS_1
Tentu saja Bryan tau betul apa yang dilakukan Lelaki itu diruangannya tadi sebelum lelaki itu datang menemuinya, karena ada CCTV yg terpasang disana dan semua itu bisa dilihat hanya dengan ponselnya.
"Kau tau apa yang telah dilakukan 2 pelayanmu ini kepada para Temanku disini Pak Haris?" Ucap Bryan kepada lelaki Yg masih berlutut dihadapannya sambil mengangkat dagu lelaki itu secara kasar dengan satu tangannya
Setelah itu Bryan menarik kembali tangannya secara kasar lalu berdiri . Lelaki yang berlutut itupun dengan perlahan ikut berdiri
"Jadi kedua pelayan ini telah berani melakukan kesalahan diruangan VVIP anda ini tuan? Mereka pasti telah menggoda Tuan tuan semua... Dasar wanita sialan, kurang ajar.... "
Plak..plak......
Tangan lelaki itu melayang dengan keras ke wajah 2 pelayan wanita itu, hingga membuat keduanya jatuh tersungkur dan ujung bibir mereka pun berdarah,
Namun ternyata itu belum cukup, Haris menarik kedua pelayan itu dengan kasar untuk bangun dan hendak memukul mereka lagi, saat tangannya terangkat hendak melayangkan pukulan kearah pelayan itu, tiba-tiba. . .
"Dorrr........
Sebuah peluru tepat menembus telapak tangannya
"Aaaauwhh....." Teriak haris kesakitan memegang tangan kanannya yang sudah berlumuran darah.
3 orang pria yang masih pada posisinya duduk di sofa pun ikut merasa tegang ketika melihat senjata api ada ditangan Temannya yang tengah tersulut emosi itu.
"Apa menurutmu dia akn berhenti dengan tembakan ditelapak tangan lelaki itu?" Tanya Gerald kepada kevin yang duduk disebelahnya, tentu saja percakapan ini hanya terdengan diantara mereka bertiga yang tengah duduk disofa itu
"Mungkin kepala lelaki itu yang selanjutnya akan meledak" Ucap kevin dengan seolah penuh keseriusan diwajahnya hingga kedua temannya saling menatap tajam kearahnya
"Haaishh...Sial " Ucap Dave setelah mengangkat botol wine yang isinya mungkin tinggal sepertiga botol saja
.
.
"Kenapa kau gunakan tanganmu untuk memukul mereka?" Ucap Bryan dengan sedikit berteriak ke arah haris sambil tangannya menunjuk kepada kedua pelayan wanita yg terisak di sebelah haris....
"Heh Bodoh, aku bahkan tidak mengatakan kesalahan apa yang sudah mereka lakukan disini tadi, tapi kau langsung mengatakan dengan pasti bahwa mereka menggoda teman-temanku. Bukankah itu terdengar seperti kau sedang mengatakan bahwa kaulah Dalang dari perbuatan rendahan itu, hah?!" Ucap Bryan dengan menarik kerah haris secara kasar
"Tidak tuan,,,maafkan aku. Tolong maafkan aku tuan..."
"Braaakk.....
Sebuah tendangan melesat tepat didada haris yang membuatnya tersungkur membentur ke dinding dibelakangnya,
Dan dengan cepat Bryan menghampirinya lagi, berjongkok dihadapan lelaki yg tengah meringis kesakitan itu
"Piring yang melayang ke kepalamu karena kesalahanmu yang telah berani membuatku menunggu.
Peluru yang menembus telapak tanganmu karena kesalahanmu menggunakan tangan itu untuk memukul wanita. aku sudah pernah mengatakan padamu jika aku benci dengan seorang pria yang melakukan kekerasan fisik pada wanita , tapi kau berani melakukannya tepat dihadapanku.
Lalu Tendangan didadamu ini karena kesalahanmu berani berbisnis kotor ditempatku. Kau tau kenapa tempat ini kunamai Devil Club ?! Karena pemiliknya ini adalah "setan", haris.
Tempat ini kubuat untuk mereka dari kalangan atas, segala jenis minuman yang mereka cari akan mereka dapatkan disini. Kulegalkan apa yg diilegalkan di negara ini. Jadi kau harus tau bahwa tempat ini tidak kubuat untuk menyedikan hal-hal yang murahan. ingat ini baik-baik dikepalamu JANGAN SAMPAI KUDENGAR ADA PEREDARAN NARKOBA & Bisnis PELACURAN ditempatku . Kau Mengerti , hah ??!!!" Ucap Bryan dengan sangat dingin,penuh intimidasi, bahkan ia menekan & mengeraskan suaranya pada kalimat terakhirnya. Membuat lelaki yang tengah tersungkur itu gelagapan takut dan gemetar diseluruh tubuhnya.
__ADS_1
Bryan berdiri, dan menatap kedua pelayan wanita yg juga sedang menangis dengan gemetar ketakutan itu
"Dan kalian, silahkan putuskan akan tetap bekerja ditempat ini atau keluar dari sini?!
Jika kalian masih ingin bekerja ditempat ini,lakukan pekerjaan kalian dengan baik. Aku tahu betul gaji para pekerja ditempatku ini 3 x lipat dari gaji ditempat lain. Jadi seharusnya kalian tidak perlu melakukan hal rendahan & murahan seperti yang kalian lakukan tadi, jika kudapati kalian masih melakukannya setelah ini, kupastikan tubuh kalian hanya akan berakhir menjadi makanan Anjing-anjing peliharaanku.
Tetapi jika kalian putuskan untuk keluar dari pekerjaan kalian di devil club , lakukan saat ini juga, ambil pesangon kalian dan jangan pernah berani muncul dihadapanku lagi. "
Lalu Bryan terlihat berjalan kesebuah meja, ia menarik sebuah laci disana dan mengambil 2 gepok uang yang masing-masing gepoknya bertuliskan S$500 (±5jt Rupiah)
Setelah mengambil uang itu, ia kembali menghampiri kedua pelayan wanita itu
"Ambil ini , bersihkan badan kalian dan pergilah kerumah sakit, obati luka dibibir kalian" Ucap Bryan sambil menyodorkan 2 gepok uang yang dibawanya, kali ini suaranya sudah lebih lembut, tidak ada intimidasi lagi yg terdengar dari suaranya.
"Baik Tuann, terimakasih. Kami masih ingin tetap bekerja disini... " Ucap pelayan itu dengan penuh sikap hormat meski suranya masih terdengar gemetar sambil menerima uang yang disodorkan kearah mereka itu.Mereka masih sangat syok mengetahui bahwa pria muda ini adalah pemilik dari Club malam tempat mereka bekerja.
"Bagus, sekarang pergilah... " Ucap Bryan sambil berjalan kembali ke sofa dan menjatuhkan badannya disana.
Setelah membungkukkan badannya dengan rasa hormat , kedua pelayan itu pun pergi keluar dari ruangan itu.
Didekat dinding Haris masih meringis kesakitan, namun bahkan selangkah pun ia tidak berani beranjak dari tempatnya,
Terlihat Dave merain botol wine itu lalu berdiri dan melangkahkan kakinya kearah Haris
"Apa dia akan memukul kepala lelaki itu dengan Botol yang dibawanya?" Ucap Gerald lirih,
"Hhh kita lihat saja. Sepertinya drama Action ini belum berakhir " Sahut kevin dengan tawa kecil dibibirnya
Dave berjongkok dihadapan haris, dia tarik tangan haris yang penuh dengan darah itu , lalu dia tuang white wine ke telapak tangan yang barusaja tertembus peluru itu...
"Aaauuwhh....." Teriak haris reflect karena merasa perih pada lukanya yang tersiram white wine itu.
Dave lalu menarik dasi yang masih melingkar dikerah kemeja lelaki itu, meski sudah berantakan bentuknya. ia juga merogoh saputangan disaku celananya, lalu meletakkan saputangan itu tepat diatas luka itu dan sedikit menekannya untuk menghentikan pendarahan. kemudian Dia melakukan perban dengan menggunakan dasi itu untuk membalut telapak tangan haris .
"Segera Keluarlah dari sini. Karena jika kau tetap diruangan ini, mungkin kepalamu yang akan tertembus peluru selanjutnya. Dan jika kepalamu yang pecah, tidak akan cukup dengan white wine & perban seperti ini untuk menyelamatkan nyawamu. Temui dokter untuk menjahit luka di pelipis dan tanganmu ini" Ucap Dave kepada haris, sambil kembali berdiri lalu ia berjalan dan duduk di sofa.
Haris pun perlahan berdiri, lalu membungkukan badannya kearah mereka yang tengah duduk di sofa, lalu melangkah dengan hati-hati keluar dari ruangan itu sambil menopang tangannya yang terbalut dasi itu
"Wahh, Yang seorang pandai Membuat luka dan seorang lagi pandai membalut luka... " Ucap kevin sambil menatap kearah dave dan Bryan secara bergantian.
Dave hanya menghela nafasnya dengan kasar, sedangkan Bryan tidak menunjukkan ekspresi apapun , tetap santai pada posisinya dengan mata yang terpejam, tapi terlihat titik titik peluh didahinya, pastinya bukan karena udara yang panas, karena ruangan ini bahkan sangat dingin.
.
.
.
.
.
__ADS_1