Datuk Buaya Putih.

Datuk Buaya Putih.
101. Perasaan Felix.


__ADS_3

"Hikkkkzzzz,, hikzz.. Jadi seperti ini wajahmu jika kamu dulu hidup Philip?". ujar Ria kembali terisak karena ia bisa menyentuh wajah seseorang yang sangat ia rindukan selama ini, wajah Cinta nya.


Namun tidak lama Ria tersadar jika wajah yang ada di depan nya adalah milik Felix, cucu dari Philip.


"Kenapa kau meninggalkan wajah mu di dirinya?". ujar Ria dalam hati setelah ia menarik tangan nya dari wajah Felix.


Sementara sekarang Felix sudah tegang saat Ria tiba-tiba saja menyentuh pipinya tadi, detak jantung nya berdegup kencang. ada Rasa tidak rela saat Ria menarik tangan nya dari pipinya tadi, ingin rasanya Felix merengkuh tubuh wanita itu dan membawanya ke dalam pelukan nya.


Felix juga ingin menghapus air mata dari Ria, wanita yang sudah jatuh cinta pada kakeknya ini. apakah memang kehadiran nya adalah untuk membuat wanita dan depan nya ini benar-benar merasakan kehadiran sosok Pria yang di cintai nya di dunia nyata.


Jika seperti itu Felix rela, dan tidak masalah jika harus menggantikan sosok kakeknya di hati Ria.toh dengan wajah ini mungkin Ria juga bisa secepatnya mencintai dia juga, sama seperti Felix yang terpesona karena melihat wajah Ria yang menyerupai kekasih dari kakeknya dulu.


"Ria, kau bisa menganggap aku adalah kakek Philip jika kau mau, aku tidak masalah. jika kehadiran ku bisa mengobati kerinduan mu selama ini padanya". ucap Felix pada Ria yang masih menangis di samping pusara Philip.



Felix.



lirikan mata Ria.




pertama kali liat Ria, kira-kira kaya gini ya si Felix.


Ria masih diam tidak ingin menjawab ucapan Felix walaupun sebenarnya hatinya sangat bahagia bisa melihat wajah Philip di dunia yang sama dengan nya, namun Ria tahu jika perasaan ini bukan Cinta sepertinya.


"Ingat mereka orang yang berbeda Ria, dia bukan Philip tapi Felix". ucap Ria dalam hati.


"Mau sampai kapan kita di sini, lebih baik sekarang kita berdoa dan pergi dari sini. tidak baik lama-lama berasa di pemakaman". ujar Ria kemudian bangkit untuk mengambil bunga yang sudah mereka beli tadi di pinggir area depan pemakaman.

__ADS_1


"Ya sudah, mas yang pimpin doa ya. Felix kamu bisa berdoa sesuai dengan keyakinan yang kamu anut". ujar Lula mengikuti langkah Ria untuk membantu membawa air mawar.


"Aku saja yang memimpin doanya, Aku juga seorang muslim. aku sudah bilang kan ibuku orang Indonesia, ayah ku adalah seorang mualaf". ucap Felix kemudian mengangkat kedua telapak tangan nya ke atas sambil membaca doa dengan fasih.


Ria dan yang lain sempat gagal fokus namun dengan cepat mereka kembali fokus saat Felix selesai membaca alfatihah dan harus mengucapkan amin bersama-sama.


Setelah mereka selesai berdoa dan menaburkan bunga barulah mereka melanjutkan perjalanan menuju tempat Bu sari.


Kali ini Lula meminta izin pada Ria dan Felix untuk duduk di depan dengan alasan kepalanya pusing karena duduk di belakang dan dia tidak ingin lagi tidur karena tadi sudah terlalu lama tidur di perjalanan.


Padahal Lula ingin menebus Rasa bersalah nya pada Gunawan yang tadi sudah ia diamankan dan dia maki-maki dalam hati karena salah faham dengan Ria juga Felix.


Lula sesekali menyuapi kekasih nya dengan Snack yang tadi sempat mereka beli di jalan juga, sementara Ria dan Felix yang di belakang banyak diam. mereka masih canggung untuk berbicara satu sama lain sepertinya.


"Ehheemm Ria, maafkan aku jika kedatangan ku ke sini membuat mu sedih". akhirnya Philip membuka suara untuk memecahkan keheningan di antar mereka berdua yang duduk di belakang.


"Tidak apa Felix,ini bukan salah mu. maafkan aku juga mungkin sempat membuat mu bingung dengan keadaan ku tadi". ujar Ria lagi sambil tersenyum kecil menghadap ke Felix.


Felix membalas senyuman Ria dengan cepat, Dia juga membukakan minuman dingin untuk Ria karena Felix tahu pasti Ria sangat haus karena tadi cukup lama menangisi kakeknya itu.


"Bagaimana perasaan mu sekarang Ria?". tanya Felix lagi, ia takut Ria belum baik-baik saja walaupun sekarang Ria sudah tidak menangis lagi.


"Sedikit lebih lega sekarang, setidaknya aku sudah tahu apa penyebab perasaan ku selalu bersedih dan tidak pernah mau membalas perasaan orang-orang yang mencoba masuk ke hidup ku. mungkin karena perasaan ku masih di miliki oleh Philip dan memang aku selalu memimpikan seseorang pergi meninggalkan ku dan aku tidak tahu siapa, ternyata itu adalah bayangan saat Philip pergi menuju cahaya malam itu". ujar Ria.


"Aku senang ingatan ini kembali, setidaknya aku sudah tahu jawaban dari semua pertanyaan ku selama ini. aku akan simpan semua kenangan ini, kenangan indah yang sebenarnya tidak perlu di lupakan, karena sampai akhir pun Philip meninggal kan kenangan yang baik untuk ku". ujar Ria lagi sambil menatap ke depan.


"Kamu benar, tidak semua kenangan Cinta kita adalah kenangan yang menyakitkan bukan?". ujar Felix lagi.


"Ya, dan dia pergi mungkin untuk kebaikan ku juga". ujar Ria lagi.


"Aku harap kakek ku sudah tenang di sana". doa Felix lagi dan Ria mengangguk.


Tidak beberapa lama akhirnya Rombongan Gunawan sudah sampai di rumah Bu sari, mereka langsung turun dan langsung memeluk ibu Sari yang sudah menunggu kedatangan mereka di depan Rumah.

__ADS_1


Ria dan Lula langsung memeluk ibu dari Gunawan yang sudah mereka anggap ibu sendiri itu, ibu Sari juga menyambut kedatangan Felix tidak kalah ramahnya.


"Waahhh senang nya hari ini rumah ibu ramai, tidak sepi lagi. ya Walaupun hanya Dua hari". ujar Bu sari.


"Maaf ya Bu, Lula jarang ke sini kalau liburan. sekarang banyak sekali tugas-tugas di kampus, kalau Ria jangan di tanya lagi. dia pasti keliling-keliling kota untuk membantu Roh-roh yang memerlukan bantuan nya". ujar Lula sambil masih memeluk ibu Sari.


"Kamu masih melakukan hal itu nak?". tanya Bu sari khawatir. karena terakhir kali ia mendengar dari Gunawan kalau Ria sempat menolong orang hingga hampir kehilangan nyawanya.


(Ingat kasus Ria yang hampir di jadikan tumbal dan ingin di ambil Raganya).


"Ria merasa kasian sama mereka Bu, banyak dari mereka hanyalah anak-anak yang ingin membantu orang tuanya. ataupun yang ingin agar bisa di temukan jasadnya, Ria hanya membantu beberapa saja". ujar nya lagi.


Felix sendiri sekarang sedang berbincang dengan Gunawan di gazebo depan Rumah sambil meminum minuman dingin di kaleng, mereka tidak ingin ikut campur dengan obrolan para wanita di rumah itu.


"Jadi kamu dan Ria sama-sama memiliki mata batin?!". tanya Felix pada Gunawan.


"Ya, kami sama-sama memiliki mata batin". Jawab Gunawan santai.


"Bagaimana rasanya?!". Felix begitu penasaran.


"Rasanya slebeewww hahahha". Ujar Gunawan sambil tertawa-tawa.


"Malu sama otot, masa aparat alay. mommy ku juga selalu menyebutkan itu di rumah membuat ayah ku emosi". ujar Felix sambil melempar kaleng kosong ke tubuh Gunawan.


"Hahahaha, menurut mu bagaimana perasaan kami jika harus melihat makhluk-makhluk yang tidak berbentuk jelas, dan mungkin hantu-hantu di sini itu berbeda dengan hantu di negara mu?!"..


"Ck,, mommy ku di rumah juga suka memutar film horor,aku tahu bentuk-bentuk hantu Indonesia dan itu jauh lebih menyeramkan dari hantu di tempat ku". ujar Felix.


"Lalu apakah kau takut pada kami??!". tanya Gunawan lagi.


Felix terdiam sebentar, sebenarnya ia takut. tapi perasaan nya kepada Ria sepertinya benar-benar menyukai gadis itu.


"Lula sendiri, apakah dia juga bisa melihat hantu seperti kalian". tanya Felix.

__ADS_1


"Tidak, Lula tidak memiliki kemampuan itu". ujar Gunawan lagi.


"Kalau Lula saja bisa dan berani, kenapa aku harus takut kan Gun?!". tanya Felix kemudian sambil tertawa-tawa juga.


__ADS_2