Datuk Buaya Putih.

Datuk Buaya Putih.
54 Kamu Yang Menghentikan.


__ADS_3

"Ikut aku, Datuk ingin berbicara dengan mu. jangan takut, setelah beliau selesai berbicara maka kamu akan kembali dan perkenalkan nama ku Rinjani". jelasnya kemudian menuntun Gunawan melangkah memasuki istana itu.


Beberapa buaya putih berkeliaran di dalam istana itu, namun anehnya tidak ada yang merasa ketakutan.


Gunawan dan Rinjani akhirnya sampai di sebuah ruangan seperti aula di mana di sana sudah ada beberapa Tetua dengan menggunakan baju berwarna kuning.


Ada juga yang duduk di singgasana emas dengan wajah tegasnya sambil melihat ke arah Gunawan yang terus melangkah, ia akhirnya di persilahkan duduk oleh Rinjani di depan semua yang sudah Hadir di aula itu.


"Selamat datang nak di kerajaan kami yang sederhana ini". ujar seseorang yang duduk di singgasana tadi begitu ramah.


"Terimakasih, maaf jika boleh saya bertanya kakek siapa dan di mana saya?". ujar Gunawan bingung.


"Kamu ada di kerajaan kuning milik Datuk Ria, kami adalah leluhur yang menjaga nya. panggil saya Datuk kuning dan ini suamiku Datuk Sarani". jelas Seorang wanita tua namun tetap cantik yang duduk di sebelah singgasana megah itu.


"Terimakasih Datuk". ujar Gunawan kemudian.


"Kamu pasti bingung kenapa kamu bisa ada di sini, maafkan kami yang membawa Sukma mu tanpa izin". jelas Datuk Sarani.


"Tidak apa Datuk, jika memang ada kepentingan yang perlu di bicarakan bersama saya". Gunawan dengan sopan menjawab.


"Ya, kami memang akan membicarakan hal penting dengan mu". kali ini Datuk kuning lah yang berbicara.


"Silahkan Datuk, saya akan mendengarkan". lagi Gunawan menjawab dengan sangat sopan, ia tahu orang-orang yang di depan nya bukanlah orang sembarangan.


"Jadi bagaimana keputusan mu nanti setelah kamu mengetahui semua fakta tentang Ayahmu?". Datuk Sarani ternyata ingin segera tahu keputusan apa yang akan Gunawan ambil.


"Saya masih belum tahu akan mengambilkan langkah apa Datuk, sanggup kah saya melawan Ayah saya sendiri". Gunawan masih sangat bingung karena ia tidak memiliki kemampuan apapun untuk melawan Ayah nya yang pasti sekarang sudah memiliki ilmu hitam entah sekuat apa.


"Jika kamu takut melawan nya karena kamu tidak memiliki kemampuan, kami yang akan mengajarkan mu untuk bisa membela diri". Datuk Sarani memberikan penawaran.

__ADS_1


Gunawan diam, ia benar-benar takut. bagaimana jika ia gagal dan justru membuat Ria yang akan jadi korban nya.


"Jika kamu tidak bisa menghentikan ayah mu, karena tidak ingin melukai nya kami tidak bisa memaksa. Ria kami jamin akan bisa kami selamatkan, tapi pernah kah kamu berfikir dengan korban-korban selanjutnya". Sekarang Datuk kuning yang berbicara.


"Kamu cukup mampu jika kamu ingin menghentikan semua kejahatan ayah mu, Terlalu banyak air mata Orang tua yang menangisi kepergian anaknya selama ini. bukan kah kamu juga sudah melihat korban-korban yang bergentayangan di rumah itu, jika kamu tidak menghentikan ayah mu mungkin korban-korban itu akan terus bertambah". lanjut Datuk kuning menjelaskan.


Gunawan kali ini benar-benar terbuka fikiranya, jika ia tidak menghentikan ayah nya mungkin akan banyak lagi korban yang akan berjatuhan.


"Bagaimana cara saya bisa menguasai ilmu bela diri dalam waktu sesingkat ini Datuk?". Gunawan masih berfikir ia tidak memiliki cukup banyak waktu.


"Waktu di dunia kami dan duniamu berbeda nak, jika kau ingin belajar dengan sungguh-sungguh tidak memerlukan waktu lama untuk mu menguasai semua nya". Jelas Datuk Sarani.


"Tapi ada hal yang perlu kamu tahu, dan jika kamu ingin mundur kamu masih punya waktu". ujarnya lagi.


"Apa itu Datuk, katakan saja". jawab Gunawan.


"Jika memang kelebihan yang sudah di takdir kan kepada saya dan ini bisa berguna untuk orang banyak, saya tidak masalah dengan penglihatan ini Datuk". Gunawan seperti sudah mulai terbiasa melihat makhluk-makhluk ghaib selama kemarin ia bertugas bahkan saat kebagian piket malam.


Ia sudah sering melihat orang-orang yang memang kadang menjadi korban kecelakaan di lakalantas ataupun korban pembun*han sebelum nya, jadi ia tidak terlalu takut sekarang. walaupun kadang dia terkejut melihat penampakan manusia setengah hewan atau pun kadang ia melihat makhluk-makhluk besar penunggu pohon besar.


"Baiklah kita mulai saya pelajaran ini semua,agar nanti kamu siap melawan ayahmu". Datuk Sarani turun dari singgasana nya.


"Sebelum itu izinkan para panglima ku memasuki setiap sendi di tubuhmu untuk membimbing gerakan apa saja yang akan kamu lakukan". jelasnya dan Gunawan setuju.


Entah kenapa sekarang gerakan tubuh Gunawan betul-betul di luar nalar, sangat lentur tapi bertenaga.


Gunawan terus berlatih malam ini, semalaman ia bertarung tanpa henti. mulai dari sendiri sampai melawan beberapa musuh yang di perintahkan oleh Datuk Sarani.


Sampai Datuk Sarani rasa sudah cukup, ia menghentikan latihan ini.

__ADS_1


"Aku rasa Sekarang kemampuan mu sudah cukup untuk kamu melawan ayahmu, Rinjani akan mengantarmu kembali ke dunia mu". ujarnya lagi.


Gunawan mengucapkan banyak terimakasih sebelum pergi dan berpamitan.


"Ingat nak, semua yang kita lakukan di dunia ada tanggung jawab dan juga hukum timbal baliknya. jadi jaga karunia yang kamu miliki dan gunakan untuk jalan kebaikan". ucap Datuk kuning sebelum mengembalikan Gunawan ke dunianya.


"Masss,, mas Gunawan". ujar Lula menusuk-nusuk lengan Gunawan karena ia tidak menyelesaikan doa mereka dari selesai sholat Maghrib tadi.


Gunawan pun tersadar dan ia kembali ke dunianya lagi, tapi anehnya ia masih di posisi saat ia sholat Maghrib dan memimpin Ria juga Lula.


"Benar kata Datuk waktu di sana dan dunia di sini berbeda". Gunawan masih saja melamun.


"Mas tidur ya, kita nungguin mas amin malah asik nutupin mukanya. kita udah amin nya kapan?". Suara Lula berbisik pelan.


"Ammmiiinnn, sudah. maaf mas biasa indah sendiri, jadi mas lupa mimpin doa untuk kalian. tapi tadi udah doa masing-masing kan?". tanya Gunawan pada Ria dan Lula.


Keduanya pun mengangguk dan akhirnya selesai sholat Maghrib.


Ria dan Gunawan sekarang sedang di dapur menyiapkan makan malam, Sementara Lula sekarang sedang menunggu ibu Sari yang belum juga siuman.


"Dek, bagaimana dengan besok. apakah kamu siap?". tanya Gunawan di tengah kegiatan nya sedang menata piring untuk mereka makan.


"Mas sendiri apakah siap jika harus melawan Ayah mas sendiri". Ria bertanya balik.


"Seperti mas memang harus menghentikan Ayah ku dek, Mas tidak bisa membiarkan jika nanti berjatuhan korban-korban lain". jelas Gunawan.


"Bantu Mas dek, jika sendirian mungkin Mas nggak akan sanggup untuk melakukan semuanya". Ujar Gunawan sebenarnya masih sangat ragu dengan kemampuan nya sendiri walaupun sudah di latih oleh Datuk dari Ria.


"Yakin Mas, Kebaikan akan menang melawan kejahatan". jawab Ria mencoba membuat percaya diri pada Gunawan.

__ADS_1


__ADS_2