Datuk Buaya Putih.

Datuk Buaya Putih.
69 Menjelang Magrib.


__ADS_3

"Kau akan ku buat mainan ku,aku senang mendengar suara jeritan manusia yang aku siksa.kemarin kalian yang melepaskan semua mainan ku, jadi sekarang kalian lah yang akan menggantikan mereka". ucap makhluk yang sekarang merasuki Ria mengayunkan cambuk itu ke tubuh Ria dan Rinjani.


Makhluk itu melakukan penyiksaan nya berulang-ulang hingga tubuh Ria dan Rinjani sudah penuh dengan bekas cambukan, namun saat ia ingin kembali mencambuk tubuh Rinjani yang sekarang sedang melindungi Ria di pelukannya Datuk Kurnia datang dengan istrinya.


Datuk Kurnia Langsung menangkap cambuk itu dan menarik nya hingga terlepas dari genggaman makhluk yang merasuki Ria, "Kau benar-benar akan tamat sekarang". ujar Datuk Kurnia dan sekarang dia mencoba menyegel tubuh Ria dengan ilmu ghaib nya.


Lula sedari tadi di pojokan tanpa berani bergerak bahkan saat ia melihat jika makhluk itu mengayunkan sesuatu yang tidak bisa ia lihat, yang membuat Lula berfikir jika di sana ada Sukma dari Ria.


Namun Lula terkejut saat melihat tubuh Ria tiba-tiba Melayang ke dinding dan tidak bisa bergerak, Ria menjerit meraung ingin lepas dan terlihat sangat marah.


"Lepasss kan akuuuuu, kalian tidak bisa mengambil Raga ini, dia milikku. kalian sudah mengambil tubuh tempat ku bersemayam, tubuh ini adalah gantinyaaaaaa". ujar Ria berteriak dengan suara yang menakutkan.


Namun Lula bingung, kenapa orang-orang tidak ada yang masuk untuk melihat keberadaan mereka, padahal Ria sudah menjerit-jerit dengan suara yang menggelegar.


Gunawan sekarang sudah sampai di depan rumah milik Frans, ia mengetok pintu rumah itu berulang-ulang bahkan menggedor-gedor juga. berharap agar cepat di bukakan pintu, namun nihil, tidak ada orang di rumah itu.


"Astaghfirullah,kemana mereka. Kenapa tidak ada orang di rumah". ujar Gunawan sudah mengacak-acak rambut nya ke depan ke belakang.


"Mas, cari bang Frans ya?". tanya tetangga di situ seperti mendengar Gunawan yang sedari tadi mengetok bahkan menggedor rumah milik Frans.


"Iya buk, Frans nya ke mana ya buk?". tanya Gunawan mencoba tenaga supaya semua nya bisa berjalan dengan lancar.


"Bang Frans nya sepertinya masih di rumah sakit, tadi pagi istrinya mbak Unge tiba-tiba pendarahan mas". ujar Ibu tetangga Frans.


"Ibuk tau rumah sakit apa Bu?". ujar Gunawan lagi.


"Di rumah sakit keluarga Sejahtera Mas, Tadi pagi saya sempat membantu mbak Unge ke rumah sakit soalnya. Mas kalo ada perlu ke sana saja". ujar ibu tersebut.

__ADS_1


"Baik Bu, terimakasih. saya pamit langsung ke rumah sakit ya bu". ujar Gunawan lagi.


Gunawan langsung menuju rumah sakit yang tadi di beri tahu oleh tetangga Frans, beruntung rumah sakit itu tidak jauh dengan lokasi Gunawan sekarang, ia langsung ke ruang resepsionis dan menanyakan ruangan atas nama Unge istri dari Frans.


Sesampainya di depan ruangan Frans dan beberapa keluarga nya terlihat sudah memasang wajah sedih nya di kursi tunggu, Frans kemudian pergi ke sudut ruang sendiri sambil menangis dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan Gunawan langsung menghampiri nya dan duduk di samping nya.


Frans yang melihat Gunawan ada di sebelahnya sekarang terkejut, karena ia tidak mengabari Gunawan tentang keadaan nya dan juga Unge.


"Jangan terkejut, sekarang katakan pada ku. Cincin batu hijau yang kau dapat dari rumah Santoso kemarin mana?". ujar Gunawan memasang wajah marah, karena dia kesal pada sahabat nya yang tidak mengindahkan peringatan nya kemarin.


Frans terkejut, bagaimana Gunawan bisa tahu jika batu itu ia temukan di rumah pak Santoso, ia masih berusaha mengelak dengan berkata jika cincin itu milik ayahnya karena tidak ingin sahabat nya marah padanya karena ketahuan mencuri.


"Kau tahu, karena batu itu sekarang Unge kehilangan bayinya". ujar Gunawan lagi.


Frans semakin terkejut karena Gunawan tahu Unge keguguran juga kehilangan bayi laki-lakinya, karena itu sekarang istrinya kritis di dalam dan sedang di operasi untuk melakukan proses operasi Caesar untuk pengangkatan bayi itu.


"Mana cincin itu Frans, berikan kepadaku. jika kau ingin menyelamatkan istrimu di dalam sana". ujar Gunawan lagi, pasalnya ia melihat beberapa sosok ular besar sedang berkeliaran di sekitar mereka seperti menunggu seseorang. Gunawan takut nanti Unge juga di incar untuk di korbankan.


"Cincin nya ada di rumah". ujar Frans menjelaskan, walaupun ia masih tidak mengerti dengan situasi ini, tapi mendengar istrinya juga dalam bahaya karena cincin itu Frans tidak ingin membohongi sahabat nya lagi.


"Ayo kita ambil sekarang cincin nya".ujar Gunawan menarik tubuh Frans tanpa menunggu yang punya badan mengangguk sekalipun.


Gunawan membawa mobilnya dengan kecepatan kencang karena hari sudah hampir sore, Gunawan di beri waktu paling lambat adalah menjelang Magrib.


Kerena tadi dia di jelaskan, setelah magrib mungkin makhluk itu sudah bisa memanggil pasukan nya yang lebih kuat lagi untuk mempertahankan tubuh dari Ria untuk dia miliki.


Sesampainya di rumah Frans langsung membuka pintu, menuju ke kamar di mana ia menyimpan cincin itu.

__ADS_1


Namun Tanpa di duga ternyata di kamar Frans sudah penuh dengan ular-ular berbisa seperti sedang melindungi cincin itu agar tidak di Ambil, Frans mundur beberapa langkah ke belakang.


Frans bingung bagaimana caranya bisa mengambil cincin itu di dalam lemari, Gunawan pun langsung maju dan meminta singa yang sudah bersamanya di dalam untuk mengusir ular-ular itu.


Kemudian singa itu pun mengaum dan mengusir ular-ular berbisa itu dengan ganas ia mencakar dan mencabik-cabik ular di kamar Frans, hingga ular-ular di kamar itu terpelanting ke sana ke mari di lihat oleh Frans.


Tidak butuh waktu lama ular-ular itu menghilang entah kemana, tiba-tiba saja lenyap dari kamar itu. Frans bergegas mengambil cincin itu dan menyerahkannya pada Gunawan.


"Tolong istriku Gun". ujar Frans sambil memberikan cincin itu ke tangan Gunawan, Gunawan mengangguk cepat.


"Maaf aku tidak bisa mengantarkan mu kembali ke rumah sakit, dan kau harus cepat kembali ke sana. baca doa bersama keluarga mu di rumah sakit Frans, minta Gusti Allah membantu kita semua". ujar Gunawan kemudian dia pamit pada Frans yang juga akan bersiap langsung kembali ke rumah sakit untuk mengajak keluarga nya doa bersama sesuai instruksi dari Gunawan.


Di kamar asramanya Ria yang sudah KESURUPAN itu pun terus meronta-ronta ingin di bebaskan, tubuh nya melekat ke dinding dan tidak bisa bergerak namun Datuk Kurnia juga tidak bisa menarik makhluk yang bersemayam di tubuh Ria sekarang. ia memerlukan Cincin itu untuk mematahkan kekuatan ghaib yang makhluk itu miliki.


Sekarang Sukma Ria dan Rinjani sendiri sudah di bawa ke istana oleh Datuk kuning dan datuk Sarani untuk di pulihkan dari luka-luka nya.


"Sssssttttt,,, kalian tidak akan berani menarik aku dari raga ini bukan, Hahahaha. tidak ada yang bisa kalian lakukan, kalian semua tidak akan bisa menyakiti ku, Hahahhahaha". ujar Ria mendesis tertawa dengan wajah nya yang mengerikan.


Lula Terus menangis melihat sahabatnya terus berbicara sendiri dengan suara yang menyeramkan kan.


"Ria sadar Ria. istighfar". ujar Lula di sela-sela tangisannya.


"Riaaaaa,,, Riaaaa,, Dia sudah tidak ada,, dia tidak akan bisa kembali ke tubuh ini bod*h, tunggu di situ kau tidak akan bisa kemana-mana. sebentar lagi tubuhmu juga akan ku ambil untuk adikku hahahahha". ujar Ria tertawa kepada Lula.


Lula ketakutan setengah mati, kakinya lemas dan mati rasa, ingin lari pun tidak mungkin. ia masih ingat tubuhnya yang tadi terhempas hingga membuat nya merasakan sakit yang luar biasa di dadanya.


"Kau tidak akan mendapatkan apa pun atau raga siapapun lagi, sebentar lagi kau akan ku musnahkan". ujar Datuk Kurnia.

__ADS_1


__ADS_2