Datuk Buaya Putih.

Datuk Buaya Putih.
90 Makam.


__ADS_3

Sementara di tempat lain juga ada seorang pemuda tampan dengan mata biru ke abu-abuan namun berambut hitam yang sedang mengejar pendidikan dengan giat nya karena ingin segera bisa menyelesaikan semua tugas kuliah agar bisa liburan ke tempat yang dulu pernah ia kunjungi bersama ayah dan kakek nya sebelum kakeknya meninggal.


Ria sekarang sudah bersiap-siap di bandara di antar oleh orang tua nya, sementara kakek juga nenek nya tinggal di rumah namun. Ria sudah lebih dulu berpamitan.


"Ingat ya nak, di mana bumi di pijak. di situ langit di junjung, jadilah manusia yang berbudi luhur dan menghargai sesama makhluk nya". ucap ibu Rianti sambil memeluk anaknya.


"Jaga dirimu di sana, hormati orang yang patut di hormati. contoh segala sesuatu yang baik di luaran sana dan jadikan semua situasi sebagai pelajaran. jangan lupa selalu jadi manusia yang tidak tinggi walaupun di puji, dan tidak merasa rendah walaupun di hina. selama kita menjadi pribadi yang luhur, kita akan selalu bersinar walaupun di kegelapan". ucap Ayahnya Ria berpesan panjang kali lebar.


Ria menganggukkan kepalanya pelan kemudian pamit karena 20 menit lagi mungkin pesawat nya akan terbang.


Setelah kurang lebih 1 jam setengah di udara akhirnya Ria sampai di bandara Surabaya. di sana sudah terlihat Lula juga Gunawan yang menjemput Ria, mereka berpelukan sedangkan Gunawan hanya tersenyum sambil memegang koper milik Ria.


"Sudah kangen-kangenan nya nanti lagi, ayo sekarang kita cari makan. Mas laper". ujar Gunawan akhirnya mereka bertiga pun mencari tempat makan terdekat dan memilih untuk makan di rumah makan Padang.


"Kangen banget sama Rendang". ujar Ria sambil memakan rendang di piring nya.


"Memangnya di sana gak ada rumah makan ya?". tanya Lula, di fikiran nya sekarang sedang membayangkan Rumah Ria berada di tengah hutan.


"Ck, ada.. tapi di sana aku tidak sempat ke rumah makan Padang, nenek atau mama ku selalu masak untuk ku. masakan kesukaan ku tepat nya, Masak habang, masak boom, soto Banjar, kadang Humbut juga, Humbut Rotan, behhh sumpah enak banget". ucap Ria menjelaskan.


"Rotan memang bisa di makan?". tanya Lula lagi, bukan kah rotan itu kayu, atau akar?.


"Rotan muda Lula, bukan batang Rotan. hikkzz aku baru saja sampai di sini tapi sudah rindu lagi rumah, Mau sambal goreng Rimbang". Ujar Ria lagi sambil memasang wajah yang menyedihkan.


"Ckk, ck,, ck,, ya kalau mau tinggal paket saja kan bisa, apa susah nya". ujar Gunawan melihat kelakuan dua sahabat itu berganti.

__ADS_1


"Kalau saja tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai mungkin Ria akan paket, tapi kan lama keburu busuk semua makanan nya nanti mas". ujar Ria menjelaskan.


"Yah kalau begitu bersabar lah sampai Waktu liburan lagi". ucap Lula dengan wajah polosnya sambil tersenyum, sementara Ria menarik nafas panjang. sahabatnya ini benar-benar memberikan jawaban yang semua orang tau.


Rinjani yang melihat mereka ber 3 ngobrol pun hanya memilih diam seperti biasanya dari jauh memantau hingga tiba-tiba dia di kejutkan dengan suara seseorang yang mengajak nya bicara.


"Sstttt, Rinjani habis ini kamu mau kemana?". ujar Suara itu, Rinjani menoleh dan melihat seseorang sedang berdiri di samping nya sambil tersenyum.


"Darwin!!!?,, kamu sedang apa di sini??". tanya Rinjani bingung, tidak mungkin kan dia mengikuti mereka.untuk apa, kurang kerjaan sekali fikir Rinjani.


"Aku sedang menjaga calon permaisuri ku, dan aku sudah mendapatkan izin dari Datuk nya". ucap Darwin sambil tersenyum kepada Rinjani.


Sementara Rinjani yang mendengar itu memutar bola matanya malas, satu lagi makhluk yang menyukai adiknya seperti Philip. begitu lah fikirkan Rinjani tanpa tau siapa yang Darwin maksudkan.


"Jaga jarak dengan kami, aku tidak mau Adik ku kenapa-kenapa bila dekat dengan mu". ujar Rinjani kemudian menghilang dan sudah muncul duduk di samping Ria hingga membuat Gunawan terkejut.


"Maaf, assalamualaikum. aku lupa, kau masih penakut kan?". ujar Rinjani sambil tertawa pelan di ikuti Ria yang tertawa sambil menunduk.


Lula yang melihat Ria tertawa merasa bingung melihat kelakuan kekasihnya yang marah-marah ke bangku kosong dan yang satu tertawa tanpa menatap mereka.


"Nasip tidak bisa melihat makhluk, aku jadi seperti orang bod*h di sini, apakah aku minta saja Ria membukakan mata batin ku ya?". fikir Lula berbicara sendiri.


"Waalaikumsalam. Ya sudah, ayo sekarang kita pulang. sudah pada kenyang kan?". tanya Gunawan bangkit dan setelah membayar makanan mereka tadi, Ria dan Lula pun menganggukan kepalanya.


"Mas habis ini langsung pulang?". tanya Lula pada Gunawan yang sedang menyetir di sebelah nya, sementara Ria duduk di belakang.

__ADS_1


"Nggak, kebetulan mas mau main ke rumah temen mas dulu. katanya ada temennya yang dari luar negeri mau ke sini bulan depan dan dia minta di carikan makam seseorang". ujar Gunawan menerangkan.


"Makam?!, kenapa mas yang di suruh nyari". tanya Lula sementara Ria hanya menjadi pendengar yang baik dua sejoli di depan nya.


"Karena makam itu katanya ada di kampung nya mas, kan di tempat mas memang banyak pemakaman orang-orang luar pada zaman dulu, kebetulan mas nganterin kamu ya sudah mas mampir aja ke tempat nya dulu". ujar Gunawan lagi sambil membelokkan mobilnya.


"Oe, Begitu. berarti bule ini minta cariin Makam keluar nya Gitu ya Mas?". Lula masih kepo ternyata.


"Bukan Bulek, orang dia cowok, harus nya pak Lek lah!!". ujar Gunawan, duuhhh Gusti. sepertinya Gunawan sudah ketularan Tulalit nya kekasihnya ini, Cinta merubah semuanya. pepatah itu seperti nya benar fikir Ria yang hanya geleng-geleng mendengar Gunawan berbicara seperti itu.


"Iihh, Mas Gun, serius lah Lula Tanya iihhh". ujar Lula sambil memukul-mukul pelan pundak Gunawan yang berotot di tutup kaos yang ngepas di tubuh nya.


"Iiyyaa, iya,.. mas cuman becanda Lula. Gitu aja marah, ngamuk, bentar lagi pasti ngacak- ngacak bak sampah sambil makan orang kan?". Ujar Gunawan bukan nya menjawab pertanyaan Lula tapi malahan semakin menggoda kekasihnya.


"Tau aaah mas, nanti kalo aku makan orang. mas orang pertama yang aku makan!!!". ujar Lula sambil menggigit lengan Gunawan, namun bukan nya kesakitan Gunawan malah makin tertawa kencang.


Ya, Lula memang semenggemaskan itu di mata Gunawan, wanita yang lugu, cantik hingga membuat orang tidak akan sulit untuk menyukai nya dan karena itulah Gunawan bisa cepat melupakan Rasa cinta nya pada Ria.


"Ampunn Lula, ya sudah mas kasih tau jawabannya ya. Katanya Dia sedang mencari makam dari saudara kakeknya yang dulu di makamkan di Indonesia". ujar Gunawan menjelaskan dengan serius.


"Siapa namanya?". tanya Lula lagi.


"Kamu nenyyeee, kamu bertenyyeee,tenyeee". Gunawan seperti sudah tidak tertolong, ya ampun.


"Ya tuhan, berikan aku kesabaran untuk menghadapi kekasih ku yang sedikit gesrek ini". ujar Lula menengadahkan tangan nya.

__ADS_1


"Kalian berdua sama-sama gesrek, Jadi lebih baik saling mendoakan". ujar Ria sambil menahan tawa di kursi belakang dan akhirnya mereka bertiga tertawa bersama.


__ADS_2