Datuk Buaya Putih.

Datuk Buaya Putih.
70 Urusan Mu Dengan Ku


__ADS_3

"Kau tidak akan mendapatkan apa pun atau raga siapapun lagi, sebentar lagi kau akan ku musnahkan". ujar Datuk Kurnia.


"Sebentar lagi semua Anak buah ku akan datang untuk melepas kan ku, hahahhahah.. kalian semua akan matiiii, matiiii". ujar Ria tertawa-tawa di dinding itu.


"Kalian sudah tidak ada waktu lagi, beberapa saat lagi waktu untuk kami bangkitttt, Ssstttt... Stttttt". lanjut Ria sambil Mendesis.


"Kau tunggu saja, sebentar lagi kau akan musnah untuk selamanya". ujar Datuk Kurnia. sebenarnya ia mulai gelisah karena Gunawan belum datang juga.


Magrib pun tiba Ria tertawa kegirangan, ia berteriak dengan kencang sepertinya dia sedang memanggil banyak pasukan nya, namun di luar sana pasukan Buaya putih, para panglima burung, juga buaya Muara milik Datuk Kurnia juga keluar untuk membantu menjaga Tubuh Ria.


Di Luar asrama tiba-tiba hujan lebat di sertai angin yang kencang, banyak pohon tumbang di jalanan karena bencana itu. padahal itu semua terjadi karena peperangan antara Para siluman dan juga khodam- khodam penjaga Ria.


Dan anehnya Tubuh Ria yang berada di dinding pun sekarang bisa terlepas dari Belenggu kekuatan milik Datuk Kurnia, jadilah sekarang Datuk Kurnia dan istrinya sekuat tenaga menahan mahkluk itu agar tidak pergi dari hadapan mereka.


Karena setelah lepas Ia ingin melarikan diri membawa tubuh Ria yang ia diami.


"Lepaskan akuuuuu, hhuuaaaaaa kalian semuanya lepaskan akuuuuu". sekarang tubuh Ria Melayang hingga melengkung ke bawah dengan posisi menghadap ke atas.


"Riaaaaa,,,, sadar Riaaaaa". Lula yang melihat tubuh Ria Melayang berusaha menggapai kaki temannya untuk menariknya turun, namun saat baru saja ia memegang kaki Ria sekali lagi ia terpental ke dinding. beruntung kali ini ada Datuk hitam yang menjaga tubuh Lula agar tidak kenapa-kenapa.


"Jika aku kehilangan tubuh ini, maka kalian semua juga harus kehilangan tubuh ini. kita akan sama-sama tidak memiliki nya". ujar Ria lagi berkata saat tubuhnya melayang dan berputar di tengah-tengah kamar itu.


"Uuhhhhuuukkkk,,,uhuukkk". tiba-tiba dari mulut Ria keluar darah hitam yang sangat banyak hingga mengalir ke lantai.


Namun anehnya Ria justru tertawa dengan mulut yang sudah kembali mengeluarkan darah hitam itu, karena tubuhnya melayang dengan posisi telentang ke atas membuat Kepala Ria menggantung ke bawah.


Hingga darah itu mengalir memenuhi wajahnya, kepala nya dan sudah mengalir ke rambut panjang Ria hingga menetes.


"Aku akan merusak tubuh ini". ujar Makhluk itu kemudian.


Datuk Kurnia serba salah, ia ingin memaksa makhluk itu keluar dengan ilmunya namun takut justru Ria yang sekarang di istana lah yang menanggung sakitnya.

__ADS_1


Sementara Ria yang sedang di obati di istananya terus memuntahkan darah segar hingga ia terlihat semakin lemah.


Gunawan melajukan mobil nya menuju ke asrama dengan cepat, karena ini sudah melewati waktu magrib. namun karena hujan lebat dan banyak pohon tumbang membuat mobil nya tidak bisa melaju hingga akhir ia memarkirkan mobilnya di depan toko orang yang sudah tutup.


Gunawan kemudian berlari menerobos hujan agar bisa sampai di asrama, beruntung sebentar lagi ia akan sampai ke tempat tujuan nya itu.


Saat memasuki gerbang asrama, Gunawan sudah melihat banyak sekali buaya, burung elang dan Garuda besar seperti kemarin di rumah pak Santoso.


Juga ular dan kelelawar besar sedang berperang di sana, Gunawan sudah hendak memasuki Asrama namun langkah nya terhenti saat melihat Roh Bapaknya sedang bersimpuh dengan Leher yang sudah terjerat kawat berduri hingga menembus lehernya.


Kawat itu di Pegang oleh seorang wanita setengah ular yang waktu itu di lawan oleh nya dan juga Ria di tempat pak Santoso.


"Bapak". ujar Gunawan tidak tega melihat Bapaknya nampak tersiksa seperti itu.


"Hihihi, kau ingin aku melepaskan bapak mu ini bukan Gunawan, ada syarat nya".Ujar makhluk itu lagi sambil tertawa di depan Gunawan.


"Apa yang kau mau". Ujar Gunawan bertanya, seperti makhluk itu sengaja mengecoh fokus Gunawan agar lupa tujuan nya menyelamatkan Ria.


"Gunawan, cepat pergi, bantu teman mu nak". ujar bapaknya, ia tidak ingin anaknya melupakan kewajiban nya. karena ia tahu memang sudah resiko nya merasakan penyiksaan ini, bahkan dia lah yang membuat Ria dan yang lain terlihat seperti ini.


"Bapak, tapi?". ujar Gunawan bingung.


"Pergi lah nak, biarkan bapak menjalani hukum bapak dari tuhan". Ujarnya pasrah.


"Bodoh, anak mu ingin menyelamatkan mu". ujarnya lagi menarik kawat berduri itu hingga semakin menancap ke dalam lehernya.


"Pergi Gunawan, selesai kan semuanya".Ujar bapaknya lagi, sementara makhluk yang membelenggu Bapak Gunawan yang merasakan marah ingin menyerang Gunawan.


Beruntung Singa penjaganya muncul dan langsung menggigit, merobek dan mencabik-cabik wanita siluman itu.


"Pergi nak". ujar bapak nya kemudian menghilang, Gunawan pun kembali fokus. ia berlari ke kamar milik Ria dan Lula, walaupun ia bingung kemana semua orang. kenapa tidak ada yang mengetahui keadaan teman nya yang sedang terkena musibah di dalam.

__ADS_1


Namun Gunawan dengan cepat mengambil langkah dan mendobrak pintu kamar itu, hingga membuat Lula terkejut sekaligus bersyukur akhirnya ada yang membukakan pintu.


"Akhirnya kau datang Gunawan, Berikan padaku batu itu". Ujar Datuk Kurnia dan Gunawan dengan cepat menyerahkan cincin itu.


Walaupun Gunawan belum mengenal Siapa Datuk Kurnia namun Gunawan tahu dia adalah khodam lain milik Ria karena tubuhnya yang sebagian memiliki sisik Buaya Hitam.


Gunawan sangat terkejut melihat tubuh Ria yang sekarang sedang berputar melengkung di atas dengan berlumuran darah hitam di wajahnya, makhluk itu pura-pura memasang wajah sedih agar ia bisa mengecoh Gunawan.


"Mas, kamu datang juga akhirnya. tolong aku, mereka menyakiti ku hikzzz". Ria yang masih di rasuki pun berpura-pura menangis sedih.


"Jangan terkecoh, itu hanya tipuan nya. bantu kami Gunawan. tangkap dan tahan tubuh itu sekarang, aku akan menurunkan nya". ujar Datuk Kurnia lagi dan Gunawan pun bersiap menunggu tubuh itu turun ke bawah.


Sesampainya di bawah Gunawan dengan sigap memegang Ria dengan mesukan tangan nya di sela kedua lengan Ria dari belakang, Datuk Hitam juga memegang kaki Ria yang terus berontak ingin lepas.


"Hhuuuaaa,, lepaskan akuuuuu, huaaaa".Ria berteriak kencang.


"Sekarang kau akan benar-benar matiii". ujar Datuk Kurnia menempel kan cincin itu ke Kepala Ria agar makhluk itu tertarik oleh energinya sendiri dan masuk ke dalam batu itu kembali.


"Aaaaa,,, sakkkitttt.. Mass tolong ini sakit.. hikkzzz". makhluk itu kembali ingin bersandiwara.


"Pergi lah kau, keluar lah dari tubuh nya". ujar Gunawan yang tahu ia hanya ingin di tipu.


"Bod*h.. kenapa kau mau-mau nya menolong wanita yang jelas-jelas tidak mencintai mu dan lebih memilih mencintai makhluk dari bangsa kami, Aaaaaaa". ujar Ria lagi sambil menjerit-jerit kesakitan saat Datuk Kurnia membaca mantra.


Lula yang melihat Gunawan kesusahan memegang Tubuh Ria pun ikut bergabung memegang kedua tangan Ria agar tidak menyerang Gunawan.


"Kau juga wanita bod*h, Aaaaaa,, sakiitttt. untuk apa kau membantu laki-laki yang tidak bisa kau miliki ini, biarkan Ria dengan ku, dan kau bisa memiliki nya". ujar Ria berbicara membongkar rahasia Lula yang mencintai Gunawan di tengah jeritan nya.


Lula hanya diam dan fokus memegang Tangan Ria, bagaimana pun ia tahu perasaan tidak bisa digunakan paksa dan ia juga sangat menyayangi Ria sahabat yang selalu melindungi nya.


Datuk Kurnia Semakin menekan cincin itu dan membacakan mantra agar makhluk itu keluar.

__ADS_1


"Urusan mu dengan ku, bukan dengan keturunan ku". ujar Datuk Kurnia di iringi jeritan panjang Ria yang menyakitkan.


__ADS_2